
Saska menatap Shela. Shela hanya bisa tersenyum. "Selamat yah kak," ucap Arka.
Setelah itu mereka pun pergi.
Keesokan harinya...
Shela harus belajar lebih banyak untuk persiapan ujian penaikan kelas.
"Tok!! Tok!!" ketukan pintu kamar Shela. Shela membuka pintu ternyata Minhui yang di balik pintu.
"Eh mamah, tumben banget naik ke atas, adek sama siapa?"
"Sama Papah di bawah lagi nonton."
"Boleh Mamah masuk?" Shela mengijinkan Mamah nya masuk.
"Bagaimana belajar kamu?"
"Ya seperti biasa mah, aku harus mempersiapkan diri untuk ujian nanti."
"Iyah nak, kamu harus belajar, fokus saja belajar terlebih dahulu H untuk saat ini. Untuk masalah percintaan jangan dulu."
"Kok Mamah ngomong gitu? Bukan nya sebelum nya mamah tidak pernah melarang ku?" tanya Shela.
"Bukan gitu, Mamah mau kamu mendapatkan nilai yang bagus saja."
"Iyah mah, aku pasti mengusahakan nilai yang bagus kok, Mamah tidak perlu khawatir."
Cukup lama Minhui di kamar Shela. Tidak beberapa lama dia keluar.
Tiba-tiba handphone Shela berdering telpon dari Saska.
"Kak Saska?" ucap nya kaget.
"Ha-halo kak?"
"Kamu sedang apa?" tanya Saska.
"Lagi belajar kak, kakak sendiri lagi apa?"
"Ini Lagi di lapangan futsal sama Papah."
"Tumben banget main futsal, hampir semua nya olahraga kakak ikutin."
"Gak apa-apa, mumpung masih muda, Papah juga yang ngajak," ucap Saska.
"Humm besok kamu ke sekolah kan?"
"Ya iyalah kak," jawab nya.
"Humm besok kita sarapan bareng yah?"
"Boleh kak," ucap Shela.
Keesokan harinya...
__ADS_1
"Saska... kamu gak sarapan dulu?" tanya Kania karena Saska melewati meja makan begitu saja.
"Aku buru-buru mah, udah telat." Saska berpamitan dan langsung pergi. Tidak beberapa lama Arka turun.
"Kamu jangan coba-coba mau pergi, makan dulu!"
"Iyah Mah." Saat makan Kania menatap Arka.
"kenapa Mamah Menatap ku?" tanya Arka.
"Kenapa wajah mu terlihat murung seperti itu? Apa yang sedang kamu sembunyikan dari Mamah?"
Arka menggeleng kan kepala nya. Tidak beberapa lama Vincent datang dia duduk di samping istri nya.
"Hari ini Papah yang akan nganterin di ke sekolah Mah karena motor nya rusak."
"Kok bisa rusak? Padahal masih bagus."
"Iyalah rusak, orang cara bawa nya ugal-ugalan jadi nya rusak deh."
"Mah, Pah. Aku boleh kan beli motor baru? motor itu sudah satu tahun aku sudah bosan."
"Emang nya kamu punya uang? Kalau kamu punya uang bisa beli sendiri," ucap Kania.
"Huff percuma saja aku punya orang tua kaya raya kalau apa-apa harus nabung, pakai uang sendiri." ucap nya dengan kesal.
"Kalau kamu mau mamah sama Papah nurutin kemauan kamu, makanya jadi anak yang baik."
Arka menghela nafas panjang. "Ya udah deh aku belajar naik mobil saja," ucap Arka karena dia tau koleksi mobil papah nya banyak dan juga mamah nya punya mobil mewah.
"Motor saja cepat rumah sama kamu, apa lagi mobil," ucap Kania.
"Huff sejak kapan sih Mamah sama papah perhitungan seperti ini? Kalau sama kak Saska tidak perlu perhitungan," ucap Arka.
"Mamah sudah bayar supir untuk kamu, kamu bisa pakai mobil yang mana saja mau pacaran asalkan pakai supir."
