
"Bukan seperti itu, tapi kecantikan kamu kelewatan banget, aku takut orang-orang yang di sini tertarik dengan kamu."
Shela tersipu malu mendengar itu. "Kakak bisa Saja," ucap Shela. "Tapi lain kali jangan pakai pakaian yang terlalu terbuka yah," ucap nya sambil menarik tempat duduk untuk Shela.
"Makasih," ucap Shela duduk dengan anggun. Makanan mereka mulai datang satu persatu. "Kok udah pesan aja?" tanya Shela.
"Humm hari ini aku yang pesan, kamu pasti suka karena ini semua kesukaan kamu."
"Ya ampun kak Saska paham banget sih, rasanya aku ingin jungkir balik karena salting," batin Shela.
Mereka mulai makan, sesekali berbincang-bincang.
Di rumah Vincent masih bekerja di ruangan kerja nya sementara Kania di ruang TV bersama Arka.
"Tumben-tumbenan banget sih kakak mu pergi mendadak dan sangat rapi seperti tadi, apa dia mempunyai pacar?" tanya Kania kepada Arka.
"Gak mungkin lah mah, mamah tau sendiri kalau kak Saska itu sangat sibuk."
"Iyah juga sih, tapi mamah masih rindu sama dia, malah langsung di tinggal."
"Nanti juga pulang Mah," ucap Arka. Kania menghela nafas panjang. Dia memegang kepala nya yang tiba-tiba puyeng.
"Mamah kenapa?" tanya Arka. Dia segera memijat kepala Kania dengan lembut.
"Kepala Mamah tiba-tiba pusing banget," ucap Kania.
"Mamah pasti kecapean," ucap Arka. "Ya udah deh kalau begitu mamah istirahat dulu, kamu juga jangan tidur terlalu larut malam."
Kania segera masuk ke dalam kamar nya. Tidak beberapa lama Vincent juga datang.
"Sayang..." Vincent naik ke atas kasur dan langsung mencium pipi istri nya.
"Jangan ganggu aku dulu mas, aku sangat pusing."
"Kok bisa? apa kita ke rumah sakit?" tanya Vincent.
"Aku sudah minum obat mas," ucap Kania.
"Humm..." Vincent memegang tangan istrinya. Kania menatap Vincent.
"Ada apa?" tanya Kania. "Sudah satu Minggu kamu tidak kasih aku jatah," ucap Vincent.
"Aku pusing mas," ucap Kania.
"Kamu tidak perlu melakukan apapun, kamu berbaring saja, aku yang akan bekerja. Mau yah?" bujuk Vincent.
"Perasaan tiga hari yang lalu aku tidak bisa bangkit dari tempat tidur karena mas salah minum obat mengakibatkan aku sepanjang malam hari terjaga."
__ADS_1
"Nama nya juga gak tau sayang, sekarang alami kok, kamu tidak akan kesakitan."
walaupun Kania pusing dan lemas, namun sudah kewajiban nya untuk melayani suami nya.
Sebelumnya dia menutup pintu terlebih dahulu. Sementara di luar Arka kaget karena tiba-tiba suara pintu yang cukup kuat.
"Huff aku curiga akan memiliki adik kalau Papah sangat ganas seperti itu," ucap Arka.
Bagaimana Arka tidak tau, Vincent cukup terang-terangan menggoda istri nya.
Satu jam akhirnya Saska dan Shela keluar dari restoran. "Kita mau kemana lagi kak?" tanya Shela kepada Saska.
"Kita melihat pemandangan dari sini saja," ucap Saska sambil menarik tangan Shela.
Ternyata di depan restoran ada tempat khusus untuk duduk sambil memandang ke langit yang begitu luas dan sangat bagus sekali.
Tidak terasa sudah jam sembilan malam. Saska dan Shela memutuskan untuk pulang. Saska mengantarkan Shela ke rumah nya.
Selama perjalanan tidak ada percakapan apapun. Shela dan Saska masih sangat canggung.
"Oh iya kak, bagaimana perjalanan selama satu Minggu?" tanya Shela.
"Melelahkan," ucap Saska. "Kenapa? Seharusnya menyenangkan dong kak, apalagi kakak selalu bersama mbak Tina."
