Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 51


__ADS_3

Vincent melihat wanita paruh baya berpakaian merah, wajah datar terkesan galak baru saja memasuki ruangan Vincent.


"Kalau begitu saya permisi dulu pak."


Tomi keluar dan menutup pintu.


"Oh tuhan bagaimana ini? kalau Bu Mona sudah datang ke kantor, semua nya Dalam bahaya, semua nya bahaya, aku tidak bisa membayangkan nasib ku ke depan nya bagaimana? Aku masih memiliki utang banyak, orang tua ku masih butuh uang dari aku."


"Mami kenapa bisa di sini?" tanya Vincent.


Wanita itu menatap Vincent dengan tatapan dingin yang sangat sulit di artikan namun ada tanda-tanda marah di wajah nya.


"Kamu masih bertanya kenapa saya di sini?" tanya Bu Mona.


"Mi aku bisa menjelaskan semua nya, mami harus mendengarkan penjelasan ku, namun untuk saat ini aku masih berusaha."


"Plak!!" tamparan di wajah Vincent.


"Berusaha bagaimana? Sekarang perusahaan itu sudah atas nama orang lain. Apa yang mau kamu usahakan?" tanya Bu Mona.


Vincent terdiam.


"Bagaimana bisa kamu melakukan ini kepada almarhum papi kamu? apa hanya karena perempuan kamu membiarkan semua nya hilang seperti ini?"


"Aku minta maaf Mi."


"Tidak ada gunanya untuk meminta maaf kepada mami, mami tidak mau tau kamu harus mengembalikan perusahaan itu kembali kepada mami kalau kamu tidak sanggup mengurus nya."


Vincent mengangguk.


"Aku akan mengusahakan nya Mi."


Bu Mona menghela nafas panjang.


Setelah itu mami nya pergi.


Bu Mona adalah ibu kandung Vincent.


Vincent menjadi anak angkat karena dia jauh dari orang tua nya dulu dan orang tua kandung nya sangat bersahabat kepada orang tua angkat nya, kebetulan mereka tidak memiliki anak laki-laki."


Di sore hari nya Vincent sudah menunggu Kania di depan kampus.



"Kania-kania lihat deh di depan sudah ada paman Vincent yang menunggu kamu."


"Hah? Kenapa sangat cepat?" tanya Kania.


"Sebaik nya kamu langsung keluar saja sana." ucap Ulfa karena kelas juga sudah selesai.


Kania mengangguk dia mengumpulkan semua barang-barang nya dan langsung pergi meninggalkan Ulfa.

__ADS_1


Kania melihat Vincent yang sedang berdiri disamping mobil dan tersenyum kepada nya.


"Paman... Kenapa paman menjemput ku Tiba-tiba? Kenapa paman harus tebar pesona di sini?"


"Saya tidak tebar pesona hanya saja pesona saya yang keluar."


"Aku serius paman, lihat lah semua mata wanita-wanita itu ke sini."


"Kenapa? Kamu cemburu melihat saya di lihat oleh mereka? Baiklah kalau begitu saya tidak akan keluar dari dalam mobil karena saya hanya menjadi milik mu saja."


Kania menghela nafas panjang.


Vincent membuka kan pintu untuk Kania.


"Beruntung banget sih Kania memiliki paman yang baik, tampan, kaya raya dan sangat menyayangi nya."


"Aku jadi cemburu deh, kalau aku menjadi Kania, aku tidak akan menyia-nyiakan itu, aku akan menjadi kan paman ku menjadi pacar ku."


"Jangan gila deh, mana bisa seperti itu."


"Loh kalian belum tau yah kalau paman Kania itu bukan Paman kandung nya."


"Jangan ngaco deh kamu, sebaik nya kita pulang saja ini sudah sore."


"Paman kenapa menjemput aku?" tanya Kania.


"Karena saya merindukan kamu. Saya juga tidak memiliki pekerjaan di kantor apa salah nya saya sekalian menjemput kamu."


Tidak beberapa lama mereka sampai di rumah.


"Loh kok rumah ramai? Tumben banget."


Kania masuk bersama Vincent.


