Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 213


__ADS_3

"Jangan nangis lagi, percuma saja kamu menangis membuat mata kamu bengkak seperti ini," ucap Saska sambil menghapus air mata Shela.


Shela menatap Saska. "Kenapa sih, Arka tidak bisa seperti kakak? Kenapa dia tidak bisa baik kepada ku seperti yang kakak lakukan?"


Saska hanya tersenyum, dia mengelus wajah Shela.


"Sudah-sudah, jangan nangis lagi yah," ucap Saska. Namun semakin di bujuk Shela semakin sedih.


"Sangat imut," ucap Saska dalam hati melihat hidung dan mata Shela merah karena menangis. "Kakak meledek ku?" tanya Shela.


"Bukan, tapi hidung kamu merah. Kamu menangis seperti anak kecil."


"Ih kak Saska nyebelin deh!" ucap Shela kesal sambil menutup wajah nya di antara lutut nya.


"Iyah-iyah, aku minta maaf."


Shela tidak mau memaafkan nya.


"Bagaimana kalau kita mencari eskrim?" tanya Saska.


"Eskrim? aku mau kak," ucap Shela. Lagi-lagi Saska sangat gemas dengan Shela.


Seperti layaknya anak kecil yang sedang menangis di bujuk dengan eskrim.


Sambil terisak-isak dia memakan eskrim. Saska Menatap nya sambil tersenyum. Namun Shela membelakangi Saska dengan cepat.


Namun dia melihat Arka dan Mita lewat bergandengan tangan, dia langsung berbalik lagi dan bersembunyi di dada Saska.


"Aku tidak amu melihat mereka," ucap Shela.


Setelah Shela lebih tenang, akhirnya mereka pulang. Saska mengantarkan Shela pulang sekalian mau lihat adik Shela yang baru saja lahir satu bulan lalu.


Orang tua Saska juga sudah datang kemarin, mereka tidak bisa sering datang karena sibuk dan rumah nya cukup jauh juga.


"Mah, kenapa sih sampai sekarang Papah gak pulang? Bahkan Mamah melahirkan saja sendirian," ucap Shela.


"Papah lagi sibuk sayang," ucap Minghui.


"Selalu saja Sibuk, sudah empat bulan tapi papah gak juga pulang-pulang."


Shela kesal dia langsung masuk ke kamar nya. Saska melihat itu.


"Abaikan saja nak Saska, dia memang sangat suk seperti itu, seperti nya dia sudah sangat merindukan Papah nya."


Saska tersenyum. Minhui melihat Saska yang terlihat sangat suka anak kecil.


"Tante gak nyangka, kamu tumbuh jadi Pria yang baik nak, dulu waktu kecil kamu juga sangat pendiam, tidak banyak minta," ucap Minhui.


Saska tersenyum. "Humm apa aku boleh bertanya sesuatu Tante?" tanya Saska.


"Apakah Tante tau di mana ibu kandung ku?" tanya Saska.


"Kok kamu tanya itu?" tanya Minhui. "Gak apa-apa Tante, aku kefikiran saja."

__ADS_1


"Humm untuk sekarang sih Tante gak tau yah, mungkin om kamu tau," ucap Minhui.


"Apa kamu merindukan nya?" tanya Minhui. Saska hanya diam saja.


"Tante tau kok apa yang kamu rasakan, sebaik nya kamu ijin dulu sama Mamah kamu kalau mau mencari nya."


Saska mengangguk. Saska sangat betah di sana dia bermain dengan adik Shela.


"Apakah namanya sudah ada Tante?" tanya Saska.


"Namanya Laura, Shela yang kasih nama itu."


"Nama yang bagus, sangat cocok dengan nya," ucap Saska.


Kania hari ini baru saja selesai berkunjung ke tempat bisnis baru nya, namun kebetulan sekali lewat rumah Ulfa.


"Tumben banget kamu mampir ke sini?" tanya Ulfa.


"Aku minta maaf jarang ke sini, kamu tau sendiri aku sangat sibuk mengurus anak-anak dan pekerjaan ku."


Ulfa menghela nafas panjang. Dia menatap Ulfa.


