
Mereka sama-sama kaget plus senang juga Vincent sudah pulang.
Vincent bangun karena mendengar suara dua wanita itu.
"Mas Vincent Kapan pulang? Kenapa tidak bilang?" tanya Kania.
Kania langsung memeluk Vincent, dia sudah sangat merindukan suami nya itu.
"Lain kali kalau kamu pulang bilang nak, kamu membuat kami kaget saja."
"Maaf mih, aku tidak sempat bilang karena aku sangat ngantuk sekali," ucap Vincent.
"Kamu pasti sangat lelah, sebaik nya kamu istirahat di kamar, mami mau lanjut kerja dulu," ucap bu Mona.
Vincent menatap wajah Kania. "Sayang, apa kabar kamu?" tanya Vincent.
"Aku baik-baik saja, hanya saja aku kesal kenapa mas tidak menjawab telpon dan tidak membalasnya pesan ku?" tanya Kania.
Vincent tersenyum dia menyentuh pipi kania. "Maaf yah sayang," ucap Vincent.
"Apa pekerjaan mas lebih penting dari ku? kenapa sekedar menjawab pesan ku saja tidak bisa di balas?" tanya Kania.
"Maaf sayang, bukan seperti itu, hanya saja pekerjaan ku memang sangat sibuk."
Kania menghela nafas panjang. "Jangan marah dong," ucap Vincent sambil mencubit pipi Kania.
Kania cemberut, dia masih kesal sama suami nya itu.
Vincent berusaha untuk membujuk nya agar Kania tidak marah kepada nya, namun membujuk Kania tidak lah mudah.
"Kamu yakin mau marah lama sama ku? Aku baru saja pulang," ucap Vincent.
Kania diam, dia meninggal kan ruang tamu, Vincent mengikuti nya ke kamar.
"Aku janji tidak akan melakukan nya lagi sayang," ucap Vincent memeluk Kania.
"Lain kali ketika ada pesan masuk dari kamu, aku langsung membalas nya dengan cepat," ucap Vincent.
Kania menghela nafas panjang. Kania menatap Vincent. "Janji sayang." ucap Vincent sambil memasang wajah bersalah.
"Aku masih kesal," ucap Kania.
"Kamu boleh marah, tapi jangan lama-lama yah sayang," ucap Vincent.
"Badan ku sangat lelah, dua malam aku tidak bisa tidur dengan baik."
"Kenapa tidak bisa? Apakah mas bergadang?" tanya Kania. Vincent mengingat tempat tidur di rumah sakit tidak ada, dia tidur di kursi selama dua malam.
Vincent mengangguk, dia sangat merasa bersalah membohongi istri nya itu.
__ADS_1
"Kalau begitu mas tidur saja, aku akan bantu pijat punggung mas," ucap Kania.
"Tidak apa-apa sayang, istirahat saja sudah cukup."
Namun Kania tidak tega, sebagai istri dia harus merawat suami nya dengan baik.
Vincent di urut oleh Kania sampai pada akhirnya dia tidur.
Kania selesai memijit punggung suami nya. Dia melihat tas Vincent yang di bawa nya dari luar kota.
"Pasti isi nya pakaian kotor semua karena Tomi tidak ikut dengan nya," ucap Kania.. Karena biasanya kalau di luar Tomi yang mengurus pakaian bos nya itu.
Kania membuka nya namun dia kaget kenapa bau obat, dan juga ada beberapa obat di dalam.
"Ini obat apa? Kenapa sangat asing sekali, ini juga bukan obat biasa," batin Kania.
"Ah sudahlah, mungkin hanya obat yang tidak sengaja masuk ke sin."
Kania membawa semua pakaian itu keluar dari kamar. "Humm berhubung mas Vincent sudah pulang, apa sebaik nya aku ijin saja kalau aku ingin berkunjung ke rumah Minhui?" batin Kania.
Di rumah Ulfa. Dia baru bangun tidur, badan nya masih terasa lemas sekali, sementara Yuda baru saja pulang dari kampus.
"Kamu kenapa keluar dari kamar? sebaiknya kamu istirahat saja," ucap Yuda membawa Ulfa kembali ke kamar.
