
"Itu perasaan kamu saja."
"Tapi seperti nya itu Kania, Ulfa juga menatap kamu dan juga Yuda dengan tatapan lain."
"Bisa jadi saja dia cemburu kepada kamu."
"Aku sudah memiliki pasangan, aku bahkan sudah mau menikah, apa yang dia cemburu kan? Aku dan Yuda hanya teman."
Namun tiba-tiba dia mengingat saat dia berbincang-bincang dengan Yuda, dia tidak sengaja melihat Ulfa berjalan cepat masuk ke dalam kelas.
"Aku rasa tidak ada yang aneh, hanya membicarakan tentang orang tua Yuda."
"Tunggu dulu deh, apa jangan-jangan dia mendengar perkataan Yuda kalau orang tua Yuda berharap Yuda dan aku memiliki hubungan?" ucap Kania.
Dia langsung panik, dia sangat khawatir dan langsung menghubungi Yuda.
Dan ternyata mereka masih ada di depan, Yuda mencoba membujuk Ulfa untuk masuk ke dalam mobil nya.
Kania mendekati mereka berdua.
Ulfa menyadari Kania di sana.
"Kania, kenapa kamu keluar?" tanya Ulfa.
"Ulfa aku sudah tau, kamu marah seperti ini karena salah paham kan?" tanya Kania.
"Apa maksud kamu?" tanya Ulfa.
"Aku tau kamu pasti salah paham mendengar pembicaraan aku di depan kelas bersama Yuda kemarin kan?"
"Oohh karena itu kamu marah sama aku?" tanya Yuda. Ulfa langsung terdiam.
"Aku minta maaf," ucap Kania.
Ulfa menggeleng kan kepala nya.
"Jangan minta maaf, kamu tidak salah."
"Kamu dengan Yuda jangan berantem seperti ini dong, aku jadi gak enak sama kalian berdua."
"Aku tau kamu pasti sakit hati mendengar nya, tapi kamu harus tau kalau aku sudah memiliki calon suami dan Yuda juga sangat mencintai kamu."
Ulfa mengangguk. "Aku tidak pernah marah kepada kamu ataupun Yuda, aku hanya memikirkan banyak hal saja."
Kania mendekati Ulfa dan memeluk nya.
"Aku tau kok perasaan kamu, tapi cepat atau lambat orang tua Yuda Akan sadar tentang hubungan kalian berdua."
Ulfa tersenyum. "Ya sudah kalau begitu kamu pulang gih di antar sama Yuda, jangan marah-marah lagi," ucap Kania.
Yuda membawa Ulfa ke dalam mobil nya. Tidak beberapa lama akhirnya sampai di depan rumah Ulfa.
"Aku minta maaf yah tidak tau tentang itu, kalau aku tau kamu mendengar nya aku tidak akan diam saja."
"Walaupun Mamah kamu sudah mengetahui hubungan kita, tetap saja mamah kamu pengen Kania menjadi pacar kamu," ucap Ulfa.
__ADS_1
"Apa yang kamu pikirkan? Tidak mungkin itu. Mamah hanya menyukai Kania karena Kania sebelum nya sudah cukup dekat dengan nya."
"Apakah aku harus mendekat kan diri juga sama Mamah kamu? Melihat nya saja sudah membuat aku takut."
Yuda tertawa kecil mendengar kata-kata Ulfa.
"Mamah tidak galak kok, kamu tidak ada salahnya mendekati mamah agar kamu merasa dekat dengan nya."
"Seperti nya aku harus benar-benar mencoba nya agar aku menjadi menantu idaman nya," ucap Ulfa.
"Nah gitu dong. Ya sudah jangan sedih lagi," ucap Yuda memeluk Ulfa.
Sementara Kania di tunggu oleh Vincent di depan club.
"Aku belum selesai paman, kenapa sangat cepat menjemput ku?" tanya Kania.
"Ini sudah jam berapa? waktu nya pulang!"
"Ihh aku masih sama teman-teman ku,"
"Baiklah kalau begitu saya akan ikut bergabung di dalam," ucap Vincent.
Kania menggeleng kan kepala nya. "Sebaiknya Paman tunggu di sini sampai selesai," ucap Kania.
