Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 207


__ADS_3

"Kamu ada-ada saja, mamah marah-marah karena kamu susah di bilangin, keras kepala."


"Tapi mamah hobi nya hanya bisa ngomel kak."


"Coba kalau mamah gak ngomel, apa kamu tidak kesepian?" tanya Saska.


"Huff, aku tidak suka mamah ngomel terus," ucap Arka sambil memasang wajah cemberut. Saska tertawa melihat wajah asik nya itu.


"Kalau Mamah dengar kamu ngomong seperti ini, dia pasti akan marah," ucap Saska.


Arka menghela nafas.


"Sebelum tidur apa kamu mau main game?" tanya Saska.


"Mau Kak," Arka sangat bersemangat sekali.


Saska sangat jarang ngajak adik nya main game bersama.


Awalnya hanya mau sebentar namun kebablasan sampai tengah malam.


Keesokan paginya..


"Kenapa Arka sama Saska belum turun yah sayang?" tanya Vincent kepada istrinya yang sedang menemani nya minum kopi pagi-pagi.


"Mungkin sedang siap-siap," ucap Kania.


"Aku lihat sebentar yah," ucap Vincent.


"Gak usah mas, seperti nya mamah sudah bangun, temanin mamah saja, aku akan melihat mereka."


Kania naik ke lantai atas di mana anak-anak nya tidur.


"Loh kenapa Arka tidak ada di kamar nya?" Kania berjalan ke arah kamar Saska.


Setelah di buka dia menghela nafas panjang ketika melihat anak-anak nya masih tidur sangat pulas.


"Saska, Arka! Apa kalian tidak sadar ini sudah jam berapa? kalian bisa telat kalau seperti ini!" ucap Kania.


Saska langsung bangun, dia melihat jam. Dia bergegas di kamar mandi.


Kania berusaha membangun kan Arka, namun Arka tidak mau bangun karena masih ngantuk.


Tidak beberapa lama Saska selesai. "Apa kalian berdua main game sampai malam?" tanya Kania.


"Maafin aku mah, aku yang ngajak Arka sampai lupa waktu," ucap Saska.


Kania menghela nafas panjang. "Kamu harus mencontohkan yang baik kepada adik kamu, bisa main game tapi di hari weekend," ucap Kania.


"Maaf mah, aku berangkat dulu yah," tidak sarapan Saska langsung pergi.


Vincent melihat istrinya turun hanya dengan Saska.


"Di mana Arka? apa dia tidak telat?"


Kania menjelaskan kepada suaminya.


"Biarkan dia tidur, tidak baik terlalu keras mendidik anak," ucap Bu Mona.


"Arka tidak bisa selalu di manjakan Mah."

__ADS_1


"Dia tidak manja, justru kamu memanjakan Saska, kamu selalu marah kepada nya padahal sama Saska sangat jarang."


"Sudah-sudah, jangan debat hanya perkara itu."


"Mami kata nya mau pergi Cek kesehatan kan? Ayo aku antar mumpung belum berangkat ke kantor."


"Ya sudah, tunggu sebentar, mami ganti baju dulu."


"Yang di katakan mami benar sayang. Kamu selalu marah kepada Arka dari pada kepada Saska."


"Arka sulit di bilangin Mas, sementara Saska sangat penurut dia juga baik dan mengikuti apa saja yang baik."


"Ketika salah dia minta maaf dan selalu jujur, sementara anak itu, bisa nya membantah saja," ucap Kania.


"Ya sudah, kalau mas tidak ingin aku mengajari anak-anak yang baik, aku mulai sekarang akan diam, karena mas sama mamah selalu memanjakan nya."


Kania langsung meninggalkan suaminya. Vincent menghela nafas panjang.


"Selamat pagi kak Saska," sapa Shela.


"Pagi," jawab nya.


"Humm, apa Arka tidak ikut?"


"Hari ini dia libur karena telat bangun."


"Oohh," ucap Shela.


"Ayo masuk ke dalam, sebentar lagi bel bunyi." Ajak Saska.


Sementara di rumah Arka baru saja bangun jam sepuluh lewat.


