
Minhui melihat perut nya yang sudah sangat besar. "Aku harap bayi nya tidak terkejut," ucap Jeki.
Perlahan Jeki mulai melakukan pemanasan.
"Padahal sebelumnya kami sudah melakukan nya, kenapa sekarang jadi sangat canggung seperti masih perawan saja," batin Minhui.
Jeki perlahan mulai membuka baju Minhui. "Apa kamu sudah siap?" tanya Jeki lagi.
"Humm tapi aku sangat malu, sudah lama kita tidak melakukan nya," ucap Minhui.
Jeki tersenyum, "Jangan malu," ucap Jeki.
"Perut ku sangat besar, aku yakin kamu tidak akan nyaman dan suka."
Jeki menghela nafas panjang. "Nama nya juga hamil ya pasti besar, ayo lakukan dengan cepat."
"Hati-hati," ucap Minhui memperingati Jeki.
Jeki berhasil melakukan ronde pertama, terasa puas hanya saja selama melakukan nya dia mengkhawatirkan Minhui yang menjerit.
Karena sangat lelah dia berbaring di samping Minhui.
"Aku minta maaf membuat kamu kesakitan," ucap Jeki.
Minhui tidak menjawab dia hanya bisa menyembunyikan wajah nya yang sangat malu.
Keesokan paginya...
"Kania... Kania...." panggil Vincent dari arah kamar, Kania langsung berlari ke kamar memeriksa suami nya itu.
"Ada apa mas? Apa ada yang sakit? Kepala mas sakit lagi?" tanya Kania.
Vincent menarik tangan Kania. "Kamu dari mana?"
"Aku membuat sarapan agar kamu bisa minum obat."
Vincent menggeleng kan kepala nya. "Jangan jauh-jauh," ucap Vincent.
"Ya sudah kalau begitu, lanjut tidur lagi yah," ucap Kania.
Vincent sama sekali tidak membiarkan istrinya jauh dari nya.
Tidak beberapa lama akhirnya Vincent kembali tidur. Kania cepat-cepat masak. Walaupun dia sedang kurang enak badan juga tapi dia harus mengurus suami nya itu.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai juga, namun tiba-tiba handphone Vincent berdering telpon dari Jeki.
Kania menjawab nya sebentar dan setelah itu langsung ke kamar.
"Mas, ayo bangun dan makan dulu, makanan nya sudah siap," ucap Kania.
"Aku tidak mau, aku tidak lapar," ucap Vincent.
"Ayo makan dulu kalau mau sehat," ucap Kania.
Vincent Menatap wajah Kania. "Aku mau sama kamu saja, aku gak mau makan."
"Apa kamu mau sakit seperti ini terus? Kalau seperti ini terus kamu Akan di rawat di rumah sakit."
Vincent menghela nafas. "Aku sudah sembuh, aku tidak sakit."
__ADS_1
"Tidak, kamu belum sembuh, ayo duduk makan dan setelah itu minum obat."
Vincent menggeleng kan kepala nya.
Kania memaksa nya seperti anak kecil. Walaupun tidak banyak di makan tapi ada beberapa sendok ia Makan.
Setelah selesai makan, langsung minum obat yang sangat pahit sekali.
"Apa kamu sengaja balas dendam kepada ku memberikan makanan yang sangat pahit?" tanya Vincent.
"Itu obat mas, siapa yang mau balas dendam? Kalau aku dendam mungkin aku tidak akan mengurus kamu, dan membiarkan kamu begitu saja."
Vincent Menatap wajah Kania. "Aku sangat sayang kamu, aku minta maaf, kamu mau kan maafin aku?" tanya Vincent.
"Kamu harus sembuh dulu," ucap Kania.
Vincent menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak mau sembuh sebelum kamu memaafkan aku."
"Iyah aku maafin. Tapi bukan berarti aku bisa menerima semua nya dan melupakan ini."
Vincent tersenyum. "Aku sudah cukup senang kamu maafin, aku tidak mau kamu mengabaikan aku lagi."
"Huff kamu sudah mau memiliki dua anak namun sifat mu masih sama seperti anak kecil!" ucap Kania.
"Kamu meledek ku?"
"Umur kamu sudah tua, sudah mau memiliki dua anak, apa kamu tidak malu?"
