
Ulfa dan Yuda hanya bisa senyum-senyum melihat Vincent dan Kania. "Aku ingin ke London bersama mas Vincent," ucap Kania.
"Wahh enak banget, kamu jangan lupa bawa oleh-oleh yah."
"Baiklah, oh iya kalau teman-teman nanyain jangan di kasih tau yah, aku takut mereka akan berfikir yang aneh-aneh," ucap Kania.
Namum ternyata dia salah, Ulfa merekam Suara Kania dan menyebarkan nya di grup, mereka semua langsung heboh dan berasumsi sendiri seperti apa nanti Kania dan Vincent di sana.K
"Aku belum berangkat dari sini namun kamu sudah menyebarkan semua nya," ucap Kania.
Ulfa tersenyum. "Maaf, tapi aku tidak bisa menyimpan rahasia kalau tentang ini," ucap Ulfa.
Kania menghela nafas panjang.
Mereka melihat Vincent dan Yuda berbincang-bincang.
"Kira-kira apa yah yang mereka bicarakan?" tanya Kania.
Ulfa menggeleng kan kepala nya.
"Aku tidak tau, tapi yang pastinya, pasti pekerjaan." ucap Ulfa.
Keesokan harinya Kania sedang menyiapkan barang-barang yang -hendak di bawah liburan. Tidak lupa dengan pakaian suami nya.
"Kini pakaian ku dengan pakaian mas Vincent sudah tidak perlu di pisah lagi, ini semua seperti mimpi," ucap Kania sambil tersenyum.
Vincent masuk ke dalam kamar. "Sayang coba deh ini," ucap Vincent memberikan adonan kue.
"Loh ini siapa yang buat?" tanya Kania karena dia merasa dia tidak masak kue.
"Coba dulu," ucap Vincent. Kania mencicipi nya dan dia sangat suka sekali.
"Rasa nya enak, tapi masih sangat kemanisan," ucap Kania.. Vincent tersenyum.
"Kenapa mas belajar buat kue?" tanya Kania Heran.
Vincent tidak mengatakan nya, tapi dia hanya tersenyum. Kania menghabis kan kue buatan Vincent.
"Oh iya mas aku bisa keluar sebentar kan?" tanya Kania.
"Kamu mau kemana?" tanya Vincent.
"Aku mau mencari sesuatu," ucap Kania.
"Kalau begitu saya antar saja."
"Tidak perlu mas, mas juga masih harus belajar membuat kue, aku pergi dulu yah."
"Lalu ini bagaimana?" tanya Vincent menunjuk barang-barang yang belum di rapikan.
"nanti aku akan melanjutkan nya." ucap Kania.
__ADS_1
Vincent melihat Kania pergi meninggalkan nya begitu saja.
"Huff dia memiliki sifat aneh, pergi kemana tidak ijin kepada suami nya, apa dia lupa sudah menjadi seorang istri?" ucap Vincent dengan sangat kesal.
Kania mengendarai mobil nya. Vincent melihat ke arah mana istri nya pergi.
"Tidak apa-apa dia hanya pergi sebentar saja," ucap Vincent.
Vincent sama sekali tidak bisa jauh-jauh dari istri nya itu, mentang-mentang pengantin baru masih hangat.
Kania pergi belanja buah-buah lagi, setelah itu dia pergi ke rumah Jeki.
Rumah yang lumayan jauh dan di tempat sepi, bisa di hitung berapa rumah yang ada di sana.
Namum sampai di sana Kania melihat Jeki dan perempuan yang kemarin di cium nya. Seperti nya mereka mau pergi Kania menunggu di depan untuk sebentar.
Setelah mereka pergi Kania dengan cepat langsung masuk karena gerbang tidak di kunci.
"Mbak... Mbak.." panggil Kania. Minhui mendengar suara ketukan dia langsung membuka pintu. Dia sangat kaget Kania di depan pintu.
"Kania kenapa kamu di sini?" tanya Minhui kaget, dia melihat ke luar.
"Tenang saja dia sudah pergi kok," ucap Kania.
Minhui melihat Kania membawa makanan lagi.
"Ini untuk mbak, bagaimana keadaan mbak sekarang? Ada apa dengan wajah mbak?" tanya Kania karena melihat wajah nya lebam.
