
"Enggak, aku tidak melihat itu."
Vincent tersenyum.
"Saya berlatih akhir-akhir ini untuk membuat nya terlihat bagus, apa Kamu suka?"
"Jangan menggodaku, aku tidak suka," ucap Kania mengambil sarapan nya dan langsung makan.
"Oh iya saya akan menjemput kamu setelah selesai kuliah nanti," ucap Vincent sebelum Kania pergi.
"Baiklah," ucap Kania. Hari ini Kania di antar oleh supir Vincent ke kantor.
Hari ini hari Kania terlihat sangat berwarna, walaupun dia pusing memikirkan ujian namun Vincent berhasil membuat nya bahagia.
"Selamat pagi Ulfa...." ucap Kania kepada sahabat nya yang sudah menunggu nya dari tadi di depan kampus.
"Pagi. Ada apa ini, kenapa kamu senyum-senyum dan terlihat sangat bahagia sekali?" tanya Ulfa.
Kania menggeleng kan kepala nya.
"Kamu kepo banget," ucap Kania. "Jawab, aku sangat penasaran," ucap Ulfa.
"Ayo masuk, bentar lagi kelas dah mulai," ucap Kania.
"Aku sangat penasaran," ucap Ulfa langsung mengikuti Kania masuk ke dalam.
Seharian mood Kania cukup baik. Waktu nya pulang kampus.
"Kania kamu pulang bareng siapa?" tanya Ulfa.
"Humm itu jemputan aku sudah datang," ucap Kania menunjuk ke arah Vincent yang sudah menunggu di depan kampus.
"Paman Vincent? Kenapa paman Vincent sudah di sini?" tanya Ulfa sangat kaget sekali.
"Karena dia sudah pulang lah, maaf yah aku tidak bisa ikut makan siang bareng kamu sama Yuda. Karena pacar ku sudah pulang," ucap Kania.
Ulfa menghela nafas panjang. "Ya sudah deh kalau begitu kamu pergi saja, aku tau kamu pasti sangat merindukan paman Vincent."
"Kamu sangat pintar sekali, kalau begitu aku pergi dulu yah ah, byeeeee" ucap Kania.
Vincent menunggu nya sambil tersenyum. "Wahh setelah lama tidak melihat pak Vincent, semakin hari semakin ganteng saja," ucap Ulfa.
"Kamu berani berpaling dari ku?" tanya Yuda yang ternyata sudah di belakang Kania.
"Aku tidak bermaksud seperti itu, aku tidak mengatakan apapun, kamu mungkin salah dengar, ayo kita cari makan," ucap Ulfa.
"Sudah selesai ujian nya?" tanya Vincent. Kania sambil malu-malu mengangguk.
"Kalau begitu ayo cari makan siang, kamu pasti sangat Lapar," ajak Vincent sambil membuka kan pintu kepada Kania.
Siapapun yang melihat itu pasti sangat cemburu sekali."
__ADS_1
"Wahh jadi Kania beruntung banget yah," ucap para perempuan yang melihat kania di depan kampus.
"Hari ini kamu mau makan di mana?* tanya Vincent.
"Aku mau makan di tempat biasa saja," ucap Kania.
"Yakin tidak mau mencoba restoran-restoran baru? Saya tau kamu pasti jarang makan di luar karena pasti sarapan di kantin dan juga makan siang di kantor."
Kania tersenyum. "Benar banget, tapi aku tidak ingin pergi ke restoran lain."
"Oke baiklah kalau begitu," ucap Vincent.
Mereka sampai di tempat makan yang cukup sederhana.
Kania tidak bisa menahan malu karena rasanya sangat canggung bertemu dengan Vincent lagi.
Setelah selesai mereka kembali ke kantor. Bekerja seperti biasa.
Namun kali ini Kania sangat bersemangat sekali karena di temani oleh Vincent.
Fani melihat Tomi sendirian di loby sambil bekerja. Mungkin dia ingin bekerja di sana karena tidak betah di ruangan nya.
Fani datang membawa kopi.
"Ini kopi untuk kamu," ucap Fani kepada Tomi.
Tomi menoleh ke arah Fani dan melihat kopi di depan nya.
"Tidak perlu, aku sudah mau keluar mengurus pekerjaan."
