Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 65


__ADS_3

Vincent tidak menjawab nya.


"Sudah lama kita kenal namun kita belum berbicara tentang hal-hal seperti ini," ucap Heni.


"Heni dari awal saya sudah bilang kalau kita cukup menjadi teman saja, saya tidak bisa membuka hati untuk orang lain."


Heni langsung diam, tidak berani mengatakan apapun karena Vincent sangat dingin membuat nya takut.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di depan rumah Heni.


"Terimakasih yah, makasih juga sudah mengajak aku untuk makan malam."


"Ngajak makan malam?"


"Iyah, Tante Mona yang bilang kalau kamu ngajakin aku Makan malam."


V


"Ya sudah kalau begitu aku masuk dulu yah," ucap Heni.


Vincent mengangguk.


"Kamu yakin tidak mau masuk dulu?"


Vincent menggeleng kan kepala nya dan langsung pergi.


Vincent sepanjang jalan memikirkan Mamih nya.


"Mamih benar-benar sangat ingin menjadikan Heni menantu nya sehingga dia beberapa kali berbohong kepada Heni," batin Vincent.


"Kamu sudah pulang?" tanya mamah nya kepada Heni.


"Iyah mah."


"Bagaimana makan malam nya dengan Vincent?"


"Semua nya baik-baik aja mah."


"Baik-baik bagaimana? Apa sudah ada kemajuan hubungan kalian?"


"Maksud nya mah?"


"Apa Vincent sudah ada tanda-tanda menyukai kamu?"


"Mah, kita baru kenal satu bulan,"


"Mamah tidak mau tau pokoknya kamu harus menikah dengan Vincent."


"Mah gak bisa di paksa seperti itu mah, aku juga belum tentu menyukai Vincent.


"Jangan banyak pilihan deh kamu, kurang apa lagi Vincent?"


"Kita harus menjadi keluarga nya, itu juga berdampak untuk masa depan kita agar kedepannya lebih cerah."


"Mah berhenti memikirkan tentang seperti ini bisa gak?" tanya Heni.


"Mamah gak mau tau dalam satu bulan ini kamu harus pacaran dengan Vincent."


Heni menghela nafas panjang dia langsung meninggalkan mamah nya begitu saja.

__ADS_1


Sementara Vincent baru sampai di rumah sudah di sambut oleh mamih nya.


"Akhirnya kamu pulang nak, bagaimana kencan kamu dengan Heni?"


"Biasa saja."


"Kok biasa aja sih? Apa kamu tidak meminta dia menjadi pacar kamu?" tanya Bu Mona.


Kania yang baru saja dari dapur mau ke atas mendengar pembicaraan itu.


Vincent menyadari Kania di sana.


"Mah aku tidak mau membicarakan tentang itu."


Vincent langsung masuk dan mengejar Kania.


"Kania saya bisa menjelaskan nya."


Kania melepaskan tangan Vincent dari lengan nya.


"Saya minta maaf."


Kania menatap Vincent.


"Seharusnya kalau Paman memiliki janji dengan orang lain, paman katakan agar aku juga tidak menunggu paman di sana dan melihat kedekatan paman dengan wanita itu."


Kania masuk ke dalam, Vincent mengikuti nya sambil minta maaf.


"Saya tidak tau kalau mami memesan Restoran yang sama seperti yang kita pesan."


Kania menghela nafas panjang.


"Aku sudah memikirkan semua nya paman, sebaiknya paman mengikuti apa permintaan Bu Mona saja."


"Sudah berapa kali saya katakan agar kamu jangan mengatakan hal seperti ini, ini menyakiti saya."


"Jadi Paman fikir dengan tidak ada ketegasan paman seperti ini membuat aku bahagia? Aku juga tersakiti, aku tiap hari harus menahan rasa cemburu melihat Bu Mona selalu membandingkan aku dengan Heni, menjodohkan paman dengan Heni!"


"Saya harus bagaimana Kania? Apa yang harus saya lakukan? Apa saya harus menentang orang tua saya?" tanya Vincent.


Kania menggeleng kan kepala nya.


"Tidak perlu lagi, aku sudah pasrah dan tidak ingin hubungan ini lanjut."


