
Dia penasaran, tanpa ijin langsung membuka nya.
Vincent menghela nafas panjang. "Apa maksud Jeki mengirimkan foto bayi kepada Kania seperti ini? Apa hubungan bayi itu dengan Kania,"
"Tunggu seperti nya ini bukan Kania, tapi dengan ku," ucap Vincent dia memerhatikan foto bayi yang sangat menggemaskan itu.
Namun tiba-tiba Kania bangun, dia melihat Vincent.
"Mas, kenapa belum tidur?" tanya Kania.
"Sebentar lagi," ucap Vincent, dia langsung menghapus foto itu dan menutup laptopnya, setelah itu dia langsung naik ke tempat tidur.
Kania memeluk suaminya. Vincent juga tertidur berada di pelukan istri nya itu.
Begitu juga di tempat Jeki, di juga tidur setelah selesai makan malam, perut nya kenyang dan tidur di sofa.
"Hari ini Jeki di rumah saja tidak keluar, bahkan tidak marah-marah seperti biasanya. Apa dia sehat?" batin Minhui.
Minhui duduk di pinggir kasur nya. "Aku sangat bosan di rumah, aku sangat ingin jalan-jalan keluar," ucap Minhui.
Minhui tau itu hanya angan-angan saja, permintaan nya itu tidak akan pernah terkabul.
Beberapa hari kemudian Kania dan Vincent datang berkunjung ke rumah Omah dan Opah.
"Omah... Aku sangat merindukan Omah," ucap Kania.
"Omah sama Opah juga sangat merindukan kamu sayang, bagaimana jalan-jalan nya menyenangkan?" tanya Omah.
Kania mengangguk. Omah melihat Vincent.
"Penampilan suami kamu tampak lebih muda setelah menikah," ucap Omah.
"Terimakasih banyak Omah, Kania mengurus ku sangat baik."
"Selain itu wajah kamu juga terlihat lebih berseri," Ucap Omah.
Vincent langsung terdiam sambil melirik ke arah Kania.
Namun Omah langsung mengajak nya berjalan-jalan di sekitar rumah, karena tentu sangat berbeda rumah yang ada di Indonesia dan rumah orang tua angkat nya itu.
"Oh iya, apa kamu masih yakin mau memiliki anak setelah selesai kuliah?" tanya Omah kepada Kania.
"Iyahh Omah, aku yakin."
Omah tersenyum dan menatap nya dengan tatapan aneh.
"Ada apa Omah? Kenapa Omah menatap ku seperti itu?" tanya Kania.
"Kamu tampak kelelahan, kantong mata kamu juga semakin kelihatan, apa kamu kurang tidur?"
"Iyah Omah, aku menghabiskan waktu menikmati liburan."
"Oohhhh," ucap omah. Kania sudah sangat tidak nyaman karena tatapan Omah.
"Ya sudah kalau begitu Omah, tunggu sebentar yah. Aku mau membuka minuman untuk Omah."
__ADS_1
"Ya ampun gak usah repot-repot."
"Omah, aku hanya sebentar di sini karena nanti malam aku sudah harus terbang ke Indonesia."
Omah mengangguk sambil tersenyum. Namun Omah melihat cara jalan Kania yang sudah sangat berbeda sekali dari biasanya.
Tidak beberapa lama akhirnya Kania kembali, "Omah kenapa senyum-senyum seperti itu? Apa ada yang salah?" tanya Kania.
Omah menggeleng kan kepala nya. "Enggak kok, Omah hanya senang saja kamu membuat minuman untuk Omah."
Sementara Vincent mengikuti Opah.
"Oh iya Vincent, apa sudah ada tanda-tanda istri kamu hamil?" tanya Opah.
Vincent bingung harus menjawab apa.
"Tidak perlu malu seperti itu, Papah tau kok. Kania emang suka ngomong *gak mau* tapi aslinya dia mau," ucap Opah.
Vincent senyum-senyum malu, dia mengangguk sambil tersenyum menyembunyikan wajah malu nya itu.
"Pokoknya kamu harus bisa mengelabuhi istri kamu agar segera mendapatkan anak," ucap Opah.
"Bagaimana pah? Kania benar-benar tidak ingin memiliki anak untuk sekarang," ucap Vincent.
