
Namun saat mau tidur Minhui menahan Jeki yang hendak tidur.
"Aku mau bertanya sesuatu dan kamu harus menjawab nya dengan jujur," ucap Minhui.
"Baiklah," jawab Jeki sambil mencari posisi yang baik di samping Minhui.
Minhui menatap Jeki. Jeki kebingungan dengan tatapan Minhui. "Ada apa?" tanya Jeki.
"Untuk apa aku bertanya? Lagian tidak ada gunanya, hubungan kami juga akan selesai setelah anak ini lahir," ucap Minhui dalam hati.
"Sudah lah lupakan saja, aku tidak mau membahas itu lagi."
Jeki menghela nafas panjang. "Ada apa sih Minhui? Katakan saja jangan sampai itu menjadi beban Fikiran kamu."
"Tidak ada," ucap Minhui langsung tidur.
"Ya sudah kalau begitu aku bantu pijit yah? Atau aku perlu mengoleskan salep ke perut kamu?"
"Tidak perlu!"
Jeki menarik pundak Minhui, namun Minhui tidak mau.
"Baiklah kalau begitu, sini aku peluk," ucap Jeki.
Namun tetap saja Minhui tidak mau, dia menepi.
"Jangan terlalu pinggir, bagaimana kalau kamu jatuh?"
Jeki memaksa membawa Minhui ke dalam pelukan nya.
"Kamu harus tau, kalau wanita sedang hamil itu tidak boleh memikirkan banyak hal, kalau ada sesuatu langsung katakan saja."
Jeki berceramah namun ternyata Minhui sudah tidur di pelukan nya. Mengetahui Minhui tidur Jeki lega dia juga sudah sangat mengantuk dan akhirnya tertidur.
Sudah satu Minggu Vincent di luar kota tidak bertemu dengan istri nya.
"Fadil, besok aku sudah bisa pulang, terimakasih yah selama ini kamu udah jagain aku dan sering jenguk aku, tapi kalau aku sudah keluar dari rumah sakit mungkin kita akan jarang bertemu."
"Maksud nya apa?" tanya Fadil.
"Aku akan ikut dengan Vincent ke rumah baru kami dan hidup bahagia bersama anak kami."
Mendengar itu hati nya sangat sakit sekali. "Apa maksud mu? bukan kah kita berjanji untuk bersahabat selama nya?"
"Iyah, tapi aku tidak ingin membuat Vincent cemburu karena kedekatan kita berdua."
Fadil menghela nafas panjang. "Baiklah, aku mengerti kok "
Tidak beberapa lama Vincent datang.
"Sayang.. benar kan besok aku sudah bisa keluar dari sini?" tanya Sarah.
"Iyah, kamu senang kan?"
"Aku senang banget, apalagi nanti kita akan tinggal bersama dan juga aku tidak sabar bertemu anak kita."
__ADS_1
Vincent terdiam sejenak, dia menoleh ke arah Fadil.
Dia tersenyum saja menjawab semua kata-kata Sarah.
"Heh Vincent!" tiba-tiba Fadil menahan Vincent yang hendak keluar dari rumah sakit.
Vincent tidak menyadari Fadil mengikuti nya keluar.
"Ada apa?"
"Berapa kali kau mau menyakiti Sarah? Tinggal kan dia!"
Vincent mendorong Fadil.
"Apa yang kau maksud?"
"Aku mau kau meninggalkan Sarah. Urus saja rumah tangga mu."
"Setelah aku meninggalkan Sarah, apa kau bisa menjamin kesehatan nya seperti sekarang?"
"Aku memang tidak bisa menjamin, tapi dia akan jauh lebih sakit kalau mengetahui kau sudah menikah."
"Aku memang sudah menikah, tapi Sarah adalah cinta pertama ku, dan dia adalah ibu dari anak ku, aku akan menjaga nya seperti tugas ku."
"Bro! sadar kau sudah menikah!" ucap Fadil sudah mulai kesal.
"Aku sadar, aku hanya melakukan tanggung jawab ku. Kau kenapa mempermasalahkan ini? kau menyukai Sarah?"
Tidak bisa di jawab oleh Fadil. Dia langsung pergi dari sana.
Keesokan harinya...
Sarah benar-benar sangat senang sekali. "Sayang... aku sangat bahagia sekali," ucap Sarah memeluk Vincent.
