
Keesokan paginya di kediaman Sardin.
Alimin dan Nesa terbangun dari tidur dengan perasaan tidak semangat. Di dada mereka terasa ada hentakkan keras yang mereka rasakan.
Hentakan itu tidak berselang lama saat terjadi, hanya saja hentakan itu sering datang menghantam dada mereka. Setelah hentakan itu berhenti, perasaan mereka menjadi tidak tenang. Badan juga terasa lesu.
Mereka telah memakai pakaian yang seragam, Nesa tampak cantik dengan baju kebaya kekinian, dan Alimin tampil tampan dengan baju balutan jas hitam.
Mereka duduk di kursi sofa, ruang keluarga menunggu Sardin dan Geo.
.. ..
Di kamar Sardin.
Sardin dan Geo tampak terlihat gagah saat mengenakan kemeja putih yang di balut dengan jas hitam.
Geo melihat Sardin tampak menghela nafas terus. ”Kenapa? Dada mu sesak lagi? Kepala mu sakit lagi?” dia khawatir melihat kondisi Sardin saat ini.
Wajah pria itu masih terlihat pucat, bahkan semakin pucat dari sebelumnya, meskipun sudah di tutupi oleh riasan bedak. Tubuhnya juga semakin terasa lemas. Bahkan untuk berdiri sendiri, harus di bantu.
”Tidak, aku baik-baik saja.” suara Sardin sudah terdengar pelan dan bergetar.
”Apa baju yang kamu kenakan ini terlalu berat?”
Sardin menggeleng.
”Kalau begitu, kamu minum obat mu dulu, baru kita keluar dari kamar. Orang tua mu pasti sudah menunggu kita keluar.”
Sardin mengangguk.
Geo mengambilkan obat Sardin yang tinggal sebutir dari dalam laci. Dia juga mengambil air minum dan membantu Sardin meminum obatnya.
Selesai meminum obat, mereka keluar dari kamar. Geo terus memegang tubuh Sardin. Jika saja dia melepasnya, tubuh Sardin akan jatuh terkulai di lantai.
Nesa dan Alimin bersedih hati ketika melihat anaknya itu. Nesa tidak dapat menahan air matanya, dia berdiri dan berlari kembali ke kamar.
”Geo..bawalah Sardin duluan ke mobil. Om, akan pergi melihat bibi sebentar.” suaranya Alimin pun terdengar gemetar menahan tangis.
”Pa, bilang pada Mama, jangan menunda waktu ku. Keluarga besannya pasti sudah menunggu kita untuk datang.” ucap Sardin dengan bergetar.
Alimin mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Dia pergi ke kamarnya, melihat istrinya.
”Kita tunggu orang tua mu di dalam mobil saja.” ucap Geo pelan pada Sardin.
Sardin mengangguk.
Geo memapah Sardin sampai ke mobil dan membantu Sardin masuk ke dalam mobil.
Di kamar Alimin.
”Pa....Mama tidak mau pergi...Mama di rumah saja, Pa. Hu...hu...hu....!” Nesa menangis di pelukan suaminya.
”Mah...jangan berkata begitu. Dia anak kita satu-satunya. Bukan kah impian kita melihat anak kita untuk menikah? Hari ini adalah hari pernikahan anak kita. Kita harus pergi melihatnya dan merestuinya.” bujuk Alimin.
”Mama gak kuat, Pa! Hu...hu...hatinya Mama dan perasaan Mama gak enak, Pa.”
”Ssttstt! Kita tawakal saja pada Yang kuasa. Jangan kita menduga-duga hal yang belum pasti terjadi.” Alimin mengangkat wajah istrinya, menghapus air mata yang mengalir di kedua pipi istrinya itu.
”Jangan menangis! Dandanan mu akan luntur nanti. Ingatlah, untuk selalu tersenyum. Jangan tampakkan wajah sedih mu di depan besan mu dan pengantin kita. Hari ini adalah hari bahagia putra kita.”
Nesa mengangguk. Meskipun begitu, air mata masih saja lolos di pipinya.
” Ayo kita keluar. Anakmu bilang, jangan menunda waktunya. Dan jangan membuat kelurga besan menunggu lama.”
Nesa kembali mengangguk. Dia menghapus air matanya dan keluar dari kamar bersama suaminya.
Mereka telah sampai di mobil. Mereka masuk ke dalam mobil.
Nesa melihat Sardin yang sedang memejamkan mata, nafasnya terlihat lemah saat ia menarik nafas. Dia membalikkan wajahnya ke depan. Air matanya kembali menetes.
Alimin yang duduk di sampingnya menghapus air mata Nesa dengan tisu. Nesa melihat Alimin, Alimin menggeleng.
”Masih ada yang di tunggu lagi, Tuan?” tanya sang supir.
”Tidak ada, jalankan mobilnya.” jawab Geo.
”Baik, Tuan!” sahut sang supir. Dia mulai menjalankan mobilnya.
Mereka pergi ke rumahnya Sarmi menggunakan mobil Geo yang sedikit besar, yang muat untuk delapan orang.