Arka menggeleng kan kepala nya. "Aku seperti anak Mami kalau di supirin, semua teman-teman ku pasti ngejekin."
"Kamu pilih di anterin Papah, atau naik mobil pilihan kamu tapi pakai supir."
"Tidak ada satu pun, aku punya motor kak Saska," ucap Arka sambil menunjuk kunci motor Saska yang dia dapat entah dari mana.
Dia langsung berangkat setelah berpamitan. "Benar-benar yah kelakuan anaknya sama persis seperti Papah nya!" ucap Kania.
"Dia anak kita sayang." l
"Aku tidak punya anak yang nakal," ucap Kania. Vincent tersenyum.
"Sayang...." Vincent mencium bibir istri nya sambil tersenyum.
"Kita masih muda seperti ini, apa kamu tidak ingin mempunyai anak lagi?" tanya Vincent.
Kania Menatap Vincent. "Kemarin katanya gak mau lagi, sekarang malah nanya," ucap Kania.
"Lihat lah sekarang mereka berdua sudah beranjak dewasa, mereka lebih banyak menghabiskan waktu di luar dari pada dengan kita. Kita pasti sangat kesepian."
__ADS_1
"Mau yah sayang," ucap Vincent.
Kania menggeleng kan kepala nya. "Jangan aneh-aneh deh mas!"
Vincent menghela nafas panjang. "Lagian kita untuk apa memiliki anak lagi, ini waktunya kita menghabiskan waktu berdua bukan?" ucap Vincent.
"Eh-eh, tunggu dulu, mas mau ngapain?" tanya Kania karena tangan Vincent kemana-mana.
"Waktunya menikmati pagi yang indah ini."
"Ini sudah jam berapa mas, kamu gak berangkat bekerja?"
"Hari ini tidak ada kerjaan mendesak di pagi hari, apa kamu mau ikut ke perusahaan, di rumah saja kamu Pasti Bosan."
Kania melihat masakan nya yang masih banyak di atas meja.
"Humm hari ini Saska tidak makan, Arka makan sedikit, makanan yang biasa selalu Abis sekarang malah bersisa."
"Jangan khawatir sayang, masih ada security, mbak-mbak yang kerja, ada juga mamang yang kerja di kebun."
"Mereka akan memakan ini tampa tersisa."
Sementara Saska dan Shela duduk di kantin berdua. Tidak ada yang memulai pembicaraan, fokus menghabis kan sarapan masing-masing.
"Nanti pulang sekolah aku anterin kamu pulang yah, aku sekalian mau ketemu Laura."
Shela sangat s senang di anterin dia hanya bisa mengangguk sambil malu-malu.
"Ekhem-ekhem!!!" tiba-tiba Tina datang dan duduk di samping Saska.
"Tumben banget kalian berdua sarapan di kantin," ucap Tina.
"Gak sarapan dari rumah," ucap Saska.
"Oohhhh pantesan saja, kamu terlihat sangat kelaparan seperti itu."
"Oh iya nanti sore kita bisa pergi beli bola voli kan? Bola Baru saja di rusak oleh adek-adek kelas."
"Humm sebaiknya besok saja yah, aku mau nganterin Shela pulang."
"Oohh gitu yah, ya udah deh gak apa-apa."
Tina pesan makanan untuk nya dan setelah itu ikut makan bareng mereka.
Selesai makan mereka masuk ke dalam kelas masing-masing.
"Semangat yah belajar nya," ucap Saska. Shela mengangguk.
Dia melihat Saska langsung ke kelas nya.
"Ya ampun, jantung ku tidak berhenti berdetak kencang, apakah ini sungguh-sungguh cinta? Aku u bisa-bisa nya pingsan kalau seperti ini terus."
"Aku tidak salah dengar kan? Kak Saska menyemangati aku? aaaa!!! aku tiga kali lebih semangat kalau seperti ini," dia sangat senang sekali.
"Hayoo ada apa kenapa kamu kelihatan nya bahagia banget?" tanya Dewi.
__ADS_1
"Tidak ada, aku hanya ingin bahagia saja," ucap nya sambil tersenyum.