
Kania mengikuti nya ke kamar. "Aku hanya merasa kasian kepada Minhui, tidak bermaksud lain, lagian Minghui sudah berubah."
"Kamu selalu mengatakan itu melakukan pembelaan diri, begitu banyak kebaikan yang harus kamu lakukan, namun kenapa harus bersangkutan dengan masa lalu ku?"
"Baiklah aku minta maaf soal itu," ucap Kania. Vincent tidak mengatakan apapun dia masuk ke kamar mandi dan cukup lama di kamar mandi.
Kania menunggu Vincent sampai keluar dari kamar mandi.
Sementara Vincent di dalam kamar mandi kefikiran dengan foto bayi laki-laki yang dikirim oleh Jeki kepada Kania.
"Apa dia sengaja mengirim foto itu untuk menghancurkan hubungan kami? Anak itu sangat mirip dengan ku, tapi aku tidak tau kalau dia hamil," batin Vincent.
Keesokan harinya...
Kania bingung dengan suami nya yang diam saja, tidak banyak bicara.
"Apa dia harus semarah ini? Aku rasa ini tidak perlu di perbesar kan seperti ini? Lagian aku sudah minta maaf," ucap Kania.
Vincent duduk bersama Tomi di ruangan nya.
"Ada apa bapak meminta saya ke sini?" tanya Tomi. Karena sudah hampir sepuluh menit duduk di sana Vincent memilih untuk diam.
Vincent menatap Tomi. Dia seperti mau menyampaikan sesuatu namun terhenti.
"Tomi dan Kania cukup dekat, Tomi tidak bisa menyembunyikan rahasia dari Kania. Walaupun Tomi merahasiakan nya namun Kania akan terus mencari tau sampai Tomi berbicara jujur."
"Ada apa pak? Kenapa Bapak seperti takut mau menyampaikan sesuatu?" tanya Tomi.
Vincent menggeleng kan kepala nya.
"Lupakan saja, saya ada urusan mendadak."
Vincent langsung pergi dan keluar dari ruangan itu.
"Apa yang sedang terjadi kepada pak Vincent? Tidak seperti biasanya," batin Tomi.
Di siang hari nya Kania datang ke kantor. Dia mau mengajak suami makan siang bersama.
"Kania kamu di sini?" tanya Fani dan Tomi yang ternyata mau keluar makan siang juga.
"Iyah, mas Vincent ada di dalam kan?"
"Pak Vincent dari pagi di luar, mungkin dia memiliki urusan di luar."
"Loh kok dia gak ngomong sih?"
"Kok kamu gak nanya dulu pak Vincent di mana?" tanya Fani.
"Aku sudah tanya, tapi mas Vincent tidak balas pesan ku, dia masih marah kepada ku."
"Ya udah kalau begitu kamu ikut kita saja," ucap Tomi menarik tangan Kania ikut bersama mereka.
"Apa yang kamu lakukan di sini siang-siang seperti ini?" tanya Rendi teman Vincent pemilik club itu.
__ADS_1
Vincent menoleh ke arah teman nya.
"Aku hanya pusing."
"Kenapa? Ribut sama istri mu?"
Vincent menggeleng kan kepala nya.
"Lalu? Biasanya kalau bukan masalah perempuan pasti pekerjaan."
Vincent menggeleng kan kepala nya. "Bukan," jawab nya.
"Lalu?" tanya Rendi.
"Cerita kan saja bro, apa yang salah? siapa tau gw bisa bantu."
Vincent menatap Rendi. "Loe masih ingat Sarah kan?"
"Sarah?" Vincent mengangguk.
"Ya ingat lah, dia adalah pacar pertama, cinta pertama mu," ucap Rendi.
"Huff kenapa loe harus mengatakan itu, aku hanya menanya ingat atau tidak," ucap Vincent dengan kesal.
"Maaf-maaf bro, lagian gw bercanda doang, loe juga udah nikah."
"Emang ada apa dengan Sarah?"
"Loe tau sekarang di mana dia ?" tanya Vincent. Rendi Menatap Vincent.
