Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 49


__ADS_3

Setelah selesai dari sana Vincent berangkat ke acara yang ada di sebuah gedung.


Acara pertemuan antara beberapa pebisnis sukses, orang-orang tinggi dan pemilik perusahaan.


Minghui di undang karena Direktur Je tidak bisa datang, dia mewakili sebagai kekasih Je.


Vincent sampai di tempat dia langsung di sambut oleh wartawan dan juga banyak media yang meliput nya.


Tidak ada satu kata pun keluar dari mulut nya karena merasa itu tidak lah penting.


"Selamat datang pak Vincent." sapa teman-teman nya yang sudah tiba terlebih dahulu.


Vincent bergabung sebentar dia langsung mencari tempat duduk sambil memantau pergerakan Minghui yang sedang kumpul bersama teman-teman nya.


"Ekhem-ekhem!!"


Ternyata Jeki ada di sana dan duduk langsung di depan Vincent.


"Dari tadi saya perhatikan kamu melihat ke arah kekasih saya, apa sekarang kamu menyesal telah putus dengan nya?"


Vincent menghela nafas panjang dia menatap Jeki dengan tatapan dingin.


"Wanita penghianat seperti ular tidak pantas untuk di sesali. Justru saya bersyukur karena di jauhkan dari wanita seperti dia."


Jeki tersenyum tipis mendengar itu.


"Tapi jujur saja kalau sandiwara tunangan ku cukup bagus bukan? Pria yang terkenal sangat cerdas dan kaya raya seperti mu sangat mudah di bohongi oleh nya."


"Maksud mu apa?"


Jeki tersenyum.


"Saya tidak berfikir kalau Vincent yang di puji-puji banyak orang ternyata sangat bodoh."


"Saya tidak ingin ribut malam ini."


"Sebelum berpacaran dengan mu, Minghui sudah berpacaran dengan ku."


Vincent cukup kaget mendengar nya namun dia berusaha untuk biasa saja.


"Selama ini aku meminta nya mencari data-data, informasi dan hal yang penting untuk bisa membantu ku mendapatkan perusahaan itu dan sekarang aku tidak sia-sia mengikhlaskan nya dimiliki oleh pria seperti mu!"


"Direktur Jeki." dia di panggil oleh teman nya.


Vincent langsung minum karena merasa gerah.


"Seperti nya Jeki benar-benar sangat rapi menyiapkan ini semua, aku sekarang harus hati-hati, aku tidak mau kecolongan lagi," ucap nya.


Dia sedang berbicara dengan teman-teman nya namun handphone nya tiba-tiba berdering dari Kania.


"Jangan telpon saya dulu, saya masih di luar." Vincent mengirimkan pesan.


"Yah..." Kania melihat makanan yang sudah dia masak.


"Omah, Opah, sebaik nya kita makan dulu, Paman Akan pulang lebih lambat hari ini."


"Oohhhh ya sudah tidak apa-apa."


Mereka makan, tidak lupa Kania menyisakan untuk Vincent.


Tidak terasa hari semakin malam, Vincent takut kalau Kania marah dia pulang terlalu larut dan mabuk akhirnya dia memilih untuk pulang.


Namun saat keluar dari sana dia melihat Minghui mabuk dan muntah-muntah di luar.


Tidak ada satu orang pun di sana. Dia melihat Minghui seperti nya kehilangan akal sehat nya sehingga dia tidak sadar dia duduk di lantai.

__ADS_1


Vincent meminta security membantu nya.


"Hari ini aku tidak bisa berbicara dengan nya karena Jeki datang, aku tidak ingin menjadi pusat perhatian sebaiknya aku tidak berbicara sekarang, aku akan mencari waktu yang tepat untuk berbicara dengan nya langsung.


Vincent memutar mobil nya dan kembali ke rumah.


Sampai di rumah dia sangat kaget melihat Kania menunggu nya di ruang tamu.


"Paman! Paman dari mana saja?" tanya Kania langsung.


"Kamu kenapa belum tidur?"


"Paman jawab dulu, Paman dari mana kenapa pulang larut mana? apa Paman tau aku sangat mengkhawatirkan paman!"


