
"Saya sudah melakukan semua nya, namun Kania tetap tidak mau kembali dan tidak mau bertemu dengan saya."
"Apa hanya Kania saja yang harus Bapak pikir kan? Bagaimana dengan Saska?" tanya Tomi.
Vincent baru ingat kalau ternyata dia memiliki anak.
Vincent duduk, dia memegang kepala nya yang terasa sangat pusing.
Karena usul dari Tomi, akhirnya Vincent mengunjungi Anak nya di rumah Jeki.
Kebetulan sekali Jeki di rumah. "Untuk apa kau ke sini? Selama ini kau kemana?" tanya Jeki kesal.
"Sorry bro, kau tau sendiri seperti rumah tangga ku sekarang."
"Jadi kau tidak memikirkan masalah ku? Sampai sekarang Minhui belum kembali, sementara dia lagi hamil tua."
Mereka saling mengadu nasib. "Aku ke sini mau membawa Saska bersama ku."
"Kalau kau membawa nya bagaimana dengan ku? Aku tidak memiliki teman di sini."
"Dia juga anak ku, aku ingin bersama nya sesekali."
Jeki tidak bisa menahan, akhirnya dia memberikan Saska.
"Anak yang sangat malang sekali, dia tidak tau apa-apa, namun dia harus sengsara," batin Jeki.
Sampai di rumah Vincent dan Saska hanya berdua di rumah.
Vincent menghabiskan waktu nya menemani Saska bermain.
Keesokan harinya dia juga tidak bekerja dan memutuskan menemani anak nya di rumah lagian percuma saja dia pergi karena tidak bisa fokus bekerja.
Namun saat asyik menemani Saska bermain, tiba-tiba bel rumah berbunyi.
"Tunggu sebentar yah nak, Papah buka pintu dulu," ucap Vincent.
Saska hanya diam saja, namun dia mengikuti Vincent berjalan ke pintu.
Vincent membuka pintu dia melihat Ulfa dan Yuda.
"Kalian datang ke sini?" tanya Vincent kaget.
Ulfa mengangguk. "Silahkan masuk," ucap Vincent.
mereka berdua masuk dan melihat Saska yang sedang mengikuti Vincent.
"Dia baru saya jemput kemarin ke sini, karena sibuk dengan urusan saya sendiri, saya hampir melupakan Saska," ucap Vincent.
"Kalau boleh tau ada apa? Apa Kania kenapa-napa?" tanya Vincent.
"Kania baik-baik saja, tapi sebaiknya paman datang berbicara dengan nya dan mengajak nya pulang," ucap Ulfa.
__ADS_1
Vincent menatap kebingungan kepada Ulfa. "Apa kamu menyembunyikan sesuatu?" tanya Vincent.
Ulfa menggeleng kan kepala nya. "Tidak pak, hanya saja sudah saatnya membicarakan ini, dan Kania sudah terlihat lebih tenang."
"Baiklah kalau begitu saya akan datang hari ini," ucap Vincent.
Setelah berbicara dengan Vincent, ulfa dan Yuda berangkat ke kampus.
Tidak beberapa lama mobil Vincent berhenti di depan rumah Ulfa.
"Tok!! tok!! tok!!" ketukan pintu rumah Ulfa.
Kania yang sedang berbaring di sofa bangun dan membuka pintu.
"Pemilik rumah ini sedang tidak di rumah," Ucap nya sebelum melihat suami nya.
"Mas Vincent," ucap nya kaget.
Vincent menatap wajah istri nya yang sudah sangat dia rindukan.
"Apa yang mas lakukan di sini? Sebaiknya mas pergi!" ucap Kania.
Vincent langsung masuk sebelum Kania menutup pintu.
"Apa yang mas lakukan? Keluar dari sini, aku tidak mau berbicara dengan mas untuk saat ini."
"Mau sampai kapan kamu menghindari aku seperti ini?" tanya Vincent.
"Aku sangat membenci mas Vincent, keluar dari sini sebelum aku berteriak!"
Namun tiba-tiba Saska masuk sambil mendorong pintu yang hampir tertutup tadi.
"Papah... Papah..." ucap nya sambil terus berjalan mendekati Vincent.