"Kalian sudah pulang?" tanya Omah dan Opah.


Kania.


Kania melihat ternyata ada tamu perempuan yang sudah lanjut usia duduk dengan wajah datar dan sangat mirip kepada paman nya itu.


"Kania kenalin ini Bu Mona."


Kania menyalim tangan Bu Mona sambil tersenyum namun Bu Mona tetap memasang wajah dingin.


"Dulu terakhir kali kita bertemu kamu masih sangat kecil di tinggal kan oleh orang tua kamu kepada anak saya."


Kania berusaha tersenyum walaupun dia kaget ternyata itu adalah ibu kandung Vincent.


"Iyah mah, sekarang dia sudah semester lima, sebentar lagi dia akan selesai." ucap Vincent.


"Bagus deh kalau begitu, setelah dia selesai kuliah kamu sudah memenuhi semua janji kamu dan kamu bisa fokus dengan masa depan kamu."

__ADS_1


Semua nya langsung terdiam.


"Bukan kah perjanjian kamu di almarhum orang tua nya seperti itu?" tanya Bu Mona membuat Kania bingung dan yang ada di sana terkejut kenapa Bu Mona mengatakan itu.


"Maksud nya almarhum?" tanya Kania.


"Loh kamu gak paham maksud saya? Orang tua kamu meninggal kan kamu kepada anak saya sebelum mereka meninggal dunia. Mereka meminta anak saya mendidik dan mengurus kamu sampai selesai, dan setelah itu anak saya bisa kembali kepada saya dan memulai kehidupan nya lagi."


Kania sangat terkejut, dia tidak tau harus bilang apa.


"Mih!" ucap Vincent marah.


"Bu sebaiknya kita jangan membahas itu."


"Bagaimana saya tidak membahas nya, perusahaan almarhum suami saya sudah di rebut oleh orang lain karena Vincent Sibuk mengurus Kania dan perusahaan kalian."


"Bu Mona, sebaiknya kita jangan membicarakan ini di sini, ini bukan urusan Kania," ucap Opah.


Bu Mona langsung terdiam.


Kania langsung masuk ke dalam kamar nya dan menangis di dalam nya.


"Ya Allah ada apa yang sebenarnya? kenapa membuat aku bingung seperti ini? Apa benar Papah sama mamah sudah tidak ada lagi?" tanya Kania.


"Mau kemana kamu Vincent? Duduk lah di sini kita bicara kan ini, mumpung kedua orang tua angkat kamu di sini."


"Sudah saatnya memang Kania tau tentang ini Vincent, sudah saatnya Kania tau kalau kamu bukan lah anak kandung kami dan kami lah yang memberikan Kania kepada kamu bukan kamu yang di berikan kepada kami."


Tentu saja Kania yang masih penasaran akhirnya dia mendengar pembicaraan mereka itu.


"Tapi mah Kania."


"Kania sudah dewasa nak, sudah saatnya dia tau. Dan mamah sama Papah tidak mempermasalahkan kalau setelah Kania lulus kamu kembali mengurus perusahaan kamu."


"Tapi."


"Sudah Vincent! Jangan karena keluarga ini kamu mengorbankan semua apa yang ada pada kamu."


"Tapi ini tidak salah Kania mih, ini kelalaian ku sendiri."


Kania tidak kuat mendengar nya dia pergi masuk dan menangis sejadi-jadinya di kamar nya.


"Tok!!! Tok!! Tok!!"


"Kania bukan pintu nya sayang."


Omah dan Opah nya berusaha untuk membujuk Kania keluar namun Kania sama sekali tidak mendengar nya dia hanya diam di dalam kamar nya sambil memikirkan semua kata-kata yang dia dengar.


Vincent di kamar nya sangat pusing, dia tidak tau bagaimana mengahadapi Kania karena mamih nya.


Bu Mona di luar dia melihat foto-foto Vincent bersama Kania.

__ADS_1


"Kedua orang tua kamu sudah membebani anak saya sehingga sampai sekarang dia tidak menikah," batin Bu Mona sambil menunjuk foto Kania.


__ADS_2