
Beni mencari Syakila hingga ke teras rumah, ia melihat Syakila sedang duduk sambil termenung memikirkan sesuatu. Ia berjalan perlahan mendekati Syakila dan duduk di sampingnya.
”Kamu sedang memikirkan apa? Kamu pasti sedang kecewa dengan sikap dan perkataan Geo yang barusan, iya kan?”
”Sudah hal biasa untuk ku, untuk apa kecewa sama dia? Memangnya dia siapa?”
Syakila menoleh melihat Beni sejenak, lalu ia memandang lagi arah depannya.
”Beni, kapan tante Rosalina akan kembali pulang kesini?”
”Mengapa kamu tanyakan tentang tante? Kamu merindukan nya?”
”Tidak, aku hanya bertanya saja. Kapan ia akan kembali?”
”Aku kurang tahu kapan tante akan kembali, tapi yang pasti jika urusannya sudah selesai, dia pasti akan kembali.”
”Apakah masih lama?”
”Jika kamu ingin berbicara padanya, aku akan menelponnya untuk mu.”
”Tidak usah, nanti mengganggu aktivitasnya.”
”Syakila, bisakah kamu berbaikan dengan Geo?” Syakila memandang Beni dengan bingung, Beni balas memandang Syakila. ”Aku tahu Geo memang yang keras padamu, dia memang sangat keterlaluan. Maafkan lah dia dan cobalah untuk mengenali dirinya lebih dekat, sebenarnya dia bukan orang seperti itu.”
”Beni, aku memang tidak tahu bagaimana watak dia sebenarnya. Tapi, bukankah sudah ku bilang padamu, aku akan berbuat baik padanya jika ia juga berbaik hati padaku.”
”Tolong, kenalilah dirinya lebih dekat dan bantu dia untuk kembali pada dirinya yang sebenarnya.”
”Aku tidak tahu dan aku gak mau tahu tentang dia, aku mau masuk, aku mau istrahat.” Syakila berdiri. Beni menyusul berdiri.
”Kamu makanlah dulu sebelum beristirahat.”
”Tidak, rasa lapar ku sudah hilang.” Syakila melenggang masuk kedalam rumah. Ia menapaki anak tangga, ia lebih suka naik dan turun ke kamar melalui tangga dari pada menggunakan lift.
Syakila, semoga kamu mendengarkan ucapan ku tadi dan membantu Geo. Aku yakin kamu adalah orang baik.
Trrtrtrrt trrtrtrrt
Bunyi handphone berdering menahan langkah Beni yang hendak masuk ke rumah. Beni merogoh handphone dari saku, ia melihat id si pemanggil. Beni langsung mengangkat telfon tersebut setelah tahu siapa yang meneleponnya.
”Halo Tante.”
”Halo Beni, bagaimana kondisi Geo? Apa dia berteriak histeris berada di samping Syakila? Apa Geo bertindak kasar padanya?”
”Tante, Geo baik-baik saja. Geo juga tidak berteriak histeris berada di dekat Syakila. Tapi, Geo dan Syakila tidak bisa akur, mereka terus cekcok, Geo juga bersikap kasar pada Syakila.” ungkapnya. ”Tante, kapan Tante akan kembali kesini? Syakila menanyakan tentang Tante.”
”Begitu rupanya, masalah disini belum selesai semua, Tante tidak bisa memastikan kapan akan kembali.”
”Jika begitu, Tante bicaralah pada Geo agar ia bisa menjaga sikapnya pada Syakila.”
”Besok baru Tante akan menelfon nya, kamu jaga mereka berdua juga jaga Syakila, jangan sampai Geo melakukan hal yang tidak pantas dengannya.”
”Iya Tante,”
”Baiklah, Tante tutup telfonnya.”
”Iya Tante,” tut tut tut telfon terputus. Beni masuk ke dalam rumah. Ia melangkah maju mengecek Geo dan Syakila di kamar.
Bunyi alarm di handphone Geo. Geo tahu jika kamarnya sedang di buka. Ia memejamkan mata. Beni melihat ke dalam kamar, ia melihat Geo yang sudah tertidur, namun Syakila tidak berada di dalam kamar.
Mungkin dia lagi di kamar mandi, tak apalah yang penting Geo sudah tidur. Syakila akan aman jika Geo sudah tertidur.
Beni kembali menutup pintu kamar Geo saat itu bertepatan dengan Syakila yang baru keluar dari kamar mandi. Syakila mengenakan baju tidur lengan pendek yang biasa ia pakai saat di kota S.