Saska menatap Kania yang juga menatap nya.
"Aku datang ke sini mau menjemput kamu, kita sudah menjadi pasangan, kita bicarakan ini baik-baik di rumah," ucap Vincent.
"Besok, Mami akan datang ke rumah, kalau dia melihat kita seperti ini dia pasti sangat sedih."
"Itu semua karena mas," ucap Kania.
"Aku tau ini semua karena aku, tapi aku mohon pulang lah dengan ku."
Vincent memohon Kania untuk pulang. Kebetulan sekali Ulfa pulang karena kuliah nya cukup cepat selesai.
Dia juga membujuk Kania agar ikut suami nya pulang.
Kania dengan sangat berat dia harus pulang ikut suaminya.
Selama perjalanan pulang dia tidak mengatakan apapun, hanya terdengar suara celoteh Saska yang di pangkuan Vincent.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Kania masuk, dia melihat rumah yang sangat berantakan sekali.
"Aku minta maaf, aku akan merapikan semua nya," ucap Vincent.
Vincent merapikan mainan, semua barang-barang yang di serak oleh Saska. Bahkan yang bukan mainan dia mainkan oleh nya.
Namun Saska bukan membantu melainkan dia mengeluarkan kembali mainan nya.
Kania yang melihat itu hanya bisa menghela nafas panjang dia langsung berjalan ke arah lantai dua.
Namun dia semakin kaget ketika masuk ke dalam kamar mandi, aroma yang tidak sedap membuat nya mual.
Vincent mendengar itu, dia Langsung panik.
"Apa yang ada di kamar itu, kenapa sangat busuk?"
Vincent memeriksa nya, ternyata sangat banyak pakaian kotor, sampah dan semua nya bercampur sehingga sangat bau.
Vincent belum pernah bersih-bersih sebelum nya, dia sangat kewalahan, dia duduk di lantai bersandar ke kasur.
"Kenapa aku tidak membersihkan ini terlebih dahulu sebelum menjemput Kania?"
Kania duduk di sofa sambil melihat Saska yang tidak berhenti menghamburkan mainan nya.
Karena Vincent tidak bisa membersihkan semua nya, dia meminta jasa bersih-bersih untuk membersihkan rumah yang seperti sudah tidak di urus itu.
Setelah semua nya bersih, Kania bisa istirahat di kamar.
Vincent mau berbicara namun Kania langsung tidur.
"Sudah lah, mungkin bukan saat nya membicarakan ini, dia sudah di sini saja sudah membuat aku senang," ucap Vincent.
"Kamu pasti sangat lelah kan, kamu tidur siang dulu, aku akan melihat Saska," ucap Vincent.
"Jangan sentuh aku," ucap Kania ketika Vincent mau mengelus kepala nya.
Vincent langsung menahan diri, dia permisi keluar dari kamar.
Dia duduk di sofa. "Papah sangat lelah," ucap nya karena Saska langsung naik ke badan nya.
"Mam-mam." Saska belum lapar, Vincent menberi nya makan terlebih dahulu.
Dia memerhatikan wajah Saska. "Apakah aku harus menitipkan nya ke panti asuhan?" batin Vincent.
"Sarah tidak mungkin mau menerima nya, begitu juga dengan Jeki dia memiliki masalah pribadi dan tentunya dia akan mempunyai anak juga."
"Aku sangat mencintai istri ku, begitu juga dengan Saska, tapi aku tidak sanggup kehilangan istri ku, aku juga tidak tega kepada anak ku sendiri."
"Tapi kenyataannya, Kania tidak mungkin menerima Saska, dia pasti sangat tidak menyukai anak ku," batin Vincent.
Di sore hari nya Kania keluar dari kamar. "Kamu sudah bangun? Aku sudah membeli Makanan dari luar, kamu makan dulu," ucap Vincent.
__ADS_1
Kania menolak, namun Vincent memaksa Kania untuk Makan, dia janji tidak akan menggangu dan membawa Saska pergi.
Vincent tentu sangat merasa bersalah kepada istrinya, dia pun akan melakukan apapun itu untuk mendapatkan maaf dari istri nya itu.