Opah membisikkan sesuatu kepada Vincent. Vincent langsung tersenyum begitu juga dengan Opah.
Di malam hari nya mereka harus segera kembali ke bandara dan berangkat ke Indonesia.
Di Cafe Yuda. "Sayang.. Istirahat dulu," ucap Yuda sambil duduk di kursi melihat Ulfa memasak.
"Aku boleh Ijin gak dua hari saja?" tanya Ulfa.
"Kapan?"
"Besok."
"Kenapa begitu mendadak?!" tanya Yuda.
"Besok adalah hari seratus ibu meninggal, biasanya keluarga ku membuat acara kirim doa, aku harus pulang."
"Apa kamu mau aku anterin?"
"Jangan, besok beberapa keluarga kamu akan datang ke sini melihat kemajuan Cafe kamu, lagian setelah acara selesai aku akan kembali."
"Tapi..."
"Aku bisa kok," ucap ulfa.
Yuda menghela nafas panjang. "Baiklah kalau begitu." Yuda memberikan uang kepada Ulfa.
"Ambil lah ini untuk ongkos kamu pulang."
Semua karyawan melihat Yuda memberikan uang kepada Ulfa.
"Gak usah, aku masih punya uang gaji kemarin, aku juga tidak menggunakan uang ku sama sekali karena semua yang aku butuhkan kamu beliin, aku jadi tidak enak."
__ADS_1
"Itu sudah menjadi kewajiban aku untuk membeli apa saja yang kamu perlukan," ucap Yuda.
"Idihhh, sok banget sih, pasti dia sudah banyak menerima uang dari kak Yuda," ucap karyawan lain nya.
"Apa yang kalian lakukan di sana? Kembali bekerja," ucap Yuda.
"Kamu jangan galak-galak sama mereka. Lagian mereka juga lagi istirahat." ucap ulfa.
"Kalau bukan karena kamu, mungkin aku sudah memecat mereka semua dan mencari pengganti."
"Jangan seperti itu, kamu tau kan kalau mereka itu menafkahi keluarga nya."
Yuda menghela nafas panjang. "Hari ini Kania dan juga paman Vincent sudah pulang, bagaimana kalau mereka menanyakan kamu?"
"Tidak perlu khawatir tentang itu, aku sudah ijin kok."
"Humn kuliah kamu bagaimana?"
"Aku juga sudah ijin,"
"Urusan kamu seperti ke organisasi bagaimana?" tanya Yuda.
"Aku sudah ijin semua sayang, kamu percuma mengatakan itu karena tidak mungkin aku tidak pulang," ucap Ulfa.
"Bagaimana dengan aku?" tanya Yuda.
"Hanya dua hari saja tidak menjadi masalah, kita juga masih bisa berbicara lewat telpon."
"Tapi, satu hari saja aku tidak melihat kamu, aku sudah sangat merindukan kamu."
"Lebay banget sih.. Aku hanya dua hari, setelah itu aku pasti kan aku pulang."
Yuda menatap Ulfa. "Bagaimana kalau Keluarga kamu menahan kamu di sana?"
"Itu tidak mungkin, kamu jangan berfikir yang aneh-aneh."
Yuda menggenggam tangan Ulfa. "Aku akan mengantar kan kamu ke loket besok, dan aku juga ingin malam ini tidur di rumah kamu."
"Ngapain? bagaimana kalau kejadian sebelum nya terjadi lagi?"
"Tidak perlu khawatir, rumah itu milik pribadi, dan tetangga nya tidak seperti tetangga kamu di rumah lama," ucap Yuda.
"Boleh yah? Kalau tidak boleh aku akan membunyikan klakson mobil di depan rumah mu sampai semua orang keluar."
"Baiklah-baiklah, jangan lupa membawa beberapa minuman," ucap Ulfa.
Yuda mengangguk sambil tersenyum. Setelah selesai istirahat mereka lanjut bekerja lagi karena belum jam pulang.
Cafe juga sangat ramai seperti biasa. Di malam hari nya.
"Sebaiknya kita pulang bareng aja," ucap Yuda.
Ulfa melihat hari sudah malam, lagian malam ini Yuda akan menginap di rumah nya.
Akhirnya dia mau ikut dengan kekasih nya itu.
__ADS_1