
Kania tersenyum dia memeluk Vincent. Namun Vincent langsung menggendong nya membawa ke kamar.
Kania sudah sangat takut kalau Vincent melakukan nya lagi, namun ternyata Vincent memeluk nya sangat erat dan tertidur begitu pulas.
Minhui tidak bisa tidur karena terasa badan nya panas. Terpaksa dia harus mengompres badan nya sendiri.
Jeki baru saja pulang, dia melihat Minhui ketiduran di sofa dan kain tertempel di dahi nya, memakai baju yang begitu tebal.
"Apa yang dia lakukan di sana?" tanya Jeki.
"Heh! Heh bangun!" Jeki membuat Minhui kaget. Dia Langsung bangun.
"Kamu sudah pulang?" tanya Minhui.
Jeki menatap Minhui.
"Sudah ku bilang untuk menggugurkan anak itu agar kamu tidak seperti ini, tapi kamu sangat keras kepala."
Minghui hanya bisa diam, dia melihat Jeki meninggalkan nya begitu saja. Minghui kembali membaringkan tubuh nya.
Setelah selesai mengompres badan nya dia masuk ke dalam kamar nya. "Apa yang aku lakukan sebelum nya sudah menjadi karma bagi ku, ini semua sudah menjadi hukuman bagi ku," ucap Minghui.
Keesokan harinya Kania sedang berbicara dengan Bu Mona melalui telpon sambil menemani Vincent olahraga pagi.
Bu Mona tidak berhenti menggoda Kania yang sudah sangat malu sekali, dia tidak bisa menutupi wajah nya yang malu karena di goda oleh bu Mona.
"Mih, jangan di godain terus, kasian pipi nya sudah merah," ucap Vincent. Bu Mona tertawa.
"Mami sangat merindukan kalian berdua."
"Kami juga rindu Mami."
"Oh iya mih, aku dan Kania sudah memutuskan untuk liburan ke London."
"London? wahh bagus deh kalau begitu, Mami akan menyiapkan semua nya untuk kalian berdua."
"Jangan repot-repot mih, aku bisa mengurus nya sendiri."
"Jangan menolak pemberian Mami, mentang-mentang uang kamu banyak, kamu tidak mau menerima bantuan Mami lagi."
"Bukan seperti itu Mih. Kami gak enak mau merepotkan Mami."
"Tidak apa-apa, ini demi kebahagiaan anak-anak mami juga."
"Terimakasih banyak mih."
Setelah selesai membahas liburan panggilan nya langsung mati.
Kania mendekati Vincent yang olahraga. "Kenapa? kamu mau mencoba nya?" tanya Vincent. Kania mengangguk.
__ADS_1
Vincent langsung mengajari Kania. Kania tidak kesulitan karena bukan pertama kalinya.
Namun yang membuat nya tidak terbiasa adalah Vincent yang menggoda nya terus menerus, dia sangat malu karena di sana bukan hanya mereka berdua saja.
Setelah selesai Mereka keluar mencari minuman segar.
Semua mata Pria yang ada di sana memerhatikan tubuh istri nya, Vincent menggunakan handuk leher nya menutup pinggul istri nya.
"Sangat posesif," ucap Kania sambil tersenyum.
Mereka sampai di tempat pembelian minum.
"Ini adalah pertama kali nya saya merasakan olahraga sangat bersemangat," ucap Vincent.
"Humm mulai lagi deh lebay nya," ucap Kania.
Vincent tersenyum. "Apa kamu tidak suka dengan postur tubuh saya?"
"Suka sih, hanya saja aku yang menahan nya ketika di malam hari."
"Saya akan melakukan nya lebih lembut." Kania memukul dada Vincent.
"Berhenti membahas hal itu," ucap Kania.
Vincent mengangguk sambil tersenyum.
Setelah selesai dari sana Kania dan Vincent belanja untuk keperluan rumah yang benar-benar harus di beli.
"Biasanya lagi hamil muda sangat suka dengan asam-asam." batin nya.
