Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 99


__ADS_3

Di dalam restoran.


”Sekarang sudah kenyang, jadi, saatnya kita lanjutkan perjalanan kita. Yuk, kembali ke mobil.” ucap Syakila.


”Baik, Nona. Silahkan Nona dan Tuan keluar duluan, saya akan membayar makanan dan minuman ini dulu.” sahut Mang Obi.


Ia beranjak berdiri dan mengeluarkan kartu kredit milik keluarga Albert dari dompetnya.


”Permisi, Mbak!” ucap Mang Obi memanggil salah satu pelayan restoran tersebut dengan mengangkat tangannya ke atas.


”Em, Mang Obi, sebenarnya makanan dan minumannya sudah ku bayar saat memesan makanan tadi. Jadi, kita tinggal keluar saja dari sini.” ucap Syakila mencegah Mang Obi membayar makanan dan minuman mereka makan.


Geo mengernyit. Ia tidak senang.


”Kamu anggap aku apa, Syakila? Kamu menganggap keberadaan ku di sini ada, tidak?” ucapnya dengan ketus.


Syakila bingung, ”Maksudmu?”


Geo memandang Syakila dengan wajah datarnya.


Wanita ini, dia benar-benar tidak menganggap ku adakah? Aku ada di sampingnya, sebagai suaminya, seharusnya dia membiarkan aku saja yang membayar makanan dan minuman ini. Huft, apa dia membayar makanan ini memakai kartu kredit yang di berikan oleh Sardin itu? Cih, secara tidak langsung orang itu yang membayar makanan ku. Hubungan mereka sudah sampai mana sih? Sehidup semati kah? Sudahlah, aku sudah berjanji untuk bersikap baik sama dia, aku tidak ingin bertengkar gara-gara hal sepele ini.


Ia menghela nafas, ”Tidak ada, ayok kita keluar sekarang. Jangan buang-buang waktu lagi disini.”


Geo melepaskan genggaman tangannya dari tangan Syakila. Syakila tak habis pikir, bukankah dia sendiri yang menggenggam tanganku? Sekarang malah dia sendiri yang melepasnya dengan sedikit kasar! Bukankah ini aneh? Benak Syakila. Geo mendahului jalan dengan mendorong kursi rodanya sendiri. Syakila melirik Mang Obi, Mang Obi mengedikan kedua bahunya untuk menanggapi lirikan Syakila, yang artinya, ia juga tidak tahu apa yang terjadi dengan tuan nya.


Orang ini kenapa lagi sih? Marah-marah tidak jelas.


Mang Obi mengejar Geo untuk mendorong kursi roda tuan nya. Syakila berjalan pelan di belakang Mang Obi. Setibanya di depan pintu masuk restoran, Geo bertemu pandang dengan salah satu teman wanitanya, Maudy. Yang dulu pernah Geo tolak berkali-kali untuk melakukan hubungan intim dengannya.


Geo juga pernah menjalin asmara dengan Maudy, namun, hubungan itu hanya bertahan satu bulan. Geo menjadikan Maudy wanita percobaan untuk berpacaran, agar ia tidak di katakan laki-laki yang tidak tertarik dengan wanita. Geo tidak suka bersentuhan dengan Maudy yang agresif itu, akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri percintaan percobaannya tersebut.


”Oh, gak nyangka kita bisa bertemu disini, Geo. Ternyata, kamu masih bisa berjalan-jalan menikmati hidup mu dengan makan enak disini. Dan apa ini? Kamu duduk di kursi roda? Apa yang terjadi dengan mu?” ucap Maudy dengan tersenyum kecil. Ia mendekatkan tangannya untuk menyentuh wajah Geo.


Wah, gawat! Apa yang akan terjadi nanti? Wanita ini, Geo apakah hawa atmosfer marah mu yang menyebar di ruangan ini? Ruangan ini sepertinya semakin dingin.


”Jangan menyentuh ku! Aku jijik di sentuh oleh wanita kurang ajar dan menjijikan seperti mu!” sahut Geo dengan marah. Ia menepis kasar tangan Maudy yang ingin menyentuh wajahnya.


Tangan Geo mulai bergetar, keringat mulai mengucur dari dahinya. Syakila dan Mang Obi sama-sama panik meskipun bersikap tenang.


”Nona, jangan mencari masalah disini, sebaiknya Anda pergi dari hadapan kami!” ucap Mang Obi dengan ramah dan sopan menegur Maudy.


Maudy tersenyum mengejek, ”Heh, siapa yang ingin mencari masalah dengan kalian? Tidak ada untungnya bagi ku! Kalian yang menyingkir dari hadapan ku, aku ingin masuk ke dalam restoran ini!” sahut Maudy. Ia menggeser kursi roda Geo.


