
"Saya setuju, saya juga tidak ingin pindah dari rumah ini, karena rumah ini adalah saksi bisu cinta kita," ucap Vincent mendekati Kania.
"Apa yang paman lakukan?" tanya Kania.
"Ekhem-ekhem!!" ternyata ada Ulfa di sana.
"Kalau mau bermesraan setelah menikah nanti, jangan disini, nanti kalau Bu Mona tau gimana?" tanya Ulfa.
Vincent dan Kania sangat terkejut sekali.
"Ulfa! Kamu membuat kaget."
Vincent menjauh dari Kania. Dia sedikit malu karena ketahuan menggoda Kania.
"Kalau boleh tau Omah sama Opah kemana? Kenapa rumah sangat sepi?"
"Mereka sedang keluar, katanya sih mau jalan-jalan saja."
"Kenapa kamu tidak ikut?" tanya Vincent.
Vincent terlihat terganggu karena Ulfa memergoki mereka berdua.
"Maaf Paman aku sudah membuat paman tidak nyaman."
"Bukan speed itu, saya hanya ingin kamu lebih dekat dengan keluarga kami juga," ucap Vincent.
Ulfa tersenyum canggung, dia sedikit kurang nyaman di sana akhirnya dia memutuskan untuk pergi.
"Humm kalau begitu aku ke belakang dulu yah," ucap Ulfa langsung pergi.
Kania tiba-tiba memukul dada Vincent. "Kenapa?" tanya Vincent.
"Masih nanya! Kenapa paman seperti itu kepada Ulfa?" tanya Kania marah. Vincent menatap bingung dia tidak tau apa yang dia lakukan.
"Aku tidak suka paman menatap nya dengan tatapan intimidasi seperti tadi."
"Saya hanya kesal karena dia mengganggu waktu kita berdua."
"Kalau begitu aku akan meminta nya pergi dari rumah ini, kalau paman mereka dia mengganggu."
"Bukan seperti itu. Saya sebenarnya malu karena di lihat oleh Ulfa."
Kania menghela nafas panjang. "Jangan seperti itu lagi kepada Ulfa, dia akan tertekan kalau seperti itu." ucap Kania.
"Ya sudah kalau begitu paman pergi lah mandi," ucap Kania. Vincent mengangguk.
"Cihh aku rasa Kania lebih mencintai Ulfa dari pada kekasih nya sendiri," ucap Vincent.
"Tapi aku tidak perlu khawatir lagi, karena sebentar lagi Kania akan menikah dengan ku," ucap Vincent dan tertawa kecil setelah sampai di dalam kamar nya.
Tiba di hari H.
__ADS_1
Kania sedang makeup ditemani oleh Ulfa.
"Setelah kamu menikah nanti, aku pasti akan sendirian," ucap Ulfa.
"Siapa bilang? Kita masih bisa bermain karena kamu masih tinggal bersama ku."
"Tapi aku tidak mau menjadi benalu terus di antara kamu dan juga paman Vincent, aku harus mendapatkan pekerjaan dan mengurus diri sendiri."
"Terserah kamu deh, sudah berapa kali aku bilang jangan berfikir seperti itu." ucap Kania.
Tidak beberapa lama akhirnya makeup pun selesai.
"Wahh hasil nya bagus banget, aku sangat suka sekali," ucap Kania.
"Iyah, kamu cantik banget, mbak MUA nya sangat rapi."
Setelah selesai mereka keluar karena keluarga sudah menunggu di gedung yang tidak jauh dari rumah.
Kania dan Vincent lebih memilih outdoor.
Vincent melihat Kania yang datang bersama Omah dan Opah.
"Wahh ternyata Kania sangat cantik yah," ucap Tomi tepat di samping Vincent.
Vincent menatap nya dengan tatapan tajam.
"Dia milik saya, jangan coba-coba kamu!"
"Ya Allah ternyata gini rasanya tunangan dengan pria yang kita cintai," ucap Kania dalam hati.
"Aduhhh kenapa Kania sangat cantik sekali, kalau seperti ini aku sangat tidak sabar untuk menikah dengan nya," batin Vincent.
