
Setelah Syakila puas menangis ia pergi mandi untuk bersiap-siap pergi ke sekolah. Hari ini Syakila kurang fokus pada pelajaran. Ia sedang memikirkan papahnya yang berangkat merantau jauh di sebrang sana.
Papah berangkat tanpa membawa bekal, apa Papa tidak akan kelaparan di atas kapal? Berapa hari yah papa berada di atas kapal baru sampai di kota A?
Syakila bertanya dalam benaknya.
Syakila terus memikirkan sosok papahnya itu, hingga ia tidak sadar jika ibu guru memperhatikan dia sejak ia melamun.
"Syakila!" panggil ibu guru.
Syakila yang terkejut ia langsung menyahuti panggilan ibu guru. "Iya Bu!"
"Apa yang kamu lakukan Syakila? Semenjak tadi Ibu guru menjelaskan, apa kamu mendengarnya?" tanya ibu guru.
Syakila merasa bersalah, ia menunduk. "Maaf Ibu guru, Syakila tidak memperhatikan Ibu guru." ucap Tria sesal.
"Apa yang kamu pikirkan, Syakila?" tanya Ibu guru lagi.
Bukannya menjawab pertanyaan ibu guru, Syakila malah mengajukan pertanyaan pada gurunya. ”Ibu guru, apa Ibu guru tahu berapa lama perjalanan dari sini ke kota A, Bu?”
Ibu guru menatap Syakila dengan bingung, namun ibu guru tetap menjawabnya. "Perjalanan dari sini ke kota A memakan waktu satu hari satu malam. Memangnya kenapa, Syakila?" tanya ibu guru selidik.
"Sehari semalam Bu?" Syakila terkejut. "Berarti papa tidak akan makan selama sehari semalam?" ucap Syakila dengan sedih. Matanya sudah berkaca-kaca. ”Papah pasti akan sangat kelaparan hu hu hu...”
Ibu guru dan teman-teman sekelas Syakila terheran dengan sikap Syakila. Ibu guru yang menangkap ucapan Syakila, ia menjadi mengerti apa yang sedang di fikirkan oleh Syakila.
"Syakila, papamu berangkat ke kota A?" tanya Ibu guru.
Syakila mengangguk, "Iya Bu!" jawabnya dengan masih terisak. "Papah berangkat tadi pagi kesana, Bu."
Ibu guru menghela nafas dalam-dalam. "Syakila tidak usah sedih, yah!" ucap ibu guru membujuk Syakila. ”Papamu berangkat naik kapal besar, meskipun perjalanannya memakan waktu sehari semalam, tapi untuk makanan dan minuman selalu tersedia di atas kapal, Syakila!” jelas ibu guru.
"Be-be-benar kah Ibu guru, seperti itu?" tanya Syakila dengan sesegukan. Ibu guru mengangguk sambil tersenyum.
"Jadi, Syakila jangan menangis lagi dan jangan kepikiran yang tidak-tidak kepada papamu, yah! Justru Syakila harus mendoakan agar papamu baik-baik saja selama dalam perjalanan hingga sampai di tempat tujuannya." ucap ibu guru menasihati Syakila.
Syakila langsung mengangkat kedua tangannya dan berdoa untuk papahnya. "Ya Allah, lindungilah papah ku yang kini lagi berada dalam perjalanan untuk menuju kota A, semoga papaku sampai di kota A dengan selamat. Aamiin" ucap Syakila. Lalu ia menyapukan kedua telapak tangannya ke wajahnya.
"Aamiin." sahut ibu guru mengamini doa Syakila.
"Sekarang Syakila sudah tenang?" tanya ibu guru.
Syakila mengangguk. "Iya Bu, terima kasih Bu guru." ucap Syakila tulus.
Setelah Syakila tenang, ibu guru lanjut mengajar mereka lagi. Kali ini Syakila sudah fokus dengan pelajarannya. Ia mendengarkan dengan jelas setiap materi yang ibu guru jelaskan.
Ting ting ting
Bunyi bel sekolah kembali berbunyi, dan bunyi kali ini menandakan waktunya untuk anak-anak pulang sekolah. Tanda pelajaran harus berakhir.
__ADS_1
Setelah selesai berkemas-kemas, anak-anak membaca doa dan mereka duduk dengan rapi agar mereka cepat pulang.