Vincent mendorong Kania ke tempat tidur dengan sangat kasar.


"Kamu tidak bisa mengatakan itu Kania! Kamu tidak bisa melakukan itu kepada saya karena saya hanya mencintai kamu."


"Lepas kan aku!"


"Tidak akan! Kamu harus mencabut kata-kata mu itu!"


Kania memberontak karena tangan nya di tahan oleh Vincent.


"Saya tidak akan membiarkan kamu meninggalkan saya, saya hanya memiliki kamu, saya tidak memiliki orang lain yang perduli kepada saya."


"Aku tidak tahan kalau harus seperti ini terus, aku juga memiliki hati."


Vincent menatap wajah Kania.

__ADS_1


"Bukan hanya kamu Kania, saya jauh lebih tersiksa karena harus mengikuti semua kemauan orang, saya tidak bisa menolak, kenapa kamu tidak memikirkan perasaan saya juga?"


Kania berhenti berontak dia melihat Vincent menangis.


"Saya lelah Kania, saya juga ingin menghabiskan waktu bersama kamu seperti biasa, saya tidak ingin seperti ini, namun dia adalah orang tua saya, orang yang sudah melahirkan saya."


Kania terdiam. "Kania apa kamu tidak bisa percaya kepada saya? apa kamu tidak bisa bersabar seperti dulu menunggu saya?"


"Aku sudah muak harus diam dan menunggu Tampa ada kepastian paman, aku sudah sangat lelah, aku sudah bertahun-tahun menunggu paman, semua yang paman lakukan kepada ku masih aku ingat jelas namun sekarang Orang tua paman yang sangat membenci ku yang aku sendiri tidak tau di mana letak kesalahan ku."


Vincent memeluk Kania.


"Kenapa setiap hari hubungan ku dengan Kania semakin seperti ini?" batin Vincent.


Keesokan harinya Yuda sampai di kampung Ulfa jam tujuh pagi karena berangkat dari shubuh.


"Yuda."


"Maaf, aku tidak bilang kalau datang sepagi ini." ucap Yuda.


Ulfa membawa nya masuk.


"Rumah masih berantakan karena habis yasinan."


"Kamu istirahat saja dulu, aku mau bersih-bersih dan juga Mandi."


Yuda menahan tangan Ulfa.


"Kenapa wajah kamu sangat pucat dan badan kamu sangat kurus, apa kamu baik-baik saja?" tanya Yuda.


"Aku hanya sedikit kurang enak badan."


Yuda menghela nafas panjang.


"Oh iya aku akan kembali ke kota hari ini."


"Kamu yakin sudah baikan?" tanya Yuda.


"Aku sudah lebih baik sekarang, aku juga tidak bisa banyak libur."


"Tidak apa-apa, aku akan berbicara kepada Mamah ku, dia pasti mengerti."


"Terimakasih Yuda, hanya saja aku tidak mau ketinggalan."


"Ya sudah kalau begitu."


"Kamu pasti sangat lelah, kamu bisa tidur di kamar ku."


Di sore hari nya Ulfa berpamitan kepada semua keluarga nya untuk kembali kuliah melanjutkan perjalanan nya.


Semua keluarga nya sangat sedih melepaskan Ulfa.


Yuda bisa merasakan kesedihan keluarga itu. Sebelum berangkat Ulfa berpamitan terlebih dahulu ke makam ibu nya yang tidak jauh dari rumah.


"Assalamualaikum Bu, aku pamit dulu yah, aku harus melanjutkan kuliah ku seperti apa yang ibu bilang."


"Ibu bilang apapun yang terjadi aku tidak boleh berhenti kuliah dan menjadi Orang sukses agar bisa membuat Ibu bangga."


"Bu sekarang ibu sudah tenang di sana, ibu tidak akan sakit-sakit lagi dan ibu juga tidak akan repot-repot mengurus ku, sekarang aku harus mandiri demi ibu."

__ADS_1


"Ibu aku akan datang setelah aku wisuda, aku akan membuktikan kepada ibu kalau aku bisa menjadi anak yang ibu banggakan."


Mendengar Ulfa berbicara seperti itu Yuda menangis.


__ADS_2