
"Saya tidak memiliki waktu. Katakan pada nya kalau saya sangat Sibuk." ucap Vincent.
Staf tidak bisa mengatakan apapun selain menginyakan dan keluar dari sana.
"Saya tau dia datang hanya mencari masalah saja! setelah Ayah nya yang bangkrut karena melawan ku, sekarang seperti nya dia mau ikut-ikutan mengusik ku." ucap Vincent.
Di malam hari nya Vincent menikmati kopi yang dia buat sendiri di ruang tamu sambil menonton TV.
Tiba-tiba handphone nya berdering ada pesan masuk dari Omah.
"Bagaimana kabar mu di sana nak?"
Vincent langsung menghubungi Mamah nya itu.
"Halo mah." ucap Vincent.
"Iyah nak, bagaimana kabar kamu di sana?" tanya Omah.
"Baik Mah, Mamah sama Kania bagaimana? kenapa mamah dan Kania sangat jarang mengabari aku?" tanya Vincent.
"Mamah gak tau kenapa Kania melarang mamah mengabari kamu. Apa kamu membuat dia kesal?" tanya Mamah nya.
Vincent diam. "Kenapa kamu diam saja?"
"Hanya sedikit salah paham mah, sekarang Kania di mana?"
"Di kamar nya, Mamah dan papah baru saja membawa nya jalan-jalan." ucap mamah nya.
"Humm apa dia tidak menuntut bertemu dengan Kak Sifa?" tanya Vincent.
"Sebelum nya dia ingin bertemu, namun setelah mamah kasih pengertian dia mau mendengar kan nya. Dia sungguh anak yang baik." ucap mamah nya.
Vincent tersenyum. "Kapan dia akan kembali ke Indonesia mah?"
"Dia ingin menghabiskan waktu libur nya di sini, biar kan saja untuk sementara dia di sini yah nak." ucap mamah nya.
"Aku tidak bisa jauh-jauh dari dia mah, aku sudah terbiasa dengan dia. Rumah sangat sepi." ucap Vincent.
Mamah nya tersenyum.
"Itu pertanda kamu harus segera menikah nak, sudah waktunya untuk kamu mencari pasangan."
"Huff mamah selalu saja mengatakan itu. Aku belum kefikiran sampai sana."
"Apa lagi yang mau kamu tunggu? sekarang Kania sudah Dewasa dan juga karier kamu cukup baik." ucap Mamah nya.
"Kita lanjut berbicara besok yah mah, aku ada urusan mendadak. Minta Kania untuk membalas pesan ku." dan langsung mematikan sambungan telepon.
Vincent sangat bosan di rumah akhirnya dia memutuskan untuk pergi minum bersama teman-teman nya.
Namun sampai di sana dia melihat direktur Je.
Je mendekati Vincent.
__ADS_1
"Aku berfikir kita tidak akan bertemu hari ini, ternyata kita bertemu juga di sini." ucap Je.
Vincent meletakkan gelas nya dia menatap Je.
"Apa yang kau inginkan dari ku?" tanya Vincent.
Je tersenyum tipis sambil menatap Vincent.
"Aku hanya ingin kamu menyetujui ini." ucap Je sambil memberikan satu lembar kertas.
Vincent membaca nya dia menatap Je sambil tertawa kecil.
"Tidak semudah itu Jeri!" ucap Vincent.
"Kenapa? Bukan kah saham ini sebagian besar milik ayah ku yang sudah kau rampas?" Ucap Jeri dengan percaya diri.
"Tidak ada sedikit pun Saham ini saya rebut dari ayah mu. Semua ini saya dapat kan dengan usaha saya sendiri dan saya membeli nya cukup mahal dan sekarang kamu ingin mengambil salah satu saham ini." ucap Vincent.
"Humm kalau kau tidak menyetujui nya kamu akan tau konsekuensinya." ucap Jeri.
"Jangan mencoba bermain licik Jeri! Aku tidak memiliki urusan dengan mu!" ucap Vincent.
"Kamu tau perempuan ini?" Jeri menunjukkan salah satu foto perempuan cantik yang ada di handphone nya.
Vincent sangat kaget melihat foto wanita yang sangat tidak asing itu.