Syakila mengambil bantal, bantal guling, dan selimut baru ia membaringkan tubuhnya di kursi sofa. Ia baru saja tertidur setelah memikirkan Sardin.
”Hei, bawa aku ke kamar mandi.” Geo melemparkan bantal ke tubuh Syakila dan tepat mengenai wajahnya. Syakila terbangun dan terduduk. Geo terpana melihat Syakila yang sedikit seksi.
”Tidak bisakah kamu membangunkan ku dengan lembut? Kenapa kamu selalu marah-marah tidak jelas sama aku?”
”Apa kamu buta? Aku tidak bisa berjalan untuk mendekat padamu, tidak ada cara lain untuk membangunkan mu selain cara itu.”
”Kaki mu yang lumpuh, kan? Bukan suaramu, cukup dengan memanggil namaku saja aku sudah pasti terbangun, tidak perlu melempar ku. Apa kamu mau tangan mu itu ikut lumpuh?”
”Apa katamu? Kamu menyumpahi ku? Beraninya kamu berkata seperti itu padaku?”
”Memangnya kenapa kalau aku berani? Memangnya kamu siapa, sehingga aku harus takut padamu?”
Geo ingin menyahuti ucapan kasar Syakila lagi, tapi ia urungkan karena Syakila menatapnya dengan penuh kebencian.
”Berhenti berdebat dengan ku! Bawa aku ke kamar mandi, sekarang!” perintahnya tanpa ingin di bantah.
”Jika kamu butuh bantuan ku, bicaralah yang baik padaku, dan jagalah sikap mu padaku,” omel Syakila sambil melangkah mendekati Geo.
Geo menelan kasar salivanya, Syakila begitu menarik hatinya saat ini. Syakila memapah tubuh Geo ke kursi roda dan mendorongnya ke kamar mandi.
”Aku ingin berdiri,” Syakila memberdirikan Geo. ”Tahan tubuh ku baik-baik,” Syakila menahan tubuh Geo dengan kuat. Ia menempelkan wajahnya di lengan Geo saat Geo buang air kecil.
Setelah selesai Geo buang air kecil, ia menaikan celananya. Syakila masih memegang tubuh Geo.
”Sudah selesai, mau sampai kapan kamu akan memegang tubuh ku?”
__ADS_1
Spontan Syakila melepaskan tubuh Geo.
Buk
Tubuh Geo terjatuh di lantai. Geo sangat marah. Syakila terkejut dan merasa takut. Geo meraih tangan Syakila dan menariknya hingga badan Syakila setara dengannya.
”Kurang ajar kamu! Kamu sengaja ingin mencelakai ku?” Geo menekan setiap ucapannya. Ia menarik kuat rambut panjang Syakila hingga kepala Syakila ikut tertarik ke belakang.
”Ah, sa-sakit,” Syakila meringis kesakitan. Geo kembali menelan ludahnya kasar, ekspresi Syakila benar-benar menggodanya. ”Ma-ma-maaf Geo, a-aku tidak sengaja. Lepaskan rambut ku.”
Hati Geo tersentuh saat melihat wajah iba Syakila yang menahan rasa sakit. Mata Syakila berkaca-kaca.
”Jaga sikap mu padaku! Jaga bicara mu padaku! Apa kamu mengerti?” Geo menarik rambut Syakila dengan keras lalu melepaskannya.
Syakila berdiri setelah Geo melepas rambutnya, ia kembali menatap Geo dengan tajam. ”Aku bisa menjaga sikap ku dengan baik, ucapan ku dengan baik pula pada kamu, asal kamu juga bersikap baik padaku.”
Syakila berjalan meninggalkan Geo yang masih terbaring di lantai, Geo mengeraskan kedua rahangnya. Geo meraih kaki Syakila yang masih belum jauh dari jangkauannya dan menarik kaki Syakila dengan kuat, hingga Syakila terjatuh di lantai dengan keras.
Buk!
”Argh kepalaku sa-sakit,” Syakila tidak sadarkan diri.
Membuat Geo panik. Ia menyeret tubuhnya mendekati tubuh Syakila yang sedang pingsan itu.
”Hei, wanita matre ayo bangun, cepat bangun.” Geo menepuk-nepuk pipi kanan Syakila. Namun Syakila tidak bereaksi. ”Sial, apa yang harus ku lakukan sekarang? Wanita ini pake acara pingsan segala.”
Geo menyeret tubuhnya mendekati alat yang terpasang di dinding bawah dekat pintu. Alarm yang tersambung langsung ke seluruh ruangan rumah. Agar semua orang tahu jika dirinya sedang butuh bantuan.
