Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 52


__ADS_3

"Tok!!! Tok!! Tok!!"


"Kania bukan pintu nya sayang."


Omah dan Opah nya berusaha untuk membujuk Kania keluar namun Kania sama sekali tidak mendengar nya dia hanya diam di dalam kamar nya sambil memikirkan semua kata-kata yang dia dengar.


Vincent di kamar nya sangat pusing, dia tidak tau bagaimana mengahadapi Kania karena mamih nya.


Bu Mona di luar dia melihat foto-foto Vincent bersama Kania.


"Kedua orang tua kamu sudah membebani anak saya sehingga sampai sekarang dia tidak menikah," batin Bu Mona sambil menunjuk foto Kania.


"Vincent Kania dari tadi gak keluar nak, sebaiknya kamu bicara dengan dia," ucap Omah kepada Vincent.


"Iyah Mah."


Vincent berjalan ke kamar Kania.


"Kania, buka pintu nya dulu, saya perlu bicara."


Tidak ada jawaban dari dalam.


"Saya tau kamu pasti marah kepada saya, saya mohon buka pintu nya. Saya mengkhawatirkan kamu."


Tidak ada jawaban juga membuat Vincent semakin khawatir.


"Seperti nya Kania tidak mau di ganggu, sebaiknya aku jangan ganggu dia terlebih dahulu," ucap Vincent.


Keesokan harinya...


Kania bangun seperti biasa, dia ke dapur namun sangat kaget melihat mamih nya Vincent masih ada di sana.


"Pagi Bu."


Bu Mona melihat Kania dengan tatapan dingin.


Tidak mengatakan apapun dia pun langsung pergi dari sana sambil membawa kopi di tangan nya.


Kania menghela nafas panjang, tidak beberapa lama akhirnya Kania memutuskan untuk masak sarapan.


Waktunya sarapan mereka semua kumpul di meja makan.


Vincent melihat Kania yang hanya diam, fokus pada makanan nya.


Suasana meja makan jadi sangat dingin, hanya Omah dan Bu Mona yang berbicara sementara yang lain hanya diam saja.


"Tidak beberapa lama akhirnya selesai, Kania juga segera siap-siap ke kampus.


Sebelum berangkat dia berpamitan terlebih dahulu.


"Omah opah aku berangkat dulu yah."


"Iyah sayang, hati-hati yah."


"Bu, aku berangkat dulu yah," Kania berpamitan kepada mamih mu Vincent.


"Humm, yang rajin belajar nya agar cepat lulus, Vincent juga ingin cepat menikah," ucap Bu Mona..


Kania tidak mengatakan apapun dia pun mengangguk menyalim dan langsung pergi.


"Huff kenapa sangat sakit mendengar nya?" ucap kania sambil keluar dari rumah.


"Kamu berangkat dengan saya," ucap Vincent menarik tangan Kania ke dalam mobil nya di saat mau berangkat ke kampus tadi nya.

__ADS_1


Kania menghela nafas panjang melihat Vincent.


"Aku bisa berangkat sendiri, kalau Mamih paman tau, dia akan anggap aku menjadi beban Paman."


Vincent menatap wajah Kania.


"Kita bicarakan ini di luar yah?" tanya Vincent sambil menjalankan mobil nya.


Sepanjang perjalanan Kania hanya diam saja, Vincent mencoba memegang tangan Kania namun Kania tidak mau.


Tidak beberapa lama mobil berhenti.


"Kenapa di sini? aku sudah telat."


Kania di bawa oleh Vincent ke pinggir laut.


"Kita perlu bicara Kania, jangan diam seperti ini."


Kania menatap Vincent.


"Saya minta maaf."


"Untuk apa? Paman tidak melakukan kesalahan apapun."


Vincent menghela nafas panjang dia menatap Kania.


"Aku tidak ingin membahas apapun sekarang," ucap Kania.


Vincent melihat Kania sedang tidak mood membuat dia memilih untuk diam.


"Saya tau kamu pasti sangat marah kepada saya, tapi jangan mengabaikan saya seperti ini." ucap Vincent.


Vincent mendekati Kania.


Kania menatap Vincent.


