
"Mamah senang deh, kamu dekat dengan Shela, jadi mamah tidak perlu khawatir kalau dia di jahatin sama yang lain di sekolah."
"Iyah mah," ucap Saska yang sambil menemani Mamah nya masak.
keesokan harinya di mana waktu nya Shela dan Arka bertanding.
Saska menjadi wasit mereka berdua. Namun seperti yang di tebak di awal kalau Shela lah yang akan menang.
Arka sangat kesal, dia bahkan mengatakan kalau Shela curang. Tapi wasit lah yang menentukan nya.
"Aku menang, kamu harus menuruti perjanjian kita sebelum nya.
"Terserah," ucap Arka.
Shela sangat senang sekali.
"Perjanjian nya di lakukan mulai hari ini," ucap Shela.
"Aku tidak bisa hari ini, mulai besok saja."
"Oke baiklah," ucap Shela.
Shela membiarkan Arka pergi. "Humm kira-kira apa yah yang harus aku minta untuk di lakukan oleh nya?" ucap Shela.
"Kamu senang banget bisa menang," ucap Saska.
"Maaf yah kak, aku mengalahkan adik kakak, tapi aku harus menang agar kami tidak putus," ucap Shela.
"Iyah gak apa-apa kok," ucap Saska.
"Kakak setelah ini mau kemana? aku traktir makan mie goreng Bibik kantin yok, aku sangat Lapar," ajak Shela.
Saska tidak menolak dia menginyakan dan mengikuti Shela ke kantin.
"Humm bisa-bisa nya Shela akrab banget dengan kak Saska, sementara kita semua mati-matian ngajakin jajan bareng pasti ada saja alasan kak Saska."
Di kantin, Shela makan sangat banyak, Tampa ada rasa malu. Namun dia tidak sadar dia makan berantakan.
"Mulut kamu," ucap Saska sambil memberikan tisu.
Shela membersihkan nya, namun tidak bersih total. Saska menyeka nya sampai bersih.
Lagi-lagi Saska salah fokus dengan bibir cantik, merah merona dan lembut milik Shela.
"Aaaa!!! Mungkin kalau aku yang di gituin sama kak Saska, aku pasti sudah sangat bahagia," ucap para perempuan yang suka kepada Saska.
Shela langsung melanjutkan makan. Saska tersenyum karena Shela malu.
Setelah selesai dari kantin mereka lanjut masuk ke dalam kelas.
"Kamu kenapa sih?" tanya Mita kepada Arka yang dari tadi hanya diam saja.
"Aku sangat kesal kepada Shela karena mengalahkan aku main basket."
"Aku harus mengikuti apa saja perkataan nya satu bulan ke depan."
"Ya udah kali, gak apa-apa, lagian kamu sendiri yang membuat perjanjian seperti itu."
__ADS_1
"Tapi aku sangat tidak suka, itu artinya kita akan jarang memiliki waktu berduaan."
Mita tersenyum. "Hanya satu bulan saja tidak menjadi masalah bukan? sebagai pria kamu harus pegang kata-kata kamu."
Keesokan harinya...
"Ada apa kamu panggil aku ke sini?" tanya Arka karena Shela menunggu nya di kantin.
"Aku mau kamu pesanin aku Makanan dan kamu makan bersama aku di sini."
"Aku sudah sarapan dari rumah," ucap Arka.
"Ya udah kalau begitu kamu temanin aku saja."
Shela tersenyum melihat Arka tidak bisa menolak.
Untuk pertama kalinya dia makan di kantin di temanin oleh Arka.
Saska tertawa melihat Arka benar-benar tunduk kepada Shela.
"Dia memiliki akal dan tidak mudah menyerah," ucap Saska.
Tidak beberapa lama akhirnya pulang sekolah.
"Hari ini kamu ikut aku ke rumah, karena mamah mau ketemu sama kamu."
"Aku harus pulang cepat, Mamah ku akan marah kalau aku pulang lambat."
