Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 43


__ADS_3

"Humm tidak semudah itu Ulfa."


"Kamu terlalu ribet, aku pusing menghadapi pola pikir kamu yang sangat aneh itu.


Kania tersenyum.


"Ya udah lah kalau begitu sebaiknya kita masuk ke dalam melihat ibu kamu."


"Aku mohon jangan sampai orang lain tau tentang ini yah."


"Aman, kamu tidak perlu khawatir." ucap Ulfa. Kania kembali senang karena sudah berbaikan dengan teman nya itu.


Satu bulan kemudian...


"Kenapa yah Paman tidak ada ngabarin aku? Apa dia sangat sibuk?" tanya Kania.


Kania duduk di ruang tamu mau menonton TV, namun tiba-tiba dia sangat kaget melihat berita yang tayang kalau PT Wir Asia berpindah tangan menjadi milik direktur Je.


Kania sangat kaget karena tiba-tiba saja.


Dia berusaha menghubungi Paman nya namun tidak bisa.


"Bagaimana bisa perusahaan itu sangat cepat berpindah tangan?"


Kania langsung menemui Tomi.


"Kania kenapa kamu malam-malam di sini?" tanya Tomi keluar membuka pintu.


"Apa kamu sudah melihat berita?"


Tomi mengangguk.


"Bagaimana bisa? Dan sekarang bagaimana dengan Paman Vincent? aku sudah berusaha menghubungi nomor nya tapi gak bisa, aku sangat khawatir."


"Kamu jangan khawatir, untuk saat ini pak Vincent pasti tidak mau di ganggu."


"Tapi aku sangat khawatir."


"Dia baik-baik saja."


"Kalau tentang perusahaan aku tidak bisa menjelaskan nya sama kamu, sebaik nya kamu fokus saja sama urusan kamu sendiri. Pak Vincent akan marah kalau kamu terlibat.


Kania menghela nafas panjang.


"Aku yakin Paman pasti sangat sedih," ucap Kania.


"Kita masih bisa merebut kembali perusahaan itu."


Kania menghela nafas panjang.


"Aku yakin kamu bisa membantu paman."


Kania tersenyum.


"Kalau begitu aku anterin kamu pulang yah."


Kania mengangguk.


Sampai di rumah dia sama sekali tidak bisa tidur dia tidak berhenti memikirkan bagaimana keadaan paman nya sekarang.


"Aku yakin dia pasti sangat pusing sekali."


Tiba-tiba bel rumah berbunyi membuat nya takut.


"Ini sudah tengah malam kenapa ada yang menekan Bel?"


"Apa itu security apa penjaga di luar?"


Kania memberanikan diri untuk membuka nya.


Dia sangat kaget melihat Vincent yang berdiri di depan pintu sambil memegang koper nya karena dia mengintip lewat kaca jendela.


"Paman!" ucap Kania.


Vincent tersenyum menatap wajah Kania.


"Kenapa paman tidak bilang kalau mau pulang malam ini juga?" tanya Kania.

__ADS_1


Vincent memeluk Kania.


"Saya sangat merindukan kamu," ucap Vincent.


Kania tidak menanyakan apapun dia langsung membalas pelukan Vincent.


"Kenapa kamu belum tidur?" tanya Vincent.


"Humm aku tidak bisa tidur."


"Kenapa Paman pulang jam segini?" tanya Kania.


"Apa kamu tidak mau membawa saya masuk ke dalam? Saya sudah sangat lelah sekali," ucap Vincent.


Kania langsung menarik koper Vincent masuk ke dalam.


"Saya ingin istirahat," ucap Vincent dan berbaring di tempat tidur sambil merentangkan kedua tangan nya.


Kania menatap nya Heran.


"Apa yang ingin Paman lakukan?" tanya Kania.


Vincent memasang wajah manja.


Kania naik ke tempat tidur dan langsung memeluk Vincent.


"Seperti nya Paman memiliki banyak masalah, aku sebaiknya jangan banyak tanya dulu deh."


Keesokan harinya...


"Selamat pagi Paman.." sapa Kania melihat Vincent baru saja keluar dari kamar dan langsung ke dapur.


Vincent mendekati Kania.


"Kamu masak apa?"


"Aku masak nasi goreng untuk sarapan Paman."


Vincent tersenyum.


