
Vincent mengangguk. Tidak beberapa lama akhirnya makanan sudah masak Vincent terlihat sangat lapar sampai makanan yang di masak oleh Kania hampir habis.
"Kamu tidak makan?" tanya Vincent.
Kania menggeleng kan kepala nya.
Vincent menghela nafas panjang.
"Paman bisa menjelaskan kenapa Paman bisa putus dengan Minhui, kamu jangan marah kepada paman." ucap Vincent.
Kania menggeleng kan kepala nya.
"Aku tidak butuh penjelasan paman, aku hanya ingin paman berubah." ucap Kania.
Vincent mengangguk dia memegang tangan Kania.
"Paman janji akan berubah tapi paman mohon hubungan kita bisa seperti biasa kan? Paman sangat kehilangan kamu."
Kania terdiam sejenak dia melepaskan tangan nya dari tangan Vincent.
"Baiklah, tapi aku juga ingin paman mengerti aku."
Vincent mengangguk dia tersenyum.
Makan malam sangat terasa enak karena mereka berdua sudah baikan sekarang.
Vincent tidur di kamar nya setelah selesai mandi namun dia tidak bisa tidur karena memikirkan pekerjaan nya yang sampai sekarang masalah nya belum tertuntaskan.
Karena pusing dia memilih keluar dari nya mencari rokok dan juga minuman beralkohol.
Kania mendengar suara-suara dari luar kamar nya dia memeriksa keluar dan ternyata benar saja Vincent yang sedang mencari minuman.
"Paman mencari apa?"
"Kamu belum tidur?" tanya Vincent melihat Kania.
"Aku sudah mau tidur namun mendengar suara ribut dari luar."
"Paman mau..." Vincent bingung menjawab nya.
"Aku sudah memindahkan minuman yang di sana ke dalam kulkas."
Kania mengambil kan nya dan membawa ke balkon.
"Paman kenapa tidak tidur?"
"Hanya belum bisa tidur, kamu tidur saja karena besok kamu pasti kuliah."
Kania mengangguk. "Besok aku kuliah siang, jadi aku akan menemani paman malam ini," ucap Kania.
Vincent tersenyum dia melihat Kania membuka botol minuman.
"Jangan."
Vincent sangat panik.
"Hanya sedikit saja," ucap Kania.
Vincent berusaha melarang namun Kania tidak bisa di larang.
Vincent minum cukup banyak malam itu dia menatap wajah Kania yang duduk di samping nya.
"Maafin Paman karena tidak bisa menepati janji untuk berubah."
Kania menghela nafas panjang.
"Untuk kali ini tidak apa-apa karena Paman pasti butuh penenang."
__ADS_1
Vincent tersenyum dia mendekati Kania dan bersandar di pundak Kania.
"Paman tidak tau apa yang membuat paman sangat pusing sekarang, namun Paman sangat senang karena kamu di sini bersama Paman," ucap Vincent.
Vincent menatap wajah Kania.
"Kamu sudah bau alkohol, kamu jangan minum lagi karena saya tidak suka kamu minum," ucap Vincent yang sudah mulai mabuk.
"Hanya sedikit, aku baru minum beberapa teguk bahkan sama sekali tidak berasa."
Vincent melihat bekas minuman nya sudah lima botol.
Vincent mengambil botol minuman Kania dan menghabiskan nya.
"Kalau kamu ingin merasakan nya begini cara nya." ucap Vincent memegang pipi Kania dengan kedua tangan nya.
"Apa yang mau Paman lakukan?"
Vincent mengelus bibir Kania dengan jempol nya.
"Kenapa bibir mu sangat merah sekali? Kamu sengaja menggoda paman?"
Kania menghela nafas panjang karena Vincent sudah mabuk.
"Sebaiknya Paman segera istirahat," ucap Kania. Namun Vincent tidak mau dia menahan wajah Kania.
"Boleh kah Paman mencium bibir kamu?"
Kania kaget dengan pertanyaan Vincent.
"Paman tau ini salah, namun Paman sangat menginginkan nya."
Kania mendorong Vincent namun Kania yang terlebih dahulu terjatuh sehingga Vincent berada di atas nya.
