Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 74


__ADS_3

"Ulfa malam ini kamu mau ikut aku makan malam di luar?" tanya Yuda.


"Ada Kania dan juga yang lain nya juga? Ada tugas lagi?" tanya Ulfa.


"Enggak, ini hanya makan malam kita berdua saja."


"Tapi seperti nya malam ini aku ingin istirahat dulu."


"Kalau begitu malam Minggu saja."


"Malam Minggu? Bukan nya biasanya kamu selalu pergi bersama teman-teman mu?" tanya Ulfa.


Yuda menggeleng kan kepala nya.


"Ya sudah kalau begitu besok saja, Kalau begitu aku masuk dulu yah."


Ulfa meninggal kan Yuda dan setelah Ulfa masuk ke dalam rumah, Yuda pulang.


Ulfa membaringkan tubuh nya di tempat tidur sambil memikirkan akhir-akhir ini dirinya dengan Yuda yang semakin dekat.


"Huff aku harus membuka hati lagi? Aku sudah tidak ingin membuka hati lagi karena aku takut kecewa," ucap Ulfa.


Tiba-tiba pesan masuk ke dalam handphone nya pesan dari Kania yang mengajak nya nongkrong malam ini.


Di malam hari nya Kania mau pulang namun dia sangat kaget melihat Vincent sudah menunggu di samping mobil nya.


"Apa yang paman lakukan di sini? Kenapa paman tidak langsung pulang Saja?" tanya Kania.


Vincent menatap Kania.


"Kenapa kemarin malam kamu tidak jadi datang? Apa kamu tau saya menunggu sampai malam namun kamu tak kunjung datang, apa kamu tidak bisa menghargai saya?" tanya Vincent.


Kania terdiam sejenak. Dia sama sekali tidak mau pergi dan dia juga lupa, melihat wajah Vincent dia sedikit merasa bersalah namun rasa kesal masih sangat banyak.


"Aku tidak mau membahas sesuatu yang tidak penting, sebaiknya Paman awas aku mau pulang."


Vincent menarik tangan Kania ke dalam mobil nya membuat Kania berontak.


"lepas kan aku! lepas kan aku!"


"Kania saya sudah melakukan apapun untuk kamu sekarang, semua permintaan kamu sudah saya lakukan, namun kenapa kamu menghindari saya seperti ini?" tanya Vincent.


"Awal nya aku tidak pernah berfikir kalau orang tua pria yang aku cintai yang sudah membunuh orang tua ku, pria yang sudah sangat banyak membohongi ku adalah Paman, aku sangat membenci Paman."


Vincent tiba-tiba mencium bibir Kania, Kania berontak sekuat mungkin.

__ADS_1


"Kania saya mohon, saya mohon jangan seperti ini, saya sangat lelah, saya sekarang sendirian. Kamu akan menemani saya bukan?" tanya Vincent.


Kania diam saja, Vincent membawa Kania masuk ke dalam mobil.


Keesokan harinya di mana hari penentuan mereka mendapatkan kembali PT Wir Asia atau tidak.


Dari rumah Vincent sudah sangat berharap dia lah yang akan menang karena itu adalah satu-satunya harapan nya agar Kania kembali bersama nya dan orang tua nya tidak akan protes.


"Selamat pagi," sapa Vincent kepada Kania yang sedang menata sarapan di atas meja.


Kania mengangguk pelan dan kembali fokus pada kegiatan nya.


"Apa Mami tidak turun? Kenapa dia tidak ikut sarapan?"


"Bu Mona sudah pergi duluan," jawab Kania.


"Oohhhh," bukan nya penasaran kenapa sangat cepat pergi Vincent malah sangat santai dan duduk di depan Kania.


Mereka makan bersama di meja makan.


"Hari ini adalah penentuan tentang jatuh nya PT Wir Asia, setelah PT itu kembali ke tangan saya tidak ada yang bisa menghalangi hubungan kita lagi," ucap Vincent.


"Bagaimana kalau perusahaan itu jatuh ke tangan orang lain?" tanya Kania.