"Jawab saja, loe tau enggak?"
Rendi menggeleng kan kepala nya.
"Terakhir kali dia ke sini bersama teman-teman nya setelah putus dengan mu dia hari, dan setelah itu dia tidak pernah datang lagi."
"Aku dengar sih dia sakit parah, dan tidak tau setelah itu."
"Sakit?" tanya Vincent..Rendi mengangguk.
"Loe ada apa sih nanya tentang dia tiba-tiba? Jangan aneh-aneh deh Vincent kalau loe ingin rumah tangga loe baik-baik saja. Gw tau kalau dia adalah cinta pertama loe, tapi jangan mencari penyakit."
"Bukan tentang itu Rendi, kakak laki-laki Sarah adalah Jeki."
"Terus apa yang salah?"
"Loh, loe sudah tau?"
"Hampir semua orang tau tentang itu. Aku pikir kau juga tau."
"Gw tidak tau sama sekali, karena Sarah tidak terbuka sama sekali dan gw juga sangat jarang ingin tau."
"Huff.. Lalu apa yang salah sekarang? Langsung ke intinya saja!"
__ADS_1
"Jeki mengatakan Sarah hamil anak gw."
Rendi yang tadi nya minum langsung tersedak dan batuk-batuk.
Dia menatap Vincent. "Jangan percaya Vincent, itu hanya jebakan saja, mana mungkin Sarah hamil setelah putus dengan mu."
"Tapi Jeki memiliki bukti foto bayi yang sangat mirip dengan ku," Vincent menunjukkan foto bayi yang ada di handphone nya.
"Bisa jadi saja ini editan."
"Aku juga berfikir seperti itu, tapi melihat foto ini aku merasakan sesuatu," ucap Vincent.
"Gw ingin cari tau yang sebenarnya, sebelum Jeki menjebak dan membuat Kania tau dan salah paham."
Rendi menggeleng kan kepala nya.
"Sebaiknya tidak perlu, lagian itu hanya akan membuat masalah baru di hidup loe, bro."
"Kalau gw tidak cari tau yang sebenarnya, Jeki tidak akan pernah berhenti untuk terus meneror GW," ucap Vincent.
Rendi terdiam. "Kalau begitu terserah loe saja," ucap Rendi.
Rendi hanya mengkhawatirkan hubungan teman nya itu dengan istri nya.
Mereka berdua jadi sama-sama pusing.
Di malam hari nya. Kania melihat sudah jam sepuluh malam. "Mas Vincent kemana sih? Kenapa dia belum pulang sih?" batin nya.
Dia keluar dari kamar dan terkejut melihat Vincent ternyata sudah di ruang tamu dia tertidur di sofa.
"Kenapa dia tidur di sini?" ucap Kania. Dia mau membangun kan Vincent namun dia mencium bau alkohol yang sangat menyengat.
"Apa dia seharian minum alkohol?" batin Kania.
Kania terdiam, dia menatap wajah Vincent yang masih biru bekas berantem dengan Jeki.
"Ini adalah salah ku, seharusnya sebagai istri aku tidak boleh membuat suami ku marah dan juga aku harus berbicara terlebih dahulu kepada nya apapun itu."
"Maafin aku yah mas, aku tau kamu memilih diam seperti ini dari pada marah langsung kepada ku," ucap Kania.
Dia membantu Vincent membersihkan tubuhnya dan juga memberikan selimut.
"Tidur yang nyenyak yah mas," Kania mencium pipi Vincent.
Vincent menyadari Kania yang membersihkan badan dan memberikan nya selimut.
Di rumah Jeki. Dia baru saja pulang jam sepuluh malam, dia melihat Minhui masih menonton TV di ruang tamu.
"Kenapa kamu belum tidur? Ini sudah larut malam."
Minhui tidak menjawab karena dia sangat fokus menonton.
Namum tiba-tiba Jeki mematikan TV. Minhui tiba-tiba memasang wajah sedih layak nya anak kecil.
__ADS_1
Jeki menghidupkan nya lagi, dia menghela nafas panjang dia harus mengingat Minhui sedang hamil.