"Aku sudah capek di kamar terus, aku mau duduk di luar."
Ulfa menghela nafas panjang. "Baiklah-baiklah," ucap Ulfa.
"Aku bawain makanan untuk kamu," ucap Yuda.
Ulfa menatap wajah Yuda. "Makasih yah, kamu pasti sangat lelah kak ngurusin aku," ucap Ulfa.
"Apa yang kamu katakan? Mana mungkin aku lelah hanya mengurus kamu saja, aku sangat senang," ucap Yuda.
"Kamu harus makan sekarang, karena bentar lagi aku harus ke Cafe."
Ulfa menahan Yuda, dia memeluk lengan Yuda.
"Sedikit sore ke sana emang gak bisa? Aku gak mau sendiri di rumah."
"Kalau begitu aku juga ingin ke Cafe, aku mau ikut."
Yuda menghela nafas panjang. "Apa kamu mau membuat aku marah?" tanya Yuda.
"Aku tidak bermaksud seperti itu, aku mau kamu Nemanin aku."
Yuda harus sabar menghadapi sifat manja Ulfa yang semakin hari semakin menjadi karena lagi sakit.
Yuda mengangguk. "Aku akan pergi ke Cafe lebih sore, itu artinya aku akan pulang lebih malam lagi."
__ADS_1
"Kalau pergi sekarang?" tanya Ulfa.
"Aku bisa pulang sebelum magrib."
"Kalau begitu kamu bisa pergi sekarang, aku tidak mau kamu pulang malam."
Yuda menghela nafas panjang. Dia hanya bisa menggeleng kan kepala nya.
Di rumah Minhui, box bayi sudah datang, Minhui mau memasang nya sendiri namun tidak bisa.
Dia melihat Saska yang sudah tidak sabar mau tidur di tempat tidur baru nya.
"Huff percuma saja aku memaksa memasang ini, aku tidak akan bisa hanya membuat perut ku sakit saja."
Akhirnya dia menunggu Jeki pulang. Di kantor Jeki tidak berhenti memikirkan Saska dan juga Minhui di rumah.
"Apa yang sedang bapak pikirkan?" tanya Sekretaris Jeki karena Jeki dari tadi melamun.
"Tidak ada, kenapa kamu membuat saya terkejut?"
"Saya minta maaf pak, tadi akhir-akhir ini Bapak seperti memikirkan sesuatu."
"Tidak apa-apa, apa semua nya sudah selesai? Saya harus pergi mengunjungi adik saya."
"Sudah Pak."
Jeki pun langsung meninggalkan perusahaan nya. Dia tau kalau Vincent sudah kembali ke sini.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah sakit.
"Kak Jeki!" ucap Sarah melihat Jeki datang. "Bagaimana keadaan kamu? Apa kamu sudah sehat?"
"Kak Jeki, di mana anak ku?" tanya Sarah.
"Kamu tidak perlu khawatir, dia sehat dan di jaga dengan baik, kamu harus sembuh terlebih dahulu."
"Apa yang terjadi sampai aku bisa di sini kak?" tanya Minhui.
"Kamu hanya sakit saja, setelah semua nya sembuh kamu akan keluar dari sini dan bertemu dengan anak kamu."
Sarah menatap wajah Jeki. "Aku sama sekali tidak ingat kejadian beberapa bulan yang lalu, seperti nya aku merasakan sesuatu yang terjadi," ucap Sarah.
"Tidak perlu terlalu di pikirkan, sekarang kamu harus sembuh demi kakak dan juga anak kamu."
"Sudah berapa lama aku melahirkan kak? Kenapa tidak ada terasa apa-apa sekarang? apa anak ku sudah besar? atau dia masih bayi?"
"Kenapa Sarah bertanya ini sekarang? Apa dia tidak bertanya kepada Vincent," batin Jeki.
"Anak kamu sudah umur satu tahun, dia tumbuh menjadi anak yang sangat tampan dan juga pintar, dia juga tidak rewel dan sangat baik sekali," ucap Jeki.
__ADS_1