
"Paman bangun..."
Kania duduk di pinggir kasur sambil membangun kan Vincent.
Vincent tidak menghiraukan nya, namun saat Kania mau menyentuh wajah nya tiba-tiba tangan nya di tarik oleh Vincent sehingga Kania berada di atas Vincent.
"Ini masih sangat pagi, kenapa kamu mengganggu tidur saya? Sebagai hukumannya kamu harus membuat saya tertidur lagi."
"Ini sudah jam tujuh pagi Paman."
"15 menit lagi, saya sangat lelah."
Kania pasrah berbaring di dada Vincent sambil menunggu waktu 15 menit, setelah waktu habis dia membangun kan Vincent kembali.
"Bangun.. waktu nya sudah habis," ucap Kania.
Radit membuka mata nya dia melihat wajah Kania.
"Kenapa tersenyum?" tanya Kania.
Vincent menyentuh wajah Kania. Dia mengelus nya.
"Saya sangat bahagia karena ini adalah cita-cita saya."
"Maksud nya? Cita-cita apa?" tanya Kania.
"Saya menginginkan setiap hari ketika saya membuka mata saya dari tidur lelap, yang ingin saya lihat adalah wajah cantik mu," ucap Vincent sambil mencium kening Kania.
Kania tersipu malu dia langsung duduk menutupi wajah nya.
Radit bangun dia memeluk Kania dan menyenderkan kepalanya di bahu Kania.
"Saya tidak ingin ke kantor hari ini," ucap Vincent.
"Kalau begitu tidak perlu pergi, aku akan pergi ke kampus."
Vincent memasang wajah cemberut. "Kalau kamu tidak di sini untuk apa saya di sini?" ucap Vincent.
Kania tersenyum dia menatap Vincent.
"Kita harus tetap melakukan aktivitas kita setiap hari nya seperti biasa tidak boleh bermalas-malasan, sekarang pergi lah mandi aku akan menyiapkan pakaian untuk Paman."
Vincent mengangguk, dia mengambil handuk namun sebelum masuk ke dalam kamar mandi dia terlebih dahulu mencium Kania dua kali setelah itu berlari ke kamar mandi.
Kania keluar dari kamar Vincent mau menyiapkan sarapan namun setelah sampai di dapur dia melihat Bu Mona yang sudah menyiapkan sarapan di meja makan.
"Ibu menyiapkan ini semua nya sendiri? Kenapa ibu tidak membangun kan aku?" tanya Kania.
"Humm sebenarnya ibu tidak memasak ini semua, tidak mungkin ibu bisa masak seperti ini, semua nya ibu beli dari luar agar kamu tidak perlu repot-repot masak," ucap Bu Mona.
__ADS_1
Kania terdiam sejenak dia keheranan kenapa Bu Mona tiba-tiba jadi sangat baik dan perduli kepada nya.
Namun tidak bisa mengatakan apapun dia hanya bisa tersenyum kepada Bu Mona.
"Wahh seperti nya sarapan pagi ini banyak," ucap Vincent.
Kania diam saja, Bu Mona tersenyum.
"Tunggu, tumben banget sarapan pagi seperti ini, apa kamu memasak nya dari shubuh?" tanya Vincent kepada Kania.
Kania menggeleng kan kepala nya.
"Bukan, Mami membeli nya dari luar."
Vincent menoleh ke arah Kania, dia juga bingung kenapa tiba-tiba Bu Mona membeli sarapan dari luar karena biasanya selalu menunggu Kania.
Suasana meja makan jadi sangat canggung sekali.
Setelah selesai Vincent mengantarkan Kania ke kampus nya terlebih dahulu.
"Aarrrgghh!!! Aku sangat pusing." ucap Kania.
Vincent menoleh ke arah Kania yang duduk di samping nya.
"Aku rasa Bu Mona tidak suka makanan yang aku masak, dia sudah bosan karena aku hanya bisa memasak hanya beberapa menu saja itu sebab nya dia memesan dari luar.
"Jangan berfikir seperti itu, kamu dengar sendiri kan tadi agar kamu tidak susah masak karena waktu nya sangat mepet."
