Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 190


__ADS_3

Kania menatap wajah Minhui.


"Mbak juga lagi sedih kan? cerita saja sama ku apa yang membuat mbak sedih," ucap Kania.


Minghui menggeleng kan kepala nya. "Enggak ada kok," ucap Minhui.


Kania menghela nafas panjang. "Aku tau mbak lagi ada masalah, ayo cerita saja, tidak baik memendam nya sendirian."


Minhui menghela nafas panjang dia menatap Kania dan tiba-tiba menangis. Dia menceritakan kalau orang tua nya sudah tidak mau menerima nya lagi.


Kania tidak bisa berkata-kata, dia hanya bisa memberikan kata semangat, memeluk dan mendengar kan cerita Minghui.


Tidak beberapa lama akhirnya Jeki dan Saska pulang.


"Kania, kamu di sini?" ucap Jeki.


Kania mengangguk.


Jeki tidak ingin mengganggu mereka berdua, dia membawa Saska ke dalam.


"Apakah mbak dengan kak Jeki sudah baikan?"


"Seperti yang kamu lihat, aku melakukan ini semua demi anak aku."


Kania tersenyum. "Aku yakin kak Jeki tidak seperti dulu lagi mbak, dia pasti mau serius sama Mbak."


"Semoga saja Kania, aku sangat berharap kepada Jeki karena tidak ada lagi tempat yang bisa mau menerima ku."


"Ssttt!!! Jangan berbicara seperti itu mbak, fokus saja sama kesehatan mbak, jangan terlalu banyak memikirkan hal yang aneh-aneh."


Minhui mengangguk. Tidak terasa hari semakin gelap.


Kania harus pulang sebelum larut malam.


"Aku pamit dulu yah," ucap Kania kepada Minhui.


"Iyah, makasih yah sudah mau datang ke sini."


"Kalau aku punya waktu luang, aku akan datang lagi kok ke sini," ucap Kania.


Kania keluar namun tidak sengaja melihat Saska. Dia tampak jauh lebih sehat, senang di rumah Minhui dan Jeki.


"Seperti nya di sini dia sangat bahagia," batin Kania.


Sesampainya di rumah dia heran kenapa mobil suaminya belum ada.


Namun tidak terlalu memikirkan nya dia ingin langsung mandi dan istirahat.


Namun setelah selesai mandi dia tidak bisa langsung istirahat melainkan harus mengerjakan tugas nya terlebih dahulu.


Agar lebih semangat dia membuat minuman dan cemilan untuk nya.


Tidak terasa sudah jam sembilan malam. "Kenapa mas Vincent belum pulang?" batin Kania.


Dia mau menelpon Vincent namun tidak jadi karena mereka belum berbaikan.

__ADS_1


Mau tidak mau akhirnya dia mengirimkan pesan kepada Tomi.


"Apakah kamu bersama mas Vincent?" tanya Kania.


Tomi langsung mengambil foto Vincent yang sedang fokus bekerja walaupun sudah malam.


"Masih di kantor," jawab Tomi.


"Oohh, seperti nya dia masih sibuk bekerja," batin Kania.


Tidak beberapa lama Vincent pulang, dia melihat rumah tidak di kunci.


"Kenapa Kania tidak mengunci pintu? bagaimana kalau ada seseorang yang masuk?" batin Vincent.


Vincent masuk namun ternyata istri nya ketiduran di ruang tamu.


"Ya Allah Kania, kenapa kamu tidur di sini?" ucap Vincent.


"Kania... Kania..." panggil nya dengan lembut menggoyangkan badan Kania.


Kania perlahan bangun dia menatap Vincent.


"Kenapa tidak tidur di kamar?" tanya Vincent.


Kania melihat jam, tidak mengatakan apapun dia berjalan sendirian ke kamar.


Vincent mendampingi nya dari belakang.


Vincent membantu istri nya berbaring. Setelah beberapa lama akhirnya Kania kembali tidur.


Vincent menyempatkan diri untuk bersih-bersih badan nya dan ikut tidur di samping istri nya.


"Aku berangkat dulu yah," ucap Vincent pamitan terlebih dahulu kepada istrinya.