Dia membeli cukup banyak. "Sayang sebaiknya kamu jangan membeli begitu banyak, kita mau pergi cukup lama, bagaimana kalau mereka busuk di dalam kulkas?"
"Ini untuk orang lain, ya ini untuk kita."
"Orang lain siapa?" tanya Vincent. Kania tidak menjawab dia fokus mencari apa yang cocok untuk ibu hamil.
Setelah selesai semua nya di bayar dan keluar dari sana. Sampai di rumah Kania minta tolong kepada supir Tampa sepengetahuan Kania mengantarkan semua makanan itu ke rumah Minhui.
Supir mengingat pesan Kania untuk tidak mengatakan kepada siapapun, dan juga setelah sampai di sana kalau ada mobil Jeki sebaiknya tunggu sampai mobil Jeki tidak ada.
Supir sebenarnya sangat takut tapi bisa harus melakukan perintah bos nya.
Tidak beberapa lama akhirnya supir sampai di depan rumah, dia melihat tidak ada mobil Jeki, dia merasa aman dan langsung menekan bel rumah.
Tidak beberapa lama Minhui keluar, dia melihat supir Vincent di depan.
"Mbak, ini adalah titipan dari Bu Minhui untuk mbak."
Minghui langsung mengambil makanan itu dan mengucapkan terimakasih.
__ADS_1
Supir terlihat sangat takut, dia segera pergi setelah memberikan makanan itu.
Minghui membawa semua nya masuk ke dalam. Dia sangat senang melihat banyak buah-buahan di dalam.
Ada surat kecil dari Kania.
"Aku tidak tau apa yang mbak suka, tapi aku rasa ini adalah makanan yang biasa di Makan wanita hamil. Semoga mbak sehat selalu."
Minhui tersenyum membaca nya. Stok makanan itu bisa sampai dua Minggu kalau hanya untuk nya sendiri.
Kania mendapat kan kabar kalau makanan nya sudah sampai dari supir dia sangat senang.
Dia memasak untuk suami nya. "Sebenarnya Kania membeli makanan itu untuk siapa sih? Kemana dia buat?" tanya Vincent.
Dia tidak berani bertanya karena Kania juga tidak ingin memberi tau nya.
Tidak beberapa lama akhirnya makanan siap, mereka Makan bersama.
"Oh iya hari ini mas tidak sibuk kan? aku mau ngajakin ke Cafe Yuda."
"Kita harus banyak istirahat sebelum berangkat besok."
"Iyah, tapi aku mau pamitan dulu sama mereka."
Vincent tidak bisa menahan Kania, akhirnya dia mau dan siap-siap berangkat ke Cafe Yuda.
Sampai di sana Yuda menyambut mereka. Namun ternyata sangat banyak orang yang tidak menyukai hubungan mereka di sana.
Banyak kata-kata yang tidak enak di dengar namun Vincent tidak perduli, dia malah menunjukkan keharmonisan nya dengan Kania membuat semua mereka panas.
Ulfa dan Yuda hanya bisa senyum-senyum melihat Vincent dan Kania. "Aku ingin ke London bersama mas Vincent," ucap Kania.
"Wahh enak banget, kamu jangan lupa bawa oleh-oleh yah."
"Baiklah, oh iya kalau teman-teman nanyain jangan di kasih tau yah, aku takut mereka akan berfikir yang aneh-aneh," ucap Kania.
Namum ternyata dia salah, Ulfa merekam Suara Kania dan menyebarkan nya di grup, mereka semua langsung heboh dan berasumsi sendiri seperti apa nanti Kania dan Vincent di sana.K
"Aku belum berangkat dari sini namun kamu sudah menyebarkan semua nya," ucap Kania.
Ulfa tersenyum. "Maaf, tapi aku tidak bisa menyimpan rahasia kalau tentang ini," ucap Ulfa.
Kania menghela nafas panjang.
Mereka melihat Vincent dan Yuda berbincang-bincang.
"Kira-kira apa yah yang mereka bicarakan?" tanya Kania.
Ulfa menggeleng kan kepala nya.
__ADS_1
"Aku tidak tau, tapi yang pastinya, pasti pekerjaan." ucap Ulfa.