Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 95


__ADS_3

Kania melihat ternyata Tia menyambut semua tamunya dengan sangat hangat.


"Hayyyy..." tiba-tiba Tia datang menghampiri mereka.


Vincent tersenyum.


"Kenalin nama aku Tia, senang bisa bertemu langsung dengan kamu, sudah lama aku tau kamu namun baru sekarang aku melihat kamu ternyata kamu sangat ganteng, pantesan saja Vincent jatuh cinta."


Kania tersenyum. "Oh iya kamu pasti sudah tau aku adalah teman lama Vincent, kalau kamu ingin bertanya-tanya tentang kelakuan Vincent tanyakan saja kepada saya."


Kania tidak nyangka kalau ternyata Tia asik, dia jadi merasa bersalah karena sudah berfikir yang tidak-tidak tadi nya kepada Vincent atau Tia.


Acara pun selesai sebelum jam sepuluh malam, Kania melihat Vincent yang berjalan ke arah nya.


"Maaf yah sudah buat kamu menunggu, kalau begitu ayo pulang."


Kania menggeleng kan kepala nya.


"Bisa gak jangan pulang dulu? Aku masih ingin jalan-jalan di sini."


"Tidak ada yang di lihat di malam hari di sini, semua nya sudah tutup tidak seperti di Jakarta."


"Huff kaya siapa? di sini sangat banyak tempat-tempat bagus karena belum banyak bangunan."


Vincent melihat jam.


"Tapi ini sudah sangat malam."


"Aku seharian di rumah, aku bahkan tidur saja, jadi aku belum lelah dan juga ngantuk."


Vincent mengangguk. "Oke baiklah, kita akan kemana?"


"Sini biar aku saja yang nyetir," ucap Kania mengambil kunci mobil.


Vincent mengangguk dia hendak masuk ke dalam mobil namun dua wanita datang menghampiri nya.


"Halo kak Vincent," sapa mereka sambil tersenyum.


"Haii," sapa Vincent kembali sambil menoleh ke arah Kania.


"Humm aku sudah sangat lama suka sama kakak, aku ingin memberikan ini kepada kakak."


"Kamu tau saya kan? Kamu juga pasti tau kalau saya sudah memiliki pacar."


Perempuan itu menoleh ke arah Kania.


"Iyah kak aku tau, tapi aku ingin kakak menerima surat ini."


Vincent mengambil nya. "Walaupun aku tidak bisa menjadi pacar kakak, tapi setidaknya kakak menerima surat ini."


"Terimakasih banyak." Perempuan itu segera pamit karena tidak nyaman dengan tatapan Kania.

__ADS_1


Vincent melambaikan tangan nya sambil tersenyum.


Kania menirukan nya ketika mereka sudah pergi.


"Walaupun sudah bersama ku, tetap saja ada yang menggoda Paman, apa lagi tidak bersama ku."


"Sudah lah tidak perlu di bahas," ucap Vincent.


Kania menghela nafas panjang..


"Senang kan di sukai banyak orang?"


Vincent menghela nafas panjang. "Saya hanya senang karena di cintai oleh kamu," ucap Vincent.


"Tidak perlu berbohong, pasti suka kan? Bukti nya tadi Paman tersenyum manis."


Vincent menghela nafas panjang dia memilih untuk diam dari pada berantem hebat.


"Sudah sebaiknya kita pergi ke tempat yang kamu mau, sebelum Terlalu malam."


"Aku tidak mood, sebaik nya kita pulang saja."


"Ya sudah kalau begitu."


"Aku juga capek nyetir, aku gak mau nyetir!"


Vincent hanya bisa menghela nafas panjang menghadapi mood kekasih nya itu.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah.


Dengan ekspresi kesal dan cemburu dia tetap membacanya cukup keras sehingga membuat Vincent Mati kata.


Berbicara sedikit saja akan menjadi masalah besar, akhirnya dia memilih untuk diam mendengar kan surat yang cukup panjang itu.


