
Namun Saska tidak terlalu marah, karena jauh lebih senang mendapatkan ciuman pertama dari pacar nya itu.
Tidak beberapa lama akhirnya dia selesai bersih-bersih badan.
Tiba di hari libur semester setelah selesai ujian...
Serli mendapatkan nilai yang baik, dia sangat lega karena orang tua nya tidak memindahkan dia lagi. Sementara berbeda dengan Arka yang sangat takut sekali.
Sampai sekarang dia belum tau nilai nya berapa karena Orang tua nya yang datang mengambil raport nya.
"Sayang.. kok kamu dari tadi diam aja? apa yang kami pikirkan?" tanya Mita, mereka sedang keluar mencari beberapa barang yang di perlukan oleh Mita.
"Tidak apa-apa, kamu lanjut saja belanja," ucap Arka.
"Bilang aja, apa yang kamu pikirkan," ucap Mita.
"Jangan-jangan, kamu mengkhawatirkan nilai kamu yah?" tanya Mita. Arka mengangguk.
"Aku yakin pasti bagus kok, kamu sudah belajar dengan baik, tidak seperti sebelumnya," ucap Mita.
"Tapi tetap saja, aku takut," ucap Arka.
"Sudah lah, ngapain di pikirkan? Ayo lanjut lagi," ajak Mita.
Arka masih terlihat sangat sedih sekali, dia bingung harus apa karena kalau sampai nilai nya tidak seperti yang di mau orang tua nya, dia akan terkena masalah.
Setelah selesai menemani Mita, dia pun langsung pulang ke rumah karena orang tua nya sudah menunggu di rumah.
"Ekhem-ekhem!! mau kemana kamu?" tanya Kania melihat Arka mau langsung naik.
"Mau ke kamar mah," ucap Arka sambil tersenyum.
"Sini kamu dulu," ucap Kania.
"Aku minta maaf Mah, aku sudah mengusahakan agar nilai ku bagus tidak seperti sebelumnya, aku berjanji akan memperbaiki nya lagi, aku mohon jangan potong uang jajan dan juga jangan ambil motor ku," ucap Arka.
"Siapa yang mau hukum kamu? Mamah hanya minta kamu ke sini," ucap Kania.
"Terus untuk apa Mamah panggil aku?" tanya Arka kepada Kania.
"Mamah mau bilang untuk kali ini, Mamah akan maafin kamu," ucap Kania.
"Maksudnya mah?" tanya nya heran dan bingung.
__ADS_1
"Karena kali ini nilai kamu lebih baik dari pada sebelumnya. Mamah sudah cukup bersyukur kamu bisa memperbaiki nilai seperti ini. Tapi mamah mau kamu semakin rajin belajar nya lagi!"
"Iyah mah, Mamah tidak perlu khawatir aku pasti akan memperbaiki nya," ucap Arka sangat senang dan langsung memeluk mamah nya.
"Itu artinya aku tidak di hukum kan mah?" tanya Arka. "Tidak akan, dengan syarat kamu harus semakin rajin belajar," ucap Kania.
"Pasti mah, aku tidak akan membuat mamah kecewa, aku pasti akan membuat mamah bangga," ucap Arka.
"Bagus deh kalau begitu, Mamah senang mendengar nya," ucap Kania.
Arka memeluk mamah nya sangat erat sekali karena sangat bahagia.
Arka sangat lega sekali. "Terimakasih Mamah, aku sangat senang sekali, aku berharap sekali tidak akan di hukum."
"Jangan lebay deh, ayo lepas kan Mamah, Mamah masih ada urusan di luar," ucap Kania.
Arka mengangguk. "Oh iya hari ini kamu mau di masakin apa untuk makan malam?" tanya Kania.
"Gak usah mah, hari ini aku papah dan kakak Saska mau nongkrong, jadi makan malam di luar."
Arka langsung naik ke dalam kamar nya.
Di malam hari nya. Arka menghampiri papah dan kakaknya. "Sudah lama nunggu?" tanya Arka. "Jangan banyak tanya deh, pesan makanan kamu, karena menunggu kamu kami jadi kelaparan!" ucap Vincent.
