
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di sebuah villa yang sangat cantik sekali.
"Kita ngapain ke sini?" tanya Kania.
"Sudah turun dan lihat lah ke dalam."
Kania keluar dari dalam mobil.
"Wah vila ini bagus banget, paman tau vila ini dari mana?" tanya Kania karena tempat yang sangat rindang sekali.
Vincent membawa Kania masuk ke dalam.
"Pak Vincent.." sapa para karyawan karyawan vila yang kebetulan ada di sana.
Vincent tersenyum kepada mereka.
"Bagaimana kabar Kalian?" tanya Vincent.
"Alhamdulillah baik pak, sudah lama Bapak tidak ke sini, kami ikut sedih mendengar berita yang bapak alami." ucap mereka.
"Terimakasih sudah perduli, bagaimana kemajuan vila akhir-akhir ini?"
"Sangat bagus pak."
"Bagus deh kalau begitu, apa ada sisa satu vila?"
"Ada pak, tapi hanya satu kamar."
"Ya sudah kalau begitu tolong disiapkan untuk kita."
"Humm kalau boleh tau ini mbak Kania kan?"
"Kenalin ini namanya Kania."
Kania memperkenalkan diri dan mereka semua menyambut kania.
"Aku baru tau paman punya Vila di sini." ucap Kania setelah sudah di dalam vila.
Vincent tersenyum dia duduk di samping Kania sambil memberikan kopi yang sudah di sediakan.
Vincent melihat Kania yang hanya diam saja.
"Apa kamu tidak ingin jalan-jalan keluar?"
"Di sini banyak pemandangan yang bagus untuk di lihat," Vincent menawarkan nya kepada Kania.
Kania menggeleng kan kepala nya.
"Aku tidak ingin kemana-mana. Di sini saja sudah cukup nyaman."
Vincent menghela nafas panjang. Akhirnya Vincent memaksa Kania untuk jalan-jalan langsung keluar.
Vincent tau saja apa yang membuat mood Kania kembali dengan sangat cepat.
Kania bisa tertawa dan tersenyum lagi.
Ya walaupun setelah kembali dari sana dia kembali murung dan banyak diam.
Di sore hari nya Vincent dan Kania istirahat di dalam vila.
"Kamu sedang memikirkan apa Kania? Kenapa kamu lebih banyak diam dan murung seperti ini?"
__ADS_1
"Sebaik nya kita pulang saja yah, aku takut nanti Omah sama Opah nyariin."
Vincent tidak bisa menolak akhirnya mereka pulang dari villa itu.
Sesampainya di rumah sudah malam. Mereka sudah di tunggu dari tadi.
"Kalian dari man saja?" tanya Bu Mona.
Kania melihat ke arah Omah dan Opah nya yang berdiri di belakang Bu Mona.
"Kamu masuk ke kamar dulu."
Vincent meminta Kania masuk ke dalam.
Namun Bu Mona menahan nya.
"Saya perlu bicara dengan kamu."
"Mih.."
"Kamu diam saja," ucap Bu Mona kepada Vincent.
Kania mengangguk mereka berbicara berdua.
"Saya yakin kamu pasti sudah tau kan kalau saya adalah orang tua kandung Vincent."
Kania mengangguk.
"Saya ingin anak saya segera menikah untuk meneruskan perusahaan keluarga kami."
"Saya harus melakukan apa Bu?"
"Bukan kah paman Vincent yang memutuskan semua nya buk? Saya tidak bisa melakukan apapun."
"Saya sudah mencoba berbicara dengan anak saya namun dia tetap menunggu kamu sampai lulus kuliah dan bisa mengurus perusahaan orang tua kamu."
Kania menatap Bu Mona.
"Saya tidak bisa memutuskan apa pun Bu, itu semua keputusan Paman Vincent."
"Kalau begitu saya ijin dulu." Kania langsung pergi meninggalkan Bu Mona.
"Huff ternyata sifat nya hampir sama seperti ibu nya."
Vincent mendatangi mamih nya.