Sewaktu Syakila menunggu teman-temannya di pagar sekolah, ia di datangi oleh beberapa teman sekelas lainnya.
"Syakila, kamu belum pulang?" tanya mereka.
"Belum, Syakila lagi menunggu teman-teman yang lain baru pulang." jawab Syakila.
"Syakila, jadi benar papamu berangkat ke kota A?" tanya mereka lagi. Syakila mengangguk.
"Syakila, papamu tidak akan kembali lagi untuk kalian, kalaupun kembali itu lama sekali baru papamu akan pulang, seperti papaku." ucap teman Syakila. Di akhir kalimatnya ia berucap dengan sedih.
"Tidak! Papaku berjanji padaku papa akan segera kembali setelah enam bulan papa pergi merantau." Syakila membela papanya.
"Papaku juga dulu berjanji padaku begitu, tapi nyatanya papa lama sekali baru datang, datang pun tidak lama habis itu pergi lagi." ucap teman sekelas Syakila membela diri.
Syakila jadi sedih mendengar perkataan temannya itu. Arianti yang mendengar percakapan mereka ia menyemangati Syakila yang sudah terlihat sedih.
"Syakila, jangan dengarkan mereka! Papamu dengan papanya mereka kan berbeda? Aku yakin papamu akan menepati janjinya, padamu!" ucap Arianti sambil memegang bahu Syakila untuk menenangkannya.
Arianti melihat lawan bicara Syakila, ia menunjuk mereka satu persatu. "Kalian! Jangan bicara yang tidak-tidak sama Syakila." ucapnya dengan tegas.
"Aku tidak bicara sembarangan! Tapi memang seperti itu, papaku yang sudah merantau di kota T baru pulang satu kali menengok kami. Pas papa ku datang hanya satu Minggu saja di kampung, habis itu papaku pergi lagi dan sampai sekarang papaku belum datang untuk melihat kami." ucap teman sekelas Syakila membela diri. Setelah itu mereka langsung pergi meninggalkan Syakila dan Arianti.
Syakila kembali tertunduk, apa yang di katakan temannya itu benar, karena ia pun belum melihat sosok papah dari temannya itu di kampung. Terakhir waktu masih bulan puasa dua tahun yang lalu.
Apa papa juga akan meninggalkan kami seperti papanya dia? Apa aku tidak boleh percaya dengan janji papaku? Tidak! Papaku beda dengan papanya dia. Papaku selama ini selalu menepati janjinya.
Arianti yang menyadari ada perubahan di mimik wajah Syakila, ia menghiburnya. "Asya, aku percaya kok sama papamu." ucapnya dengan tersenyum. "Papamu orang yang baik, bukankah kamu sering cerita ke aku kalau papamu selalu menepati janjinya ke kamu, kan?" ucap Arianti lagi meyakinkan Syakila.
Syakila tersenyum lalu mengangguk. "Iyah papaku selalu menepati janjinya padaku." sahut Syakila dengan tenang. Syakila menarik nafas lega. Kini iya tidak meragukan papahnya lagi.
Setelah semua teman-temannya sudah berkumpul, mereka akhirnya pulang ke rumah bersama-sama. Mereka selalu mewarnai perjalanan mereka dengan canda dan tawa.
... ..
Sarmi kini sedang di sibukkan dengan memasak makanan untuk anak-anaknya. Setelah selesai masak ia menyuapi mereka secara bergantian.
"Mama.. Mama... papa di mana? Endang mau mita edong papa." ucap Endang setelah ia selesai makan. Memang sudah menjadi kebiasaan si Endang jika sudah selesai makan siang ia selalu di gendong papanya.
"Papa lagi cari uang sayang, untuk Endang, Yuli, dan Ita juga untuk Hardin. Jadi, Endang biar Mama yang gendong, yah?" Sarmi membujuk Endang. Endang mengangguk.
"Mama, papa ama pelgina? Papa cali uan di mana? Yuli mau temani papa cali uan." ucap Yuli.
"Papa perginya tidak lama, sayang! Papa akan segera kembali setelah dapat uang yang banyak." jawab Sarmi sambil tersenyum.
"Alo papa bawa uang nyanyak, Ita inta beli ainan boleh, Mah?" tanya si Ita.
Sarmi mengangguk. "Boleh, sayang!"