Geo sudah memegang alat tersebut dan ingin membunyikan alarmnya. Namun gerakannya terhenti.
”Jika Beni kesini, dia akan tahu jika aku sudah berbuat kasar pada Syakila. Biarlah dia akan sadar sendiri nanti. Tak perlu aku bunyikan alarm itu.”
Geo kembali menyeret tubuhnya mendekati tubuh tengkurap Syakila. Ia merasa bersalah, Geo memeriksa kepala Syakila apakah ada luka di sana atau tidak? Ia merasa lega karena tidak ada luka serius hanya memar di bagian jidatnya. Ia berbaring di samping Syakila. Geo memilih sama-sama tertidur di lantai kamar mandi yang dingin itu di banding Beni tahu apa yang telah terjadi pada Syakila.
Satu setengah jam kemudian, Syakila sadar dari pingsannya. ”Ah, kepalaku sangat sakit, jidat ku juga terasa perih.” Syakila memegang kepalanya. Ia mengingat kembali apa yang sudah terjadi.
”Brengsek pria itu! Dia memang benar-benar pria yang tak punya perasaan, apa dia tidak memiliki jantung? Sukanya hanya menyakiti saja, apa sih salah ku padanya? Hingga pria angkuh itu terus bersikap kasar padaku.”
Syakila berdiri dari duduknya dan melangkah, tidak sengaja kakinya menyenggol sesuatu. Syakila melihat ke arah yang di senggol nya. Syakila tidak menyadari jika Geo mendengar gumamnya tadi. Yah, Geo terbangun saat mendengar suara Syakila, namun ia tetap memejamkan mata.
”Geo, pria tanpa jantung ini. Hah, aku tinggalkan saja dia tertidur di lantai yang dingin ini.” Syakila melanjutkan langkahnya.
Ia terhenti saat membuka pintu kamar mandi, ia menoleh lagi melihat Geo. Ia kembali mendekati Geo. Ia memapah tubuh Geo dengan sekuat tenaganya ke kursi roda, lalu ia mendorong kursi roda tersebut mendekati ranjang. Ia kembali memapah tubuh Geo dan membaringkannya ke atas ranjang.
Syakila menjatuhkan kepalanya dengan pelan di dada Geo, ”Hah, berat sekali badannya. Untung aku masih punya hati nurani sebagai istri mu jika tidak, aku tidak akan perduli pada mu dan akan tetap meninggalkan kamu tertidur semalaman di kamar mandi.” gumamnya sambil menyelimuti tubuh Geo.
Rupanya dia masih memiliki hati nurani sebagai seorang istri yang tidak tega melihat dan meninggalkan suaminya tertidur di lantai kamar mandi. Punya hati nurani, menarik!
Syakila memandang wajah Geo, ”Jika dia tidur seperti ini, wajahnya seperti malaikat. Tapi jika matanya terbuka pandangan matanya begitu tajam saat melihat ku. Seakan-akan aku ini musuhnya yang sudah lama di carinya, dan jika mulutnya juga terbuka kata-katanya begitu pedas.”
Trrtrtrrt trrtrtrrt
”Kenapa hapeku bisa berada di atas nakas? Siapa yang menaruhnya? Tidak mungkin kan si pria tanpa jantung ini?”
Brengsek, siapa yang menelpon Syakila di tengah malam begini?
Geo mengumpat di dalam hati. Syakila mengambil handphone dan menjawab panggilan setelah ia melihat id si pemanggil.
”Halo Kak, ada apa menelpon malam-malam begini?”
Kakak? Pasti itu Sardin Ampagara. Ia masih menghubungi Syakila meskipun perasaannya telah dilukai oleh Syakila. Yah begitu lah cinta, seperti aku yang masih mencintai Dawiyah. Akankah ia akan kembali padaku nanti? Aku merindukannya, sentuhannya, tawanya.
”Bagaimana kabar mu, Kila? Kakak merindukan mu, kakak juga khawatir padamu.”
”Kabar ku baik, kak. Bagaimana dengan kabar kakak, apa kakak baik-baik juga? Aku juga merindukan kakak. Kakak tidak usah khawatir tentang keadaan Kila disini, Kila akan baik-baik saja untuk kakak.”
”Syukurlah jika kamu baik. Kamu sekarang berada di kota A, gunakan kesempatan mu untuk cari tahu apa yang sebenarnya terjadi enam tahun lalu di sana.”
”Hum, tidak semudah itu untuk mencari tahunya kak, semua butuh waktu. Seandainya ada kakak disini, kita akan bersama-sama mencari tahu apa yang terjadi di enam tahun silam itu.”