Namun kali-kali Vincent tersenyum karena mendengar kata-kata yang romantis, kata yang bikin baper dan juga perjuangan wanita itu untuk mencintai nya dan akhirnya memberanikan diri memberikan surat itu.


"Uluh-uluh... Sangat romantis sekali, aku yakin Paman sangat suka pada wanita yang sangat romantis bukan?" tanya Kania menatap wajah Vincent.


Vincent spontan mengangguk. "Paman!!!!" ucap kania marah.


"Maksud saya, saya kurang suka."


Kania duduk dengan kesal di samping Vincent.


"Sudah lah, apa yang kamu cemburu kan kepada perempuan yang bahkan tidak saya kenal?" ucap Vincent.


"Jangan sentuh aku sebelum paman mencuci tangan paman yang menyalim tangan perempuan itu."


Vincent merasa geram dengan wajah cemberut Kania, bibir yang manyun, pipi yang tembem.


"Apa yang paman lakukan?" tanya Kania kaget karena Vincent tiba-tiba menindih nya dan berbaring di sofa.

__ADS_1


Vincent menatap nya dengan tatapan tajam sambil tersenyum.


"Dari tadi kamu sudah menguji saya, saya tidak tahan lagi," ucap Vincent langsung ******* bibir Kania.


Kania berusaha untuk melepaskan dirinya namun Vincent cukup kuat sekali.


"Lepaskan aku!"


"Saya tidak akan melepaskan kamu, karena di saat cemburu seperti ini kamu terlihat semakin menggemaskan membuat saya tidak bisa menahan diri."


"Sial! Seharusnya dia membenciku dan kesal karena aku marah-marah kepada nya, sekarang kenapa seperti ini?" batin Kania.


Kania menendang perut sixpack Vincent dan berhasil lepas dari tindihan Vincent.


"Walaupun aku terkenal wanita yang lemah lembut, tapi aku tidak akan membiarkan Paman menahan ku dengan mudah," ucap Kania tersenyum dan langsung kabur ke kamar Sebelum Vincent mengejar nya.


Vincent menghela nafas panjang.


"Aku yakin setelah ini dia tidak akan pernah mengomel hanya karena tentang perempuan," Vincent tertawa kecil.


Dia mengelus perut nya. "Huff dia hampir saja mengenai masa depan ku. Kalau dia menendang nya bisa jadi Vincent kecil tidak akan lahir dari rahim nya," ucap Vincent sambil tersenyum jahat.


Kania baru saja selesai mandi namun dia kaget melihat Vincent berbaring di tempat tidur tidak memakai baju alias telanjang dada hanya memakai celana panjang hitam nya.


Kania menelan saliva nya melihat badan Vince yang sangat bagus.


"Huss aku memikirkan apa?" batin Kania dia mendekati Vincent.


"Kenapa Paman bisa masuk ke sini?" tanya Kania.


"Ini kamar saya, walaupun di kunci saya bisa menggunakan pin nya."


Kania menghela nafas panjang. "Lalu kenapa paman tidur? Pergi lah mandi."


Vincent menggeleng kan kepala nya.


"Ini sudah jam 12 lewat, saya tidak ingin mandi saya sangat lelah."


"Paman harus mandi!"


Vincent tidak menghiraukan nya dia memilih untuk tidur.


Kania menghela nafas. "Sebaik nya aku jangan ganggu dia deh, kalau dia terbangun aku tidak akan tenang."


Kania mematikan lampu dan tidur di samping Vincent.


Dia membuat pembatas namun Vincent menyadari nya dan membuang bantal dan memeluk Kania dengan sangat erat.


"Kamu sangat wangi sekali, seperti wangi bayi.." ucap Vincent tepat di telinga Kania membuat Kania merinding.


Kania menoleh ke arah Vincent yang ternyata bangun, Vincent mendekati bibir Kania, baru saja mau bersentuhan namun Vincent malah lanjut tidur.

__ADS_1


Kania menghela nafas panjang. "Huff Kania sabar, kenapa kamu jadi seperti ini? Apapun itu kamu harus sabar walaupun ujian nya seperti ini."


Kania memilih tidur membelakangi Vincent.


__ADS_2