
sangat butuh bantuan mu Jeki. Ini demi kebaikan bersama. Aku akan berusaha untuk kesembuhan Sarah."
"Jangan lupa Istri mu, kau sungguh pria berengsek yang berkhianat."
Vincent keluar dari mobil Jeki membiarkan Jeki pulang.
"Hufffttt ini benar-benar sangat gila, bagaimana bisa musuh ku sekarang adalah Paman dari anak ku dan yang merawat anak ku adalah Mantan ku."
"Kamu dari mana sih? Kenapa sangat lama sekali? Saska dari tadi sudah sangat haus," ucap Minhui marah.
Jeki hanya bisa diam. Dia meletakkan semua nya di depan Minhui.
"Ya ampun Jeki, kamu tidak perlu belanja segini banyak nya, lagian kalau tidak cocok dengan Saska pasti terbuang."
Jeki melihat semua belanjaan nya. "Bukan aku yang membeli nya."
"Lalu siapa lagi kalau bukan kamu?" tanya Minhui.
"Ayah nya,"
"Ayahnya? siapa Ayah nya?" tanya Minhui.
"Kamu tidak perlu tau, sebaiknya kamu buat kan susu untuk Saska."
Minhui berjalan ke arah dapur. Tidak beberapa lama dia kembali membawa susu untuk Saska.
Saska diam sambil minum susu di temani oleh Jeki.
Sementara Minhui menyusun semua barang-barang Saska. Minhui melihat ke arah Jeki yang sangat fokus menunggu Saska minum.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai, Saska menangis karena ngantuk. Tapi Minhui masih sibuk di dapur.
Akhirnya Jeki menggendong Saska Sambo mengayunkan nya dan akhirnya Saska ketiduran di dada nya.
Minhui tersenyum melihat Jeki yang sangat hati-hati menggendong Saska.
"Dia sudah tidur kak, sebaik nya bawa ke sini," ucap Minhui.
Mereka membawa Saska ke lantai atas.
"Seperti nya dia lebih baik tidur di kamar ku agar tidak menggangu kamu," ucap Jeki.
"Tidak apa-apa biarkan saja dia tidur di kamar ku agar aku bisa menjaga nya juga."
Di malam hari nya Vincent sampai di rumah, seperti biasa istri nya menyambut nya dengan penuh kehangatan.
"Kamu pasti sangat lapar mas, ayo makan dulu, aku sudah masak."
Vincent tersenyum. Mereka berjalan ke arah dapur.
Setelah selesai makan Vincent mau mandi, seperti biasa dia menyiapkan baju untuk suami nya.
Namun sebelum menyiapkan dia menyimpan pakaian kotor terlebih dahulu.
Namun saat memeriksa kantong jas suami nya dia mengeluarkan struk belanja dan juga banyak perintilan kecil.
"Tumben-tumbenan banget mas Vincent belanja sangat banyak sendiri seperti ini, apa dia membeli keperluan kantor?" tanya Kania.
__ADS_1
Karena sangat penasaran dia melihat struk itu, dan ternyata struk super market.
"Sayang, mana baju ku?" tanya Vincent baru saja keluar dari kamar mandi. "Tunggu sebentar," ucap Kania.
"Oh iya mas, ini untuk apa yah? kenapa mas membeli banyak perlengkapan bayi seperti ini?" tanya Kania.
Vincent sangat kaget struk itu ada di tangan Kania. "Oohh itu tadi untuk Jeki, dia membeli barang-barang untuk anak nya."
"Hah? Jeki? Sejak kapan kalian bisa sedekat itu?"
"Bukan seperti itu, itu..."
Kania menatap kebingungan.
"Sudah lah tidak perlu membahas itu, sangat tidak penting," ucap Vincent.
Kania menghela nafas panjang, dia bingung tapi itu tidak perlu di pikirkan."
Di kamar Jeki dia sama sekali tidak bisa tidur karena mendengar suara tangisan Saska.
"Tok!! Tok!! Tok!!"
"Masuk!"
Jeki masuk ke kamar Minhui. "Maaf membuat tidur kamu terganggu, seperti nya Saska kurang enak badan itu sebabnya dia menangis."