”Brengsek! Pergi dari sini! Atau tidak kamu ku bunuh disini juga!” ancam Geo dengan marah, ia menatap tajam Maudy dengan tubuh yang masih bergetar dan keringat terus mengucur dari tubuhnya.


Syakila merasa kini mereka sudah menjadi pusat perhatian orang-orang. Geo, dia akan mulai histeris karena wanita itu. Siapa dia? Apa dia salah satu mantannya? Pikir Syakila. Ia masih memperhatikan sampai mana amarah Geo akan memuncak.


”Kamu yang duduk di kursi roda begini mengancam untuk membunuh ku? Hahahaha, apakah kamu tidak bercermin, Geo? Lihatlah dirimu, mampukah kamu untuk membunuh ku disini? Aku kasihan dengan mu, sudah duduk di kursi roda begini, kamu masih bersikap angkuh dan sombong. Apakah ada wanita yang akan mau menjadi istri dari seorang yang cacat seperti mu?”


Kedua rahang Geo mengeras. Ia menatap tajam pada Maudy. Syakila juga menatap penuh marah sama wanita yang sedang berseteru dengan Geo.


Wanita ini sepertinya niatnya tidak bagus. Apakah dia sengaja ingin menginjak harga dirinya Geo di depan umum?


”Nona, jika Anda tidak segera pergi dari hadapan kami, jangan salahkan saya jika saya tidak sungkan lagi pada Anda!” sekali lagi Mang Obi menegur Maudy dengan sopan meskipun berwajah marah.


”Hahaha, apa kamu mengandalkan supir pribadi mu untuk mengancam ku, Geo? Kamu benar-benar tidak berguna!” sahut Maudy.


Geo mengepalkan kedua tangannya, kedua rahangnya semakin mengeras. Secepat kilat Syakila mendekati Geo, ia menggenggam tangan Geo yang mengepal. Rasa gemetar dan keringat pada tubuh Geo, di rasakan oleh Syakila saat memeluk tubuh Geo dari belakang. Geo terdiam merasakan hawa kulit Syakila yang sangat dekat dengan dirinya.

__ADS_1


Aku merasa tenang saat Syakila memegang tangan ku, amarah ku juga mereda saat ia memeluk ku. Aku merasa nyaman, hawa kulit ku menghangat. Syakila, kamu...aku tenang bersama mu.


Syakila tersenyum sinis melihat Maudy, ”Maaf, Nona. Saya tidak tahu apa yang membuat Nona begitu perhatian dengan kekasih saya! Apakah Nona mantan pacar dari kekasih saya? Apa selama berpacaran dengan kekasih saya ini, Nona merasa tidak puas karena tidak di perhatikan dan di manja olehnya? Oh, sayang sekali, ternyata aku lebih beruntung dari Nona. Aku begitu di manja dan di sayang juga di perhatikan oleh kekasih saya ini. Iya kan, sayang?”


Syakila mencium pipi Geo di hadapan Maudy.


”Tentu saja, sayang. Baru dirimu yang ku manjakan dengan seluruh jiwa ragaku.” sahut Geo. Ia menahan kepala Syakila dan mencium bibirnya. Syakila terkejut, matanya membulat, ia tidak menduga Geo akan mencium bibirnya di depan umum. Ia menggigit pelan bibir Geo. Geo melepas ciumannya.


”Heh, tidak perlu kamu berbasa-basi di hadapan ku, aku tahu pria cacat ini tidak suka bersentuhan dengan wanita. Mimpi, jika dia sudah memanjakan kamu dengan jiwa dan raganya! Berapa jumlah uang yang di berikan keluarga Albert, makanya kamu mau berdiri di sampingnya? Aku pasti yakin, di balik bajumu itu sudah banyak bekas luka yang di berikan oleh monster tidak berguna ini.” ucap Maudy.


Syakila tersenyum, ”Anda salah paham, Nona! Aku merupakan wanita dari keluarga yang tidak kekurangan uang ataupun harta. Aku tidak membutuhkan harta dari keluarga Albert untuk menghidupi ku. Aku berada di sisinya karena cinta kami berdua yang begitu erat. Di balik bajuku ini, tidak ada sedikit pun bekas luka yang seperti itu. Yang ada hanyalah bekas kecupan mesra yang di berikan oleh kekasih ku ini sebagai tanda aku wanita miliknya. Dia sangat pandai membuat ku puas di ketika tengah malam, meskipun keadaannya seperti ini. Justru aku merasa kasihan dengan dirimu, apa kekasih ku ini tidak pernah memuaskan mu, selama kamu berada di sampingnya? Em, mungkin dia tidak sudi untuk menyentuh tubuh mu itu, makanya dia tidak memberikan kepuasan untuk mu.”