"Apa yang kamu pikirkan? tidak mungkin Mami seperti itu, belakangan ini juga dia sudah baik kepada kamu."
"Iyah juga yah, sebaiknya aku jangan berfikir seperti itu," ucap Kania.
Vincent tersenyum. Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai.
"Aku pergi dulu yah Paman, terimakasih sudah mengantarkan aku," ucap Kania. Vincent tersenyum sambil mengangguk.
Namun tiba-tiba ada pesan masuk ke handphone Kania. Kania membuka nya dia sangat kaget melihat uang masuk ke rekening nya 100jt.
"Ini apa Paman? Ini untuk apa?" tanya Kania.
"Saya mendengar kalau kamu ada janji dengan teman-teman lama kamu, gunakan lah uang itu untuk berbahagia bersama teman-teman mu."
"Dari mana paman tau kalau aku ada janji dengan teman-teman lama ku?"
"Saya tidak sengaja membaca pesan grup kamu," ucap Vincent.
Kania menghela nafas panjang dia menatap Vincent, Paman memeriksa handphone ku lagi?" tanya Kania.
"Saya hanya memastikan kalau kamu tidak berhubungan lagi dengan Yuda, direktur Je atau siapapun itu karena saya cemburu."
__ADS_1
Kania menghela nafas panjang. Dia memeriksa kembali handphone nya dia sangat kaget karena kontak nya berkurang dan semua kontak nya tersisa hanya perempuan saja.
"Apa yang sudah Paman lakukan kepada handphone ku? Apa Paman menghapus semua kontak teman-teman ku?"
"Tidak semua nya kok, kamu bisa memeriksa nya, saya hanya menghapus kontak Pria yang mengirim mu pesan."
Kania menghela nafas menahan amarah.
"Apa Paman tau nomor siapa yang paman hapus? Itu semua senior ku, itu adalah ketua komunitas dan orang-orang penting paman," ucap Kania menekan suara nya.
"Saya tidak tau, saya melihat nya terlalu lancang sehingga mengajak mu bertemu di luar."
"Sudah lah tidak ada gunanya berbicara dengan paman, aku pergi dulu."
"Tunggu dulu," Vince menahan Kania.
"Jangan sampai kamu menyimpan nomor mereka lagi."
"Aku tidak berselingkuh, aku tidak ada hubungan yang spesial dengan mereka," ucap Kania dan langsung pergi.
Vincent tersenyum tipis.
Dia mengingat saat di kantor handphone Kania tinggal di ruangan nya, dia melihat sangat banyak pesan masuk dan ternyata sangat banyak yang menggoda Kania.
Wajah nya sangat merah, dia marah sehingga memblokir nomor mereka semua walaupun Kania benar-benar tidak merespon mereka sama sekali.
"Kamu hanya milik saya, tidak ada satu pun pria yang bisa mendekati kamu," ucap Vincent.
"Kania!" panggil Vincent sambil keluar dari dalam mobil, Kania berhenti dia berbalik dan melihat Vincent mendekati nya.
"Ada apa?" tanya Kania.
Vincent mendekati Kania.
"Kamu melupakan sesuatu," ucap Vincent.
"Aku rasa aku tidak melupakan apapun, semua nya sudah ada di dalam tas ku," ucap Kania sembari memeriksa kembali tas nya.
"Kamu yakin tidak melupakan satu hal?"
Kania menggeleng kan kepala nya.
"Aku membawa semua nya, kalau begitu aku pergi dulu Paman, kembali lah keperusahaan karena bos harus lebih rajin dari karyawan nya."
Vincent menghela nafas panjang karena itu adalah nasehat nya yang di ulangi Kania untuk memperingati diri nya.
"Kalau kamu tidak mengingat apa yang kamu lupakan, saya akan mengingat kan nya," ucap Vincent.
"Katakan lah."
__ADS_1
"Kamu melupakan Mencium saya sebelum pergi, karena itu sudah kewajiban kamu sebagai pasangan saya!" ucap Vincent membuat Kania sangat kaget mendengar nya karena sangat ramai orang.