"Itu tidak akan menjadi penghalang bagi hubungan kita."


"Saya tau kamu masih marah kepada saya, tapi saya akan mengusahakan semua nya demi hubungan kita."


Tidak beberapa lama akhirnya selesai. Vincent menahan tangan Kania yang hendak keluar dari rumah.


"Ada apa?" tanya Kania namun Vincent tiba-tiba mencium kening Kania, Kania menatap nya dengan kebingungan.


"Saya sangat sedih ketika kamu mengabaikan saya dan marah kepada saya,"


Kania menunduk kan kepala nya.


"Ya sudah kalau begitu kita berangkat saja yok."


setelah beberapa lama akhirnya mereka sampai di kantor.


Kania tidak ada jadwal di kelas hari ini jadi dia bisa langsung ke perusahaan.


Mereka semua berkumpul di ruangan meeting termasuk Bu Mona, Heni dan juga banyak staf yang lain nya.


Mereka membuka komputer menunggu bagaimana hasil nya.

__ADS_1


Sementara di tempat lain Direktur Je sedang bersama Minhui dan banyak orang-orang yang sudah membantu nya.


"Kenapa kamu terlihat sangat khawatir seperti itu?" tanya Minhui kepada Je.


"kamu tidak perlu takut, kita yang akan jadi pemenang nya."


"Aku tidak mengkhawatirkan itu, Vincent adalah orang kuat, dia memiliki banyak orang-orang yang membantu nya, sementara aku sudah mengeluarkan banyak uang untuk ini."


"Percaya sama aku, kita pasti menang."


Je berusaha untuk tenang dan membuka komputer nya.


Setelah di buka ternyata mereka kalah, dia sangat kaget dan sangat emosi sehingga menghancurkan komputer mahal yang ada di depan nya.


Sementara di perusahaan Vincent melihat mereka menang Vincent mencari Kania dan langsung memeluk nya, Tampa segan-segan dia mencium bibir Kania membuat semua orang terkejut bukan karena informasi melainkan aksi Vincent.


"Pak! pak lepaskan aku."


Vincent melepaskan pelukan nya karena sadar semua orang melihat ke arah nya, Heni dan juga Bu Mona semua orang benar-benar terkejut.


"Semua nya ini waktu nya kalian tau kalau saya dengan Kania memiliki hubungan yang sangat spesial."


"Bagaimana bisa pak? bukan nya Kania keponakan Bapak?"


"Seperti yang kalian tau kalau saya adalah anak tunggal dan Kania adalah cucu satu-satunya Omah Dan Opah pemilik perusahaan ini."


Vincent menjelaskan semua nya kepada karyawan nya yang masih bingung sekali dengan apa yang terjadi.


Bu Mona tidak mengatakan apapun dia langsung pergi meninggalkan semua orang yang masih mendengar kan penjelasan Vincent.


Setelah selesai menjelaskan itu Vincent mencari Bu Mona.


"Mami ngapain di sini sendirian? Semua orang merayakan kemenangan kita." ucap Vincent melihat Mami nya duduk sendiri di Cafe yang lumayan sepi dan termenung sendirian.


Tidak di jawab, Vincent duduk di depan nya.


"Aku tau Mami sangat marah kepada ku, tapi aku akan membuktikan kalau pilihan ku tidak salah mu."


"Mami malu nak, mami sangat malu."


Vincent memegang tangan mami nya.


"Apa yang membuat mami malu? Kania sangat cantik, baik, pinter dan juga sangat ramah, dia juga sabar dan sekarang dia lah yang membantu aku mendapatkan perusahaan demi Mami."


Bu Mona tidak bisa mengatakan apapun, mau bagaimana pun dia tetap masih tidak terima dengan kenyataan.

__ADS_1


"Dan Tentang Heni, aku akan berbicara dengan dia."


"Bagaimana dengan keluarga Heni? Mereka pasti sangat marah kepada mami, sebaik nya kamu tinggal kan Kania dan menikah dengan Heni nak." ucap Bu Mona.


__ADS_2