Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 137


__ADS_3

"Kenapa Kania membeli yang ini? bukan kah dia biasa nya membeli makanan yang Cocok untuk ku?" batin Minhui.


Jeki di dalam ruangan nya dia melihat Minhui tidak memakan nya melainkan meletakkan kepala nya di atas meja sambil menahan lapar.


"Biasanya dia makan dengan lahap, terus kenapa sekarang dia tidak makan?" Batin Jeki.


Tidak beberapa lama akhirnya datang lagi makanan baru. Yang datang malah yang pedas karena Jeki berfikir Minghui suka yang pedas.


Namun ternyata sama saja, Minhui sangat suka tapi dia harus memikirkan kesehatan janin nya.


Tidak habis pikir akhirnya Jeki mencari informasi dari google.


Di google juga menjelaskan kalau ternyata wanita hamil memiliki selera yang beda-beda.


Tidak tau mau beli apa Jeki memutuskan menelpon telpon rumah.


Minhui yang sedang duduk di meja makan mendengar telpon rumah berdering. "Tumben banget, selama aku tinggal di sini telpon itu tidak pernah berbunyi," batin Minhui.


Minhui mendekati telpon itu sedikit takut dan was-was. Jeki melihat rekaman Cctv.


"Angkat! Angkat bodoh!" malu Jeki kesal karena sudah dua kali namun Minhui hanya melihat saja.


Jeki putus asa, dia menghentikan nya dan langsung mematikan komputer yang memantau Cctv itu.


"Bodo amat! Ngapain juga aku perduli sama dia, akhir-akhir ini dia benar-benar sangat berani mengabaikan ku, dan juga tidak perduli sama sekali kepada ku!" ucap Jeki.


Jeki mengusap wajah nya. "Apa aku benar-benar harus membiarkan dia membesarkan anak itu? Aku sangat tidak suka pada wanita hamil dan juga aku tidak suka pada anak kecil," batin Jeki.


Jeki membuka handphone nya dia melihat foto bayi yang pernah di kirim kepada Kania.


"Arrghh!!! aku tidak tau harus melakukan apapun!" ucap Jeki.


Di kantor Vincent, dia menghubungi Istrinya.


"Sayang, kamu masih di kampus? aku akan datang menjemput kamu," ucap Vincent.


"Gak usah mas, aku bisa pulang sendiri, aku juga belum pulang," ucap Kania.


"Tapi..."


"Mas fokus saja kerja, aku hari ini mau nemanin Yuda jemput Ulfa ke loket," ucap Kania.


"Berdua saja?" tanya Vincent.


"Jangan berfikir yang aneh-aneh deh mas," ucap Kania langsung.


"Ya bukan seperti itu, hanya saja..."


"Aku akan ngabarin mas Vincent nanti, sekarang aku harus masuk ke dalam kelas dulu."

__ADS_1


"Baiklah." Telpon langsung mati.


Vincent menyandarkan punggungnya.


Vincent melamun dia tiba-tiba kefikiran dengan Kania yang seperti nya menyembunyikan sesuatu dari nya.


"Huff aku tidak percaya hari ini dia menemani Yuda. Sebaiknya aku mengikuti dia saja," batin Vincent.


Di sore hari nya...


Vincent benar-benar mengikuti Kania diam-diam, dan ternyata benar kalau Kania dan Yuda menjemput Ulfa terlebih dahulu. Namun setelah itu Kania memesan taksi.


Vincent tidak membiarkan Kania lepas, dia mengikuti m


taksi yang membawa istri nya itu.


Vincent terus mengikuti Kania. "Ini rumah siapa? Kenapa Kania berhenti di sini?" batin Vincent.


Vincent keluar dari dalam mobil dia melihat Kania masuk saja ke dalam rumah itu karena gerbang tidak di kunci seperti biasa.


"Tok!! Tok!! Tok!!," ketukan pintu rumah Jeki.


"Iyah sebentar," saut dari dalam.


"Siapa yang datang yah?" batin Minhui.


Minhui sangat kaget melihat Kania ada di depan rumah nya.


Vincent sangat kaget karena Kania datang menemui Minhui.