Kania melihat itu seperti nya bekas tamparan.
"Mbak kenapa tidak melaporkan direktur Jeki ke kantor polisi?" tanya Kania. Minhui menggeleng kan kepala nya.
"Kita jangan membahas itu, ayo masuk dulu," ucap Minhui. Kania duduk di ruang tamu.
"Kamu tidak perlu repot-repot membawa makanan seperti ini, makanan kemarin juga Masih sangat banyak."
Kania menatap Minhui. "Aku mengkhawatirkan bayi yang di dalam kandungan Mbak."
"Terimakasih banyak Kania, tapi kamu tidak bisa lama-lama di sini," ucap Minhui.
"Aku hanya mau bilang kalau aku beberapa hari tidak di sini, aku tidak akan datang melihat keadaan mbak," ucap Kania.
"Kamu mau kemana?" tanya Minhui.
"Ke London bersama mas Vincent."
"Kalian mau liburan,. semoga perjalanan nya menyenangkan dan juga kamu dengan Vincent bahagia."
Kania menganggap dia memberanikan diri mengelus perut Kania.
"Oh iya mbak juga harus bahagia agar bayi ini sehat terus."
__ADS_1
Minhui mengangguk dia sangat senang ada yang perduli kepada kandungan nya itu.
Setelah selesai berpamitan Kania dengan berat meninggalkan Minghui.
"Aneh sekali, kenapa aku selalu memikirkan keadaan Minghui yah, aku bahkan terbawa mimpi," batin Kania.
handphone nya tidak berhenti berdering telepon dari suami nya.
Tidak beberapa lama akhirnya dia sampai di rumah, Vincent menunggu di depan rumah seperti anak kecil yang marah karena di tinggal oleh Mak nya.
Keesokan harinya mereka berangkat meninggalkan kota itu. Ulfa dan Yuda serta Tomi ikut mengantar kan mereka ke bandara.
"Sekarang Paman Vincent dan Kania sudah menikah, kak Tomi kapan?" tanya Ulfa.
Tomi menghela nafas panjang.
"Kamu tunggu saja undangan nya yah," ucap Tomi.
Ulfa tersenyum.
Tomi kembali ke kantor dia melihat Fani sedang Sibuk menerangkan pekerjaan kepada bawahan nya. Sebagai ketua Tim dia harus bisa menjelaskan pekerjaan mereka dengan baik.
Tomi memerhatikan Fani. Fani yang di perhatikan dari kejauhan menjadi salting, dia segera menyudahi nya dan mendekati Tomi.
"Kenapa kamu Ke sini? Ini masih jam kerja di larang berpacaran," ucap Tomi.
"Siapa yang mau pacaran? Aku ke sini mau ngasih ini sama kamu."
Tomi melihat formulir. "Huff perasaan baru selesai kemarin, kenapa sudah ada yang baru?" tanya Tomi.
Fani tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu, kamu periksa ini, aku mau lanjut bekerja."
"Kamu makan siang dengan siapa?" tanya Tomi.
"Aku dengan anak-anak seperti biasa, kami juga mau membahas beberapa pekerjaan."
"Kenapa tidak dengan ku saja? Pak Vincent sudah tidak disini, aku makan siang sendiri."
"Jangan banyak ngeluh, bukan nya kemarin kamu yang minta aku untuk bekerja, ini adalah resiko pekerjaan ku."
Tomi menghela nafas panjang. "Baiklah kalau begitu," ucap Tomi.
"Ya sudah kalau begitu kamu pergi lah," ucap Tomi. Fani tersenyum dia melihat situasi. Karena sepi dia mencium pipi Tomi dan pergi.
Tomi kembali bersemangat ketika mendapatkan ciuman dari kekasih nya itu.
Ulfa dan Yuda kembali ke Cafe, karena belum kuliah Ulfa ingin memanfaatkan waktu nya untuk membuat kue atau memikirkan menu baru untuk Cafe itu.
Dia juga meminta tanggapan pacar nya, Yuda tidak ingin membantu karena dia ingin Ulfa berfikir sendiri Tampa di bantu oleh orang lain.
__ADS_1