"Humm kalau kita sebagai ketua, penanggung jawab dan pengawas kita tidak bisa menikmati perjalanan, kita hanya bisa menjaga murid-murid yang ikut dan tidak boleh lalai."
Saska tersenyum saja. "Tapi aku sangat iri kepada semua mereka yang kakak jagain," ucap Shela.
"Itu sudah berakhir, sekarang aku hanya jagain kamu, gadis mungil, imut cantik dan sedikit cerewet," ucap Saska sambil mencubit pipi Shela.
Shela yang tidak bisa menahan salah tingkah nya hanya bisa diam sambil menunduk kan kepala nya.
"Apakah kamu sangat merindukan aku?" tanya Saska. Shela dengan polos nya mengangguk.
"Iyah, aku sangat merindukan kakak, setiap waktu aku ingin rasanya menelpon kakak, tapi tidak mungkin karena kakak pasti sangat sibuk."
Saska hanya tersenyum saja. Saska memberanikan diri menggenggam tangan Shela dengan tangan kiri nya di walaupun sambil nyetir.
kedua nya malu-malu dan tidak beberapa lama akhirnya sampai di depan rumah Shela.
"Makasih yah kak, apa kakak mau mampir dulu?"
"Gak usah, ini sudah malam."
Shela tersenyum. "Ya udah kamu masuk sana."
"Kakak juga pulang hati-hati yah," ucap Shela. Dia segera keluar dari mobil dan menunggu mobil Saska pergi.
__ADS_1
"Huff kami sudah pacaran hampir satu bulan, tapi tetap saja rasanya masih sangat canggung," ucap Shela.
"Huff jantungku tidak berhenti berdetak, hanya saja kenapa sangat sulit untuk minta di peluk?" batin Saska.
"Kamu pulang sama siapa?" tanya Minhui melihat Shela baru saja pulang.
"Sama teman mah," ucap Shela. "Humm supir kamu kemana? Kok gak nganterin kamu pulang?"
"Ini malam Minggu Mah, dia pasti ada acara sama keluarga nya, aku minta dia pulang duluan."
"Oohh, ya udah kamu istirahat gih."
"Kamu baru pulang cantik?" tanya Jeki yang sedang mengasuh Laura.
"Iyah Pah."
"Ya udah kamu istirahat gih," ucap Jeki.
Shela memerhatikan Papah nya. Yang sangat macho namun sekarang menggendong Laura yang sangat kecil di pelukan nya.
Tidak mengatakan apapun dia langsung masuk ke dalam kamar nya. "Kenapa aku berfikir Mamah semakin aneh sih, kok dia menatap ku dengan tatapan aneh?" ucap Shela.
"Tapi sudah lah, wajar saja dia jadi seperti itu karena aku sudah besar."
"Aku tidak boleh terlalu menunjukkan kalau aku sudah berpacaran."
"Ini adalah pertama kalinya aku pacaran, aku tetap harus hati-hati, karena mamah pasti kurang terima dengan ini semua."
Tidak beberapa lama akhirnya Saska juga sampai di rumah. "Ekhem-ekhem!!! akhirnya pulang juga, apakah sudah puas untuk bertemu dengan kekasih Kakak?" tanya Arka.
"Humm kamu jangan berbicara seperti itu, bagaimana kalau Mamah sama Papah dengar?"
"Humm mereka sudah di kamar dari tadi, tidak perlu khawatir mereka dengar atau tidak."
Saska menoleh ke arah pintu kamar orang tua nya.
"Apa kamu mau mendengar kan cerita kakak?" tanya Saska.
"Boleh, emangnya ada apa? apa ada sesuatu terjadi?" tanya Arka.
"Apakah, dulu waktu pertama kali kamu pacaran sangat gugup?" tanya Saska. Arka tersenyum.
"Humm pantesan saja Wajah kakak merah, ternyata lagi gugup, aku yakin pasti jantung kakak berdetak begitu cepat kan?" tanya Arka.
"Aku serius Arka," ucap Saska.
Arka hanya bisa tertawa melihat kakak nya itu.
__ADS_1