Shela langsung menghubungi Kania. "Iyah halo calon menantu Tante," ucap Kania. Kebetulan Kania tidak bekerja dia sedang menemani suaminya di kantor.
"Tante, hari ini Arka pulang telat yah, karena mamah mau dia main ke rumah."
"Sialan! Mamah sangat mudah memberi kan Ijin kalau dia yang minta," batin Arka.
"Ayo hidup kan motor mu!"
Shela mau memakai helm cadangan Arka, namun Arka menahan nya.
"Pakai helm yang lain saja, ini helm khusus untuk Mita." Namun Shela langsung merampas nya.
"Bodo amat, aku lebih berhak dari pada dia," ucap Shela.
Arka menghela nafas panjang. Sepanjang perjalanan Arka ugal-ugalan membawa motor nya membuat Shela ketakutan.
Sesampainya di depan rumah Shela, dia mual-mual dan sangat pusing, kaki nya gemetar.
Arka tertawa puas melihat nya. Saska mengikuti mereka karena perintah mamah nya. Hanya bisa menghela nafas dengan kelakuan adik nya.
Tapi dia sangat kasian kepada Shela. Setelah mereka masuk ke dalam Saska pun pergi.
"Arka... Sudah lama kita tidak bertemu, kamu sekarang tumbuh dewasa dan sangat tampan."
"Iyah Tante, Tante sendiri bagaimana kabar nya?"
"Baikk, seperti yang kamu lihat."
"Ayo masuk ke dalam."
__ADS_1
"Tante masak, kita makan dulu yah."
"Tante lagi hamil besar, kenapa masak sangat banyak?"
"Tante menyiapkan ini untuk kamu, Tante sangat senang kamu mau datang ke sini."
"Oh iya Shela banyak bercerita tentang kamu, terimakasih yah kamu sudah mau jagain Shela di sekolah."
"Tante mau kamu dengan Shela baik-baik selalu."
Arka hanya bisa mengangguk.
Tidak beberapa lama akhirnya Arka pamit pulang. "Hati-hati yah, lain kali mampir ke sini lagi yah."
"Iyah Tante," ucap Arka. Shela mengantarkan Arka keluar.
"Makasih yah untuk hari ini, makasih sudah mau datang jauh-jauh ke sini. Kamu hati-hati pulang nya."
Arka tidak menjawab dia langsung pergi.
Shela melihat Arka pergi tanpa pamitan sama sekali kepada nya.
"Aku harus tetap sabar, aku yakin dia pasti akan menyukai ku."
Tiba-tiba ada pesan masuk dari Dewi.
"Shela, nanti malam kita ikut nongkrong sama kakak kelas yok?" ajak Dewi.
"Males ah, aku gak bisa pergi karena mamah sendirian."
"Sebentar saja Shela, kamu tau aku sedang dekatin kakak kelas."
Shela akhirnya mau dan pergi juga. Dewi dan Shela sudah sampai di Cafe yang di janji kan. Sudah ada beberapa kakak kelas dan murid lainnya di sana.
Dan ternyata Saska juga datang setelah mengetahui ada Shela di sana.
Dia sangat kaget karena Shela kalah game dan si suruh minum. Shela tidak bisa minum, dia sangat takut tapi dia sendiri yang mau ikut game.
"Biar aku saja," ucap Saska.
Dia menggantikan Shela minum. Sementara Shela tidak menyadari Saska ada di sana juga.
"Minum! Minum! minum!" Saska menghabis kan atau gelas alkohol.
"Hore!!!" mereka melanjutkan game lagi.
"Kak Saska kenapa bisa di sini? Kakak jangan bilang sama Mamah yah aku ke sini," ucap Shela.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Saska.
"Tadi nya aku mau nemanin Dewi kak." ucap Shela.
"Sebaik nya kamu pulang sekarang," ucap Saska.
"Tapi aku ke sini sama Dewi."
"Aku akan mengantar kan kamu."
__ADS_1
Dia pamit sama yang lain nya dan keluar dari sana. Namun tiba-tiba kepala Saska sakit, dia tidak pernah minum sama sekali.