
"Kamu belum bisa pulang, kamu harus sembuh total dulu," ucap Fadil.
"Aku tetap mau pulang, aku tidak mau di sini."
"Aku juga mau bertemu sama anak kita."
"Sayang... Kamu harus dengar kata-kata dari dokter yah, kamu belum bisa pulang."
"Tapi aku mau pulang.."
Vincent menenangkan Sarah dan ternyata sekarang Sarah hanya mendengar kata-kata Vincent bukan Fadil lagi.
Vincent ada urusan keluar, Fadil menemani Sarah dan menyuapi nya makan.
"Fadil, apa sekarang kamu tau di mana anak ku?" tanya Sarah.
"Aku tidak tau," jawab Fadil.
"Kenapa? Apa kamu tidak mau menjaga anak ku saat aku sedang sakit?" tanya Sarah.
"Kakak kamu yang merawat nya."
"Kak Jeki? Alhamdulillah kalau dia bersama Kak Jeki, pasti anak ku sangat tampan mirip dengan Vincent."
Fadil mengangguk sambil tersenyum. Dia menatap wajah Sarah.
"Kenapa? Kenapa Sarah harus lupa ingatan seperti ini? Aku harus mulai dari mana lagi untuk mendekati nya, apa cinta yang aku miliki ini harus di pendam sendiri?" ucap Fadil dalam hati.
Tidak beberapa lama Vincent masuk. Dia kembali membawa bunga, dan banyak makanan.
Yang dulu nya Sarah sangat senang Fadil datang sekarang dia sudah tidak perduli lagi.
Fadil keluar dari ruangan itu, dia mengingat beberapa bulan lalu saat dia mengutarakan perasaan nya kepada Sarah.
Sarah sangat senang dan merasa resmi berpacaran, walaupun terdengar sangat konyol berpacaran dengan wanita yang jiwanya terganggu tapi Fadil tetap mencintai nya.
Tapi sekarang semua nya sudah tidak ada artinya, pengorbanan Fadil sudah tidak berguna lagi.
Di siang hari nya saat Jeki makan siang di ruangan nya.
"Huff apa yang sedang mereka lakukan sekarang?" batin Jeki.
Sudah jam empat sore Jeki sudah bisa pulang. Namun sebelum sampai di rumah dia mendapatkan kabar dari Vincent kalau Sarah sudah membaik.
Jeki kurang percaya, tapi ketika mendengar penjelasan dokter dia pun percaya walaupun sedikit janggal karena lupa ingatan.
Namun kesehatan Sarah adalah yang utama. Tiba-tiba saja dia teringat kepada Fadil.
"Bagaimana dengan Fadil? Apa dia bisa menerima semua ini? apa dia ikut senang?" batin Jeki.
__ADS_1
"Ah sudahlah, tidak perlu memikirkan hal itu sekarang. Aku akan menyempatkan waktu bertemu dengan nya besok."
Sesampainya di rumah..
"Aku pulang," ucap Jeki. Minhui keluar dari dapur. Jeki melihat Minhui menggendong Saska.
Jeki panik dia langsung menggendong Saska.
"Aku sudah bilang, jangan di gendong, bagaimana kalau badan kamu sakit?"
"Aku mau buat makan Saska, seperti nya dia sangat lapar, susu saja tidak cukup."
"Kamu lanjut saja, aku akan menggendong Saska."
Baru dua hari Saska di rumah Jeki, namun rumah terlihat berantakan karena tidak sempat di rapikan.
"Ternyata memiliki anak seperti ini," batin Jeki.
Tidak beberapa lama Minhui datang. "Kamu istirahat saja, biar aku yang nyuapin," ucap Jeki kepada Minhui.
Minhui mengangguk dia duduk di karpet sambil melipat pakaian Saska yang baru saja selesai dia cucu tadi. Walaupun baru tetap saja harus di cuci.
Minhui melihat Jeki yang sedikit kesusahan karena tidak terbiasa, tapi dia tidak mau menyerah.
"Kenapa kamu melihat ku seperti itu?" tanya Jeki.
"Aku tidak habis pikir kepada kamu, karena kamu mau merawat Keponakan kamu dengan sangat tulus seperti ini. Apakah anak ini akan kamu perlakukan seperti itu?" tanya Minhui sambil mengelus perut nya.
