Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 117


__ADS_3

"Mami tau kamu pasti sangat gugup kan, itu adalah hal biasa, nanti lama-lama pasti terbiasa kok."


Vincent mengangguk. Dia mendengar kan banyak nasehat dari orang tua nya itu.


Di tempat lain Fani menangis karena tidak bisa melupakan sikap Tomi tadi.


"Apakah dia benar-benar sudah sangat membenci ku? apa dia tidak bisa menerima aku lagi?" batin Fani.


tiba-tiba handphone nya berdering Telpon dari Kania, setelah selesai mandi dia menyempatkan untuk menghubungi fani mumpung tidak ada orang di kamar nya.


"Halo Kania?"


"Fani kamu di mana? Kamu sudah pulang kan?" tanya Kania.


"Aku sudah di rumah kok, ada apa?"


"Aku mengkhawatirkan kamu, kamu tidak apa-apa kan?"


Tania terdiam, dia tidak menjawab nya.


"Fani, apa kamu mendengar ku?" tanya Kania.


"Aku mendengar nya, maafin aku sudah membuat kamu khawatir, tapi aku baik-baik saja."


"Suara kamu seperti orang menangis, aku yakin kamu tidak baik-baik."


"Ini adalah malam pertama kamu setelah menikah, kamu fokus saja sama suami kamu, aku akan datang besok," ucap Fani.


Kania mengangguk. "Kalau begitu aku matikan dulu yah, langsung hubungi aku kalau terjadi sesuatu," ucap Kania karena Vincent juga sudah masuk ke dalam kamar.


"Baiklah, terimakasih banyak Kania. Sekali lagi aku mengucapkan selamat yah."


Telpon pun langsung mati.


"Siapa yang baru saja berbicara dengan kamu?" tanyakan Vincent.


"Fani, aku menelpon nya karena khawatir tentang hal yang tadi."


"Oohhhh,"


"Sebaik nya paman mandi, aku sudah menyiapkan pakaian untuk Paman."


"Huff masih panggil paman, apa kamu lupa dengan yang saya katakan tadi?"


"Apa perlu saya mengajari kamu dengan cara lain?"


"Maaf-maaf, aku hanya belum terbiasa."


Beberapa menit kemudian Vincent keluar dari kamar mandi, dia melihat Kania yang sudah tidur.


"Kamu pasti kelelahan," ucap Vincent dia mengelus kepala Kania. Dan setelah itu berbaring di samping Kania.


Tiba-tiba Kania menghindar lebih ke pinggir. Vincent menghela nafas panjang.


Karena kedua nya sama-sama lelah mereka berdua tertidur dengan sangat pulas sekali.


Keesokan harinya Vincent dan Kania serta semua keluarga sudah kembali ke rumah nya masing-masing.


Omah dan Opah juga harus segera kembali ke luar negeri. Begitu juga dengan Bu Mona harus kembali melihat pekerjaan nya.

__ADS_1


Kania cukup sedih karena biasanya ramai sekarang jadi sangat sepi sekali.


Kania dan Vincent mengantarkan mereka ke bandara.


"Maaf yah, Mami tidak bisa di sini lama-lama, sudah lama mami meninggal PT Wir Asia," ucap bu Mona.


"Iyah mi, gak apa-apa ko," ucap Vincent.


"Ya sudah kalau begitu ibu berangkat yah," ucap bu Mona memeluk Kania.


Setelah bu Mona pergi, omah dan Opah pun berpamitan.


"Vincent, jaga cucu Omah baik-baik. Jangan sampai dia sedih."


"Iyah mah, aku akan menjaga nya dengan baik."


"Oh iya, kalau Omah dan Opah ke sini lagi Semoga kalian sudah memiliki anak."


"Omah aku belum pengen punya anak, aku masih kuliah."


"Kalau rejeki tidak bisa di tolak," ucap Omah. Vincent tersenyum. Setelah itu Omah pun pergi.


"Hufff mereka semua sudah pergi, tinggal hanya kita berdua," ucap Kania.


Vincent tersenyum. "Bukan kah ini sangat bagus? Kita tidak perlu sungkan kepada siapapun."


"Jangan berfikir yang aneh-aneh yah," ucap Kania langsung pergi meninggalkan Vincent.


