
Mereka telah sampai di rumah kosong milik Hamid. Rumah, yang mana dulu ia tempati dengan mantan istrinya. Hamid membuka kunci pintu rumah dan membuka pintunya lebar dan menyuruh Mulfa dan Halima untuk masuk.
”Masuklah!”
Halima dan Mulfa segera masuk. Hamid pun menutup pintu rumah. Membuat Halima dan Mulfa sedikit ketakutan. Hamid menyadari itu.
”Tidak usah takut! Aku bukan tipe orang yang suka mencari keuntungan.”
”Aku tidak takut padamu, aku...aku hanya takut gelap.” elak Halima.
Hamid tersenyum kecut. Ia segera mendekati saklar lampu dan menyalakan lampu rumah. Tampaklah terang seluruh ruangan rumah kosong itu.
Bangku sofa, ruang tengah, ruang makan, semua tertutup dengan kain panjang. Juga ada sarang laba-laba di sudut-sudut dinding rumah.
”Rumah ini, kelihatan seperti sudah lama tidak di huni.” Halima mengomentari keadaan rumah.
”Iya, rumah ini memang kurang lebih sudah tiga tahun tidak di huni. Rumah ini, adalah rumah ku dengan mantan istriku dulu. Setelah cerai, aku tidak ingin tinggal disini. Jadi, rumah ini ku tinggalkan.” jelas Hamid. ”Sekarang, untuk sementara waktu, kalian tinggalah disini. Tapi, bersihkan dulu rumah ini. Dan untuk malam ini, aku membelikan kalian makanan jadi. Besok, baru aku belanjakan bahan-bahan dapur untuk kalian.”
”Oh, mengapa kamu bercerai dengan istrimu?” tanpa terduga Halima menanyakan itu. Membuat Hamid kembali mengukir senyum kecutnya.
”Tidak perlu kamu tahu tentang pribadiku! Kalian tinggal dan rawat saja rumah ini.” tukas Hamid.
”Iya, terima kasih Hamid.” sahut Halima tulus.
”Hum, satu lagi. Di kamar ada beberapa stel pakaian, maaf jika kalian tidak akan menyukai pakaian itu. Tapi, pakaian itu pilihan dari Halim. Halim ingin kalian harus memakainya. Itu untuk melindungi diri kalian, dan kalian bebas pergi ke manapun tanpa ada perasaan was-was, ataupun takut nantinya.” jelas Hamid lagi. ” Kalian sudah mengerti kan, maksudku?”
”Iya, aku mengerti.” sahut Halima.
”Baik, kalau begitu, aku pergi sekarang. Kalian, silahkan makan dulu, baru bersih-bersih.” Hamid berjalan mendekati pintu.
”Iya. Terima kasih, Hamid.” ucap Halima dengan tulus.
”Hum, aku pergi.”
Tanpa menunggu sahutan Halima lagi. Hamid segera keluar dari rumah. Halima segera mengunci pintu rumah setelah kepergian Hamid.
”Lalu, kita harus lakukan apa dulu, kak?” tanya Mulfa bingung. ”Aku tidak lapar, tapi sangat mengantuk.”
”Kamu mengantuk?”
Mulfa mengangguk.
”Kakak juga mengantuk.” sahut Halima sambil menguap. ”Kalau begitu, beres-beres rumahnya besok saja. Untuk sekarang, kita bersihkan kamar saja dulu, baru kita tidur. Ok?” usul Halima.
"Ok, kak.” sahut Mulfa dengan senang.
Mereka segera melangkah ke kamar. Kamar di rumah Hamid ada dua kamar. Kamar yang mereka tempati sekarang adalah kamar yang berdekatan dengan dapur. Karena hanya kamar itu yang bisa terbuka pintunya.
”Kak, itu bungkusan pakaian, yang Hamid katakan tadi. Mau lihat sekarang? Atau besok saja?”
”Besok saja, ayo cepat bantu kakak. Kita bersihkan kamar ini, baru kita tidur.” pinta Halima.
”Iya, kak.”
Mereka pun membersihkan kamar itu. Seprei ranjang di ganti dengan yang baru yang tersedia di lemari pakaian. Setelah itu mereka membanting tubuh leleh mereka di atas ranjang.
”Ah, lelah sekali.” keluh Mulfa.
”Huff, akhirnya bisa juga merebahkan tubuh, lelahnya minta ampun.” keluh Halima.
Keluhan yang mereka lontarkan dari mulutnya tak ada yang saling menanggapi. Mereka telah tertidur pulas.
