
"Terimakasih Sobri."
Yuda menatap tajam ke arah pria itu, karena dia seperti nya mau mendekati kekasih nya itu.
Di rumah Kania. Tidak beberapa lama akhirnya Vincent selesai mandi, dia melihat istrinya sudah mengganti pakaian nya dengan pakaian tidur yang cukup mini.
Vincent mendorong Kania ke tempat tidur..Kania kaget namun dia tidak berontak.
"Kenapa tidak mengeringkan rambut dulu?" tanya Kania.
Vincent tidak menjawab dia langsung mencium bibir Kania.
Kania membalas nya dengan baik, Vincent dengan cepat melepaskan handuk di pinggang nya dan langsung melepaskan pakaian Kania.
Namun baru saja berhasil melepaskan nya, tiba-tiba dia teringat dengan foto bayi itu. Dia menatap wajah Kania.
Kania menatap nya bingung. Namun tiba-tiba Vincent memeluk tubuh Kania mencium pipi nya dan langsung berhenti.
"Kamu pakai saja pakaian kamu, maafkan aku," ucap Vincent.
Kania tidak mengatakan apapun dia langsung diam. Vincent berbaring dan langsung menutup wajah nya dengan kedua tangan nya.
Tidak beberapa lama akhirnya dia akhirnya tertidur.
Keesokan harinya..
Setelah selesai sarapan Vincent langsung pergi berangkat ke kantor. Tidak mengatakan banyak kata kepada istri nya.
Di kampus Kania langsung di hampiri oleh teman-temannya.
Kania yang tadi memikirkan ada apa dengan suami nya langsung ceria karena teman-teman nya sedang membagikan kabar bahagia.
Tiba di hari acara yang di adakan di perusahaan Vincent.
"Kenapa sih sampai jam segini mas Vincent belum datang menjemput ku? Padahal dia sendiri yang mengajak aku untuk makan malam di perusahaan nya."
Tiba-tiba ada mobil berhenti di depan rumah nya. "Permisi Bu Kania, saya di minta untuk menjemput Bu Kania ke perusahaan oleh pak Vincent."
"Loh kenapa tidak suami saya yang datang?" tanya Kania.
"Pak Vincent masih ada urusan dengan beberapa klien nya.
"Oohhhh begitu," ucap Kania. Dia pun langsung masuk ke dalam mobil yang menjemput nya tadi.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai juga di perusahaan.
__ADS_1
Ternyata semua orang sudah berkumpul. Kania melihat Vincent juga sudah duduk bersama Staf laki-laki lain nya di meja.
Dia melihat istrinya datang, dia mendatangi nya.
"Mbak Kania, ayo ke sini," perempuan mengajak Kania bergabung sehingga Kania tidak sempat berbicara dengan Vincent.
Sepanjang malam mereka merayakan hari itu dengan sangat bahagia. Memanggil daging, minum-minum bersama.
Kania melihat suami nya tidak seperti biasanya. Dia lebih cenderung murung dan juga diam saja dan tidak berpindah tempat duduk bahkan tidak melirik nya sama sekali.
Kania sedikit kesal dengan sifat suami nya yang tiba-tiba menjadi sangat aneh.
"Mbak Kania sudah minum begitu banyak, bagaimana kalau mbak Kania mabuk?" menahan Kania yang sudah minum alkohol banyak.
Kania tersenyum. "Ini hanya sesekali saja, yang lain minum, sementara saya tidak. Ini sangat tidak menghargai," ucap Kania.
Akhirnya mereka semua lanjut minum. Tidak beberapa lama akhirnya acara selesai. Vincent membawa Kania pulang karena sudah sangat mabuk sekali.
"Kenapa kalian membiarkan dia mabuk?" tanya Vincent.
"Maaf pak, tapi mbak Kania yang mau minum sendiri.
Vincent membawa Kania kembali ke rumah. Dia membaringkan istri nya di tempat tidur namun Kania menahan leher Vincent.
"Kita sudah di rumah, kamu sangat mabuk."
"Aku tidak mabuk," ucap Kania. Vincent menghela nafas panjang dia melepaskan tangan Kania dari leher nya.