"Tumben banget ngajak makan di luar seperti ini Tampa Mamah?" tanya Arka.
"Kasian mamah sudah capek harus masak lagi untuk kita, jadi kita makan di luar merayakan nilai kamu yang sudah membaik."
"Oohh gitu yah Pak, ya udah deh kalau begitu. Oh iya kalau besok nya lagi nilai ku bagus akan di rayakan lagi gak pah?" tanya Arka.
"Tentu dong," ucap Vincent. Arka sangat senang sekali mendengar itu.
"Kamu harus memperbaiki nya lagi, jangan hanya main saja dan membuat masalah," ucap Vincent. Arka mengangguk.
Dia melihat Saska yang dari tadi hanya diam saja. "Kok kak Saska diam saja sih? Apa kakak tidak senang mendengar nilai ku bagus?" tanya Arka.
"Senang kok, " ucap Saska.
"Walaupun sudah membaik, kamu tidak boleh terlalu senang, kamu harus memikirkan nya lagi agar mendapatkan nilai yang jauh lebih bagus."
"Iyah deh kak," ucap Arka. Saska terlihat sangat lemas sekali. Karena beberapa hari ini dia kecapean dan juga kefikiran kepada Shela yang sudah hampir satu Minggu lebih tidak berjumpa.
Saska mengirimkan nya pesan namun tidak di balas bahkan tidak di baca, di telpon juga sama sekali tidak mau di angkat.
__ADS_1
Beberapa jam di sana akhirnya mereka pulang ke rumah. "Kakak pasti lelah kan? Langsung istirahat saja," ucap Kania karena melihat raut wajah Saska.
"Mas, apa tidak sebaiknya Saska di suruh istirahat saja, dia terlihat sangat kelelahan."
"Pekerjaan di kantor tidak terlalu banyak, dia harus terbiasa, dulu aku juga seperti dia, namun lama kelamaan pasti semakin betah."
"Tapi mas," ucap Kania. "Kamu juga terlihat sangat lelah, kamu juga istirahat saja," ucap Vincent langsung karena dia tau pekerjaan di kantor tidak terlalu sulit.
Dan dia yakin Saska seperti itu bukan karena pekerjaan melainkan ada hal yang lain.
Tidak beberapa lama akhirnya mereka istirahat di kamar masing-masing.
"Tuttt.... tuttt.. tutt... kenapa gak di jawab sih, jawab dong Shela," batin Saska.
Karena tidak di jawab, akhirnya dia memutuskan bertanya kepada adiknya.
"Tok!! tok!! tok!!"
"Siapa sih ngetuk pintu sangat kuat?" ucap Arka dengan kesal.
"Bentar yah sayang, aku mau buka pintu dulu," dia sedang menelpon Mita.
"Ada apa?" tanya Arka sambil membuka pintu.
Saska langsung masuk begitu saja. "Ada apa kak?" tanya Arka.
"Sudah beberapa hari ini Shela tidak menjawab telpon dari kakak, apa kamu tau dia kenapa? Apa kamu bertemu dia hari ini?" tanya Saska.
"Ya pasti ketemu lah kak, satu kelas," ucap Saska. "Kelihatan nya dia baik-baik saja kok," ucap Arka.
"Tapi kenapa dia mengabaikan telpon ku?" tanya Saska dengan sangat kesal."
"Sudah beberapa kali aku mencoba menelpon nya namun tidak pernah di jawab," ucap Saska.
"Mungkin dia lagi sibuk kak, aku dengar dia akan berkunjung ke rumah orang tua Papah nya," ucap Arka.
"Pulang kampung?" tanya Saska kaget.
"Seperti nya sih kak, hanya saja aku tidak tau pasti nya, yang aku dengar seperti itu," ucap Arka.
Saska menghela nafas panjang. "Apa kakak gak mau nemuin dia aja?" tanya Arka.
"Gak mungkin malam-malam seperti ini," ucap Saska. Dia langsung keluar dari kamar Arka.
__ADS_1