
Kania mengangguk. Dia menceritakan semua nya kepada Yuda karena dia yakin Yuda lah satu-satunya yang bisa memberikan saran dan menyimpan rahasia.
Ulfa melihat mereka berdua duduk dan berbicara sangat serius.
"Bisnis apa yang sedang mereka bicarakan? kenapa kelihatan nya mereka sangat serius sekali?" batin Ulfa.
"Menurut aku pasti ada yang terjadi di hubungan mereka berdua, tapi sebaiknya kamu jangan ikut campur."
"Bagaimana tidak ikut campur Yuda, sekarang aku yang menanggapi dia di rumah sakit karena direktur Je tidak bertanggung jawab, Bahkan direktur Je tidak tau kalau Minghui mengandung anak nya."
"Huff aku bingung harus mengatakan apa, mereka sudah tidak ada hubungan nya dengan kamu dengan Paman Vincent," ucap Yuda.
"Tapi aku merasa iba ketika melihat Minhui," ucap Kania.
"Mau bagaimana pun dia juga pernah baik kepada ku."
"Kania, jangan sampai kamu mendapatkan masalah baru karena itu."
"Maksud kamu apa?"
"Kamu tau hubungan Minghui dengan paman Vincent sudah tidak baik, kalau paman Vincent tau kamu membantu nya dia pasti akan sangat marah besar.".
"Humm kamu benar juga sih," ucap Kania.
"Hayoo kalian lagi Membicarakan apa?" tanya Ulfa datang membawa kue untuk mereka.
"Enggak, hanya membicarakan soal kuliah kita saja."
"Oohhhh, nih makan kue nya."
Ulfa menawarkan kue buatan nya.
"Walaupun masih karyawan baru, kamu sudah cukup pintar membuat menu yang ada di Cafe ini," ucap Kania.
"Tentu bisa dong, yang ngajarin langsung yang punya Cafe," ucap Yuda sambil merangkul pundak Ulfa.
"Jangan seperti itu, tidak enak di lihat sama yang lain."
"Tidak ada salah nya, ini Cafe ku, kalau mereka tidak suka silahkan pergi dari sana."
Kania tersenyum. "Aku senang deh melihat kalian akrab seperti ini."
"Iyahh, aku juga harus mengakui semenjak bersama aku menjadi lebih bahagia," ucap Yuda.
"Lebay banget sih, kamu berlebihan banget," ucap Ulfa.
Yuda tersenyum. Mereka berbincang-bincang karena kebetulan pelanggan sudah mulai sepi.
__ADS_1
Di rumah sakit Minghui bisa istirahat dengan tenang, badan nya sudah mulai membaik, dia mengelus perut nya.
"Nak maafin mamah yah telat tau kalau kamu ada di dalam sana, mamah janji akan menjaga kmu Deng baik."
Setelah beberapa lama akhirnya dia ketiduran karena obat.
Di sore hari nya Jeki kembali ke rumah dia melihat rumah tertutup rapat. Dia masuk dan seperti biasa dia langsung ke kamar nya.
Namun dia kefikiran untuk meminta Minghui membersihkan kamar nya dia mencari Minhui ke kamar nya namun dia tidak ada di sana.
Jeki mencari di semua ruangan di rumah itu namun tidak ada, di luar juga tidak ada. Jeki sangat emosi dia melihat Cctv ternyata Minhui kabur menggunakan kunci cadangan.
Dia melihat surat di atas meja.
"Aku pergi ke rumah sakit, aku tidak berniat kabur."
Jeki menghela nafas panjang dia mencoba mencari ke rumah sakit terdekat, namun tidak ada di sana.
"Tidak mungkin dia ke rumah sakit besar itu," batin Jeki, namun firasat nya mengatakan kalau Minhui ada di sana.
Setelah bertanya ternyata benar Minhui ada di sana.
Dia masuk ke dalam ruangan Minhui namun ternyata Minhui sedang tidur.
"Permisi pak, apa bapak adalah istri dari Bu Minhui? Boleh ikut kami?" tanya dokter.