Vincent memegang wajah Kania dengan kedua tangan nya.


"Baiklah Paman minta maaf, hari ini ada acara di luar, paman tidak bisa menjawab telpon kamu karena di sana sangat berisik sekali."


Kania menghela nafas panjang.


"Sudah jangan marah lagi, sekarang saya sudah pulang."


Kania memasang wajah cemberut.


"Kenapa paman bau alkohol."


"Di sana sangat banyak teman-teman saya datang, saya di anggap tidak menghargai mereka kalau tidak minum. Saya minum hanya sedikit saja, sedikit saja."


Kania menatap tajam.


"Saya sangat takut kalau kamu marah, jangan marah lagi yah, senyum dong."


Kania memeluk Vincent.


"Baiklah sayang," Vincent mencium bibir Kania.


"Omah sama Opah mana?"


"Jam segini mereka sudah tidur."


"Oohh sudah tidur...." Vincent memasang wajah aneh.


"Berhenti berfikir aneh-aneh."


"Huff saya tidak mengatakan apapun namun sudah ada ancaman dari kamu."


"Apa Paman sudah makan?"


"Saya sudah makan, hanya saja sekarang saya sangat lapar."


"Kalau begitu aku akan memanaskan makanan yang aku masak tadi."


Vincent tersenyum sambil mengangguk.


"Kamu sungguh calon istri yang baik dan bisa di andalkan."


Setelah selesai makan Vincent dan Kania duduk di balkon bersama.


"Hari ini saya bertemu dengan banyak media."


"Aku tau."


"Saya sangat lelah, saya mau istirahat."


Vincent memeluk Kania.

__ADS_1


Kania membiarkan Vincent tidur di pundak nya untuk sementara.


"Saya tidak akan memiliki waktu cuti untuk kita jalan-jalan."


"Tidak apa-apa, sebaiknya Paman tidak perlu terlalu memikirkan tentang kita."


Vincent menatap wajah Kania.


Kania mencium bibir Vincent, dan Vincent langsung membalas nya dan menahan kepala Kania.


Vincent membawa Kania langsung ke kamar karena takut ada yang melihat nya.


Sampai di kamar ciuman mereka tidak kunjung lepas,


Vincent dan Kania berbaring di tempat tidur.


"Paman, sebaiknya kita jangan melakukan ini."


Karena Vincent sudah mau membuka baju nya.


Vincent menghela nafas panjang.


"Baiklah saya mengerti."


Kania tersenyum.


"Tapi saya sudah..."


Kania menoleh ke arah bawah dia langsung malu.


"Maafin aku Paman."


"Kalau begitu sebaiknya kamu keluar saja, saya akan menyelesaikan nya Sendiri."


"Hah sendiri?" tanya Kania bingung.


"Kamu tidak akan paham, pergi lah."


Kania berbalik dan membuat Vincent di bawah.


"Kania apa yang kamu lakukan? Jangan membuat saya semakin..."


Kania menggoda Vincent, di saat Vincent mulai membalas nya dia langsung pergi.


Vincent menghela nafas panjang melihat Kania pergi sambil tersenyum.


"Aarrrgghh!!! Kania kamu sengaja melakukan ini."


Vincent merasa tersiksa dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Di tempat lain Minghui baru saja sampai di depan apartemen nya di antar oleh security suruhan Vincent.


"Siapa yang meminta bapak mengantarkan saya?"


"Pak Vincent Bu, apa perlu saya antar ke dalam?"


"Tidak perlu, saya bisa sendiri. Terimakasih banyak."


Minghui memegang kepala nya yang terasa sangat pusing sekali.


"Perasaan aku hanya minum sedikit namun kenapa kepala ku sangat pusing dan juga juga perut ku juga sangat sakit."


Minghui masuk ke dalam apartemen nya, dia berusaha menghubungi Jeki namun tidak bisa di hubungi karena sudah malam juga.


Akhirnya Minghui tidur Tampa menukar baju nya yang sudah sangat kotor sekali.

__ADS_1


__ADS_2