Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 165


__ADS_3

"Gak apa-apa, aku bisa tidur di sini, aku gak mau membuat kamu tidak nyaman."


"Kamu tidak mau tidur bareng aku karena aku bau obat yah? Kenapa kamu jahat banget sih?" ucap Sarah ngambek.


Vincent menghela nafas panjang, dia melihat ke arah Sarah.


"Baiklah-baiklah aku akan tidur di sini," ucap Vincent. Sarah langsung tersenyum dia menggeser badannya dan memeluk Vincent dengan sangat erat sekali.


"Aku sangat merindukan momen seperti ini, aku harap kita bisa bersama terus," ucap Sarah.


"Terimakasih yah sudah mau menemani aku, sudah mau sabar dan perduli kepada ku," ucap Sarah. Vincent tidak menjawab nya dia hanya diam saja.


Keesokan paginya...


Vincent mengajak Sarah jalan-jalan keluar dari ruangan menghirup udara segar.


Namun saat asyik berjalan Handphone nya berdering. "Tunggu sebentar yah, aku jawab telpon dulu," ucap Vincent ketika melihat istrinya menelpon.


Sarah melihat Vincent pergi menelpon jauh dari nya. "Huff kenapa dia harus jauh-jauh seperti itu kalau mau menelpon? apa dia menyembunyikan sesuatu dari ku?"


"Ah sudahlah, mungkin dia sedang berbicara dengan teman kerja nya."


"Halo mas?"


"Iyah sayang," jawab Vincent.


"Maaf yah aku ganggu waktu mas, apa mas sudah sarapan?"


Vincent tersenyum. "Gak apa-apa kok, baru saja selesai sarapan," ucap Vincent namun dia mengelus perutnya yang belum di isi dari tadi malam karena tidak berselera.


"Pasti mas lagi bekerja kan? kalau begitu mas lanjut bekerja yah."


Telpon langsung mati. "Ada apa dengan nada bicara Kania? Apa dia sedang saki?" batin Vincent.


"Vincent... Ayo buruan," ajak Sarah.


Vincent mengangguk.


"Dia membawa Sarah jalan-jalan lagi ke taman rumah sakit.


"Sebenarnya aku sakit apa sih? Kenapa sampai sekarang aku masih di rumah sakit ini? Aku merasa badan ku baik-baik saja," ucap Sarah.


Pertanyaan yang sangat sulit di jawab oleh Vincent.


Di tempat lain...


"Mbak Kania, kenapa Mbak bisa di sini?" tanya Fani kaget melihat Kania di depan perusahaan.


"Saya mau bertemu dengan beberapa orang di sini," ucap Kania.


"Oohh begitu yah mbak, kalau begitu mari saya antar ke dalam."

__ADS_1


Mereka bertemu dengan Tomi.


"Kania.. Kamu di sini?" tanya Tomi. Kania tersenyum sambil mengangguk.


"Loh bukannya kamu tau kalau pak Vincent tidak di sini?"


"Aku ke sini mau bertemu dengan beberapa klien."


"Kamu melanjutkan bekerja lagi?" Kania mengangguk.


"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya kamu datang membantu ku," ucap Tomi. Dia tampak sangat senang sekali kembali nya Kania.


Tomi dan Kania berbincang-bincang sehingga melupakan Fani.


Fani kembali ke ruangan bekerja nya nya dengan wajah yang sedikit cemberut.


Di rumah Jeki... Jeki bangun telat karena bergadang sepanjang malam.


Dia bangun namun Minhui dan Saska masih tidur. Dia menarik tangan nya dari leher Minhui.


Dia tersenyum ketika menatap wajah Minhui.


Karena sudah telat dia segera bergegas ke kamar mandi dan siap-siap ke kantor.


Setelah sudah siap dia bergantian dengan Minhui yang tiba-tiba mual-mual. Dia membantu nya sebentar dan lanjut siap-siap.


"Aku berangkat dulu yah," ucap Jeki. Minhui hanya mengangguk saja.


Minhui menatap Jeki. "Baiklah kamu boleh pergi, hati-hati."


Jeki tersenyum, dia mencium Saska. "Aku sudah memesan makanan untuk mu dan juga Saska, tidak perlu masak."


