Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 40


__ADS_3

"Bukan nya itu bagus? Dia memiliki pasangan dan segera menikah agar tidak menggangu aku lagi?"


Vincent baru saja selesai bekerja dia mencari Handphone nya namun tidak ada di saku nya dia baru ingat kalau handphone nya ketinggalan di dalam mobil.


Dia langsung mengambil dan melihat pesan dan panggilan dari Kania.


"Aiss bagaimana aku bisa lupa dengan handphone ku, Kania akan ngambek kalau seperti ini."


Vincent sangat takut.


Di sore hari nya Vincent baru bisa pulang ke apartemen nya, Vincent berlari ke lantai apartemen nya untuk memastikan Kania di sama karena perasaan nya tidak baik.


Namun setelah masuk ke apartemen nya dia tidak melihat Kania di sana, mencari ke kamar dan juga ke balkon namun Kania tidak ada.


Vincent menelpon Kania namun tidak di jawab.


"Kemana dia? Kenapa handphone nya mati dan tidak bisa di lacak?"


Vincent sangat khawatir dia mencari keluar berharap Kania bermain di sekitar apartemen, namun sudah bertanya ke setiap orang yang ada di sana dia tidak menemukan Kania.


"Kania kamu di Mana?" Vincent menghela nafas panjang sambil memegang kepala nya bingung harus mencari Kania kemana.


"Pak Vincent," sapa Tia yang baru saja pulang.


"Tia,"


"Apa yang Bapak lakukan sore-sore di luar seperti ini?"


"Kania! Kania tidak ada di dalam apartemen saya,"


"Bukan nya tadi pagi dia ke perusahaan?"


"Saya meninggal kan nya di perusahaan, meminta nya menunggu di sana namun ternyata dia sudah pergi."


"Mungkin dia hanya jalan-jalan di sekitar sini Pak."


"Kamu harus membantu saya mencari nya," ucap Vincent.


"Bapak yang tenang, jangan khawatir Kania pasti tidak kenapa-napa."


Tiba-tiba Kania datang dari arah luar. Dari jauh dia melihat Tia yang memegang tangan Vincent.


"Aarrhhh!! Kalau tau seperti ini sebaiknya aku tidak pulang."


Kania melewati mereka begitu saja. Vincent menyadari Kania lewat dia langsung mengejar Kania.


"Kania kamu dari mana saja? kenapa kamu tidak menunggu saya di perusahaan dan kenapa handphone kamu tidak aktif."


"Aku hanya jalan-jalan sebelum aku pulang besok, aku juga bosan menunggu di perusahaan seperti orang bodoh."


Kania melihat Tia sekilas dan langsung pergi.


"Tia sampai jumpa nanti saya masuk dulu."


Vincent mengejar Kania.


"Kania..." Vincent menahan tangan Kania setelah sudah di dalam apart.


"Lepas kan aku!"


"Kania kamu kenapa? Kamu marah karena saya tidak menjawab telpon kamu?"


"Aku mau mandi."


"Kania katakan kamu dari mana? Lain kali jangan seperti ini lagi, kamu membuat saya panik."


"Paman tenang saja aku tidak akan merepotkan Paman lagi, aku akan pulang malam ini juga."


"Saya tidak bermaksud seperti itu."

__ADS_1


"Aku sudah merepotkan Paman, sebaiknya aku pulang dan aku juga tidak mau mengganggu waktu Paman Dengan wanita itu."


"Apa maksud kamu Kania?"


"Lepaskan aku, aku mau mandi."


"Kania berhenti bersikap seperti ini, kamu sudah dewasa."


"Aku tidak suka paman dekat dengan perempuan itu!"


"Kamu tau kan kalau hubungan kami hanya antara bos dan pendamping sementara."


"Tapi yang aku lihat berbeda!"


"Tunggu-tunggu apa kamu cemburu?"


Kania langsung terdiam.


"Kamu tidak menyukai saya dekat dengan Tia itu artinya kamu cemburu kan?"


"Enggak! siapa yang cemburu."


Kania langsung pergi ke kamar untuk mandi.


Vincent tersenyum tipis melihat wajah Kania yang malu karena kata-kata nya.