Kania mengangguk. "Kania masuk jam delapan, jadi dia tidak berangkat terlalu pagi seperti suaminya.


Sementara Jeki sengaja berangkat lebih lambat karena membantu Minhui mengurus Saska, rumah juga, karena Minhui sudah mulai sulit bergerak."


Setelah pekerjaan di rumah selesai Jeki baru berangkat ke kantor.


Jeki bertemu dengan Fadil di kantor nya karena Fadil ada pekerjaan di kota itu sehingga menyempatkan diri untuk bertemu dengan Jeki.


"Kata mu, kau mau membicarakan hal yang serius. Ada apa?" tanya Jeki.


Namun tiba-tiba Vincent datang entah dari mana tumben-tumbenan dia datang ke kantor Jeki.


"Kenapa kau bisa di sini?" tanya Vincent.


"Hanya berkunjung saja," jawab Fadil.


"Kau sendiri kenapa bisa di sini?" tanya Jeki.


Vincent duduk di depan Jeki.


"Ambillah ini, anggap saja ini biaya Saska selama tinggal bersama mu."

__ADS_1


"Apa-apaan ini?" tanya Jeki karena Vincent memberikan nya uang cukup banyak.


"Aku rasa, Saska tidak bisa tinggal dengan ku, itu sebabnya aku percayakan dia kepada mu."


"Aku memiliki uang membesarkan nya sampai dewasa, aku tidak butuh uang mu!" ucap Jeki.


"Aku tau itu, aku tidak bermaksud merendahkan mu, tapi aku ingin memberikan ini untuk Saska sebagi Papah nya."


"Aku mohon terima lah, aku tidak ingin merasa bersalah kepada mu."


Karena paksaan Vincent akhirnya Jeki menerima nya.


"Baiklah kalau begitu, aku tidak bisa lama-lama di Sini, aku harus segera pergi," ucap Vincent.


Namun sebelum pergi dia bertanya tentang Sarah kepada Fadil terlebih dahulu. Vincent juga berjanji akan mengganti semua kerugian Fadil.


Namum Fadil menolak nya karena dia melakukan semua itu karena mencintai Sarah.


"Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu," ucap Vincent langsung pergi begitu saja.


"Lupakan saja tentang dia, anak nya memang aneh," ucap Jeki, Fadil hanya bisa tersenyum.


"Tadi kamu mau ngomong apa?" tanya Jeki lagi.


"Humm besok saja kak, aku akan ke rumah kakak besok," ucap Fadil.


"Baiklah kalau begitu," karena Fadil masih ada pekerjaan dia harus segera pergi dari sana.


Jeki menghela nafas panjang melihat uang dari Vincent.


"Memiliki uang banyak bukan berarti kita bahagia," batin Jeki.


Di rumah Jeki..


"Mamah... mamah..." Saska sangat manja sehingga mau bersama Minhui mau di gendong di peluk- peluk.


Minhui tidak bisa melakukan apapun selain main, tidur bersama Saska.


Saat sedang asyik bermain dengan Saska seseorang mengetuk pintu rumah nya. Minhui membuka nya dan ternyata itu adalah mamah dan papah nya.


"Mamah sama Papah kenapa bisa di sini?" tanya Minhui.


"Kami ke sini mau memberikan ini kepada kamu!"


Mereka memberikan beberapa lembar surat. Minhui membaca nya dan ternyata dia sudah keluar dari kartu keluarga orang tua nya.


"Memiliki anak seperti mu hanya membuat aib saja, jangan sampai semua orang tau keadaan kamu sekarang!" ucap orang tua nya dan langsung pergi.


Minhui sangat lemas melihat itu. Tidak bisa berkata-kata atau meminta mamah nya jangan melakukan itu karena ini semua salah nya.


Minhui menangis di balik pintu. Saska yang tidak bisa melihat orang menangis dia jadi ikut menangis.


"Kenapa kamu nangis sayang? Jangan nangis, Tante di sini," ucap Minhui langsung berhenti menangis dan membujuk Saska.


Hari semakin sore...

__ADS_1


"Aku pulang," ucap Jeki sambil membuka pintu. Namun dia melihat rumah sangat sepi.


"Minhui... Saska...." panggil nya namun tidak ada yang datang satu pun.


__ADS_2