"Mih apa yang kalian bicarakan? Kenapa tiba-tiba Kania terlihat murung seperti itu?"
"Vincent berhenti untuk memanjakan dia, sudah cukup! Mami tau sebenarnya dia seperti apa di sini, mami tau dia pasti sangat manja sama kamu."
"Mih Kania tidak seperti itu."
"Pokoknya mami gak mau tau, setelah dia lulus kamu sudah harus kembali mengurus perusahaan kita dan juga mami mau kamu menikah dengan pilihan mami."
Vincent menghela nafas panjang.
"Baiklah mah."
Vincent tidak ingin membuat orang tua nya marah akhirnya dia menginyakan saja permintaan orang tua nya itu walaupun sangat berlawanan dengan hati nya.
"Kania apa Omah bisa masuk?"
__ADS_1
Tidak ada jawaban namun pintu kamar tidak di kunci.
"Kamu kenapa tidak keluar untuk makan malam?"
"Aku lelah Omah, aku mau istirahat."
"Kamu tidak berbicara dengan Omah sama Opah dari kemarin, apa kamu sangat marah kepada kamu berdua?"
Kania menatap omah nya.
"Maafin aku Omah, aku hanya tidak ingin banyak berbicara yang menyakiti hati omah dan Opah, yang ingin aku tau kenapa kalian menyembunyikan ini dari aku?"
"Kenapa tidak jujur saja kepada ku? Aku selama ini di bohongi kalau mamah sama papah masih hidup."
"Kami tidak ingin kamu sedih nak, kami tidak ingin kamu kaget mendengar nya."
"Aku lebih kaget kalau seperti ini Omah. Aku di besar kan oleh kebohongan yang kalian lakukan selama ini."
"Kania..."
"Paman Vincent bukan Paman kandung ku, namun Kalian bilang paman kandung ku, aku tau sendiri semua nya, tidak ada kejujuran di keluarga ini, aku sangat muak seperti ini!"
Omah nya tidak bisa berbicara karena yang di katakan Kania benar semua.
"Kenapa mamah sama Papah meninggal? Dari kapan?" tanya Kania.
Tidak di jawab oleh Omah nya. "kalau Omah tidak mau menjawab nya tidak apa-apa, tapi sekarang aku mau sendiri mah."
Kania meminta omah nya untuk keluar dari kamar nya.
omah nya hanya bisa diam dan keluar dari kamar Kania.
"Bagaimana Omah?" tanya Opah yang menunggu di luar dari tadi.
"Kania kelihatan nya masih sangat marah."
Kedua nya hanya bisa diam.
Keesokan harinya..
Opah ikut ke perusahaan membantu Vincent mengurus PT Wir Asia.
Seharian Vincent fokus dengan pekerjaan nya karena di kawal oleh mami nya, mau bagaimana pun dia harus mendapatkan itu kembali agar hidup nya nyaman bersama Kania.
Opah dengan semua pengetahuan dan kepintaran nya tidak segan-segan mengeluarkan uang banyak untuk Vincent.
Untuk sekarang ini Jeki dan Minghui mulai kalang kabut karena Vincent mulai beraksi di bantu oleh orang-orang kuat seperti orang tua nya itu.
Namun Jeki dan Minhui tidak terlalu takut, hanya saja mereka takut nama baik mereka rusak karena melakukan kecurangan di balik keberhasilan mereka.
Untuk sekarang Vincent masih tidak mau menggunakan hal tersebut karena tidak memiliki bukti yang sangat akurat.
Satu Minggu kemudian ada acara pertemuan lagi.
Vincent dan Jeki bertemu lagi.
"Aku tidak berfikir kalau kau akan merebut perusahaan itu dengan mengandalkan orang tua mu yang sudah tua, kau sungguh hebat." ucap Jeki.
"Setidaknya aku tidak memanfaatkan wanita untuk Melakukan kecurangan seperti yang kau lakukan!"
Minghui yang di belakang Jeki Memilih untuk diam saja, sehingga Tomi dan Vincent melihat ada yang aneh dengan Minhui.
__ADS_1