
Di kota S, kediaman Sardin.
”Sardin, apa kamu gak bisa batalkan keinginan mu untuk pergi ke kota A? Mama khawatir padamu Nak!” ucap Nesa.
”Tidak bisa Mah, Sardin sudah berjanji akan kesana. Sudah dua kali Sardin berjanji untuk membantu Syakila menyelidiki kasus kematian papanya. Sekarang lah saatnya untuk Sardin membantu nya Mah.” jawab Sardin.
Nesa cemberut, ia melihat suaminya. ”Pa, coba lihat anak mu ini, tidak mau nurut dengan Mama. Mama sebel, Pa!” ucapnya, mengadu.
Sardin tersenyum, ”Mama sayang, Sardin gak akan pergi lama, hanya membantu Syakila saja. Jika sudah selesai, Sardin akan kembali lagi kok!” ucapnya, merayu sambil memegang tangan Nesa.
”Jangan merayu Mama! Mama tidak akan terayu sama bujuk rayu mu itu!” sahut Nesa, sambil menarik tangannya, ia membuang muka.
Sardin tersenyum, ”Iya, Sardin juga tidak berharap kok Mama terayu dengan rayuan Sardin. Mama kan hanya akan terayu saja dengan rayuan Papa. Iya kan?” ucapnya, sambil mengedipkan sebelah matanya, melihat Nesa.
Alimin tertawa, Nesa membelalakkan kedua bola matanya, ia tidak percaya jika anaknya sudah pandai berbicara manis. ”Sardin!”
”Mama, Mama tenang saja! Sardin akan menjaga diri Sardin dengan baik. Lagi pula, di sana kan Sardin tinggalnya sama om Anton, apa yang harus Mama khawatirkan?” ucap Sardin.
Nesa terdiam.
”Papa izinkan kamu ke kota A untuk menunaikan janji mu pada Syakila, tetapi, sepulang dari sana kamu harus menikah dengan Nita.” ucap Alimin.
”Menikah dengan Nita?” Sardin mengulang ucapan papanya. Alimin mengangguk.
”Iya, Mama setuju!” sambung Nesa.
”Ma, Pa. Mau berapa kali Sardin katakan, Sardin tidak mencintai Nita! Nita juga bukan orang baik yang seperti Mama dan Papa kira! Sardin mengenal Nita dengan baik dari pada Mama dan Papa. Apa Mama dan Papa ingin mengulang kesalahan yang sama seperti Anita dulu? Hum? Papa dan Mama inginkan itu?” ucap Sardin, suaranya sedikit meninggi. Ia melihat kedua orang tuanya bergantian.
Nesa dan Alimin saling memandang. ”Baiklah, jika tidak menikah dengan Nita, kamu harus bertunangan dengan anak dari teman Papa. Nanti, setelah kamu kembali kamu harus bersedia menyetujui keinginan Papa ini! Bagaimana? Jika kamu tidak bersedia, maka, Papa juga akan melarang mu pergi ke kota A.” ucap Alimin, mengancam.
Sardin terdiam, Baiklah, untuk sekarang setuju saja dulu. Setelah itu baru cari cara untuk membatalkan pertunangan yang akan di atur oleh papa. benaknya.
”Ok, Sardin setuju! Tapi, Sardin tekankan Sardin tidak berjanji, Sardin hanya setuju saja!” jawabnya, kemudian.
Nesa dan Alimin tersenyum bahagia. ”Baiklah, lalu, kapan kamu akan ke kota A?” tanya Alimin.
”Sekitar tiga atau empat hari lagi Pa. Masih ada urusan sedikit di kantor yang masih di urus. Setelah selesai, baru Sardin kesana.” jawab Sardin.
”Hum, Papa bangga padamu dalam hal meraih kesuksesan dalam usaha. Tetapi, Papa sangat sedih dengan kisah asmara mu.”
”Papa, jangan mulai lagi deh! Sardin tidak ingin berdebat sama Mama dan Papa.” sahut Sardin.
”Em...”