Tiba-tiba Minhui tersenyum. "Sudah lah tidak perlu di jawab, aku hanya asal bertanya saja, seharusnya Tampa di jawab oleh mu, aku sudah tau jawabannya," ucap Minhui.
"Anak ini bukan lah anak yang kita inginkan bersama, aku yang ingin merawat anak ini karena sudah beberapa kali kamu ingin membunuh nya."
"Aku sebaiknya tidur perlu berharap kamu mengakui anak ini," ucap Minhui.
Jeki tidak di kasih waktu untuk berbicara.
"Sudah selesai makan nya, aku akan memandikan Saska sebentar."
Minhui langsung pergi. Jeki melihat Minhui pergi meninggalkan ruang tamu dengan wajah yang kecewa.
"Aku memang tidak menginginkan anak itu, tapi aku merasakan keajaiban yang di bawa oleh anak itu untuk kehidupan ku."
Jeki sekarang sudah sangat membenci dengan perempuan ani-ani, dia juga jarang minum mabuk-mabukan, dan berhenti berjudi, selain itu sekarang perusahaan nya kembali beroperasi dengan normal.
Jeki melihat rumah sangat berantakan, akhirnya dia merapikan semua nya.
Saska selesai mandi. Jeki masuk ke kamar. Minhui tidak mengatakan apapun dia mengambil handuk nya dan langsung masuk ke kamar mandi.
Jeki menghela nafas panjang. "Saska sudah mandi?" tiba-tiba Vincent menelpon Jeki.
__ADS_1
"Ada apa lagi kau menelpon ku? Mengganggu saja!"
"Aku tau kau kesal kepada ku sekarang karena Sarah melupakan semua kejahatan ku, tapi jangan lupa anak ku bersama mu sekarang."
"Aku ingin melihat anak ku!" ucap Vincent.
Jeki menghela nafas panjang. Dia menunjukkan wajah Saska.
"Seperti nya dia sudah sehat," ucap Vincent.
Vincent terus mengajak Saska berbicara, namun Minhui sudah selesai dari kamar mandi Jeki langsung mematikan sambungan telepon.
"Apa-apaan ini! Kenapa di langsung mematikan nya?"
Vincent sangat kesal.
Vincent melihat pesan dari istri nya. "Aku sangat merindukan nya sekarang, tapi membalas pesan nya akan membuat aku semakin berdosa."
Vincent membohongi semua orang termasuk orang kantor kalau dia memiliki urusan pekerjaan.
"Kenapa sayang? Wajah mu kol cemberut gitu?" tanya Bu Mona.
Kania menatap mertua nya. "Dari tadi chat ku tidak di balas oleh mas Vincent, aku sangat kesal sekali."
"Mungkin dia sedang sibuk sayang, sudah biarkan saja."
"Humm benar mah, ya udah kalau begitu kita pulang Saja."
"Kamu yakin tidak mau ke tempat lain dulu?"
"Humm aku mau beli makanan saja deh mah."
Mereka mampir membeli makanan yang banyak.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah. "Mah, berhubung kita belum makan malam, bagaimana kalau aku masak?" tanya Kania.
"Kamu yakin mau masak? Kita beli di luar saja, Kasian kamu kecapean."
"Gak apa-apa mah, anggap saja ini masakan pertama aku untuk Mamah setelah menikah dengan mas Vincent."
Bu Mona tersenyum. "Oke baiklah kalau begitu sayang," ucap Bu Mona.
"Oh iya, mamah mandi saja dulu, mamah pasti kelelahan."
Bu Mona tersenyum sambil mengangguk. Kania berjalan ke arah dapur.
"Ada apa sih dengan ku? Kenapa aku tidak berhenti memikirkan mas Vincent?" ucap Kania.
"Apa ada sesuatu yang terjadi? Aku merasa mengkhawatirkan sesuatu."
__ADS_1
"Apa karena aku merindukan nya? Hufff ternyata jauh dari suami itu tidak lah enak."
Kania mengalihkan semua perhatian nya untuk memasak, mungkin dengan memasak dia bisa melupakan semua yang ada di pikiran nya.