Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 139


__ADS_3

Di sore hari nya Kania di antar oleh supir kepada Vincent yang kebetulan di luar baru selesai mengurusi pekerjaan dengan klien nya.


"Tumben banget ngajak ketemuan di sini?" tanya Kania. Vincent tidak menjawab dia langsung memesan makanan dan minuman untuk istri nya.


Di kantor Jeki, dia melihat jam.


"Apa sebaiknya aku melihat keadaan nya di rumah sakit?"


"Tapi tunggu dulu deh, seharusnya aku melihat dia terjatuh di rumah bagian mana? Aku harus mencari cara agar tidak terjadi kedua kalinya."


Namun setelah melihat Cctv di dalam rumah semua nya baik-baik saja.


"Mungkin ada di taman belakang atau depan."


Jeki melihat rekaman Cctv namun tetap saja tidak ada Minhui terjatuh.


Jeki mengembalikan tombol nya, namun dia kefikiran untuk memeriksa Cctv depan yang sama sekali belum pernah ia periksa.


Jeki memutar kembali Cctv depan gerbang, dia sangat kaget melihat Kania dan juga Vincent ada di depan rumah nya.


Dan dia melihat Vincent datang langsung mendorong Minhui.


"Bagaimana bisa mereka tau rumah ku? Kenapa?" tanya Jeki penasaran.


Di tempat Kania dan Vincent. Kania sangat bosan harus menunggu suami nya yang bekerja di depan nya.


"Huff Kalau tau hanya menemani nya bekerja di sini, sebaiknya aku tidak perlu datang ke sini," ucap Kania menghela nafas panjang.


Dia melihat ke arah pintu masuk.


"Loh Jeki?" ucap Kania. Vincent menatap Kania karena menyebut nama Jeki.


"Jangan menyebut nama nya di sini," ucap Vincent dengan kesal. "Bukan begitu, tapi Jeki ada di sini."


Kania menunjuk ke arah Jeki, Vincent berbalik namun Jeki datang langsung menghajar wajah Vincent membuat seluruh isi Cafe heboh termasuk Kania kaget.


"Ada apa ini?" tanya Kania.


Vincent menyentuh bibir nya yang pecah karena Jeki menumbuk wajah nya cukup kuat.


Vincent mengawas kan Kania dari depan nya. "Jangan mas, ini di luar."


"Apa urusan mu sehingga kau berani-beraninya melakukan ini?" tanya Vincent masih berusaha menahan amarahnya.


"Karena kau, Minhui sekarang berada di rumah sakit."

__ADS_1


"Bukan urusan ku!"


"Kau yang sudah mendorong nya sehingga pinggang nya terbentur dan sekarang Janin yang di dalam perut nya lemah."


Kania kaget mendengar nya. Vincent menghela nafas panjang dia menarik kerah baju Jeki.


"Justru kau yang harus memperingatkan wanita itu untuk tidak menyusahkan istri ku, dia sudah memanfaatkan istri ku! Aku tidak sengaja mendorong nya."


"Berapa biaya rumah sakit nya? aku akan membayar semua nya, aku rasa pria seperti mu yang hanya bisa emosi tidak akan bisa membayar biaya nya sehingga datang pertanggung jawaban ku!"


"Kau yang tidak tanggung jawab!" ucap Jeki langsung mendorong Vincent dengan sekuat tenaga.


Jeki menarik Vincent keluar dari sana. "Hentikan!" ucap Kania namun mereka tidak mendengar kan nya.


"Aku berusaha selama ini diam, namun kau menguji kesabaran ku!" ucap Jeki.


Jeki seperti memiliki dendam pribadi dia benar-benar tidak memberikan ampun. Begitu juga dengan Vincent, dia tidak akan diam.


Terjadi lah keributan hebat, Kania meminta tolong kepada siapa pun itu.


"Kau sudah menghamili Adek ku, dia berjuang sendirian, dia mengalami trauma dan sekarang kau berbahagia Tampa memikirkan nya yang sedang berusaha memperjuangkan hidup nya!"