"Apa yang salah dengan hati ku? Apa perasaan ku yang dulu kembali? Kenapa aku sangat nyaman ketika bersama Sarah dan aku tidak tega membiarkan nya sendiri."
Vincent menatap wajah Sarah. Namun tiba-tiba Sarah mencium bibir nya membuat dia terkejut.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Vincent. Sarah tersenyum dia ******* bibir Vincent. Vincent awal nya menolak tapi Sarah cukup bersemangat.
Vincent tidak bisa menolak, dia membawa nya ke kamar dan membaringkan tubuh Sarah di tempat tidur.
Vincent mau melakukan itu dengan Sarah.
"Aarrhhh.. Kania... Lakukan dengan baik, kamu menggigit nya," ucap Vincent menikmati apa yang di lakukan Sarah.
Tiba-tiba saja Sarah berhenti. Dia menatap Vincent.
"Kania? Siapa Kania?"
Vincent langsung sadar dia duduk memakai pakaian nya kembali dan keluar dari kamar itu membuat Sarah bingung.
"Bodoh! Bodoh! Kau Pria murahan Vincent, kenapa kau melakukan hal seperti itu dengan orang lain sementara kau sudah punya istri."
Dia sangat menyesali nya.
__ADS_1
"Sayang... Aku minta maaf sudah membuat kamu bingung dengan sifat ku tadi."
"Aku hanya berniat menjalin hubungan kita lagi seperti dulu."
Sarah menghampiri Vincent yang duduk di luar.
"Tidak apa-apa," ucap Vincent. "Aku mau berterima kasih kepada kamu."
Vincent mengangguk dia mengelus kepala Sarah.
"Oh iya Sarah, besok aku harus kembali. Kamu di sini yah."
"Aku tidak bisa ikut kamu? Aku merindukan anak kita."
"Untuk sementara biarkan dia bersama ku di sana, kamu urus kesehatan kamu yah."
"Baiklah kalau begitu," ucap Sarah.
Sarah sedikit merasa bersalah kepada Vincent, dia tidak berani untuk melawan perkataan Vincent.
Keesokan harinya Vincent kembali. Seperti biasa Kania menyambut nya. Mertua nya sudah kembali, hanya Kania yang menjemput Vincent ke bandara.
Kania sangat senang suami nya pulang. Dia menyiapkan masakan yang enak.
"Bagaimana pekerjaan di sana mas?" tanya Kania.
Vincent hanya mengangguk. "Tampak nya kamu sangat kelelahan, kalau begitu mas istirahat saja," ucap Kania.
Vincent mengangguk, setelah beberapa lama akhirnya Vincent selesai mandi, Kania duduk di Atas kasur sambil memangku laptop nya.
Ketika Vincent datang dia menutup laptopnya.
"Bagaimana kabar kamu di sini?" tanya Kania melihat Vincent.
Kania tersenyum. "Aku baik-baik saja, aku tidak ingin bosan di rumah, aku kembali bekerja di perusahaan."
"Kamu tidak kelelahan?" tanya Vincent. Kania menggeleng kan kepala nya.
Vincent memegang kedua tangan Kania. "Aku minta maaf yah," ucap Vincent.
"Minta maaf untuk apa?" tanya Kania. Vincent menggeleng kan kepala nya dan memeluk Kania.
"Sudah satu Minggu lebih kita tidak bertemu," ucap Vincent sambil mengelus tangan Kania.
Kania menatap Vincent yang senyum-senyum.
Vincent ingin melupakan Sarah, dia ingin Melakukan nya segera dengan istrinya agar pikiran nya kembali tenang.
"Aku belum melakukan persiapan," ucap Kania. "Tidak apa-apa, aku akan mengeluarkan nya di luar," ucap Vincent takut istri nya hamil.
Kania tersenyum. Dia mengangguk. Vincent tidak ada aba-aba langsung mencium bibir istri nya yang sudah sangat dia rindukan dan sudah lama tidak dia sentuh.
Namum siap nya dia mengingat wajah Sarah. Tiba-tiba dia berhenti membuat Kania kebingungan.
Vincent melanjutkan nya lagi, Kania mulai menikmati nya.
__ADS_1
Vincent benar-benar tidak bisa fokus karena mengingat Sarah, sekarang hati nya terbagi dua.
Ayo dong mampir di karya baru ku. Judul nya, "Wanita Malam Melahirkan Anak Seorang Mafia. "