.. ..
__ADS_1
Halim terbangun ketika samar ia mendengar suara gemercik air. Suara orang sedang mandi, ia bangun dari baringnya dan duduk di kasur. Ia melihat ke samping nya. Rupanya Sarmi sudah bangun, dan suara gemercik air, pasti dia yang mandi, pikirnya. Ia melihat jam dinding pukul 04 : 15.
Ia melangkah ingin keluar dari kamar, ia membuka pintu dan saat itu juga Sarmi ingin masuk ke kamar. Sarmi baru selesai mandi. Melihat Sarmi yang hanya mengenakan handuk di badannya, membuat gairah Halim menjadi naik.
Ia menggeser badannya membiarkan Sarmi masuk ke dalam kamar. Setelah Sarmi masuk, ia mengunci pintu. Dan perlahan ia melangkah menuju ke sang istri yang sedang mengambil pakaian di lemari. Halim melingkarkan tangannya ke perut sang istri.
”Sayang, bukan kah Papa ingin keluar kamar tadi? Lihatlah jam itu, sebaiknya Papa pergilah mandi.”
”Iya sayang, Papa akan segera mandi. Tapi, sebelumnya Papa ingin mengeluarkan keringat dulu.” bisik Halim di telinga Sarmi.
Sarmi mengerti akan maksud suaminya itu. Ia memutarkan badannya menghadap Halim dan melingkarkan tangannya di belakang kepala Halim.
Mereka saling memandang penuh arti, saling memberi senyum mesra dan perlahan mereka saling menyatukan bibir. Lama mereka saling berciuman hingga menimbulkan rasa hangat di tubuh mereka. Halim melepas ciumannya dan mengendong Sarmi dan membaringkan Sarmi dengan pelan di atas kasur. Mereka kembali menyatukan bibir. Dan perlahan, dengan penuh kelembutan dan cinta kasih, mereka kembali melakukan kewajibannya sebagai suami istri.
Usai dengan ritual mereka. Halim pergi mandi, dan Sarmi juga kembali melakukan ritual mandinya. Alhasil mereka mandi bersama.
Usai mandi mereka bergantian secara bersama-sama pula, Halim membantu Sarmi mengenakan pakaiannya, dan Sarmi juga membantu Halim memakaikan bajunya. Hal itu, membuat perasaan cinta mereka semakin kokoh. Sarmi kembali mengalungkan tangannya di leher sang suami. Ia sangat terpana dengan ketampanan suaminya.
”Suamiku, semakin terlihat gagah. Sepertinya sampai di kota nanti, aku akan lebih banyak merasa cemburu.”
”Mengapa istriku berbicara seperti ini?” Halim melingkarkan tangannya di pinggang istrinya.
”Lihatlah dirimu, siapa yang tidak akan tergoda dengan lelaki yang tampan seperti Papa. Apalagi, gadis-gadis di kota sangat cantik-cantik. Dan sudah kebanyakan Mama mendengar cerita, jika sang suami selalu memba_”
Ucapan Sarmi terhenti, Halim membungkam mulut sang istri dengan mencium bibirnya.
”Jangan berpikiran tidak-tidak! Jangan samakan suamimu ini dengan pria lain. Karena saya dan mereka berbeda. Ok.” Halim kembali mencium bibir sang istri dan lanjut mencium keningnya.
Sarmi mengangguk.
”Ayok bangunkan anak-anak, keburu adik ipar nanti yang duluan datang menjemput kita. Sedangkan kita belum bersiap semuanya, nanti dia bakal marah-marah.” ucap Halim seraya mencubit dagu pelan dagu Sarmi.
Sarmi tersenyum dan mengangguk. Halim dan Sarmi sama-sama membangunkan sang buah hati mereka. Satu persatu mereka terbangun.
”Iya, Mama.” sahut Fatma dan Syakila bersama.
”Setelah mandi, pakailah pakaian yang ada di lemari pakaian, yah. Mama sudah menyiapkan untuk kalian pakai.”
”Iya, Mah.”
Fatma dan Syakila pergi mandi dengan mengajak adiknya. Sarmi merapikan tempat tidur anaknya. Dan Halim, ia mengeluarkan semua barang-barang yang akan di bawa ke depan rumah.
Ia menanti mobil adik iparnya datang, dengan duduk bersandar di gode-gode yang ia buat sewaktu acara ke tujuh hari ibu mertuanya.