__ADS_1
"Yuli uga, Mah. Beli ainan yang banak." ucap Yuli tidak mau kalah.
Sarmi tersenyum senang melihat anaknya, mereka sangat menyayangi papanya.
Baru sehari pergi mu suamiku, anak-anak mu sudah merindukan mu, apa yang sedang papa lakukan sekarang? Papa, mama sangat hampa tanpamu.
batin Sarmi.
.. ...
Sementara itu Halim sedang menikmati pemandangan indah di laut, ia termenung dan tersenyum sendiri karena ia sedang memikirkan saat-saat kebersamaannya bersama anaknya.
Biasanya siang begini aku sudah menggendong Endang dan menggelitik wajahnya menggunakan brewok ku ini.
batin Halim
Kesendirian halim terusik dengan kehadiran seorang wanita yang kini ikut berdiri di sampingnya.
"Hai, kamu sendirian?" tanya wanita itu. Halim melirik wanita tersebut lalu ia mengangguk sebagai jawaban. "Kamu dari mana? Dan tujuan ke mana?" tanya wanita tersebut lagi.
"Aku dari desa dan tujuanku ke kota A." jawab Halim tanpa memandang wanita tersebut. Ikan lumba-lumba yang berenang mengikuti kapal lebih senang dipandang ketimbang melihat wanita yang berdiri di sampingnya itu.
"Kamu sudah menikah?"
Halim memang sudah menikah dan pernikahannya sudah terjalin selama 12 tahun, ia juga sudah memiliki enam anak. Tapi itu tidak bisa menutupi wajah gantengnya. Ia menikah muda dengan Sarmi lantaran desakan kedua orang tua mereka. Di usianya yang sudah menginjak tiga puluh satu tahun membuat ia semakin terlihat rupawan. Setiap wanita yang melihatnya pasti akan terpesona olehnya. Halim memiliki kulit yang putih, tinggi, hidung mancung, wajahnya sangat tampan. Dan ia lebih ganteng lagi saat wajahnya di hiasi dengan bulu-bulu halus di kedua rahangnya.
"Iyah, saya sudah menikah.”
Oh sudah menikah rupanya, baguslah merayu orang yang sudah menikah lebih cepat daripada merayu seorang yang masih perjaka.
batin wanita tersebut.
Wanita tersebut merupakan salah seorang pekerja di sebuah Club. Ia sedang mencari seorang pria untuk merawat dirinya dan mengeluarkan dirinya dari tempat Club tersebut.
"Kenalkan namaku Halima, namamu siapa?" Halima mengulurkan tangannya. Halim melihat tangan Halima yang terulur, ia tidak menyambut uluran tangan Halima, namun ia tetap memberitahukan namanya.
"Namaku Halim." jawab Halim tanpa membalas tatapan mata Halima.
Sungguh menarik, laki-laki biasanya juga awalnya seperti ini, tapi lambat laun dia pasti akan terpesona dengan ku. Kita lihat saja sampai di mana sikap acuh mu itu bertahan! Belum pernah ada lelaki yang tidak tergoda denganku. Tapi sayangnya mereka tidak ingin mengeluarkan aku dari sana.
batin Halima.
Karena Halima tidak ingin pergi dari sana, akhirnya Halim memutuskan untuk kembali ke tempatnya. Ia pergi tanpa berpamitan kepada Halima. Halima mengikuti langkah Halim dari belakang. Halim menyadarinya. Ia tidak ingin Halima tahu tempat ia berada, jadi ia sengaja singgah di tempat duduk di samping seorang wanita yang sedang terduduk sendirian. Halim tersenyum ramah padanya dan wanita itu membalas senyuman Halim. Halim mengajak wanita tersebut untuk mengobrol asyik layaknya orang yang sudah saling kenal dengan lama.
Melihat itu Halima terdiam di tempat ia berdiri.
"Mungkin itu istrinya."
"Masih cantik juga aku, kamu pasti akan tergoda nantinya denganku, Halim!"
__ADS_1
Setelah lama Halima melihat interaksi mereka yang akrab. Halima semakin yakin jika itu adalah istrinya Halim. Ia pun pergi dari sana.
Halim yang melihat Halima sudah pergi, ia segera berdiri dari duduknya dan ia kembali ke tempatnya semula.