
"Nanti kalau kamu mencari istri, harus bisa seperti Mamah mu," ucap Vincent.
"Bagaimana bisa mencari? Papah sama Mamah sudah menjodohkan aku dengan anak sahabat Papah," ucap Arka.
Vincent dan Kania tersenyum. Mereka makan berdua.
Saska turun dari lantai atas melihat papah sama Mamah nya sedang makan.
"Kak Saska, sini deh," ajak Arka.
"Ada apa?" tanya Saska.
"Bisa gak sih bujuk mamah, besok aku mau pergi jalan-jalan sama Mita," ucap Arka.
"Sama Mita lagi? Kemarin malam malam sama Mita udah kakak tolongin, kakak gak mau terlibat lagi."
"Yahh, kakak jahat banget sih, kakak gak sayang sama aku?" tanya Arka.
Namun tetap saja Saska tidak mau membantu adik nya itu.
Keesokan harinya..
"Sayang, bisa kan hari ini kamu ikut aku?" tanya Vincent kepada istrinya.
"Kemana?" tanya Kania.
"Hari ini Tomi dan Fani menikah," ucap Vincent.
"Wahh, bagus deh kalau begitu, aku mau ikut kok."
"Tapi bisa kan, kamu jangan cantik-cantik banget, aku takut para pria yang ada di sana melirik kamu semua."
Kania tertawa mendengar nya. "Ya ampun mas, aneh-aneh saja."
"Banyak orang bilang kalau aku sudah sangat tua, mereka berfikir kamu adalah adik ku."
Kania tidak berhenti tertawa karena suami nya itu.
Sementara di sekolah Saska dan Tina sedang berjalan ke kantin sebelum masuk kelas.
"Hari ini ada siswa baru," ucap Tina.
"Siswa baru? Dari sekolah mana? kelas berapa?" tanya Saska.
"Huff bisa-bisa nya ketua kelas tidak tau tentang ini."
"Emangnya kelas tiga SMA?" tanya Saska.
"Enggak, dia kelas satu SMA, sama seperti adik kamu."
"Oohhhh, kelas satu, aku pikir di kelas kita."
Waktu nya masuk kelas...
"Selamat pagi anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru seperti yang ibu sampai kan sebelum nya," ucap Wali kelas Arka.
Tidak beberapa lama murid baru masuk. "Perkenalkan nama kamu," ucap wali kelas.
"Haii semua nya, senang bisa sekolah di sini. perkenalkan nama aku Shela, aku pindahan dari sekolah XXXX."
__ADS_1
"Kamu pindah karena apa? Padahal sekolah itu cukup bagus," tanya Salah satu murid perempuan.
"Karena Mamah sama Papah ku pindah ke sini lagi," ucap Shela.
Sementara Arka hanya bisa diam, dia kaget melihat wanita yang di jodoh kan kepada nya satu sekolah dengan nya bahkan satu kelas juga.
"Kamu bisa duduk di sana," ucap guru menunjuk di bagian depan Arka.
"Dia cantik juga yah, apa dia sudah punya pacar?" tanya Somi kepada Arka.
"Dia tidak kalah cantik dengan Mita," ucap Arka.
"Humm tapi tetap saja dia memiliki kulit yang putih, dia juga sangat manis," ucap Somi.
Arka kelihatan nya sangat cuek sekali.
Tidak beberapa lama selesai Kelas pertama. "Haii Arka.." sapa Shela.
"Jangan sok akrab yah, kita gak terlalu dekat!"
"Kok kamu gitu sih, kita sudah di jodoh kan seharusnya kita berteman. Aku juga pindah ke sini karena kamu agar kita semakin dekat."
Arka menghela nafas panjang. "Itu hanya perjodohan kecil, mana mungkin Mamah ku menjodohkan aku, aku masih memiliki masa depan."
Arka langsung pergi begitu saja. Shela terdiam.
Untuk hari pertama dia belum memiliki teman sehingga dia duduk sendirian di dalam kelas.