Vincent seketika melepaskan Jeki yang sudah dia tahan dengan kaki dan tangan nya.


Jeki langsung bangun, dia mengambil jas nya. Dia menatap Vincent yang terdiam setelah dia mengatakan itu.


"Mas.. Mas Vincent gak apa-apa kan?" tanya Kania.


Kania langsung membawa suami nya pulang ke rumah.


"Auhh!! Sakit."


"Bodoh amat! Kenapa mas harus ribut seperti itu?"


"Dia yang duluan, kenapa kamu menyalah kan aku?"


"Mas sudah salah karena mendorong Minhui, kenapa tidak mengakui kesalahan mas saja? kalau seperti ini semua nya jadi ribet."


Vincent menghela nafas panjang. Dia hanya diam saja sambil terus memikirkan perkataan Jeki.


Jeki langsung menjemput Minhui ke rumah sakit karena dia sudah bisa pulang malam ini.


Jeki datang ke rumah sakit ternyata Minhui sudah menunggu dari tadi.


Minhui melihat Jeki sangat berantakan, wajah nya juga banyak memar dan tangan nya terluka.

__ADS_1


"Sudah bisa pulang? Ayo kita pulang."


"Aku tidak memiliki uang untuk membayar rumah sakit nya."


Jeki menghela nafas panjang dia berjalan ke arah kasir sambil menebus obat, namun ternyata sudah di bayar oleh orang lain.


Jeki tau itu adalah Vincent.


Setelah itu mereka kembali ke rumah. Minhui sama sekali tidak menanyakan Jeki kenapa, dia ingin cepat mengistirahatkan tubuh nya di kasur.


Tomi dan Fani datang ke rumah Vincent.


"Saya sudah mengatasi biaya rumah sakit Minhui dan juga sudah mengatasi masalah penyebaran video berantem bapak," ucap Tomi.


"Bagus kalau begitu!"


"Pak, kenapa Bapak harus melayani keributan yang di lakukan oleh direktur Jeki? Karena ini beberapa klien kita protes, saya bingung harus menjawab apa."


"Saya minta maaf, saya terlanjur emosi."


Tomi menghela nafas panjang. Cukup lama mereka berbicara tentang masalah itu, karena sudah larut malam Tomi dan Fani harus pulang.


"Semua nya jadi seperti ini karena mas Vincent emosi, aku sudah menghentikan kalian namun mas sama sekali tidak mendengar kan nya."


"Aku sudah bilang aku minta maaf, aku terlanjur emosi karena Jeki tiba-tiba menghajar ku."


"Tapi mas, tetap saja mas salah karena sudah mendorong Minghui."


Vincent menatap Kania. "Kalau bukan karena kamu, mungkin ini semua tidak terjadi, kenapa kamu membantu wanita itu?" tanya Vincent.


"Kok jadi nyalahin aku sih?"


"Kamu tidak berhenti berbicara dan menyalah kan aku dari tadi, apa kamu pikir aku ingin seperti ini? Aku pusing." ucap Vincent dan langsung pergi.


Kania terdiam sejenak, dia kaget karena Vincent terlihat sangat marah dari Sorot mata nya.


Kania mengikuti nya ke kamar. "Aku hanya merasa kasian kepada Minhui, tidak bermaksud lain, lagian Minghui sudah berubah."


"Kamu selalu mengatakan itu melakukan pembelaan diri, begitu banyak kebaikan yang harus kamu lakukan, namun kenapa harus bersangkutan dengan masa lalu ku?"


"Baiklah aku minta maaf soal itu," ucap Kania. Vincent tidak mengatakan apapun dia masuk ke kamar mandi dan cukup lama di kamar mandi.


Kania menunggu Vincent sampai keluar dari kamar mandi.


Sementara Vincent di dalam kamar mandi kefikiran dengan foto bayi laki-laki yang dikirim oleh Jeki kepada Kania.

__ADS_1


"Apa dia sengaja mengirim foto itu untuk menghancurkan hubungan kami? Anak itu sangat mirip dengan ku, tapi aku tidak tau kalau dia hamil," batin Vincent.


__ADS_2