”Baiklah, kita sudah selesai makan malam, juga sudah berbincang-bincang sebentar. Sebaiknya, kita istirahat sekarang.” ucap Nesa, memangkas ucapan Alimin.
”Hum, ” sahut Sardin dan Alimin.
Mereka berdua beranjak berdiri dari meja makan. Mereka pergi ke kamarnya masing-masing. Sementara Nesa, ia masih berada di dapur untuk membereskan meja makan dan membersihkan dapur.
Usai membersihkan dapur, ia pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
Di kamar Nesa.
”Pa, apa Papa yakin Sardin akan benar-benar menuruti ucapan Papa nanti?” tanya Nesa.
”Papa tidak yakin! Tapi, setidaknya anak itu setuju dulu. Sebelum kita melangsungkan pertunangan, kita akan pertemukan anak kita dengan Adelia dulu. Dan sebelum bertunangan juga, kita biarkan mereka untuk berkencan selama beberapa kali, jika tidak cocok yah, pertunangan tidak akan berlanjut.” jawab Alimin.
”Tapi, Pa, sebenarnya Sardin tidak niat kan untuk bertunangan dengan siapapun?”
Alimin menghela nafas, ia memeluk tubuh istrinya yang berbaring di sampingnya itu. ” Iya, Sardin masih berharap bisa kembali dengan Syakila.” jawabnya.
”Apa itu bagus Pa, Papa mengizinkan Sardin pergi ke kota A? Dia semakin tidak bisa melupakan Syakila, Pa!”
”Mama tenang saja! Biar bagaimanapun, Sardin dan Syakila adalah sama-sama orang dewasa. Mereka mengerti dengan apa yang mereka perbuat. Anak kita dan Syakila, tidak akan membuat kita, orang tuanya akan kecewa.”
”Iya, Pa, Mama tahu kalau untuk itu. Yang Mama pikirkan adalah hidup Sardin yang terbatas, Mama tidak ingin anak kita pergi begitu saja tanpa memberikan kita cucu. Mama ingin di akhir-akhir hidupnya, ia merasakan kebahagiaan bersama istri dan anaknya.”
Alimin mencium pucuk kepala istrinya, ”Apa yang Mama pikirkan itu juga yang ada di pikiran Papa. Papa ingin Sardin bahagia bersama keluarga kecilnya sebelum ia pergi dari kehidupan ini. Tapi, dengan kondisinya Sardin seperti sekarang, kita tidak bisa bersikap keras dan menuntut dia untuk menuruti keinginan kita.” ucapnya.
”Iya, Pa. Mama mengerti!” sahut Nesa.
”Sudahlah, sekarang kita tidur saja. Nanti baru kita bahas itu lagi di lain waktu.”
”Iya, Pa.” sahut Nesa.
.. ..
__ADS_1
Di rumah Biah dan Johan.
” Untuk apa Syakila menyelidiki lagi kisah yang sudah berlalu beberapa tahun itu? Jika dia sudah bertemu dengan yang membunuh papanya, atau ketemu dengan turunan dari pembunuh itu, apa yang akan dia lakukan?” tanya Johan, suaranya sedikit meninggi.
”Aku tidak tahu! Aku sudah melarangnya untuk tidak menyelidiki kasus itu lagi, tetapi, ia tidak berjanji untuk berhenti.” Sarmi menghela nafas, ”Aku takut jika Kecelakaan yang di alami Syakila adalah perbuatan dari turunan Kevin untuk membalas dendam. Syakila di sana sendirian, Anton, Denis, Hamid, dan Geo, belum tentu bisa mengawasi Syakila Setipa hari, setiap menit, setiap detik. Apalagi sekarang Syakila sudah mulai mengajar, aku benar-benar takut.” ucapnya, dengan sedih.
”Kekhawatiran mu sama dengan ku. Untuk kemarahan Kevin sudah jelas karena Halim membebaskan Halima dari cengkraman tangan tangannya. Hal sepele itu mengapa berakar sampai sekarang? Tidak bisakah mereka mengakhiri? Bukan kah Halim dan Kevin sama-sama meninggal di hari yang sama saat dalam pertikaian?” ucap Biah.