Jeki kebingungan namun dia mengikuti dokter. Dokter menjelaskan keadaan Minghui, Jeki sangat kaget mengetahui Minhui mengandung anak nya sudah satu bulan.
"Berani-beraninya kamu datang ke sini Tampa seijin ku, ayo pulang!" Untung saja rumah sakit tidak terlalu ramai. Mereka yang ada di sana tidak perduli dengan keributan yang di buat Jeki.
Minghui yang tidak berdaya mengikuti tarikan kasar Jeki keluar dari rumah sakit.
"Masuk! masuk!" Jeki mendorong Minhui ke dalam mobil. Kania yang baru saja sampai melihat itu, dia sangat kaget melihat Jeki memperlakukan Minhui sangat kasar sekali.
Kania baru pulang dia mau melihat kondisi Minhui sebelum kembali ke rumah, namun pemandangan yang tidak enak di lihat yang dia dapati setelah sampai di sana.
Kania tidak mau tinggal diam dia mengikuti mobil yang melaju dengan cepat itu.
Kania tetap harus hati-hati. Karena takut di curigai karena mobil nya cukup terkenal akhirnya dia membayar orang mengikuti Jeki.
Sampai di rumah Jeki menarik kasar dan mendorong Minhui yang menangis.
"Gugur kan kandungan mu itu! Aku tidak ingin memiliki Anak! Aku benci kepada anak kecil!" ucap Jeki.
Minghui menggeleng kan kepala nya.
"Aku tidak mau, aku tidak mau menggugurkan anak ini.'
__ADS_1
"Kalau kamu tidak mau, aku akan menggugurkan nya sendiri," Ucap Jeki.
Namun Minhui memohon.
"Aku mohon jangan lakukan itu, aku janji tidak akan merepotkan kamu, aku mohon."
Jeki mendorong Minhui. "Aku tidak ingin anak itu lahir, jangan sampai aku membunuh mu!"
Jeki langsung pergi. Minhui menangis histeris ketika Jeki sudah pergi. Dia sangat berharap ada orang yang membantu nya sekarang. Darah di tangan nya tidak berhenti keluar.
Namun dia membawa obat dari rumah sakit dia meminum nya dan mengobati tangan nya sendiri.
"Mamah baik-baik saja nak, kamu di dalam sana baik kan?" tanya Minhui sambil mengelus perutnya.
Kania sudah sampai di rumah, dia beberapa kali menghela nafas panjang.
"Apa sih maksud direktur Jeki menyiksa Minhui seperti itu?" tanya Kania bertanya-tanya.
Namun tiba-tiba ada pesan masuk ke handphone nya.
"Sayang, kamu sudah sampai di rumah? Saya sudah pulang dari kantor."
Minhui melihat penampilan nya.. Dia juga bau polusi akhirnya dia langsung ke kamar mandi. Dia baru saja membeli luluran baru.
Setelah selesai dia dandan tipis dan memilih salah satu baju baru nya yang di belikan oleh para tamu.
"Sesekali seperti nya aku harus memakai baju tidur yang seksi seperti ini."
Kania tidak terbiasa namun dia harus bisa agar suami nya semakin jatuh cinta kepada Dia.
Suara mobil sudah terdengar, dia berlari turun ke bawah. Vincent melihat Kania berlari dari tangga sampai Vincent panik Kania hampir saja jatuh.
"Eh mas sudah pulang?" ucap Kania malu-malu.
"Kenapa kamu lari-lari?" tanya Vincent.
"Bagaimana kalau kamu jatuh? kamu benar' yah!" ucap Vincent.
"Aku tadi nya mau bukain pintu, eh ternyata aku telat."
Vincent melihat penampilan Kania.
"Kamu baru selesai mandi?" tanya Vincent. Kania mengangguk.
Vincent mendekati Kania mencium aroma Kania.
"Sangat Wangi sekali," ucap Vincent mau memeluk Kania namun Kania menahan nya.
__ADS_1
"Sebaiknya mas Vincent mandi dulu, Air mandi dan pakaian sudah aku siapkan," U
ucap Kania.