Jeki pergi sangat terburu-buru sekali. Sesampainya di kantor semua orang melihat nya.


"Kenapa kalian menatap saya seperti itu?"


"Tumben sekali bapak telat hari ini, dan apa yang ada di saku celana Bapak?"


Jeki menarik sesuatu di saku belakang nya, ternyata ada kaus kaki Saska.


"Ini kaos kaki Keponakan saya, mungkin dia iseng."


"Bapak sudah memiliki Keponakan? Bukan nya adik Bapak belum menikah?'


"Kalian lanjut saja bekerja! Untuk apa kalian bertanya tentang itu!"


Setelah itu Jeki masuk ke ruangannya. "Huff ternyata memiliki anak satu cukup susah, bagaimana kalau dua yah,"


"Vincent secepatnya menyelesaikan masalah nya, sebentar lagi Minhui sudah mau melahirkan," ucap Jeki.


Pagi-pagi baru buka laptop dia sangat kaget melihat proyek nya lancar dan tanda uang masuk.

__ADS_1


"Seperti nya ini rejeki Saska dan anak ku, kira-kira apa yang harus aku belikan untuk mereka yah."


"Humm tapi jangan sekarang deh, persalinan nanti membutuhkan banyak uang," batin Jeki.


Minhui tadinya lanjut tidur, namun Saska tidak membiarkan nya tidur lagi, untuk sebentar mereka bermain di atas kasur.


karena kedua nya lapar mereka turun kebawah.


"Loh, ibu siapa?" tang Minhui kaget melihat orang lain ada di rumah nya.


"Perkenalkan nama saya Bibik Sumi, saya di sini di bekerja di suruh pak Jeki."


Minhui terdiam sejenak, dia melihat rumah sudah bersih. "Saya sekalian membersihkan lantai dua yah mbak."


Tiba-tiba telpon rumah berbunyi. "Halo? apa maksud kamu memasukkan orang lain seperti ini ke rumah?"


"Dia adalah Bibik di rumah orang tua ku, dia orang baik, tapi mulai sekarang dia akan tinggal bersama kita membantu kamu mengurus rumah."


"Aku tidak setuju!"


"Harus setuju! Kamu mau kan bayi kamu sehat? Kamu mau kan Saska terurus dengan baik?"


"Tapi seperti ini membuat aku tidak nyaman."


"BIbik sudah tau tentang kita, dia tidak akan mengatakan kepada siapapun."


"Terserah kamu saja deh! Kenapa tidak diskusi dulu kepada ku!" Telpon langsung di matikan.


Jeki menghela nafas panjang. "Apakah pekerjaan semua wanita setiap hari hampir sama? Kalau tidak marah-marah, ngomel dan juga ngambek," ucap Jeki.


Beberapa jam semua rumah sudah bersih kembali. Sudah sangat nyaman sekali.


"Oh iya mbak, saya bisa mijit sedikit-sedikit, pak Jeki bilang kalau mbak sering sakit pinggang. Itu adalah hal biasa untuk wanita hamil, kalau butuh bantuan saya katakan saja."


Minhui menatap Bibik. "Jangan bilang selama ini Jeki bertanya tentang menjaga anak, menjaga wanita hamil dari Bibik?"


"Hanya sekali-sekali saja Mbak, dulu waktu mbak Sarah hamil pak Jeki lah yang menjaga nya dan membantu nya melahirkan, jadi tidak heran kalau pak Jeki paham sedikit-sedikit."


Minhui terdiam sejenak dia duduk melamun di sofa.


Di malam hari nya Jeki baru saja pulang. Dia tampak kelihatan sangat lelah sekali.


"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu diam saja di sana melihat aku pulang?" tanya Jeki kepada Minhui.


Minhui melihat ke arah pintu. Saska datang dari dekat nya mengejar Jeki.


Jeki tau Minhui masih marah, tidak berani mengatakan apapun dia hanya bisa diam dan mencoba melakukan hal yang baik agar tidak membuat Minhui marah.


Namun saat mau tidur Minhui menahan Jeki yang hendak tidur.


"Aku mau bertanya sesuatu dan kamu harus menjawab nya dengan jujur," ucap Minhui.

__ADS_1


__ADS_2