”Dan yang penting lagi, kita tidak tahu siapa turunan dari Kevin ini. Bahkan Anton, Denis, dan Hamid juga tidak tahu siapa anak dari Kevin. Identitas anaknya tertutup, mereka hanya tahu anak Kevin ada dua orang, laki-laki dan perempuan. Aku benar-benar khawatir dengan Syakila jika masih terus berkeras mencari tahu hal ini.” sambung Sarmi.
”Aku tahu kalian berdua mencemaskan Syakila, tetapi, kecemasan kalian, jangan sampai mengganggu ketenangan kalian berdua. Identitas Syakila juga di tutupi oleh Anton, mereka tidak akan tahu jika Syakila adalah anak dari Halim. Kita tawakal saja dan berdoa semoga Syakila baik-baik saja di sana.” ucap Johan.
”Iya.” sahut Sarmi dan Biah. ”Ini sudah jam sembilan malam, aku pulang dulu. Anak-anak pasti sudah menunggu kepulangan ku. Mereka pasti akan khawatir, karena aku sepulang dari kerja langsung kesini tanpa memberitahu anak-anak terlebih dahulu.” lanjut Sarmi berucap, berpamitan.
”Iya, kamu jangan terlalu berpikiran yang gak-gak terhadap Syakila. Pikirkan juga tentang anakmu yang di sini.” ucap Johan, menasehati.
”Iya, ” sahut Sarmi sambil berdiri. Ia menyandang tasnya dan pergi keluar dari rumah Johan.
Di rumah Sarmi.
Tebakan Sarmi sangat tepat, anak-anaknya semua sedang menunggu kedatangannya di teras rumah.
Mereka semua khawatir mengapa mamanya belum juga pulang sementara waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Dan Sarmi tidak memberitahu keberadaannya kepada anak-anaknya.
Ia hanya memberitahu pada anaknya jika ia akan kerja lembur sampai jam tujuh malam.
”Mama, Mama dari mana? Mengapa sampai pulang malam-malam begini? Mengapa tidak mengabari sebelumnya? Dan mengapa handphone Mama gak bisa di hubungi?” tanya Hardin dan Fatma bersamaan.
”Maaf, Mama tidak memberitahu kalian jika Mama sudah pulang dari jam tujuh tapi Mama singgah di rumah om Johan dulu. Hape Mama sedang lowbat. Mama kira gak akan lama di rumah Johan, tetapi, ternyata Mama di tahan sampai selesai makan baru boleh pulang.” jawab Sarmi, menjelaskan. ”Kalian semua sudah makan?” tanyanya.
”Iya, Ma. Kami semua sudah makan.” jawab Fatma, mewakili yang lain.
”Kalau begitu, ayo masuklah ke dalam rumah. Hardin, Ita, Yuli, Endang, masuk dan tidurlah. Besok kalian pergi ke sekolah.” ucap Sarmi.
”Iya, Mama.” sahut Hardin, Ita, Yuli, dan Endang. Mereka segera masuk dan pergi ke kamarnya masing-masing untuk istirahat.
Sarmi, Fatma, dan Johansyah juga ikut masuk ke dalam rumah. Mereka langsung masuk ke kamarnya.
Di rumah sakit, kota S.
Antonio begitu resah, mengapa Vian, pamannya itu belum juga sadarkan diri. Padahal, dokter berkata ia akan sadar dalam beberapa hari lagi.
Antonio membungkukkan kepala, menaruh kedua tangannya di atas belakang kepalanya.
”Ugh!”
Antonio segera menghampiri pamannya saat mendengar suara igauan paman satu-satunya itu.
”Paman, bangunlah Paman!” ucapnya lagi dengan penuh semangat.
Antonio tersenyum, mata Vian perlahan-lahan mulai terbuka. ”Paman, syukurlah Paman sudah sadar!” ucapnya dengan senang.
”An.. Antonio. Di mana Paman?” tanya Vian.