"Jadi benar kedua orang tua ku sudah meninggal?" tanya Kania.


Vincent mengangguk.


"Maafin saya sudah membohongi kamu tentang ini, saya tidak jujur karena saya takut kamu akan sedih."


"Aku akan jauh lebih sedih kalau seperti ini Paman."


"Aku akan menanyakan langsung tentang ini kepada Omah dan Opah, bagaimana dengan maksud setelah aku selesai kuliah paman akan meninggalkan aku?"


"Tentang itu, kamu tidak perlu terlalu memikirkan nya."


"Bagaimana aku tidak memikirkan nya paman? Sekarang hubungan kita sudah berbeda dari sebelumnya dan hanya kita yang tau tentang ini."


"Kamu fokus saja sama kuliah kamu, fokus sama hubungan kita dan saya juga akan fokus dengan pekerjaan saya."


Kania menggeleng kan kepala nya.


"Sebaiknya kita berhenti saja di sini paman, aku tidak ingin membuat Paman terbebani karena aku."


Vincent menggeleng kan kepala nya.


"Kania apa maksud kamu?" tanya Vincent.


Kania terdiam.


"Apapun yang terjadi kita harus tetap bersama, saya tidak mau kehilangan kamu."

__ADS_1


"Tapi aku tidak mau paman tidak fokus bekerja karena aku, seperti yang di katakan Bu Mona, aku selalu menjadi beban bagi paman."


Vincent menggeleng kan kepala nya.


"Tidak Kania, tidak seperti itu."


"Kamu bukan beban bagi saya, justru kamu adalah penyemangat saya, kalau bukan karena kamu mungkin saya tidak akan ada di titik ini."


"Tapi..." Kania tiba-tiba menangis.


"Ssttt!! Ibu aku memang seperti itu ketika berbicara, kamu jangan terlalu memikirkan nya."


Kania menangis di pelukan Vincent.


"Seperti nya Bu Mona sangat tidak suka kepada ku, aku tidak yakin dengan hubungan kita."


"Saya sudah bilang kamu tidak perlu memikirkan nya, untuk apa kamu memikirkan hal seperti ini membuat kamu pusing."


Kania tidak ke kampus hari ini, begitu juga dengan Vincent tidak ke kantor dan meminta Tomi mengatur jadwal nya dengan baik, karena dia tidak bisa datang.


"Paman mau bawa aku kemana? Aku tidak ingin kemana-mana."


"Sudah ikut saja." ucap Vincent.


Kania yang masih bad mood memilih untuk diam saja.


Tiba-tiba handphone nya berdering telpon dari Ulfa.


"Kania kamu di Mana? Kelas dah mulai. Kenapa kamu belum sampai di kampus sih?"


"Seperti nya aku tidak datang hari ini Ulfa."


"Loh kenapa sih?"


"Aku ada urusan penting."


"Yahh gak jadi dong aku nginap di rumah kamu?"


"Maafin aku yah, seperti nya kamu tidak bisa nginep di rumah karena aku lagi ada tamu, gak enak juga."


"Ya udah deh gak apa-apa kalau begitu, sekarang kamu lagi di mana?" tanya Ulfa.


"Ekhem-ekhem!!" tiba-tiba Vincent batuk.


"Oohh lagi sama paman Vincent, ya udah deh kalau begitu."


Ulfa langsung mematikan sambungan telepon.


Tiba-tiba Vincent mengambil handphone Kania.


"Paman kembali kan."


"Hari ini tidak ada yang bisa mengganggu kita, saya akan mematikan handphone kamu, begitu juga dengan handphone saya."


Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan, Kania larut dalam pikiran nya, sementara Vincent yang sangat takut Kania semakin marah kepada nya, dia tidak akan membiarkan Kania sendiri dalam keadaan marah, dia harus menyakinkan Kania kalau dia sangat mencintai dia.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di sebuah villa yang sangat cantik sekali.


"Kita ngapain ke sini?" tanya Kania.


"Sudah turun dan lihat lah ke dalam."


Kania keluar dari dalam mobil.

__ADS_1


"Wah vila ini bagus banget, paman tau vila ini dari mana?" tanya Kania karena tempat yang sangat rindang sekali.


__ADS_2