Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 192


__ADS_3

Minhui melihat Jeki sudah tidur di sofa.


"Aku minta maaf membuat kamu kefikiran dan marah seperti ini, tapi aku tidak mungkin mengusir Fikri," ucap Minghui.


Keesokan harinya...


Jeki bangun namun sudah tidak mendapati Minhui di kamar, dia segera mencari keluar dan ternyata bersama Fikri.


Mau marah tapi tidak mungkin, dia harus sabar. Akhirnya dia memilih untuk siap-siap ke kantor.


Tidak mengatakan banyak hal, dia langsung pergi tanpa berpamitan kepada Minhui.


"Kenapa dia pergi begitu saja tanpa ijin?" tanya Fikri kepada Minhui.


"Lupakan saja tentang dia, jangan terlalu di pikirkan. Jeki terkadang memang seperti itu."


Sementara di rumah Kania. Mereka sarapan bersama. Walaupun sedang makan Vincent masih menjawab telpon.


Kania melihat suami nya yang benar-benar sangat sibuk sekali.


"Aku berangkat yah," ucap Vincent kepada istrinya.


Kania mengangguk. Setelah itu Vincent pergi.


"Apa dia sengaja mengabaikan ku seperti ini?" tanya Kania.


"Tapi bagus deh, kami tidak perlu ribut hanya tentang ini," ucap Kania.


Tidak beberapa lama akhirnya selesai makan, dia juga berangkat ke kampus. Hanya saja tiba-tiba perut nya sakit dia langsung ke kamar mandi.


Badan nya mendadak jadi sangat lemas. Akhirnya dia memutuskan untuk tidak masuk kampus hari ini. Dia takut kalau nanti di kampus dia malah pingsan.


Vincent masih bekerja seperti biasa nya. Kania berharap suami nya datang karena sangat sakit sekali.


Tidak ada yang tau Kania sakit di rumah, dia tetap bekerja seperti biasanya.


Dia berfikir dengan cara mengalihkan perhatian nya terhadap pekerjaan membuat nya tidak terlalu memikirkan masalah rumah tangga nya.


Di kantor dia sedang fokus bekerja. Namun tiba-tiba saja kefikiran kepada Kania.


"Sudah lebih satu Minggu aku sibuk bekerja, aku tidak memeriksa kesehatan istri ku."


"Tapi kelihatan nya dia baik-baik saja, aku tidak perlu mengkhawatirkan nya," ucap Vincent.


Akhirnya dia melanjutkan untuk bekerja lagi. Tapi dia tidak tidak berhenti mengkhawatirkan istrinya.


"Ada apa dengan ku? kenapa aku malah memikirkan Kania sih? pekerjaan ku bahkan belum selesai sama sekali," ucap Vincent.


Tomi masuk ke dalam ruangan nya. "Pak, hari ini ada jadwal pertemuan dengan rekan kita."

__ADS_1


"Jam berapa?" tanya Vincent.


"Jam Lima sore Pak."


"Kenapa harus sore? Apa tidak bisa siang? Saya harus pulang cepat hari ini."


"Tidak bisa pak," jawab Tomi. Vincent tidak bisa mengelak dia harus pergi mengurus pekerjaan nya.


Di tempat lain...


Fikri berpamitan untuk pulang. "Aku minta maaf sudah merepotkan kamu," ucap Fikri.


"Justru aku yang harus minta maaf dan berterimakasih sama kamu," ucap Minhui.


"Aku sangat beruntung memiliki teman seperti kamu."


"Kalau kamu melahirkan nanti, aku ingin kamu mengabari ku," ucap Fikri.


Minhui mengangguk. "Apa aku boleh memeluk kamu?" tanya Fikri. Minhui mengangguk.


Mereka berpelukan, Fikri juga mencium kening Minhui.


Dan kebetulan sekali Jeki pulang, dia melihat adegan itu. Emosi, cemburu, kesal bercampur aduk.


Setelah pria itu pergi Jeki mengajak Bela berbicara.


"Kenapa kamu membiarkan dia memeluk dan mencium mu seperti itu?" tanya Jeki.


"Biasa? Jadi kalau wanita lain mencium dan memeluk ku seperti yang kamu lakukan tadi adalah hal biasa?"