”Paman ada di rumah sakit! Paman sudah tidak sadarkan diri selama beberapa hari ini, membuatku khawatir saja!” keluh Antonio.
”Kepala Paman terasa sakit, Paman juga merasa pusing.” keluh Vian, sambil memegang kepalanya.
”Ah, Paman tunggu sebentar!” ucap Antonio, ia sedikit panik. Ia mencari tombol pemanggil dokter dari ruangan itu. ”Ah, itu dia!” ucapnya lagi saat melihat tombol itu.
Ia memencet tombolnya berkali-kali. Tidak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Antonio melihat sang dokter yang datang lengkap dengan semua alatnya sedang masuk ke dalam ruangan, berjalan mendekati Vian.
”Apa yang terjadi?” tanya sang dokter.
”Paman ku baru saja terbangun Dok, tiba-tiba saja merasakan kepalanya sakit dan pusing.” jawab Antonio.
”Iya, Dok! Kepalaku... kepala ku sakit dan juga sangat pusing Dok!” sambung Vian.
”Biar saya periksa dulu! Kamu berbaringlah dengan tenang.” ucap sang dokter pada Vian. Vian menurut, ia berbaring. Sang dokter melihat suster, ”Suster!” ucapnya.
Hanya sekata, suster itu mengangguk mengerti. Ia membantu sang dokter memeriksa keadaan pasien.
”Ah, ini tidak apa-apa! Kami sudah memberikan obatnya dari infus ini. Istirahat sebentar juga akan pulih. Keadaan paman mu akan baik-baik saja.” ucap sang dokter, pada Vian. Sedangkan Vian ia sudah tertidur lagi dengan tenang.
”Terima kasih, Dok! Lalu, bagaimana dengan luka di kepalanya, apakah tidak akan berpengaruh pada ingatannya, Dok?”
”Tidak, benturan di kepalanya memang keras, tapi, tidak mengenai otak kecilnya. Ingatannya tidak bermasalah. Ia hanya butuh istirahat selama beberapa hari di rumah sakit, di bawah pengawasan kami. Jika sudah terlewati tiga atau empat hari, paman mu sudah bisa pulang.” ucap sang dokter, menjelaskan.
__ADS_1
”Oh, syukurlah! Terima kasih, Dok!” ucap Antonio lagi, tulus.
”Sama-sama, anak muda! Saya permisi dulu, jika ada apa-apa, pencet saja tombol pemanggil itu.” sahut sang dokter.
”Iya, Dok!”
Sang dokter keluar dari ruangan Vian. Antonio duduk bersandar di kursi sambil menengadah ke atas, menghela nafas.
Pintu kamar kembali terbuka, Antonio melirik ke arah pintu, ia melihat Seva yang berjalan masuk ke dalam.
”Tuan, bagaimana keadaan tuan Vian? Apakah sudah sadar?” tanya Seva.
”Sudah, paman masih butuh waktu tiga empat hari lagi di rumah sakit baru boleh keluar. Apa ada berita baru?”
”Iya, Tuan. Kami sudah berhasil menggoyahkan perusahaan sedang milik Geo. Sebentar lagi, perusahaan itu akan berada di tangan kita tanpa di sadari oleh mereka. Kalaupun mereka menyadarinya, maka sudah terlambat, perusahaan itu sudah menjadi milik kita.” ungkap Seva.
”Bagus! Setelah mendapatkan perusahaan itu! Hancurkan saja perlahan-lahan untuk menghancurkan perusahaan yang besar. Perusahaan itu tanpa penyangga dari perusahaan sedang dan kecil tidak akan bisa berdiri stabil. Goyah kan semua perusahaan milik Geo yang ada di sini! Hancurkan semuanya!!”
”Baik, Tuan! Kami segera mengatur waktu untuk memblokir sistem keamanan perusahaan yang besar dan memutuskan pemasukan dana ke perusahaan itu!” ungkap Seva.