Vincent menggeleng kan kepala nya. Kenapa aku harus malu?" ucap Vincent.
Kania menghela nafas panjang. "Ya sudah kalau begitu sebaiknya kamu tidur sekarang," ucap Kania.
"Aku tidak masuk hari ini," ucap Kania. Vincent menepuk Tempat tidur di samping nya.
"Ayo tidur di sini," ucap Vincent.
"Aku masih ada kerjaan di luar, aku harus memberikan rumah."
Vincent menarik tangan Kania.
"Kamu mau membiarkan aku sendirian? Bagaimana kalau tiba-tiba aku kesakitan?" tanya Vincent.
Kania tidak bisa pergi, akhirnya dia ikut tidur menemani suaminya.
Vincent mengelus perut Kania. "Kamu jangan buat Mamah sakit dulu yah nak, Papah sedang sakit Mamah tidak boleh sakit," ucap nya.
walaupun sambil menutup mata dia tidak berhenti mengoceh. Kania menjawab nya terkadang, sampai pada akhirnya Dia tertidur juga.
Di rumah Jeki..
"Vincent sedang sakit, apa sebaiknya kita pergi menjenguk nya?" tanya Jeki.
"Kamu tau dari mana?" tanya Minhui.
"Kania mengatakan nya tadi."
"Emang nya pekerjaan kamu hari ini sudah selesai?" tanya Minhui.
Jeki sudah menyelesaikan pekerjaan nya karena tidak terlalu banyak. Nanti malam bisa di lanjutkan yang tersisa.
__ADS_1
Minhui sebenarnya berfikir keras, karena sebelumnya dia tidak pernah ke sana, namun karena di ajak oleh Jeki akhirnya dia mau.
"Baiklah kalau begitu," ucap Minhui.
Mereka segera siap-siap.
Jeki membuka kan pintu mobil untuk Minhui. "Ssttt!!!" Minhui kesakitan ketika mau masuk ke dalam mobil.
"Kenapa? Apa masih sakit? Kenapa kamu tidak mengoleskan obat yang aku kasih?" tanya Jeki.
"Bisa gak sih kamu gak usah terlalu perduli? aku malu!"
"Aaa.. Aku hanya khawatir, baiklah aku akan diam."
Setelah sudah di dalam mobil mereka segera berangkat.
"Gak apa-apa kalau Saska bertemu dengan Kania?" tanya Minhui.
"Tadi aku sudah bilang akan datang membawa Saska, barang kali setelah bertemu dengan Saska Vincent bisa sembuh."
"Oohhhh, bagus deh kalau begitu."
Sesampainya di rumah Kania, ternyata Kania sudah menunggu mereka.
"Mbak Minhui... Kenapa repot-repot datang ke sini? aku jadi tidak enak merepotkan mbak ke sini."
"Gak apa-apa kok, lagian masih bisa bergerak kok, tidak apa-apa kalau tidak terlalu capek," ucap Minhui.
"Ayo masuk," ajak Kania.
Dia melihat Saska yang langsung berlari ke dalam, karena sudah tau rumah itu sebelumnya.
Jeki membawa Saska ke kamar. "Bagaimana keadaan mu bro?" tanya Jeki.
Vincent kaget karena Jeki dan Saska ada di sana.
"Aku sedikit kurang enak badan bro."
"Sedikit? lihat lah wajah mu sangat pucat, dan badan mu terlihat kurus."
"Aku datang membawa Saska, siapa tau kamu merindukan nya."
"Kenapa membawa nya ke sini? Bagaimana kalau Kania marah? Kami baru saja berbaikan."
"Tidak apa-apa, aku sudah minta ijin nya sebelum nya."
Vincent membawa Saska ke pelukan nya.
"Papah sangat merindukan kamu nak," ucap Vincent.
Cukup lama Jeki dan Saska di kamar. Sementara Kania dan Minhui berbicara tentang kehamilan mereka.
Minhui membagi pengalaman kepada Kania.
Tidak beberapa lama Jeki keluar sendirian. Dia ikut nimbrung bercerita dengan Kania dan Minhui.
Kania melihat suami nya sebentar, dia melihat Vincent sangat asyik bermain di kasur bersama Saska.
Dia tidak ingin mengganggu nya itu sebab nya dia tidak jadi masuk.
__ADS_1