"Kamu! Kurang ajar sekali! Beraninya kamu mengatakan itu padaku!” sahut Maudy dengan marah.


Ia mengangkat tangannya menampar Syakila. Syakila menahan tangan Maudy yang hampir menyentuh wajahnya.


”Jika tidak ingin tangan mulus mu ini patah, jangan coba-coba untuk mengangkatnya memukul ku!”


Syakila menghempaskan kasar tangan Maudy. Ia mendorong kursi roda Geo untuk keluar dari restoran.


”Minggir, tubuh Anda menghalangi jalan ku!”


Syakila menggeser tubuh Maudy dari bibir pintu hingga bergeser ke samping dinding pintu restoran. Syakila terus mendorong kursi roda Geo hingga ke mobil. Mang Obi mengikuti mereka dari belakang.


Nyonya membela Tuan di khalayak ramai. Ia juga meredakan amarah Tuan, hingga Tuan tidak mempermalukan dirinya di depan umum. Meskipun wanita itu berusaha mempermalukan Tuan, tapi, Nyonya yang terus mempertahankan harga diri Tuan di depan umum. Terima kasih Nyonya.


Geo tersenyum kecil. Ia sangat bahagia.


Terima kasih, Syakila. Kamu mempertahan kan harga diriku di depan orang-orang. Meskipun Maudy mencoba untuk menjatuhkan ku, tetapi kamu mampu menahan harga diriku agar tidak jatuh di hadapan umum. Kini aku semakin yakin, bersama mu, aku akan baik-baik saja.


Maudy melihat marah pada punggung Syakila yang masuk kedalam mobil.


Ia tidak berminat lagi untuk masuk ke dalam restoran, semua pengunjung di sana menatapnya dengan jijik. Juga berkomentar buruk tentangnya. Ia kembali ke mobil dan mencari restoran lain untuk mengisi perutnya yang lapar.


.. ..


Di dalam mobil Geo.


”Terima kasih, Syakila.” ucap Geo dengan tulus.


”Tidak perlu berterima kasih, aku marah padamu! Mengapa kamu mencium bibir ku di depan banyak orang?” sahut Syakila dengan ketus.


Geo tersenyum kecil, ”Aku hanya membalas ciuman mu saja biar kita impas, jadi, tidak ada hutang cium di antara kita.”


Syakila menoleh melihat Geo dengan marah.


”Jangan konyol! Aku tidak akan pernah berminat untuk menagih sebuah ciuman dari mu! Tadi aku lakukan hanya untuk menutup mulut kasar wanita itu yang terus menghujat mu!”


”Oh, itu artinya, kamu tidak tahan jika suami mu ini di rendahkan oleh orang lain. Kamu marah dan peduli pada harga diriku. Aku jadi berfikir, kalau kamu sudah menyukai ku, jadi, anggap saja ciuman itu harga dari kepedulian mu untuk ku.” ucap Geo di selingi senyumnya yang menawan.


”Apa! Aku menyukai mu? Kamu jangan sembarangan menafsirkan sesuatu begitu saja! Aku tidak peduli padamu, sama sekali tidak peduli! Itu hanyalah tugas ku sebagai istrimu menjaga kehormatan mu. Jangan berlebihan berpikir! Dan, jangan seenak mu mencium bibir ku, jika tidak aku akan memukul mu sampai kamu mampus!” sahut Syakila dengan ketus.


” Apakah ini sebuah ancaman atau peringatan darimu? Sudah ku bilang, ciuman itu hanyalah membayar ciuman mu saja! Aku tidak mau berhutang ciuman padamu, jadi kedepannya kamu tidak akan menagihnya padaku. Lagi pula, kamu menikmati ciuman ku, 'kan? Makanya setelah lima menit baru kamu bereaksi menggigit bibirku.”


Syakila menatap tajam pada Geo.


”Kamu! Ah, kepala ku... kenapa badan ku bergetar seperti ini? Ah, ada apa ini? Kenapa tiba-tiba aku merasa lemas? Ah...” keluh Syakila kesakitan, ia memegang kepala dan dadanya.


”Syakila, kamu kenapa? Ada apa? Apa yang sakit? Apa dada mu sakit? Syakila, jawab aku, jangan membuat ku khawatir begini!” ucap Geo dengan panik.

__ADS_1


Ia meraih tubuh Syakila dan membaringkan tubuh Syakila di pahanya. Panik dan khawatir menyerang secara bersamaan di hati dan pikiran Geo.


