
"Bukan hanya itu yang saya pikirkan Tomi, banyak karyawan kita yang di pecat dan sekarang kita memiliki kerugian yang cukup tinggi."
"Di tambah lagi itu adalah warisan orang tua saya."
Vincent sangat pusing, di tambah lagi karyawan yang semakin membuat nya kefikiran.
Vincent tidak akan membiarkan semua karyawan nya terlantar begitu saja.
"Saya akan membantu Bapak, saya sangat paham di posisi Bapak seperti apa." ucap Tomi.
Setelah itu Tomi berpamitan keluar dari ruangan Vincent.
Vincent membuka handphone nya masuk pesan dari nomor yang tidak di kena.
"Aku akan menghancurkan kamu perlahan-lahan Vincent, kamu sudah membuat aku sakit hati setelah semua yang aku lakukan kepada kamu."
Dari itu Vincent tau itu adalah Minghui.
Vincent menghela nafas panjang dan meletakkan handphone nya.
"Seharusnya aku tidak menjadikan nya pelampiasan karena aku sadar aku mulai menyukai Kania dan aku juga tau menyukai aku. Kenapa tidak dari dulu kami berdua sama-sama jujur?"
Penyesalan terbesar Vincent adalah karena membohongi diri nya sendiri dan membohongi Kania juga.
"Aku tidak tau harus bagaimana lagi," ucap Vincent.
Bekerja saja dia sama sekali tidak bisa fokus.
Tidak terasa hari semakin sore Kania sudah menunggu Vincent dari tadi.
"Kemana sih? Bukan nya dia sendiri yang bilang kalau pulang cepat hari ini? sangat pembohong sekali!" ucap Kania.
"Ah sudahlah seperti nya dia masih sibuk di kantor sebaiknya aku tidak perlu menunggu nya."
Vincent melihat jam tangan nya sudah jam delapan malam, namun dia masih bersama klien nya.
Walaupun ada masalah dia tidak boleh mengabaikan perusahaan nya sendiri. Setidaknya dia masih bisa mengharapkan perusahaan nya ini untuk merebut PT Wir Asia lagi.
"Seperti nya Bapak ada janji di luar yah? dari tadi Bapak tidak berhenti melihat jam tangan Bapak."
"Tidak pak, saya hanya memastikan waktu saja."
Mereka semua lanjut lagi. Tidak beberapa lama akhirnya selesai jam setengah sepuluh malam.
"Tomi sisanya atur saja, saya sudah sangat lelah saya pulang dulu."
"Pak.." tiba-tiba Staf wanita menahan Vincent.
"Iyah kenapa?" tanya Vincent.
"Bapak yang sabar yah menghadapi masalah ini."
Vincent tersenyum tipis sambil mengangguk.
"Kamu dari depertemen mana? saya sudah sering melihat kamu namun baru ini saya berbicara dengan kamu."
__ADS_1
"Saya dari depertemen Tiga Pak."
"Oohh, kamu pulang lah ini sudah malam."
"Kasihan sekali pak Vincent."
"Ekhem-ekhem!" tiba-tiba Tomi sudah berdiri di samping Perempuan itu.
"Ih Tomi ngapain sih? Bikin kaget saja."
"Heh ini masih di kantor, kenapa kamu menyebut nama seperti itu."
"Baiklah pak Tomi."
Tomi tersenyum dia menatap wajah perempuan itu.
"Sudah berapa kali aku katakan agar tidak melirik pak Vincent, aku sangat cemburu."
"Fani aku tau kamu sangat mengidolakan pak Vincent, tapi aku adalah pacar kamu. Aku tetap cemburu melihat kamu lebih perduli kepada pak Vincent."
"Ribet ah, aku pusing aku mau pulang saja."
"Sayang..."
"Bisa jaga sikap gak? Ini masih di kantor!"
Tomi menghela nafas panjang melihat Fani pergi.
"Fani sudah berteman dengan Tomi cukup lama semasa kuliah karena mereka seumuran.
Fani meminta tolong kepada Tomi agar dia masuk bekerja di perusahaan Vincent karena dia sangat menyukai Vincent.