Jeki langsung memeriksa suhu badan Saska, ternyata benar panas.
"Apa sebaiknya kita bawa ke dokter sebentar?" tanya Minhui.
"Tidak perlu, aku membeli banyak obat untuk anak-anak, dan berikan air hangat semoga saja bisa mendingan."
Jeki ingat cara yang sangat bagus untuk menurunkan panas badan bayi, dia membuka baju nya, dia juga meminta Minhui membuka baju Saska meninggalkan popok nya saja.
Minhui kebingungan untuk apa, tapi dia ikut saja.
Jeki berbaring dia membiarkan Saska tidur di dada nya.
Minhui menunggu beberapa menit Saska ketiduran dan tidur sangat nyenyak.
Jeki juga ngantuk. "Sebaiknya nya kamu tidur juga," ucap Jeki.
"Bagaimana kalau nanti dia terbangun?" tanya Minhui.
"Tidur saja, jangan karena bergadang kamu jadi sakit, ingat ada anak ku di dalam perut mu!"
Minhui mengangguk. Dia berbaring di samping Jeki tidak beberapa lama akhirnya dia ketiduran.
Jeki memastikan Minhui tidur akhirnya dia juga tidur.
Sementara Vincent tidak bisa tidur sama sekali. Dia tidak berhenti memikirkan Saska, sementara Kania di lengan nya sudah tidur begitu nyenyak.
"Saska pasti sangat rewel karena baru pindah ke sana, Minhui dan Jeki pasti sangat terganggu."
Keesokan harinya..
"Mas.. kenapa mas bangun sangat cepat sekali?" tanya Kania karena Vincent sudah rapi sementara dia baru bangun tidur.
__ADS_1
"Aku ada kerjaan mendadak di pagi hari," ucap Vincent.
"Kenapa tidak bilang mas? Aku bisa bangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan."
Vincent tersenyum dia mendekati Kania mengelus pipi nya.
"Tidak apa-apa sayang, kamu lanjut tidur saja karena hari ini kamu tidak ada jadwal kuliah kan?"
"Iyah mas, mas juga hati-hati yah."
Vincent mencium kening istrinya dan pergi.
Vincent menunggu Jeki tidak jauh dari rumah Jeki.
"Kenapa kau datang sepagi?" tanya Jeki sangat kesal.
"Bagaimana dengan Saska?"
"Dia demam tinggi, dia sangat rewel mungkin karena tidak terbiasa."
Vincent menghela nafas panjang. "Apa yang harus kita lakukan?" tanya Jeki.
"Apa sekarang keadaan nya masih buruk?"
"Sudah membaik, hanya saja dia masih sangat rewel."
"Aku percaya kepada mu Jeki, aku mohon jaga dia dengan baik."
Jeki menghela nafas panjang. "Tampa kau suruh aku akan melakukan nya karena dia Keponakan ku."
"Tunggu lah di sini, aku akan memanggil dokter."
"Jangan! orang lain tidak boleh tau."
"Kalau begitu apa yang harus aku lakukan?"
"Seperti nya Saska ingin bertemu dengan mu," ucap Jeki.
"Bagaimana kalau Minhui tau?" tanya Vincent. "Tidak perlu memikirkan itu."
Jeki membawa Saska keluar dengan dalih membawa nya ke rumah sakit. Sementara Minhui mengurus di rumah sambil istirahat.
Vincent dan Jeki membawa Saska ke klinik. Setelah di berikan obat Saska sudah mendingan. Vincent mengajak Saska main.
"Bagus deh kalau Saska sudah membaik."
Setelah itu mereka pulang. Vincent harus pergi setelah mengantar kan Jeki.
"Bagaimana? apa yang sakit?" tanya Minhui.
"Hanya demam biasa karena masuk angin, ayo bawa dia masuk ke dalam."
Setelah beberapa lama akhirnya Saska tidur.
"Ya ampun nak, kamu sangat kasian sekali, ibu janji akan menjaga kamu nak."
Jeki mendengar itu, dia hanya bisa diam.
__ADS_1
"Oh iya, ini ada pakaian untuk Saska," ucap Jeki memberikan tas besar.
Vincent sudah menyiapkan semua nya dengan lengkap.