Acara pertunangan di mulai, sekalian juga mengumumkan pernikahan mereka sekitar tiga Minggu lagi.
Keluarga Vincent mau pun Keluarga Kania ingin di percepat saja agar tidak timbul banyak masalah.
Tamu undangan menikmati hidangan yang ada, menikmati acara yang cukup meriah.
Vincent duduk bersama Kania.
"Aku sangat senang sekali, terimakasih yah sayang," gumam Kania agar tidak di dengar oleh orang lain.
Vincent menggandeng tangan Kania mencium punggung tangan nya sambil tersenyum.
"Saya lebih bahagia," ucap Vincent tersipu malu di panggil dengan sebutan sayang.
Acara berlangsung dengan sangat lancar, namun tiba-tiba saja ada satu orang tamu yang tidak di undang datang membuat semua orang yang mengenal nya heran.
"Selamat yah atas pertunangan kalian berdua," ucap Jeki kepada Vincent dan Kania.
Kania menyalim tangan Jeki menghargai nya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Terimakasih sudah mau datang pak, silahkan duduk."
Direktur Jeki memberikan kado kepada Kania.
"Semoga lancar sampai hari H," ucap direktur Jeki.
Kania juga kebingungan kenapa tiba-tiba Jeki muncul, namun dia berusaha untuk berfikir positif, mungkin ada orang yang mengundurkan Jeki ke acara penting nya itu.
Tidak lama Jeki di sana, dia langsung berpamitan pulang karena tentu nya Jeki tidak nyaman, semua mata tidak berhenti menatap nya dengan tatapan sinis.
Setelah direktur Jeki pergi, suasana kembali hangat, mereka menghidupkan musik dan bersenang-senang.
Tidak terasa acara sudah selesai, mereka kembali ke rumah.
Kania meminta pelayan membawa semua kado ke dalam kamar nya.
Walaupun hanya tunangan banyak orang yang datang membawa kado kecil kepada nya.
"Aku sangat lelah sekali, sebaik nya aku mandi dan setelah itu membuka kado-kado itu," ucap Kania karena dia sangat penasaran sekali dengan isi-isi kado itu.
Namun setelah selesai mandi Kania malah langsung tidur ke kasur, dia sudah sangat lelah sekali.
Di tempat lain, Yuda dan Ulfa jalan-jalan malam sebelum pulang.
"Apa yang sedang kamu pikirkan? kenapa kamu lebih banyak diam dari tadi?" tanya Yuda kepada Ulfa yang duduk di samping nya.
"Humm aku sedang memikirkan nasib ku ke depan nya bagaimana kalau Kania sudah menikah."
"Kok kamu berbicara seperti itu? emang nya kenapa?"
"Selama ini aku memiliki Kania yang selalu melindungi dan membantu aku, tapi sebentar lagi dia akan menikah, dia tidak akan memiliki waktu dengan ku."
"Loh bukannya kamu tinggal satu rumah dengan nya?"
"Sebelum mereka menikah aku harus mendapatkan tempat tinggal di dekat kampus, aku juga harus mendapatkan pekerjaan agar aku tidak menjadi beban Kania dan juga paman Vincent.
Yuda menghela nafas panjang. "Seperti nya kamu lupa kalau kamu memiliki pacar banyak uang dan juga memiliki ladang usaha untuk mu."
"Maksud nya?" tanya Ulfa.
"Kamu bisa tinggal di salah satu rumah yang di sewakan oleh Tante ku, kamu tidak perlu mengkhawatirkan biaya nya. Kalau tentang pekerjaan kamu bisa bekerja di salah satu Cafe ku."
"Kamu seriusan bisa?" tanya Ulfa. Yuda mengangguk.
"Aku tau kalau aku memberikan uang kamu pasti tidak menerima nya, aku akan membantu dengan cara ini," ucap Yuda.
Ulfa sangat senang dia kembali tersenyum.
"Kapan kamu akan mulai bekerja?"
"Sepertinya masih dua Minggu lagi, aku harus mendampingi Kania juga. Apa aku boleh datang ke Cafe kamu?"
__ADS_1
"Oke baik lah, berhubung kita sudah di sini, kita langsung saja ke sana," ucap Yuda.