"Apa yang salah dengan itu? lagian aku tidak pernah melarang kamu dengan wanita mana pun!"


"Kamu mau membuat aku marah? Aku sudah bilang kalau aku tidak suka kamu dekat dengan laki-laki itu!"


"Aku tidak membuat kamu marah, kamu saja yang mau marah terus."


"Kamu kenapa masih melawan sih?" tanya Jeki mulai kesal.


"Aku tidak suka kamu cemburu tidak jelas seperti ini, berapa kali aku bilang kalau dia itu adalah teman ku, dia juga yang membantu ku dan dia sangat baik kepada ku."


"Tapi dia sebenarnya menyukai kamu, aku bisa melihat dari sikap nya kepada kamu."


"Atau jangan-jangan kamu juga menyukai nya?" ucap Jeki.


"Iyah, aku menyukai nya. Dia jauh lebih baik. Kalau bukan karena hamil mungkin aku lebih memilih dia."


Jeki menghela nafas panjang. Lagi-lagi Minhui membuat nya emosi.. Tidak bisa berkata-kata dia hanya bisa menghela nafas panjang Menatap wajah Minhui dengan tatapan tajam.


"Kamu mencoba membuat aku emosi Minhui!"

__ADS_1


"Kamu aneh! aku sudah bilang kita temenan, aku tidak mau membahas ini lagi," ucap nya langsung masuk ke dalam.


Jeki menahan tangan Minhui. "Aku mau kamu menghindari nya, kamu harus menjaga jarak."


"Apa hak kamu melarang aku?"


"Kamu adalah calon istri ku, kita bahkan sudah memiliki anak, aku memiliki hak untuk melarang kamu."


"Emangnya aku setuju mau menikah dengan kamu? Kamu jangan berharap apa-apa dari ku setelah melahirkan anak ini."


Minhui benar-benar menguji kesabaran Jeki. Jeki tidak bisa mengendalikan dirinya dia langsung pergi dari pada harus marah kepada Minhui.


"Maafin aku Jeki.. Aku terpaksa membuat kamu marah agar aku tau kalau kamu benar-benar berubah," batin Minhui.


Minhui menggenggam tangan nya yang gemetaran karena melawan Jeki.


Jeki duduk di balkon rumah nya sendirian. Dia beberapa kali menghela nafas panjang.


"Aku pikir semua nya sudah selesai, aku pikir masalah tidak akan datang lagi, namun ternyata ini semua sangat sulit."


"Aku lelah, aku sangat capek," ucap nya.


Setelah menenangkan diri nya dia masuk ke dalam.


"Seharusnya aku tidak marah kepada nya, dia berhak memilih siapa yang baik bagi nya, aku juga tidak bisa memaksa nya bersama ku," ucap Jeki.


Dia melihat Minhui berbaring di kamar, sementara Saska masih bermain di ruang tamu.


Jeki duduk di pinggir kasur, dia menatap wajah Minhui.


"Apa kamu sudah tidur?" tanya Jeki. Minhui membuka mata nya dia melihat Jeki.


"Ada apa?" tanya Minhui. Jeki memegang tangan Minhui.


"Aku minta maaf, aku minta maaf karena sudah marah kepada kamu, aku sangat tidak bisa menahan diri untuk tidak cemburu."


Minhui tidak menjawab nya. Jeki mencium tangan Minhui. "Kamu gak marah kan sama aku? Aku tidak akan melarang kamu dengan siapapun itu, aku hanya ingin bersama kamu."


Minhui tidak kunjung menjawab nya. "Kenapa kamu diam saja? Apa kamu akan meninggalkan aku?"


"Aku tidak mengatakan kalau aku akan meninggalkan kamu," ucap Minhui.


Jeki menatap wajah Minhui. "Aku sangat mencintai kamu, aku minta maaf."


Jeki menangis, Minhui membawa Jeki ke pelukan nya.


"Sudah-sudah, aku juga minta maaf karena melawan kamu, aku berterimakasih karena kamu sudah sabar dan tidak marah kepada ku."


"Tapi kamu gak akan pergi dengan Pria itu kan? Aku tidak bisa kehilangan kamu, aku sangat mencintai kamu."

__ADS_1


Minhui tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


__ADS_2