Dia melihat jam sangat terkejut karena sudah telat. Dia keluar dari kamar dan melihat rumah sangat sepi sekali.


Dia segera menghubungi kakak nya. Namun Saska tidak menjawab.


"Huff, kalau mamah tau, mamah pasti marah, aaaaa!!! kenapa aku jadi kesiangan sih!"


Karena lapar dia berjalan ke meja makan. "Kenapa mamah gak masak sih? aku sangat lapar," ucapnya.


Akhirnya dia menggoreng telur untuk mengganjal perut nya menunggu Kania pulang entah dari mana.


Jam makan siang. Arka duduk di depan tv, masih sendirian dan sangat kesepian sekali.


Sementara di sekolah Saska melihat Shela berjalan ke kantin bersama Dewi.


"Tumben banget kak Saska sendirian? Kak Tina Kemana?"


"Dia sama yang lain."


"Oohhhh."


"Oh iya, sepulang sekolah nanti bisa keruangan OSIS kan?"


"Bisa kak," jawab Shela.


"Bagus deh kalau begitu," Saska langsung pergi.


"kalau aku jadi kamu yah Shela, aku lebih memilih kak Saska dari pada Arka," ucap Dewi.

__ADS_1


"Kok kamu ngomong gitu?" tanya Shela.


"Kamu baru kenal Arka sih, dia itu sangat nakal, play boy, iseng dan sombong. Sementara kak Saska semua orang sudah tau kalau dia baik," ucap Dewi.


"Selain baik, dia juga pinter, tinggi, ketua OSIS dan satu lagi dia sangat tampan sekali sehingga jadi incaran wanita-wanita."


Shela tersenyum. "Dulu waktu kecil juga kak Saska sangat tampan sama seperti Papah nya. Tapi tetap saja aku hanya menyukai Arka."


Dewi menghela nafas panjang. "Terserah kamu deh, tapi aku lebih mendukung kamu bersama kak Saska."


Dewi berjalan terlebih dahulu.


"Oh iya nanti malam ada turnamen basket di lapangan dekat sekolah, apa kamu mau ikut Nonton?"


"Mau dong, aku sangat suka basket."


"Kali ini kak Saska ikut, aku yakin sih kak Saska pasti menang," ucap Dewi.


Setelah pulang sekolah..


"Aku ke ruangan Osis dulu yah," ucap Shela.


"Permisi kak," ucap Shela sebelum masuk ke dalam ruangan.


"Silahkan duduk," ucap Saska dan ada juga anggota OSIS di sana.


Mereka mau mengadakan acara kecil-kecilan untuk menyambut 17 Agustus. Jadi mereka akan semakin Sibuk.


Shela yang mau-mau saja, tidak keberatan dengan keputusan ketua OSIS.


Satu jam diskusi akhirnya selesai. "Kak Saska!" panggil Shela mengejar Saska yang sudah keluar duluan.


"Iyah kenapa?" tanya Saska.


"Humm, aku dengar kakak akan tanding nanti malam," ucap Shela.


"Iyah benar, emang kenapa?"


"Jangan lupa ajak Arka yah? aku juga mau nonton."


"Loh, kenapa gak kamu ajak sendiri?" tanya Saska.


"Arka susah banget kak, dia gak akan mau kalau aku yang ngajak."


"Ya sudah kalau begitu, nanti aku coba yah."


Setelah itu Saska segera pulang. Sesampainya di rumah dia melihat Arka berbaring di sofa sambil menekan perut nya.


"Apa yang kamu lakukan? Kenapa tidur di sana seperti orang mau mati?" tanya Saska.


"Aku sangat Lapar Kak, tidak ada yang mau di makan."


"Loh, Mamah mana?" tanya Saska. Arka menggeleng kan kepala nya.


"Setelah aku bangun, rumah sudah sangat sepi."


"Kalau begitu, kenapa kamu tidak masak sendiri? Ada mie instan di dapur."


Namun Arka tidak kefikiran karena biasanya Kania yang menyiapkan nya untuk nya.

__ADS_1


Saska langsung membuat nya untuk Arka dan untuk nya juga.


"Bisa-bisa nya kamu menahan lapar menunggu mamah," ucap Saska.


__ADS_2