Vincent menggeleng kan kepala nya, dia tetap mau masuk ke dalam. Semua orang melihat dia masuk dan bergabung.
Tadi meja mereka paling heboh namun sekarang sudah paling kalem, tidak ada yang berani bertingkah aneh. Kania tau suasana jadi kurang seru.
Akhirnya dia pamit pulang membawa tunangannya itu.
"Kenapa malu? Justru kamu bangga memiliki calon suami Tampan, kaya dan juga di segani banyak orang."
Kania menghela nafas panjang. "Sudah lah, sulit berbicara dengan paman," ucap Kania.
Vincent mengikuti Kania yang berjalan ke parkiran.
"Huff apa yang sudah aku lakukan? kenapa dia marah?" ucap Vincent.
Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai di rumah. Bu Mona menunggu mereka di ruang tamu.
"Kalian berdua dari mana saja? Kenapa baru pulang?" tanya Bu Mona.
Mereka tidak ada yang menjawab. "Lain kali jangan keluar malam seperti ini lagi, waktu nya istirahat," ucap Bu Mona.
Kania mengangguk. Vincent tersenyum tipis melihat wajah gugup Kania.
"Jangan dekat-dekat dengan ku," ucap Kania.
"Kamu mabuk yah?" tanya Vincent.
"Enggak," jawab Kania dengan sangat ketus.
Kania mau berjalan ke kamar nya namun tiba-tiba Kepalanya pusing, pandangan nya tidak jelas dan hampir jatuh.
"Hati-hati, apa kamu bisa sendiri?" tanya Vincent.
__ADS_1
Kania seperti nya tidak bisa dia di antar oleh Vincent.
Kania tidak sempat untuk bersih-bersih dia langsung membaringkan tubuh nya di kasur.
"Arrghh!!! rasanya sangat lega sekali, sekarang aku sudah selesai ujian," ucap Kania.
Vincent tersenyum bahkan dalam keadaan setengah sadar saja dia masih sangat mengingat ujiannya.
Setelah Kania berbaring dan tidur, Vincent keluar dari kamar itu, dia melihat jam.
"Ternyata sudah jam segini, pantesan saja sangat ngantuk."
Vincent memutuskan untuk tidur.
Keesokan harinya...
Vincent dan Tomi bertemu di kantor.
"Ada apa kamu tiba-tiba ke ruangan saya?" tanya Vincent.
"Bagaimana luka Bapak sudah sehat?"
"Masih sakit, jangan sampai Kania tau tentang ini," ucap Vincent.
Tomi melihat wajah Vincent. "Apa Kania tidak menyadari wajah lebam bapak?"
"Pagi ini saya belum bertemu dengan nya, tadi malam saya menjemput nya dalam keadaan mabuk mungkin dia tidak menyadari nya."
"Saya membawa kan obat untuk memudarkan lebam Pak."
"Terimakasih," ucap Vincent.
"Jam berapa Kania Akan datang ke kantor pak?"
"Beberapa hari ini Kania tidak akan datang ke kantor, dia akan fokus membantu dan mengurus acara pernikahan kami."
"Oohh begitu yah pak."
"Apa kamu sudah mencari tau tentang adik nya Jeki?"
"Saya sudah mencoba cari pak, tapi saya tidak mendapatkan informasi apapun."
"Huff mungkin dia sudah mengirim Adik nya keluar negeri, sudah tidak perlu di cari lagi, mungkin dia hanya ingin berkelahi dengan ku," ucap Vincent.
Tiba-tiba handphone nya berdering telpon dari Kania.
"Halo?"
"Paman di mana? Kenapa paman tidak mengijinkan aku ke kantor hari ini?" tanya Kania karena baru bangun dan membaca pesan dari Vincent yang melarang nya datang ke kantor sampai acara pernikahan selesai.
"Kamu baru saja selesai ujian, sebaiknya kamu istirahat saja, lagian ini yang minta mami dan omah."
"Aku tetap mau bekerja," ucap Kania.
"Terserah kamu saja, sebaik nya kamu bicara dulu sama Mami dan juga Omah."
__ADS_1