Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 216


__ADS_3

"Arka memang terlalu di atur sama mamah dan Papah, hanya saja bagi ku itu adalah hal yang wajar karena dia masih kelas satu SMA, bahkan aku saja masih mengikuti perintah mereka." batin Saska.


Besok harinya, Saska dan kedua orang tua nya mengunjungi Shela yang sudah mulai sembuh.


Sementara Arka Memilih berduaan dengan Mita di kamar hotel nya. Mereka hanya menonton bersama, main game dan menghabiskan waktu berdua saat waktu pulang sekolah.


Dua hari kemudian akhirnya Shela sembuh. "Kalau kamu tidak kuat gak usah di paksain," ucap Saska melihat Shela membawa Buku sangat banyak sendirian.


"Terimakasih kak," ucap Shela karena Saska membantu mengangkat buku itu sebagian. Mereka berjalan bersama ke perpustakaan.


"Oh iya, Mamah titip sesuatu untuk kamu tadi, kamu bisa ambil di kelas ku," ucap Saska. Shela mengangguk dia mengikuti Saska.


"Ini makanan, wah pasti enak banget," Ucap Shela. Shela makan di kelas dan di meja Saska karena semua orang masih di luar.


"Apa kakak sudah makan?" tanya Shela.


"Nanti saja di kantin."


"Kok nanti sih, ayo makan sama ku." Shela menawarkan nya namun Saska malah tidak mau. Dengan baik hari Shela mau menyuapi nya.


Saska tidak bisa menolak karena benar-benar di paksa oleh Shela.


"Akhirnya kamu tersenyum lagi Shela," batin Saska.


"Kamu sakit karena tentang Arka yah?" tanya Saska. Shela menggeleng kan kepala nya.


"Aku hanya merasa kecapean saja."


"Jangan bohong," ucap Saska.


Shela langsung mengangguk. "Kalau kakak di posisi ku pasti merasakan hal yang sama."


"Apa kamu mau aku bantuin dekat dengan Arka lagi?" tanya Saska karena dia tidak tega melihat Shela walaupun dia sudah menyadari dia suka kepada jodoh adik nya itu.


"Bagaimana caranya kak?"


"Aku akan membuat Arka dengan Mita putus, agar dia melirik kamu."


Shela menggeleng kan kepala nya. "Gak usah kak, aku juga sudah move on dari dia."


"Secepat itu?" tanya Saska kaget.


"Iyah kak," ucap Shela.


"Kalau boleh tau alasan nya apa?" tanya Saska.

__ADS_1


"Karena aku menyukai kakak, aku baru menyadari kalau ternyata aku memiliki perasaan kepada kakak."


Saska kaget, dia langsung berdiri dari kursi nya Hampir saja mau jatuh.


"Kakak gak kenapa-napa kan?" tanya Shela.


"Kenapa kakak kaget seperti itu? kakak juga menyukai aku kan?" tanya Shela.


Saska menggeleng kan kepala nya. "Kamu seperti nya salah paham Shela," ucap Saska.


"Maksud nya?" tanya Shela Heran.


"Semua kebaikan dan juga perlakuan, sifat kakak ke aku itu apa? Kedekatan kita sudah sangat melampaui kalau hanya sebatas adik kakak."


"Kamu sudah menganggap semua nya salah, aku menganggap kamu hanya adik, tidak lebih," ucap Saska.


"Tidak mungkin kak," ucap Shela.


Saska berusaha menjelaskan nya. Untuk kedua kalinya Shela patah hati, dia tidak bisa berkata-kata, akhirnya dia keluar dari sana.


Saska menghela nafas panjang. Dia tidak menyangka kalau Shela jujur kepada nya langsung.


"Ini seperti sebuah mimpi," ucap Saska.


"Shela.. Kamu gak apa-apa kan?" tanya Dewi.


Jam istirahat..


"Shela, kita perlu bicara."


Arka menahan Shela dan mengajak nya berbicara di samping sekolah.