"Kania, kamu sudah pulang?" tanya Minhui.


"Iyah, aku baru saja pulang kemarin, aku membawa oleh-oleh ini untuk kamu," ucap Minhui memberikan paperbag.


"Kania!" ucap Vincent membuat mereka berdua kaget melihat Vincent menghampiri mereka dengan tatapan marah.


"Mas Vincent," ucap Kania. "Apa-apaan ini? Apa maksud kamu memanfaatkan istri saya untuk membawa kan barang-barang yang kamu mau? Kamu sengaja membawa istri saya dalam bahaya?" tanya Vincent mendorong Minhui.


Kania kaget karena Vincent mendorong nya cukup kuat. Namun Vincent tidak mengijinkan Kania dekat dengan Minhui.


"Mas, mas Vincent jangan salah paham."


"Selama ini istri saya membeli makanan yang banyak, mengantarkan makanan ternyata ke sini? Apa kamu tidak punya tangan dan kaki? apa Jeki tidak bisa membeli kan itu untuk mu?" tanya Vincent.


Minhui tidak bisa menjawab dia hanya diam menunduk. "Mas Vincent, sebaiknya kita pergi dari sini, jangan membuat keributan," ucap Kania.


"Dan kamu! kenapa kamu menemui wanita yang jelas-jelas sudah menusuk kita dari belakang, yang sudah menghianati saya dan juga perusahaan!?"


Vincent sangat marah sehingga tidak sadar membentak Istri nya.

__ADS_1


"Pulang! Pulang!" suruh Vincent. Vincent berjalan terlebih dahulu.


Kania menatap Minhui, dia membantu Minhui berdiri.


"Kamu gak apa-apa kan?" tanya Kania.


"Aku baik-baik saja Kania, sebaiknya kamu pergi sekarang."


Kania mengangguk. Dia mengejar Vincent ke dalam mobil.


Minhui mengambil semua bawaan Kania membawa nya masuk ke dalam.


"Karena aku, Kania dan suami nya jadi ribut seperti ini, aku tidak tau harus apa," ucap Minhui.


"Mas.. Mas Vincent dengerin aku dulu," ucap Kania setelah sampai di rumah.


Ulfa yang langsung ke rumah Kania tadi nya kaget karena mereka pulang sudah ribut-ribut.


"Apa yang harus kamu bilang? Bukan kah kamu sangat bodoh mau berteman dengan wanita licik seperti dia? Bagaimana kalau kamu di jadikan alat untuk menghancurkan perusahaan?" tanya Vincent.


"Aku hanya membantu Minhui, tidak lebih dari itu."


"Bantu apa? Setelah semua nya yang terjadi kamu membantu nya? Kamu membantu Jeki?"


"Bukan seperti itu mas, aku hanya membantu Minhui karena dia hamil, aku tidak membantu Jeki."


"Sama saja! Kamu membantu dia sama saja kamu membantu Jeki."


"Aku mohon jangan marah," ucap Kania.


"Aku tidak ingin kamu menemui dia lagi," ucap Vincent langsung masuk ke dalam kamar.


Kania menghela nafas panjang.


"Hufff," Kania duduk di sofa, Ulfa datang menghampiri Kania.


"Kania, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu menemui dan membantu wanita yang sudah sangat Jahat?" tanya Ulfa.


"Bukan seperti itu Ulfa, kamu harus dengar penjelasan ku," Ulfa mendengar kan semua penjelasan Kania sampai selesai.


"Seperti itu cerita nya, sekarang dia sudah berubah tidak seperti dulu lagi, aku hanya merasa kasian karena dia sedang hamil."


"Tapi kamu tau kan kalau Paman Vincent sangat tidak suka kepada mereka."


"Iyah aku tau, aku juga tidak tau kalau mas Vincent mengikuti aku."


Ulfa menghela nafas panjang. "Sebaiknya kamu berbicara baik-baik deh dengan suami kamu."


Kania mengangguk. Dia memegang tangan Ulfa.

__ADS_1


"Aku minta maaf yah sudah membuat kamu tidak nyaman mendengar kan keributan tadi, makasih juga sudah makan mendengar penjelasan ku," ucap Kania.


__ADS_2