Satu minggu kemudian Shela sekolah di sana. Kania dan suaminya baru tau ternyata anak sahabat mereka baru pindah ke sekolah Arka.
"Arka, mamah mau ngomong sama kamu," ucap Kania memanggil Arka ke kamar..
"Iyah Mah," Arka keluar melihat Vincent duduk di ruang TV.
"Aku gak ingat ngasih tau papah sama Mamah."
"Bagaimana? Apakah kamu senang? dia. sangat cantik dan juga baik." ucap Kania.
Arka hanya diam saja. "Ajak lah dia main ke rumah besok," ucap Vincent.
"Kenapa gak Mamah sama Papah saja yang minta sendiri dia ke sini, aku tidak terlalu akrab dengan dia."
"Kok kamu gitu sih? apa kamu lupa dulu waktu kecil kalian sangat akur."
"Beda mah, aku sekarang sudah besar."
"Aku ngantuk, mau tidur," ucap Arka langsung pergi ke kamar nya.
Kania Menatap Vincent kebingungan. "Ada apa dengan anak itu?" tanya Kania.
"Sudah lah biarkan saja, masa-masa puber, emang sangat keras kepala," ucap Vincent.
"Mah, Pah, aku pulang," ucap Saska.
"Kok pulang larut malam?" tanya Vincent.
"Baru main basket sama anak-anak luar Pah."
"Kamu kok gak ngajak Papah sih?" tanya Vincent. Namun Saska langsung menatap Kania. Vincent mengikuti pandangan anak nya.
__ADS_1
"Bercanda saja sayang, kamu serius banget."
"Humm apa kamu tau Shela sudah di Sini?" tanya nya kepada Saska.
"Enggak mah," jawab Saska.
"Kok kamu gak tau sih? dia satu sekolah sama kamu dan adik kamu, satu kelas pula dengan Arka."
"Oohhhh berarti murid pindahan itu Shela?" tanya Saska.
"Benar banget," ucap Kania.
"Kok kamu gak tau sih?"
"Aku jarang bergaul sama adik-adik kelas Pah, apalagi aku sangat sibuk di sekolah."
"Lain kali kamu harus ajak kenalan, dia juga pasti kurang kenal sama kamu."
"Iyah Mah."
"Apa kamu sudah makan?" tanya Kania.
"Tadi udah mah di warung sama anak-anak basket."
"Bagus deh, kamu mandi gih, berkeringat banget," ucap Kania.
Sebelum masuk ke kamar nya Saska masuk ke kamar Arka.
"Kakak sudah pulang? kenapa kakak gak ngajakin aku sih?" tanya Arka.
"Kamu sibuk dengan Tami, kakak sudah nungguin di parkiran," ucap Saska.
Arka tersenyum. "Kamu kenapa gak bilang kalau Shela satu sekolah dengan kita?"
"Ih tumben banget kakak perduli, biasa nya Cuek banget."
"Kakak serius Arka!"
"Aku tidak perduli, lagian mau satu sekolah atau tidak, itu tidak ada urusan nya dengan ku."
"Kamu lupa kalau dia sudah di jodohkan sama kamu."
"Gak mau kak, aku menyukai Mita."
"Jangan aneh-aneh deh, nanti mamah sama Papah marah."
Arka diam. "Mana Hoodie kakak, jam tangan yang kamu ambil dari kamar?"
"Aku bayar saja yah kak, soal nya Mita pinjam Hoodie kakak, dan jam tangan ini sangat bagus."
Saska menghela nafas panjang. Terpaksa dia harus membeli yang baru lagi.
Arka keluar dari kamar adik nya dan masuk ke kamar nya.
"Arka benar-benar yah, semua baju ku sudah habis karena dia," ucap Saska.
Di kamar Kania dan Vincent. Vincent berbaring di samping istri nya.
"Udah dong main handphone nya," ucap Vincent sambil mengambil handphone istri nya dan mematikan nya.
__ADS_1
Vincent mengode istri nya, Kalau dia lagi pengen.
Kania tidak bisa menolak. Karena suami nya masih sangat kuat untuk itu.