Peristiwa enam tahun silam? Peristiwa apa yang telah dia alami? Apa ini ada kaitannya dengan peristiwa yang terjadi pada papaku di enam tahun lalu juga? Berikut dengan namaku yang tercemar buruk? Suatu kebetulan peristiwanya sama, enam tahun lalu.
”Insya Allah kakak akan kesana untuk mu, Kila. Tapi tidak sekarang, kakak harus menyelesaikan beberapa urusan pekerjaan dulu baru kakak akan kesana.”
Syakila tersenyum bahagia, ”Benarkah kah kak? Kila sangat senang dengarnya kak, Syakila sudah tidak sabar menunggu kedatangan kakak. Aku mencintai mu kak.”
Cih, cinta? Kamu sudah memiliki suami dan masih berkata cinta pada lelaki lain. Cih ibuku salah menilai mu. Kamu sama saja dengan wanita-wanita murahan di luar sana.
"Ehm,” Sardin berdekhem, ”Apa Kakak harus menjawab mu dengan ucapan kakak juga mencintai mu, Kila? Sementara kamu adalah istri orang lain.”
Syakila terdiam, ia menoleh memandang Geo yang tertidur lelap menurutnya. Apa yang di bilang Sardin benar, aku adalah istri dari pria tanpa jantung ini, pikir Syakila.
”Kak, maaf Syakila sangat mengantuk, Kila ingin ingin lanjut tidur.”
”Baiklah, kamu istrahat lah, jaga diri mu baik-baik di sana. Meskipun kita bukan sepasang kekasih lagi, tapi ingatlah kita masih bersahabat.”
”Hum, Syakila juga berpikiran begitu.” tut tut tut Syakila langsung mematikan ponselnya secara sepihak. Ia melangkah menuju sofa panjang dengan wajah murung. Ia berbaring memandang langit-langit kamar, beberapa menit kemudian ia tertidur.
.. ..
Keesokan paginya. Syakila terbangun saat mendengar alarm berbunyi. Ia duduk bersandar di sandaran sofa. Kepalanya masih terasa sedikit sakit, apalagi di jidat kirinya, rasa perih masih ia rasakan.
__ADS_1
”Apa jangan-jangan jidat kiri ku terluka, perih sekali rasanya,”
Pintu terbuka saat Syakila beranjak berdiri.
”Syakila kamu sudah bangun?” tanya Beni sambil melangkah masuk ke kamar. Beni mengerut melihat wajah Syakila. ”Ada apa dengan wajah mu, Kila? Kenapa jidat kiri mu memar begitu?”
Ah jadi benar jidatku memar, pantas saja sangat perih. Ini karena pria tanpa jantung itu yang kamu bilang dia itu sangat baik, Beni! Ini gara-gara dia, dia..
”Oh, em, ini...ini karena Kila yang tidak hati-hati saat berjalan masuk ke kamar mandi hingga jidat ku terbentur di dinding.” jelas Kila berbohong.
Beni berjalan lebih dekat ke arah Syakila, ia memegang dagu Syakila dan memperhatikan jidatnya.
”Ini bukan terbentur dinding, Kila. Katakan, ini kenapa? Apa Geo yang menyakitimu?”
”Tidak Beni, Geo tidak tahu apa-apa tentang ini. Semalam aku mengantuk sekali, sehingga aku tidak melihat dengan jelas saat masuk ke kamar mandi, jadi kepalaku terbentur dinding.” jelas Syakila lagi berbohong.
”Oh, kamu mandilah lalu turun makan, aku sudah memasak sarapan. Semalam kamu tidak memakan apapun, untuk Geo, biar aku yang urus dia.”
Syakila mengangguk. Ia mengambil baju gantinya dan masuk ke kamar mandi. Beni mencari obat salep pereda rasa perih dan memar di laci meja kamar Geo, lalu ia duduk di sofa menunggu Syakila.
Pintu kamar mandi terbuka, Beni melihat Syakila yang berjalan ke arahnya. Syakila telah selesai mandi dan bergantian, handuk ia lilitkan di atas kepalanya untuk mengeringkan rambutnya. Jelas terlihat sekali luka memar di jidat kirinya.
”Syakila, ini obat untuk mu. Obati luka memar mu dengan ini, baru turunlah makan duluan.” Ia menyodorkan salep tersebut pada Syakila.
Syakila mengambil dan membacanya sekilas, ”Terima kasih Beni, kamu pria baik. Sepertinya aku bisa berteman baik dengan mu.” ucap Syakila dengan tulis, senyum terukir di bibirnya.