"Kamu tau dia siapa?"
"Jangan main-main dengan ku Jeri!" ucap Vincent. Jeri tertawa.
Vincent merobek surat itu.
"Jangan mimpi!" ucap Vincent.
"Aku ingin bekerja sama dengan mu, aku tidak bermaksud untuk merebut Saham itu dari mu!" ucap Je.
Vincent berdiri dia menatap Jeri.
"Jangan pernah berfikir untuk bisa mendapatkan nya lagi, karena ayah mu lah yang sudah mencari masalah dengan ku terlebih dahulu!" ucap Vincent dan pergi.
Jeri melihat Vincent pergi.
"Aku tidak akan melepaskan kamu dengan mudah Vincent. Semua dendam ku akan ku balas kan!" ucap nya terlihat sangat marah.
Tiba-tiba handphone nya berdering.
"Saya mendengar kalau sekarang pak Vincent dengan anak salah satu pejabat." info dari seseorang.
"Kalau begitu cari tau tentang perempuan itu!" ucap Jeri.
Hari-hari di lewati oleh Vincent Tampa Kania. Dia hanya menghabiskan waktu nya untuk bekerja sampai tengah malam sampai malam ini dia merasa badan nya sangat sakit dan perut nya mual.
"Tomi beli kan saya obat ." ucap Vincent.
__ADS_1
"Ada apa pak? apa bapak sakit? sebaiknya kita ke rumah sakit."
"Tidak perlu! Kamu beli saja obat sakit perut dan untuk meredakan sakit kepala."
Tomi tidak menunggu lama dia langsung membeli nya.
"Tomi kamu bawa apa itu? Apa kamu sakit?" tanya Teman nya karena kembali membawa obat.
"Ini untuk pak Vincent."
Sampai di ruangan Vincent Tomi melihat Vincent yang sudah bersandar di sandaran kursi karena pusing.
"sebaiknya Bapak pulang, saya akan mengantar kan Bapak." ucap Tomi.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah.
"Sudah beberapa hari ini bapak selalu minum obat dari apotik, kalau bapak sakit sebaik nya di periksa ke dokter." ucap Tomi.
"Saya baik-baik saja, saya ingin istirahat jangan lupa memeriksa pekerjaan dengan baik." ucap Vincent.
"Huff pak Vincent selalu saja mementingkan pekerjaan dari pada kesehatan nya sendiri." ucap Tomi dalam hati.
Keesokan harinya Vincent tidak bekerja. Dia juga tidak mau keluar dari kamar tidak mau di ganggu sehingga Tomi bingung harus bagaimana.
Akhirnya dia menghubungi Kania.
Kania sedang Masak di dapur untuk sarapan pagi bersama Omah nya karena Yuda datang bertamu ke sana.
"Siapa yang menelpon sayang?"
"Sudah Omah tidak perlu di hiraukan."
Omah nya melihat. "Ini Tomi."
Kania langsung mengambil handphone nya.
"Tumben banget Tomi menghubungi aku, ada apa yah?" batin Kania.
"Kalau begitu aku jawab telpon dulu yah Omah."
Yuda melihat Kania pergi menjawab telpon.
"Halo Tomi." ucap Kania.
"Halo Kania, aku meminta maaf karena mengganggu waktu kamu. Aku tidak tau harus menghubungi siapa lagi." ucap Tomi.
"Kalau tentang paman Vincent aku tidak perduli, aku yakin dia pasti meminta kamu menelpon ku kan?" ucap Kania.
Tomi sudah lama tau kalau Vincent dan Kania memiliki hubungan kurang baik walaupun dia tidak tau apa masalah nya.
"Tunggu dulu Kania, ini memang tentang pak Vincent, namun ini sangat darurat." ucap Tomi.
"Tidak perlu membohongi ku Tomi."
__ADS_1
"Aku menghubungi kamu karena mau bilang pak Vincent sudah satu Minggu sakit, namun dia terus memaksa untuk bekerja dan sudah dua hari pak Vincent sakit parah, sekarang dia tidak mau keluar dari kamar sekarang aku tidak tau bagaimana keadaan nya di dalam kamar." ucap Tomi.