Bagaimana sudah kelanjutan kasus yang di hadapi Halima, yah? Apa mereka sudah bebas sekarang? Dan sudah aman tinggal di rumah Hamid? Sebenarnya aku sedikit takut, jika Halima nanti nekat mendekatiku di saat ada istriku. Aku takut istriku akan salah paham nantinya.
batin Halim.
Halim melihat ke arah rumahnya, saat itu ia melihat Sarmi yang keluar menemuinya. Sarmi melangkah semakin dekat padanya. Halim mengulurkan tangannya. Sarmi menyambut uluran tangan Halim. Ia menuntun Sarmi duduk di sampingnya.
”Pa, Mama perhatikan, sepertinya Papa sedang memikirkan sesuatu. Apa yang sedang Papa pikirkan?”
”Mama, ada yang ingin Papa ceritakan sama Mama.” Halim memasang wajah serius.
”Ada apa, Pa? Sepertinya sangat serius.” Sarmi memandang wajah Halim dengan serius pula.
”Tapi, selama Papa bercerita, Mama tidak boleh memotong pembicaraan Papa. Ok.”
Sarmi mengernyit heran. Namun, ia tetap mengangguk. ”Ok, bercerita lah, Mama jadi penasaran.”
Halim menghela nafas panjang. Ia pun mulai bercerita. ”Mama, waktu Papa pertama berangkat ke kota, ada seorang wanita yang menghampiri Papa. Tapi, Papa selalu menjaga jarak dengan wanita itu.” Halim menghentikan ucapannya.
Ia melihat Sarmi. Sarmi memasang wajah cemberutnya. Tapi, ia tidak ingin memotong ucapan suaminya.
__ADS_1
”Ternyata, wanita itu satu tujuan dengan Papa. Wanita itu namanya Halima. Dia beberapa kali mencoba merayu Papa, Ia sangat berani kepada Papa. Tapi, Papa selalu menolak nya. Hingga suatu ketika dia_”
Ucapan Halim terhenti saat ia mendengar suara Sarmi yang menahan tangis. Halim menoleh padanya, ternyata benar, Sarmi menunduk menahan suara tangisnya dengan memegang mulutnya, tetapi air mata mengalir di pipinya.
Halim merangkul pundak sang istri membawanya dalam pelukannya. Ia menenangkan Sarmi dengan mengelus punggungnya.
”Mama, jangan menangis! Papa tidak pernah tergoda dengan dia. Bukankah Papa pernah bilang ke Mama, jika hati, pikiran, dan tubuh Papa hanya milik Mama seorang? Mama ingat? Papa selalu menjaga tubuh dan hati Papa untuk Mama. Karena yang ada pada diri Papa semua adalah milik Mama.”
Sarmi selalu mengingat kata-kata Halim itu. Ia mengangguk dengan memeluk erat tubuh Halim.
”Mau Papa lanjutkan ceritanya atau tidak usah, nih?”
”Lanjut saja, Pa. Mama masih penasaran.”
”Kalau begitu, jangan menangis yah.” Halim melepas pelukannya dan menghapus air mata di pipi Sarmi. Sarmi mengangguk. Halim lanjut bercerita.
”Suatu ketika, ia menyerah merayu Papa. Tetapi, entah dia dapat keberanian dari mana, hingga ia bercerita tentang pribadinya pada Papa. Papa hanya mendengar saja, tapi Papa tidak mempercayainya. Hingga saat, Denis mengajak Papa ke Club. Disitu, Papa melihat dia bersama pria lain. Tetapi, ia terpaksa mengikuti pria itu. Secara diam-diam, Papa mengikuti mereka hingga ke hotel. Di situlah Papa tahu, apa yang dia ucapkan di Papa itu benar adanya. Jadi, Papa berniat membantunya. Jadi, sebelum Papa berangkat ke kampung, Papa sudah mengeluarkan dia dari pekerjaannya itu.”
”Memang apa yang terjadi dengan pekerjaannya, Pa? Sampai sampai Papa membantunya keluar dari pekerjaannya itu.” tanya Sarmi penasaran.
”Dia terpaksa menjadi wanita penghibur, Mah.” jawab Halim. Sarmi melotot kan matanya tidak percaya sambil menutup mulutnya dengan tangan. ”Mantan pacarnya yang menipu dia dengan menjanjikan pekerjaan yang layak. Namun, akhirnya ia mempekerjakan Halima sebagai wanita penghibur. Ia sempat kabur, namun sayangnya ia mempunyai seorang adik perempuan yang di tawan oleh mantan pacarnya itu. Jadi, ia tidak dapat berkutik selain menurut.”