Beni sangat terpana melihat senyuman manis Syakila, sangat manis apalagi memperlihatkan lesung pipit di dagu dan pipinya.
Beni balas tersenyum padanya, ”Sama-sama Syakila.”
Syakila pergi ke meja hias, ia mengoleskan salep tersebut di jidatnya. Lalu ia membuka handuk yang melilit di kepalanya. Ia menyisir rambut. Setelah selesai bersisir, ia keluar kamar dan pergi ke dapur. Sedangkan Beni mendekati ranjang Geo.
”Geo, bangunlah tidak udah pura-pura tidur lagi. Aku yang akan mengurus mu hari ini.
Geo membuka matanya. Beni membawa Geo ke kamar mandi dan memandikannya, setelah itu ia memakaikan bajunya Geo.
Trtrt trrtrtrrt
Bunyi suara handphone Geo berbunyi. Beni mengambilnya untuk Geo. Ia melihat id pemanggil.
”Ini, mama mu yang telfon.” Beni memberikan handphone Geo padanya. Geo mengambilnya.
”Iya Mah ada apa?”
”Bagaimana kabar mu, Nak?”
”Baik Mah, kapan Mama akan kembali?”
”Belum tahu sayang kapan Mama akan kembali, urusan disini belum selesai. Sayang, bagaimana hubungan mu dengan Syakila?”
”Baik-baik saja, Mah.”
”Syukurlah, Mama senang mendengarnya. Mama berharap kamu tidak akan pernah menyakiti fisik Syakila, Nak.”
”Geo tidak berjanji untuk itu Mah, semua tergantung dari dirinya saja. Ka__”
”Geo sayang, Syakila tidak memiliki siapa-siapa di kota itu. Hanya kita yang di milikinya, jangan menyusahkan dia, Geo.”
Mama begitu menyayangi Syakila, dia juga percaya sama Syakila. Mama belum tahu dia wanita murahan juga wanita matre.
”Mama, maaf Geo matikan sambungannya. Geo akan pergi sarapan dulu, nanti baru kita bicara lagi. Ok, Mah.”
”Baiklah, ” Rosalina mengalah. Tut tut tut sambungan terputus.
”Beni, ayo kita ke dapur.”
Tanpa menyahut Beni sigap mendorong kursi roda Geo keluar dari kamar menuju dapur. Mereka turun menggunakan lift.
Mereka sampai di dapur, mereka melihat Syakila ya h sudah selesai mencuci piring kotornya dan sedang menyimpan piring itu ke rak piring.
”Kamu sudah selesai makan, Kila?"
Syakila menoleh ke belakang, ”Eh kak Beni, iya kak, Kila sudah habis makan, baru saja selesai.”
Beni tersenyum dengan kata lembut yang keluar dari bibir Syakila padanya, apalagi dengan panggilan kakak. Geo memandang Syakila dengan marah. Syakila bisa memanggil Beni dengan lembut begitu, sedangkan dengan nya begitu kasar.
” Oh, mau temani kami makan?” tawar Beni. Beni duduk di kursinya setelah ia menyendok makanan untuk Geo fan dirinya.
”Tidak, aku ingin keluar sebentar.”
”Kamu mau kemana? Siapa yang izinkan kamu keluar dari rumah ini?” Geo menyahuti ucapan Syakila dengan ketus. ”Kamu tidak boleh keluar lima meter bahakan satu meter dari pagar rumah ini.”
”Aku hanya pergi ke luar di depan saja, tidak kemana-mana. Lagian aku akan kemana? Aku belum mempelajari jalan di sekitar kota A ini, jadi mana mungkin aku akan membuat diriku sendiri susah nantinya kalau seandainya aku pergi keluar.” Syakila menjawab dengan ketus pula.
Beni geleng-geleng kepala.
Geo tersenyum kecut, ”Hemp, jadi setelah kamu mempelajari jalan-jalan di kota ini, baru kamu akan pergi jalan-jalan sesukamu, begitu?”
”Iya, betul sekali Tuan Geovani Albert." Syakila menyahuti dengan menekan setiap kalimatnya. Lalu ia melenggang pergi dari dapur.
”Geo, tidak bisakah kamu tidak mengajak Syakila untuk selalu ribut? Berbicaralah yang baik padanya.”
__ADS_1
”Beni, makan lah makan mu, aku juga ingin makan makanan bukan memakan ocehan mu.”
Beni menghempaskan nafas pasrah. Mereka berdua menikmati sarapan pagi dengan saling terdiam.