Vincent dan Kania sampai di rumah.


"Aku mau bersih-bersih dulu," ucap Kania karena melihat rumah berantakan.


"Tidak perlu," tolak Kania.


"Kita menikah agar saling membantu satu sama lain, rumah ini cukup berantakan karena banyak orang yang datang."


Kania tidak bisa menolak, karena hal ini yang selalu dia bayangkan ketika menikah. Saling membantu satu sama lain.


Mereka memulai nya, namun Vincent tidak serius, dia selalu menggoda Kania.


Setelah semua nya sudah rapi, Vincent memasang foto-foto pernikahan, foto keluarga di dinding rumah nya.


"Kamu sangat cantik sekali," ucap Vincent.


Kania tersipu malu.


"Mas Vincent juga sangat tampan di waktu pernikahan memakai pakaian itu."


"Kamu bisa aja," ucap Vincent.


"Oh iya hari ini saya akan pergi belanja untuk keperluan dapur, kamu mau ikut?" tanya Vincent.


Kania mengangguk.


Sebelum berangkat mereka bersih-bersih dan menukar pakaian.


Tidak hanya belanja ke supermarket namun mendatangi beberapa tempat setelah sudah menjadi suami istri mereka tidak memiliki rasa malu atau segan bergandengan tangan.


Banyak orang yang mengenal mereka namun Kania sudah tidak perduli lagi dengan tanggapan mereka, dia tidak pernah membayangkan sebagai ini dia menikah dengan Vincent.

__ADS_1


Setelah beberapa jam di luar akhirnya mereka pulang ke rumah, Kania mulai menata barang-barang di dapur, sementara Vincent duduk di ruang tamu menikmati kopi buatan istri nya sambil memeriksa pekerjaan nya.


Sementara Tomi baru Saja keluar dari ruangan nya sangat heran karena dari pagi tadi sampai sore dia tidak melihat Fani.


Tomi langsung mengabaikan nya karena pekerjaan nya sangat banyak.


Namun sudah malam dia memberanikan diri bertanya kepada teman Fani.


"Kemana Fani? Kenapa dia tidak menyelesaikan laporan nya?" tanya Tomi.


"Mbak Fani hari ini tidak masuk pak,"


"Kenapa dia tidak masuk? apa dia lupa dengan tanggung jawab nya sebagai ketua Tim?" tanya Tomi marah.


Mereka semua tidak bisa menjawab nya.


"Hubungi dia."


"Halo?"


Telpon salah satu teman nya di angkat oleh Fani.


"Fani, kamu di Mana? kenapa kamu tidak datang ke kantor hari ini?"


"Aku sedang tidak enak badan, aku minta maaf yah, pasti kalian kena marah," ucap Fani.


"Ya sudah kalau begitu kamu lanjut istirahat yah, semoga cepat sembuh."


"Mungkin Fani kelelahan karena membantu-bantu di pernikahan pak Vincent kemarin pak," ucap teman Fani.


Tomi tidak mengatakan apapun dia langsung keluar dari sana.


Sementara yang lain sebagian sudah pulang dari kantor.


"Kania..." panggil Vincent.


Kania masuk ke dalam kamar Vincent dia melihat Vincent tidur di tempat tidur sambil menatap nya.


"Kenapa mas?" tanya Kania.


"Ini sudah malam, kamu istirahat lah."


"Iyah, aku sudah mau tidur kok."


"Tidur di mana?"


"Di kamar ku lah, mau di mana lagi?*


"Loh kamu lupa kalau kita sudah suami istri, kita harus tidur satu kamar.".


Kania terdiam. "Mendekat lah ke sini," ucap Vincent menepuk tempat tidur kosong di samping nya.


Kania mendekati kasus namun Vincent langsung menarik tangan Kania dan tidur di lengan Vincent.


"Kamu tidak perlu takut, saya tidak akan melakukan nya kalau kamu belum siap, saya juga tidak akan memaksa kamu."


Kania mau menjawab namun tiba-tiba bel berbunyi dan Suara ketukan pintu membuat mereka kaget.


"Tok!! tok!! tok!!" ketukan pintu.

__ADS_1


__ADS_2