”Bagus!! Kerjakan dengan rapi! Ingat, perusahaan itu bukan incaran kita, itu hanya langkah kecil untuk menghancurkan sumber penghasilan Geo secara perlahan-lahan!” ucap Antonio.
”Baik, Tuan! Saya pergi dulu!”
”Hum,” sahut Antonio.
Seva keluar ruangan.
Geo, tunggu saja kehancuran mu! Dawiyah...sudah lama aku tidak menghubungi dia...benak Antonio.
Ia mengambil handphone, mengaktifkannya dan menelfon Dawiyah. Sambungan terhubung.
”Halo, sayang! Mengapa kamu baru menghubungi ku? Kamu kemana saja? Aku masih berada di apartemen.” ucap Dawiyah.
Antonio sudah merasa jijik di panggil sayang oleh Dawiyah. Namun, ia harus berakting di hadapan Dawiyah. ”Iya, sayang. Maaf, aku ada urusan mendadak hingga meninggalkan kota A tanpa memberitahu kamu. Dan handphone ku sengaja tidak aku aktifkan. Apa kamu sudah bertemu dengan Geo?” tanyanya.
”Sayang, kamu kejam sekali! Kamu baru menelfon ku setelah sekian lama, dan saat menelfon malah menanyakan pria lain padaku. Apa kamu tidak merindukan aku?”
”Em, Dawiyah, bukan kah kamu sangat mengenal ku?”
”Iya, baiklah! Aku sudah bertemu dengan Geo, aku mendatanginya di kantornya...”
Antonio terkejut, ”Apa? Di kantor? Geo sudah kembali ke kantor?” tanyanya, memangkas ucapan Dawiyah.
”Iya, dan dia mengusir ku dari kantor! Ia sudah tidak mencintai ku lagi dan tidak ingin melihat ku! Dia telah berubah.” ucap Dawiyah dengan kesal.
”Apa dia sudah sehat kembali? Maksud ku, apakah dia sudah bisa berdiri dengan kedua kakinya?”
”Apa kamu tahu dia sedang duduk di kursi roda?” Dawiyah kembali bertanya pada Antonio.
”Iya, sempat kami bertemu di kota S. Aku melihatnya duduk di kursi roda.” jawab Antonio.
”Dia masih duduk di kursi roda! Jika kamu ingin menghancurkan dia, sangat mudah bagimu sekarang.”
”Bantu aku! Kamu dekati dia sekali lagi, buat dia ...”
”Aku akan berusaha mendekati dia, tapi, aku gak janji akan berhasil! Dia sepertinya tidak membutuhkan ku lagi, mungkin dia telah menemukan hawa kulit yang cocok dengan kulitnya, makanya aku telah di buangnya!” ucap Dawiyah, memangkas ucapan Antonio.
Antonio terdiam, Syakila! Sebenarnya apa posisi Syakila di samping Geo? Apakah Syakila adalah kekasih baru Geo? benaknya.
”Halo... Antonio? Kamu masih di sana, sayang?” tanya Dawiyah, saat Antonio terdiam.
”Eh, em, aku masih di sini. Iya, kamu benar, aku melihat ada seorang gadis di sampingnya. Aku coba menyelediki siapa gadis itu tapi, indentitas gadis itu tertutup rapat.” sahut Antonio.
”Gadis? Tapi, aku tidak menemukan gadis yang menemani Geo di kantor? Aku akan mencari tahu gadis itu.”
”Hum, aku tutup telfonnya dulu.” ucap Antonio.
”Kapan kamu akan kembali?”
”Tiga atau empat hari lagi.”
”Baiklah, aku tunggu kamu di apartemen mu.”
”Apartemenku? Kamu tinggal di sana?”
”Iya, aku telah di usir oleh Geo! Bahkan apartemen itu bukan atas namaku lagi.” jawab Dawiyah dengan kesal.
__ADS_1
”Oh... Kamu Istirahatlah. Malam sudah sangat larut. Aku juga ingin istirahat!” ucap Antonio. Tut tut tut ia langsung memutuskan sambungan telfon setelah berucap, tanpa menunggu sahutan dari Dawiyah.