Fani menghela nafas panjang, dia meninggal kan Tomi karena dia tau keberadaan nya mengganggu Tomi.
Tomi menyadarinya Fani pergi, dia melihat ke arah Fani yang sudah pergi.
"Minum saja, kasian Fani sudah membuat nya."
"Aku tidak minum kopi,"
"Jangan bohong! Aku setiap hari melihat kamu minum Kopi," ucap Kania.
"Itu kemarin, sekarang sudah berbeda."
Kania menghela nafas panjang.
"Ya sudah kalau begitu aku yang akan meminum nya."
Tomi mau menahan nya namun tidak jadi dan membiarkan Kania minum kopi itu sampai habis.
"Humm rasanya enak juga," ucap Kania. Namun Tomi masih sangat cuek.
Dari kejauhan Vincent melihat Kania dan Tomi duduk bersama.
__ADS_1
"Pak Vincent boleh bantu saja memeriksa ini?" tanya Staf. Vincent tidak jadi menyusul Mereka.
Malam hari nya Kania dan Vincent sedang makan bersama di meja makan.
"Kania, seperti nya semakin hari hubungan kamu dengan Tomi semakin dekat, sehingga hampir semua orang baru yang melihat itu berfikir kalian pacaran."
"Biarkan saja mereka berfikir seperti itu paman," ucap Kania.
"Bukan seperti itu, hanya saja saya kurang nyaman dengan pemikiran mereka."
Kania menatap Vincent. "Kalau paman cemburu bilang saja, aku akan menjaga jarak dan juga aku akan mengambil pekerjaan yang tidak bersangkutan dengan Tomi."
"Bukan seperti itu maksud saya,"
Kania memerhatikan wajah sedih Vincent.
"Saya hanya cemburu kenapa kamu bisa dekat dengan Tomi Tampa menjaga jarak namun semua nya terlihat biasa saja,"
"Sementara dengan saya, kita tidak bisa seperti itu di depan publik, bahkan terkadang di tempat umum kita harus berpura-pura tidak ada hubungan apapun selain pekerjaan."
"Paman jangan berbicara seperti itu dong, aku juga tidak ingin seperti ini, tapi sekarang kita harus benar-benar menjaga hubungan kita dengan baik agar tidak terjadi kesalahpahaman."
Vincent memegang tangan Kania. "Saya sangat mencintai kamu, saya tidak ingin kamu meninggalkan saya," ucap Vincent.
Kania menggeleng kan kepala nya. "Siapa yang ingin meninggalkan Paman? Aku juga sangat mencintai paman," ucap Kania.
Vincent tersenyum. "Saya tidak sabar ingin menikahi kamu agar secepatnya saya bisa melakukan apapun dengan bebas tampa memikirkan argumen orang lain."
"Sudah jangan berbicara lagi, sebaiknya paman lanjut makan sebelum makanan nya dingin."
Setelah selesai makan seperti biasa mereka akan berduaan di meja ruang tamu, Vincent menemani Kania belajar di ruang tamu. Sementara dia memeriksa pekerjaan nya.
Tiba-tiba Bu Mona menelpon ke nomor Vincent.
"Halo Mami, bagaimana kabar mami di sana?" tanya Vincent.
"Tidak perlu berpura-pura perhatian seperti itu, kenapa kamu tidak bilang kalau kamu sudah sampai?" tanya Bu Mona.
"Maaf Mi, aku lupa karena sangat senang bertemu dengan calon istri ku," ucap Vincent.
"Huff kamu berbicara tidak sopan," ucap Bu Mona.
"Apa yang sedang kalian lakukan?"
"Seperti biasa mi, aku sibuk dengan pekerjaan, sementara Kania sibuk dengan kuliah nya."
"Nah karena ini adalah alasan mami mau kalian menikah setelah Kania selesai kuliah, sementara kamu menyelesaikan masalah pekerjaan mu agar kedepannya tidak menggangu waktu kalian."
"Tapi menunggu atau tahun lagi sangat lama mi, aku ingin segera menikahi Kania."
"Paman..." ucap Kania, dia kesal karena Vincent berbicara cukup lancang. Namun Bu Mona sama sekali tidak marah.
__ADS_1