"Kenapa kamu bawa aku ke sini? Apa kamu juga mau menembak aku jadi pacar mu sama seperti yang kamu lakukan kepada Mita? Aku tidak mau jadi pacar kamu lagi."


"Bagus deh kalau begitu, lagian siapa sih yang mau nembak Kamu jadi pacar aku?"


"Aku mau, kamu ngomong sama orang tua aku kalau perjodohan itu di batalkan saja, karena percuma saja di lanjutkan karena kita tidak ada hubungan apapun."


"Baiklah." ucap Shela. "asal kamu tau, karena kamu aku di usir dari rumah ku sendiri, aku bertengkar dengan ke dua orang tua ku."


Arka sangat kasar dan pergi meninggalkan Shela.


"Kenapa harus seperti ini sih? Apa aku tidak pantas mendapatkan kebahagiaan?"


"Kenapa laki-laki yang aku suka tidak pernah menyukai aku," ucap Shela sambil menangis.

__ADS_1


Besoknya Shela tidak datang ke sekolah. Dia memilih libur dari pada harus bertemu dengan kedua pria yang membuat nya sakit hati.


Minhui bertanya-tanya kenapa anak nya di kamar saja,


"Minhui.. kenapa kamu tidak berangkat sekolah? apa kamu tidak takut ketinggalan pelajaran? kamu juga tidak makan, apa kamu sakit?" tanya Minhui.


"Enggak Mah, aku lagi mau di kamar saja, nanti aku keluar kalau sudah lapar."


"Ya sudah kalau begitu," ucap Minhui.


Di rumah Kania. Dia memerhatikan Saska yang pulang sekolah terlihat sangat lesu, tidak bersemangat dan ceria seperti biasanya.


"Humm ada apa lagi dengan anak itu," batin Kania. Vincent langsung menahan Kania ketika mau menegur Saska.


"Sebaik nya kita pergi jemput Arka sekarang, sudah tiga hari dia tidak pulang."


Saska membaringkan tubuhnya di kasur. "Apa aku terlalu berlebihan kepada Shela?" ucap nya.


"Aku juga sangat menyukai nya, tapi mana mungkin kami pacaran karena Dia adalah jodoh adik ku."


"Mamah sama papah pasti marah, dan lagi Tante Minhui sama Om Jeki tidak mengijinkan nya karena aku adalah keponakan mereka."


"Huff ini sangat sulit sekali, tapi aku tidak bisa menutupi perasaan ini terus menerus, aku tidak bisa jauh dari nya," batin Saska.


Keesokan harinya di hari Minggu. Saska dan keluarga nya makan-makan di luar. Arka sudah baikan lagi dengan orang tua nya.


Shela sedang jalan-jalan di mall sendirian untuk menghilangkan rasa stres nya. Dia tidak mau bodoh hanya karena laki-laki.


Kebetulan sekali dia bertemu dengan kakak kelas nya salah satu dari kelas Saska. Beberapa hari ini mereka dekat dan karena kebetulan bertemu akhirnya mereka jalan-jalan berdua.


Saska melihat Shela bersama teman nya itu. Shela menyadari ada Saska, dan dengan sengaja dia menggandeng tangan laki-laki itu.


Laki-laki yang di rangkul oleh nya salting. Mereka terlihat sangat dekat dan romantis sekali.


"Sejak kapan mereka jadian?" batin Saska.


"Kakak kenapa tidak makan? Ayo makan sebelum makanan nya dingin," ucap Kania.


Kania menoleh ke arah pandangan Saska. "Gak ada siapa-siapa, ayo lanjut makan."


Setelah Selesai makan, mereka masih asik duduk di sana. Tidak beberapa lama akhirnya Shela keluar dari sana masih sama dengan kakak kelas nya.


Saska terlihat sangat kesal melihat Shela yang sentuh-sentuh oleh teman nya itu. Dia tau kalau sifat teman nya itu tidak lah baik.


Dia pasti menyentuh perempuan yang dekat dengan nya, tidak menghargai perempuan dan juga sangat play boy.

__ADS_1


Saska menghela nafas panjang beberapa kali sambil melihat handphone nya.


__ADS_2