”Lalu?” tanya Sarmi lagi.
”Lalu,” Halim menghela nafas. Ia menunjuk anaknya. ”Lalu, lihatlah anak-anak kita sudah pada datang dengan sangat rapi, cantik-cantik dan ganteng. Dan lihatlah, sinaran lampu sana, itu pasti mobil adik ipar. Jadi, ceritanya nanti baru Papa lanjutkan. Sekarang, Mama dan anak-anak tunggu disini. Papa akan kembali masuk ke rumah mengecek pintu dan jendela rumah dan barang-barang ulang lagi, mungkin ada barang yang ketinggalan.” sahut Halim.
Sarmi menghela nafas kesal. Tapi apa yang di ucapkan Halim benar, anaknya sudah datang menghampiri mereka. Halim masuk ke dalam rumah. Ia melihat dapur, kamar. Ia mengunci jendela dan pintu dengan rapat. Lalu ia keluar dari rumah. Dan mengunci pintu rumah dengan rapat. Baru ia bergabung dengan anak dan istrinya.
Bertepatan dengan itu mobil adik ipar tepat berhenti di depan rumahnya.
”Hore! Mobil paman datang...mobil paman datang...” seru anak-anak dengan gembira.
Adik ipar turun dari mobil, namun mesin mobil tidak ia matikan. Ia mengacak rambut anak kemenakannya itu satu persatu, kecuali Fatma. Ia sangat tidak suka kepalanya di sentuh.
”Sudah lama menunggu Bang? Kakak ipar? Maaf yah, aku telat.” ucap adik ipar.
”Tidak kok!” sahut Halim dan Sarmi bersamaan.
”Ayok anak-anak, naik ke mobil!” seru Halim. ”Sayang, kamu naik juga yah, duduk di belakang temani anak-anak.”
”Iya, Pa.” sahut Sarmi. ”Anak-anak ayok masuk ke mobil bersama Mama.”
”Iya Mama.”
Mereka pun naik ke mobil. Setelah mereka masuk ke mobil, Halim dan adik iparnya memasukan barang bawaan ke dalam mobil bagian belakang.
Setelah di pastikan semua sudah masuk kedalam mobil. Halim dan adik iparnya pun masuk ke dalam. Dan adik ipar langsung menjalankan mobilnya menuju ke pelabuhan.
Setelah menempuh beberapa jam dalam perjalanan kini mereka sampai di pelabuhan. Mereka turun dari mobil. Berikut dengan barang-barang. Bertepatan dengan itu pula kapal bersandar di pelabuhan.
”Wah, kapalnya sangat besar!” seri anak-anak bersamaan. Membuat Sarmi, Halim, dan sang adik ipar tertawa.
”Kita akan naik kapal itu, Pa.” Fatma, Syakila, dan Yuli bertanya bersamaan.
”Iyah, sayang!” sahut Halim lembut.
Setelah kapal sandar, para penumpang yang hendak turun dan naik berebut jalan. Berdesakan tidak bisa terelakkan lagi. Halim menunggu waktu sedikit longgar supaya mereka naik ke kapal tidak perlu berdesakan.
Setelah melihat yang turun dari kapal berkurang. Halim mulai membawa anak dan istrinya naik ke kapal. Untuk barang mereka, Halim menyewa dua buruh yang menyangkut nya. Adik ipar halim juga ikut naik ke kapal, karena ia menggendong Hardin. Sedangkan Halim, ia menggendong Endang dan memegang Ita. Dan Sarmi ia memegang Yuli dan memegang tas yang berisi barang-barang berharga. Syakila dan Fatma berjalan sendiri.
Kini mereka telah sampai di atas kapal, Halim memesan tiket untuk kelas. Bunyi kapal yang strong dua kali telah terdengar. Adik ipar halim berpamitan turun dari kapal. Mereka saling berpelukan.
”Jaga Mama dan Papa juga adikku baik-baik, yah!” pesan Halim sebelum adik iparnya pergi.
__ADS_1
"Iya, Bang. Abang juga jaga diri, dan jaga anak dan istri Abang. Kami semua merindukan kalian.” sahut sang adik ipar. Halim mengangguk. Adik iparnya pun turun dari kapal. Menit berikutnya strong kapal berbunyi untuk yang ketiga kalinya. Dan kapal pun mulai berlayar meninggalkan pelabuhan.