Mereka sarapan bersama di meja makan.


Kania mengangguk.


"Paman tidak bisa menepati janji Paman pulang setelah semua nya beres, sekarang Paman kehilangan perusahaan itu."


"Ini semua karena kebodohan paman sendiri." ucap Vincent.


Kania tersenyum.


"Bukan kah perusahaan itu masih bisa di ambil alih? aku yakin Paman pasti bisa mengambil nya lagi."


Vincent menggeleng kan kepala nya.


"Tidak ada cara untuk mendapatkan perusahaan itu lagi."


"Kalau begitu Paman jangan mengharapkan perusahaan itu lagi, paman harus bangkit dan membuat perusahaan baru."


Vincent menggeleng kan kepala nya.


"Tidak semudah itu Kania. Perusahaan itu adalah perusahaan warisan dari almarhum papah kandung saya."


Kania bingung harus mengatakan apa lagi, dia tau persis bagaimana perasaan Vincent sekarang seperti apa.


"Aku tidak tau harus memberikan saran seperti apa lagi paman, aku tidak paham."


Vincent memegang tangan Kania menatap wajah Kania.


"Ada bersama saya sekarang kamu sudah sangat membantu saya. Sekarang saya ingin kamu selalu ada di samping saya."


Kania tersenyum.


Vincent hari ini harus menghadiri wawancara. Kania menemani nya sampai sore.


Kania berusaha menghibur Vincent. Mereka pergi Makan ke sebuah restoran yang sangat di sukai oleh Vincent.


Dan tidak beberapa lama akhirnya Kania membawa Vincent minum ke atas atap.

__ADS_1


"Di sini cukup dingin yah." ucap Kania.


Vincent membuka jas nya dan memberikan nya kepada Kania.


"Saya tidak menyangka setelah selesai makan kamu membawa saya minum ke sini. Tempat yang begitu tenang," ucap Vincent.


Kania tersenyum.


"Apa yang ingin kamu sampai kan? kenapa kamu menatap saya seperti itu?"


"Paman jangan sedih, aku tidak ingin melihat paman sedih. Mungkin ini sudah jalan nya karena Paman sudah melakukan yang terbaik."


Vincent tersenyum dia mengelus kepala Kania.


"Ternyata kamu sudah dewasa."


Kania melepaskan tangan Vincent dari kepala nya.


"Aku minta maaf mungkin karena aku banyak mengganggu Paman."


Vincent menggeleng kan kepala nya.


Kania tersenyum.


"Kamu masih menyukai saya kan?" tanya Vincent membuat Kania tiba-tiba terdiam dan menatap Vincent.


"Paman bahas apa sih?" Kania mencoba mengalihkan pembahasan.


"Mari kita mulai lagi dari awal," ucap Vincent.


Kania terdiam, dia tidak tau mau jawab apa.


"Pipi mu merona."


"Karena aku mabuk," jawab Kania.


"Saya tau kalau kamu masih menyukai saya."


"Apa Paman tau hadiah apa yang sudah aku siapkan untuk paman setelah kembali?" tanya Kania.


"Saya rasa saya tidak memiliki nya lagi karena saya sudah gagal."


"Kata siapa?"


"Tunggu apa yang kamu maksud kamu menerima tawaran saya tadi mengulang lagi dari awal?"


Kania mengangguk sambil tersenyum.


"Bukan sebagai Paman kan?"


"Sebagai kekasih."


Vincent tidak bisa berkata-kata, dia tidak bisa menutupi rasa bahagia nya. Dia minum tambah banyak menutupi rasa malu nya.


"Saya ingin mencium kamu."


Kania melihat ke sekeliling.


Vincent mendekati Kania dan mencium bibir Kania.


Namun Kania menyosor bibir Vincent cukup agresif.


Vincent tidak menolak.


Kedua nya melepaskan ciuman nya dan tersenyum sambil malu-malu.


"Jadi kamu sekarang kekasih saya?" tanya Vincent.


"Iyah." jawab Kania.


"Kalau begitu berhenti panggil saya dengan sebutan paman."


"Lalu aku harus panggil apa?" tanya Kania.


"Panggilan untuk sepasang kekasih."


Kania tersenyum.

__ADS_1


"Tapi aku mohon jangan ada yang tau tentang hubungan kita," ucap Kania.


__ADS_2