"Apa kamu masih betah sendirian seperti ini?" tanya Kania.


"Maksud kamu apa?"


"Kamu masih muda, anak kamu masih kecil-kecil, sebaik nya kamu rujuk lagi sama Yuda," ucap Kania.


"Dulu kamu sering menasehati aku, sekarang kamu yang mengalami hal yang sama seperti ku."


"Seharusnya kamu bertanya, kenapa dia selingkuh."


"Aku tidak perduli, aku punya semua nya sekarang, anak-anak bahagia bersama ku."


Kania menghela nafas panjang. "Walaupun kamu bahagia, namun tetap saja anak-anak kamu kasian tanpa ayah mereka.


Kania cukup lama berbincang-bincang dengan sahabat lama nya itu.


Setelah hari semakin sore, akhirnya Saska pamit pulang. Shela mengantarkan nya ke depan.


"Makasih yah kak, aku mohon kakak jangan ngomong sama siapapun yah tentang tadi."


"Tentang apa?"


"Aku menangis tadi," ucap Shela.


Saska tersenyum. "Baiklah, kamu juga jangan sedih lagi." Saska segera pamit.


"Shela," panggil Minhui.


"Iyah Mah," Minhui minta Shela membuat Susu untuk Laura karena asi Minhui kurang lancar.


"Ngomong-ngomong seperti nya kamu lebih dekat dengan Saska dari pada Arka," ucap Minhui.

__ADS_1


"Iyah Mah, karena kak Saska itu sangat baik, aku dan dia sudah seperti kakak adik."


"Mamah gak bisa lupa, waktu kamu masih dalam perut Mamah di sering banget ngelus perut mamah, mencium nya."


"Emangnya dulu mamah dekat banget yah sama kak Saska?"


Seketika Minhui terdiam, karena Shela belum tau kalau Saska adalah keponakan Papah nya.


"Kami sering ketemu dulu, wajarlah sangat dekat."


"Oohhhh gitu yah mah." Minhui mengangguk.


"Maafin aku yah mah karena marah sama mamah tadi, aku sedang dalam keadaan bad mood tadi."


"Loh, anak mamah kok bisa bad mood sih? coba cerita," ucap Minhui..


"Gak mungkin aku cerita sama mamah, Mamah pasti kefikiran dan pasti ngomong sama Papah nanti nya. Ah sudahlah lebih baik aku diam saja."


"Karena kawan-kawan sekolah mah, aku juga sangat kelelahan."


"Ya udah besok kamu jadi pergi sama Arka kan? kamu puas-puasin deh liburan nya."


Shela baru teringat kalau Dia dan Arka sudah membuat rencana ke puncak bersama.


Karena hubungan mereka sebelumnya sudah semakin baik.


Di malam hari nya. Saska melihat adik nya baru saja pulang dia langsung menyusul nya ke kamar.


"Wahh kelihatan nya kamu bahagia banget, apa kamu dapat uang lebih dari papah?" tanya Saska.


"Boro-boro kak, sekarang mamah sudah batasin."


"Ya Lagian kamu sih, di kasih uang bukan nya beli makanan malah pergi taruhan."


"Lagian hanya sesekali kak, Kapan lagi kalau bukan sekarang seperti itu."


"Jangan membuat alasan deh, hubungan kamu dengan Shela bagaimana?"


"Pasti mamah sama papah yang nyuruh kakak nanya ini kan?" tanya Arka. Saska mengangguk.


"Seperti yang kakak tau, aku dengan dia baik-baik aja, besok kami akan pergi jalan-jalan bersama ke puncak."


"Kamu jangan mempermainkan dia. Dia sudah sangat baik kepada kamu dan juga tulus sama kamu."


"Iyah kak, Iyah," ucap Arka.


"Humm tunggu dulu kak," Arka menahan Saska.


"Kenapa gak kakak aja sih yang dekatin Shela dan menyukai Shela? Karena setiap hari kakak pasti membela dan memuji nya, kakak juga selalu menyanyangi nya."


"Kamu ngomong apa Arka?"


"Bercanda Kak, lagian kakak sih sampai sekarang belum pernah dekat sama perempuan selain sama Tina."

__ADS_1


__ADS_2