”Ah..kenapa aku merasa badan ku lemas sekali. Sakit... ah.. kepala ku sangat pusing... sakit sekali..” keluh Syakila. Penglihatannya menjadi buram.


”Syakila, cukup kamu jangan berakting seperti ini! Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?”


Kenapa ini? Di pikiran ku muncul wajah kak Sardin. Kakak, ada apa dengan mu?


”Ah..kak.. Sar...din...ku.. ha...rap...ka..kak.. baik...baik..sa..ja...”


”Hei, Syakila, kamu sadarlah! Jangan begini! Kamu mendengar ku, 'kan? Ayo bangun, jangan membuat ku khawatir!”


Geo semakin panik, apalagi sekarang Syakila sudah kehilangan kesadarannya. Geo nampak khawatir sekali. Di saat seperti ini dengan kondisinya yang sekarang, ia tidak berbisa berbuat apa-apa.


”Tuan, apa sebaiknya kita pergi ke rumah sakit membawa Nyonya berobat?” ucap Mang Obi. Ia melihat Geo dari kaca spion. Ia juga merasa khawatir dan panik dengan keadaan Nyonya nya.


Geo melihat Mang Obi. ”Apa masih jauh rumah pamannya Syakila, Mang?”


”Tidak, Tuan. Rumah Anton sudah mulai dekat dari sini. Kita sudah memasuki pasar, rumahnya tidak jauh lagi.”


”Ke rumah pamannya saja, lebih cepat!”


”Baik, Tuan.”


Mang Obi menambah laju kecepatan mobil. Ia melirik Geo dari kaca spion.


Tuan begitu khawatir dengan keadaan Nyonya. Nyonya, Anda harus baik-baik saja, demi Tuan. Maaf kan Tuan, Nyonya, karena Tuan tidak membawa mu ke rumah sakit. Aku tahu, di lubuk hati Tuan, Tuan sangat ingin membawa mu ke rumah sakit. Tapi sayangnya, Tuan trauma jika melihat ataupun masuk ke dalam rumah sakit.


”Syakila, sadarlah! Ayo bangun!” Geo terus berusaha membuat Syakila sadar dengan menepuk pelan pipinya.


”Tuan, apa gak sebaiknya ke rumah sakit saja, Tuan? Tuan menunggu ku di mobil saja, biar saya yang membawa Nyonya masuk ke dalam rumah sakit.” usul Mang Obi kemudian.


”Kau tidak mendengar ku! Aku bilang ke rumah Anton, ya ke rumah Anton!” sahut Geo dengan marah.


”Maaf, Tuan.”


Mang Obi tidak bersuara lagi. Ia fokus berkendara. Beberapa menit kemudian, mereka tiba di depan rumah Anton. Mang Obi mengehentikan mobilnya.


”Tuan, ini rumah pamannya Syakila.”


”Turun, panggilkan pamannya. Katakan padanya Syakila sedang tidak sadarkan diri, mohon bantuannya untuk menggendong Syakila masuk rumah.”


”Baik, Tuan.”


Mang Obi turun dari mobil. Ia mendekati rumah Anton. Dalam sekali ketukan pintu rumah terbuka. Nampak Anton mengerut melihat tamu yang datang sekarang, karena ia tidak pernah mengenalnya.


”Permisi Tuan, saya Mang Obi, supir pribadi dari Geovani Albert, suami dari Nyonya Syakila....” Mang Obi menceritakan keadaan Syakila.


”Apa!” Anton terkejut.


Dengan langkah cepat ia berlari ke arah mobil dan menggendong Syakila mengeluarkannya dari mobil tanpa berkata apapun atau melihat Geo di dalam mobil tersebut. Ia membawa Syakila masuk ke dalam rumah.


Syukurlah sekarang agak tenang, pamannya gak mungkin akan membiarkan Syakila begitu saja. Maaf Syakila, seharusnya aku membawa mu ke rumah sakit. Tapi aku malah membawa mu ke rumah paman mu, dan membiarkan mereka yang mengambil tindakan penyelamatan untuk mu.


”Tuan, bagaimana dengan mu? Apa Tuan tidak ikut masuk ke dalam?”


”Apa katamu? Bantu aku masuk ke dalam, mana mungkin aku akan berdiam disini saja, sedangkan mereka di dalam mengkhawatirkan Syakila.”


”Baik, Tuan.”

__ADS_1


Mang Obi membantu Geo turun dari mobil, mendudukkan Geo ke kursi roda dan mendorongnya masuk ke dalam rumah Anton.


__ADS_2