"Baiklah kalau begitu, sebaiknya kamu bersihkan badan dulu," ucap Vincent.
"Aku kesal sama kamu!" ucap Kania memukul Vincent.
"Vincent menatap nya dengan aneh. "Ada apa? Kenapa kamu kesal kepada ku?"
"Aku sudah menunggu mas sepanjang hari di rumah, tapi kenapa mas malah meminta supir kantor yang menjemput aku?" tanya Kania.
"Soal itu aku minta maaf, aku memiliki pekerjaan."
"Pekerjaan? Aku melihat mas sudah minum-minum bersama Staf yang lain nya."
"Kamu mabuk sayang, sebaiknya mandi dulu setelah itu istirahat."
Kania berontak gak mau, dia belum selesai marah-marah, namun Vincent mengangkat badan nya ke kamar mandi dan mandi bersama.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai, seperti biasa Vincent akan mengeringkan rambut Kania. Kania menyenderkan kepalanya di lutut Vincent karena dia sudah sangat mengantuk namun belum bisa tidur.
__ADS_1
Di tempat lain...
"Huff akhirnya selesai juga," ucap Ulfa dia membersihkan semua nya baru bisa meninggal Cafe.
"Kamu pulang naik apa? Aku bisa mengantar kan kamu," ucap Sobri kepada Ulfa karena mereka hanya bertiga shift malam.
Hanya Ulfa perempuan Sobri dan teman laki-laki nya.
"Humm seperti nya aku akan naik bus seperti biasa. Atau mungkin ojek kalau masih ada."
"Sekarang sudah malam, kamu juga tidak biasa naik bus atau ojek malam kan? Aku tau biasanya kamu selalu pulang dengan Yuda."
Ulfa terdiam sejenak, dia mengingat Yuda yang memiliki acara di rumah orang tua nya sehingga dia tidak pulang bersama Yuda.
"Oke baiklah kalau begitu, kamu gak keberatan kan?" tanya Ulfa. Sobri menggeleng kan kepala nya.
"Ya sudah kalau begitu ayo berangkat, pakai helm ini," ucap Sobri.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di depan rumah kontrakan Ulfa. "Terimakasih banyak yah Sobri," ucap Ulfa. Sobri tersenyum.
"Kamu hati-hati yah pulang nya," ucap Ulfa. Sobri mengangguk.
Ulfa melambaikan tangan nya dan langsung masuk ke dalam.
Sobri tersenyum dia langsung pergi meninggalkan halaman rumah Ulfa.
Keesokan paginya di hari Minggu yang cerah. Kania baru saja selesai bersih-bersih. Biasa lah bagi ibu rumah tangga hari libur bukan lah hari untuk bersantai.
Untung saja hari ini Kania tidak bekerja sendiri melainkan di bantuin oleh suami nya sehingga semua nya cepat selesai.
Tapi tetap saja Kania merasa ada yang aneh dengan suami nya itu, dia menyusul suami nya yang sedang bertaman di depan rumah.
"Mas, minum dulu," ucap Kania. Vincent mengangguk. Dia membuka sarung tangan nya meninggal kan rumput nya dan duduk di samping istri nya.
"Akhir-akhir ini mas terlihat sangat aneh, apa mas memiliki masalah di perusahaan? Atau ada masalah pribadi?" tanya Kania.
Vincent menatap wajah Kania. "Siapa yang aneh? Ini tidak aneh, aku hanya merasa kecapean saja dan memikirkan beberapa pekerjaan."
"Tapi seperti nya tidak ada yang harus menjadi beban pikiran pekerjaan di perusahaan, tapi mas terlihat memikirkan sesuatu."
Vincent mengelus kepala istri nya menatap nya. "Kamu fokus saja sama kuliah kamu yah, kamu tidak perlu mengkhawatirkan suami kamu."
Kania menghela nafas panjang. "Kalau mas memiliki masalah, bisa cerita sama aku, walaupun aku tidak bisa melakukan apapun tapi setidaknya aku bisa memberikan saran."
Vincent menatap wajah Kania. "Bagaimana bisa saya mengatakan yang sebenarnya Kania, saya masih bertanya-tanya," ucap Vincent dalam hati.
__ADS_1