Kania baru saja selesai mandi dia melihat Vincent yang duduk di atas kasur.


"Saya sudah memeriksa jadwal kamu sebenarnya kamu libur hanya sampai hari ini dan kamu menambah libur dua hari,"


"Aku sudah mengubah nya, aku akan pulang malam ini."


Vincent berdiri dia mendekati Kania.


"Kamu masih marah kepada saya?" tanya Vincent.


"Aku sama sekali tidak marah, aku hanya ingin pulang karena di sini sama saja aku tidak memiliki teman."


Vincent mengelus pipi Kania.


"Kania saya minta maaf karena saya mengabaikan kamu dan juga tidak bisa menghabiskan waktu dengan kamu."


Kania melepaskan tangan Vincent.


"Aku mau beres-beres."


Namun Vincent memeluk Kania dari belakang.


Kania kaget.


"Saya mohon jangan pergi dulu Kania, saya masih sangat merindukan kamu."


Kania hanya diam, dia berbalik menatap wajah Vincent.


"Kamu tau tidak saya sangat khawatir ketika tidak bisa menghubungi kamu, saya pikir kamu meninggal kan saya kembali ke Jakarta begitu saja karena marah kepada saya."


"Seharusnya aku melakukan itu karena aku sangat kesal kepada paman."


Vincent tiba-tiba mencium bibir Kania.


"Paman..."


Vincent tersenyum.


"Sekarang kamu masih marah?"


"Aku semakin marah karena Paman mencium bibir ku."


"Apa kamu tidak menyukai nya?"

__ADS_1


"Aku tidak suka berciuman dengan paman ku sendiri."


Vincent langsung mencium bibir Kania lagi dan lagi.


"Kalau kamu tidak suka kamu pasti menolak nya."


Kania malu dia menepuk dada Vincent.


"Aku tidak kuat menolak nya karena Paman memeluk ku cukup erat."


Vincent tertawa kecil dia mencium pipi Kania.


"Kamu sangat Wangi sekali, apa kamu memakai shampo saya?"


"Hum, aku tidak memiliki shampo sendiri."


"Tidak apa-apa, ini sangat wangi sekali membuat saya ingin mencium nya terus."


Kania langsung menghindar.


"Sebaiknya Paman mandi karena Paman bau keringat."


Vincent menghela nafas panjang.


Kania menarik tangan Kania dan mendorong nya ke kasur.


"Paman Hentikan!"


"Kenapa? kamu takut kepada saya?"


"Paman ini tidak baik."


Vincent merapikan rambut Kania yang masih basah.


"Saya tidak bisa memalingkan pandangan saya sedetikpun dari kamu sekarang."


"Jangan berlebihan deh Paman, aku mau masak karena aku sangat lapar."


Vincent terpaksa melepaskan Kania karena dia juga sangat lapar.


Vincent pergi mandi sementara Kania masak di dapur.


Kania termenung sejenak.


"Semakin aku berusaha untuk berpura-pura tidak memiliki perasaan kepada Paman Vincent namun aku semakin menunjukkan rasa cemburu ku."


"Kenapa aku harus terjebak di hubungan seperti ini? Aku muak,,"


"Sejujurnya aku sangat ingin berpacaran dengan paman, hanya saja aku takut yang di katakan mbak Minghui pada saat itu."


"Mau bagaimana pun Paman Vincent penjahat perempuan."


"Hayo kamu mikirin saya yah?" tiba-tiba Vincent memeluk Kania dari belakang.


"Paman..."


Kania kaget karena Vincent memegang pinggang nya.


"Kenapa kamu memakai piyama yang sangat mini seperti ini? apa kamu sengaja memancing saya?"


"Jangan berfikir yang aneh-aneh yah paman! Aku akan memberikan minyak panas kepada paman." karena Kania sudah terbiasa dengan pakaian seperti itu.


"Cepat lah ganti sebelum saya melakukan sesuatu yang tidak baik."


"Huh dasar pria mesum! aku yakin tidak akan ada perempuan yang mau sama paman!"


"Kata siapa? Kamu akan menjadi istri saya cepat atau lambat."


"Aku tidak mau." Kania langsung ke kamar mencari pakaian yang sedikit lebih besar.

__ADS_1


__ADS_2