"Paman sadar," ucap Kania.
"Paman masih ingat jelas beberapa kali kamu mencium paman ketika tidur, namun paman diam saja, namun kenapa kali ini kamu tidak mau?"
Kania langsung terdiam. "Kania, sekarang Paman sadar apa yang kamu rasakan sebelumnya."
Kania kaget dengan kata-kata Vincent.
"Maksud Paman?"
"Paman...." belum selesai bicara namun Vincent sudah jatuh dan tidak sadar lagi.
Kania menghela nafas panjang.
Keesokan paginya...
"Pagi Kania..." sapa Vincent yang baru saja keluar dari kamar nya dengan pakaian rapi.
"Pagi."
"Kamu buat sarapan apa?" tanya Vincent.
"Humm bubur ayam."
"Tumben banget kamu masak bubur ayam."
"Ini kesukaan Yuda, aku mau mengucapkan terimakasih kepada nya karena sudah membantu aku mengerjakan tugas kemarin."
Wajah Vincent seketika langsung berubah.
"Jadi benar kamu dengan Yuda sudah pacaran?"
Kania tiba-tiba teringat kata-kata Vincent tadi malam.
__ADS_1
"Oh iya Paman ingat gak tadi malam apa yang Paman katakan?"
"Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan, Paman tanya apa kamu benar-benar pacaran dengan Yuda?"
"Gak boleh yah Paman?"
melihat wajah Kania dan mengingat perjanjian yang mereka buat Vincent mau tidak mau harus setuju.
"Bukan begitu, Paman ingin kamu mendapatkan laki-laki yang baik. Namun kalau kamu bahagia dengan Yuda tidak apa-apa."
Kania melihat Vincent yang langsung keluar dari dapur.
"Kan yang aku tebak salah, tidak mungkin Paman menyukai aku balik seperti nya itu sesuatu yang sangat mustahil."
"Hari ini kamu berangkat dengan Paman ke kampus yah."
Kania menggeleng kan kepala nya.
"Gak usah Paman, lagian paman pagi-pagi harus ke kampus sementara aku siang."
"Jam istirahat nanti Paman akan menjemput kamu."
Kania menggeleng kan kepala nya.
"Aku bisa nyetir sendiri, lagian aku tidak mau menyusahkan Paman."
Vincent menghela nafas panjang.
"Ini pasti karena Yuda, awas saja dia."
"Aku tidak akan membiarkan Yuda dengan mudah mendapatkan Kania karena Kania sekarang adalah milik ku. Dengan cara apapun aku akan mendapatkan nya."
"Paman memikirkan apa? kenapa diam saja?"
Vincent tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Paman hanya lapar."
Kania membawa sesuatu dari dapur.
"Loh kok roti sih? mana bubur nya?"
"Bubur nya belum masak."
Vincent menghela nafas panjang.
"Sudah lah aku harus makan ini dari pada aku telat," batin Vincent walaupun dia terlihat sangat kesal.
"Ini hukuman untuk Paman atas sifat Paman tadi malam kepada ku," gumam Kania sambil berjalan ke dapur.
Vincent berangkat ke kantor nya sepanjang jalan merutuki Kania dan juga Yuda.
"Apa yang di lihat oleh Kania dari Yuda? kalau di lihat-lihat aku jauh lebih tampan dan juga kaya, bahkan aku jauh lebih mengerti dia, selain itu aku juga pintar namun kenapa dia meminta bantuan Yuda untuk mengerjakan tugas?"
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di kantor.
"Pak Vincent kenapa lagi sih? Sekarang wajah nya berubah lagi," ucap semua karyawan.
"Hari ini jangan ada satu orang pun yang membuat kesalahan karena mood Pak Vincent sedang tidak baik."
"Tomi, kamu di panggil oleh pak Vincent," ucap Staf.
Tomi dengan sigap langsung masuk ke ruangan Vincent.
"Selamat pagi pak Vincent, ada yang bisa say bantu?" tanya Tomi.
"Duduk dan jelas kan apa alasan kamu memberi tau kepada Kania tentang saya dengan Minhui."
__ADS_1