Namun selama empat bulan itu Tomi merasa cinta nya hanya bertepuk sebelah tangan, dia sangat mencintai Fani itu sebab nya dia sangat berjuang membuat Fani menyukai nya.
Tidak ada satu pun yang mengetahui hubungan mereka.
"Kania..." panggil Vincent setelah sampai di rumah. Namun tidak ada jawaban rumah juga sudah sangat sepi.
"Huff aku yakin dia pasti sangat marah kepada ku."
Vincent mengetuk pintu kamar Kania.
Dia tidak berani masuk karena sudah di larang sebelum nya.
Vincent masuk ke kamar nya dan langsung mandi agar lelah nya hilang.
Namun saat keluar dari kamar mandi handphone nya berdering.
"Papah." ucap Vincent. Orang tua angkat nya menelpon dia.
"Halo Pah, Papah apa kabar?" tanya Vincent.
"Alhamdulillah baik, kamu sendiri bagaimana?"
"Baik juga Pah."
__ADS_1
"Bagaimana bisa perusahaan itu tiba-tiba jatuh ke tangan Jeki nak? Apa yang sudah terjadi? Kenapa banyak orang bilang kalau kamu menjual nya?" tanya Papah nya.
"Cerita nya panjang Pah."
"Kamu tidak perlu khawatir, kalau begitu kamu istirahat saja, kita bicarakan besok, Papah baru pulang ke rumah dan melihat berita itu."
"Maafin aku Pah."
"Besok kita bicara kan, yang penting kamu baik-baik saja."
Setelah beberapa lama akhirnya Vincent memilih untuk tidur karena dia juga sudah sangat lelah sekali.
Keesokan harinya Kania bangun kesiangan dia langsung keluar dari kamar memastikan Vincent masih ada. Namun ternyata Vincent sudah berangkat ke kantor dan meninggalkan surat kepada Kania.
"Hari ini saya harus cepat ke kantor karena ada pekerjaan mendadak, saya akan menjemput kamu di kampus nanti sayang."
Kania menghela nafas panjang.
"Aku takut dia jatuh sakit karena memikirkan pekerjaan nya dan sekarang dia tidak memiliki istirahat." ucap Kania.
Kania dan Ulfa sedang duduk kantin bersama.
"Kalau ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan, katakan saja, sesekali aku juga harus mendengarkan kan keluhan kamu," ucap Kania kepada Ulfa yang seperti nya banyak Fikiran.
"Aku rasa sekarang Yuda sedikit membuat aku risih."
"Loh kenapa?"
"Aku merasa risih karena dia terlalu dekat dan seakan-akan kita sangat akrab dan aku juga kesal ketika dia memaksa dan mendekati aku."
"Bukan nya seharusnya kamu senang, kamu sudah menyukai dia cukup lama."
"Tapi aku rasa dia seperti ini hanya merasa bersalah dan ingin dekat sebagai teman saja."
"Yuda anak yang baik, tidak ada salah nya kalau kamu memberikan kesempatan lagi."
"Sudah lah berhenti membahas itu, sekarang katakan bagaimana kamu dengan Paman Vincent?"
"Aku sudah jadian dengan paman Vincent."
"Kamu Seriusan?" tanya Ulfa.
Kania mengangguk.
"Huff pantesan saja akhir-akhir ini kamu terlihat sangat senang sekali, beban yang selama ini kamu tahan akhirnya lepas juga."
Kania mengangguk sambil tersenyum.
"Kamu tau sendiri kan kalau aku sudah menyukai nya cukup lama, dan pada akhirnya aku merasakan apa yang aku inginkan," ucap Kania.
"Selamat yah."
"Makasih yah kamu sudah banyak membantu dan selalu sabar."
"Iyah sama-sama, seperti nya mulai dari sekarang aku akan mendengarkan cerita bahagia dari kamu."
__ADS_1
"Tapi aku mohon jangan sampai ada yang tau yah." ucap Kania.
"Aman, kamu tidak perlu khawatir, kamu bisa percaya sama aku. Karena hubungan seperti ini sangat harus private."