Geo melihat Sardin yang terus memejamkan matanya. Dia menghela nafas.
Semoga saja, semuanya berjalan lancar dan Sardin dengan cepat kami bawa ke China.
Semuanya telah aku persiapkan. Kami ke sana akan menggunakan helikopter. Kebetulan di samping rumah Johan ada tanah kosong yang lumayan luas, bisa menaruh satu buah helikopter.
Aku juga mengundang Rivaldi untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu pada Sardin, saat di perjalanan. Karena obat yang di konsumsi Sardin untuk menahan sakit telah habis. benak Geo.
”Apa kita sudah sampai?” tanya Sardin.
”Belum, istirahat saja kalau ingin istirahat. Aku akan membangunkan mu setelah kita sampai nanti.” jawab Geo.
”Tangan ku terasa berat. Aku tidak bisa istirahat jika bersandar seperti ini. Aku ingin berbaring.”
”Berbaringlah, pakailah pahaku untuk bantal mu.” sahut Geo.
__ADS_1
Sardin mengangguk.
Geo membantu Sardin untuk berbaring. Sementara Alimin dan Nesa terlihat murung dan sedih. Mata mereka masih berkaca-kaca.
Di sisi lain, mereka berterima kasih kepada Geo, karena dia, yang bukan keluarga tapi mendapat kepercayaan Sardin untuk menjaga dan merawatnya. Sardin, bersikap manja pada Geo, seperti Geo adalah kakak kandungnya sendiri.
Mata Sardin terpejam, tapi siapa yang tahu apa yang dia pikirkan? Dia sedang bersedih hati.. Matanya terpejam tapi, bayangan wajah Syakila menari-nari di matanya.
.. ..
Di kediaman Sarmi.
”Apa kalungku sudah selesai di sambung, Hardin?” tanya Syakila.
”Belum kak, masih berusaha nih. Lagi pula, kakak bikin bagaimana, sampai kalung ini bisa jatuh dan terlepas begini?”
”Kakak juga tidak tahu. Pas kakak mandi, tiba-tiba saja kalung itu terjatuh. Dan pas kakak lihat, sambungan nya yang rusak.” jelas Syakila.
”Oh...ini bukan hanya sambungan nya yang rusak kak, tapi, rantai kalungnya juga ada yang patah ini. Ini yang sedikit susah di sambung, rantainya terlalu halus, dan aku membutuhkan alat yang halus juga untuk menyambungnya. Karena tidak ada alatnya, jadi, pakai ini saja.”
”Iya, kah? Kakak tidak terlalu memperhatikannya tadi. Pokonya harus cepat bikin, sebelum kakak Sardin datang. Kalung itu dan cincin ini, akan jadi mahar mas kawin kakak.”
”Hah! Yang benar saja? Kakak gak minta puluhan juta gitu untuk mahar? Kan kakak ipar orang kaya.”
”Kalung dan cincin itu punya cerita yang menarik dalam kisah cinta kami. Kalung dan cincin itu yang menjadi pengikat hubungan kami dari kecil. Dan tentunya, aku ingin kalung dan cincin ini yang akan selalu menjadi pengikat hubungan kami sampai selamanya.”
”Syakila, sudah siap, Nak?” tanya Sarmi.
”Sudah, Mah.”
”Loh, kalungnya belum-belum jadi juga dari tadi?” tanya Sarmi pada Hardin, yang masih sibuk membetulkan kalung.
”Tinggal sedikit lagi akan selesai.” jawab Hardin. Dia memasukan pengait kecil di dalam rantai yang satu ke ujung rantai yang lain. Lalu, dia menjepit nya sedikit menekan agar terkait. Lalu, Hardin memasukkan sambungannya. Dia tersenyum sambil mengangkat kalung tersebut, memperlihatkan pada kakak dan ibunya. ”Nih, sudah selesai.”
”Wah...adikku sangat pandai!” puji Syakila. Syakila menyimpan kalung dan cincin itu ke dalam kotak bening yang kecil berbentuk love.
”Kakak, Mama, pengantin pria sudah datang!” teriak Ita dari bibir pintu kamar Syakila.
”Alhamdulillah, Syakila...duduk manis di situ. Kamu akan keluar sebentar kalau pak penghulu sudah menanyakan mu.” titah Sarmi.
”Iya, Mah.” sahut Syakila. Dia sudah duduk diam di atas kasur nya. Senyum bahagia selalu dia pancarkan.
Sarmi keluar dari kamar Syakila bersama Hardin ke ruang keluarga.
Di ruang keluarga.
Nesa dan Alimin memasuki ruangan keluarga. Di belakangnya ada Sardin dan Geo.
Keluarga Syakila menyambut kedatangan mereka dengan bahagia dan tersenyum. Namun, senyuman mereka memudar tatkala melihat dan memperhatikan kondisi Sardin dengan baik. Nesa dan Alimin menunduk saat Sarmi dan Johan melihatnya.
Ada apa ini? Apakah Sardin tidak sehat? Sejak kapan? Terakhir bertemu saat Sardin, Syakila, dan Geo datang dari kota A, dan Sardin terlihat baik-baik saja.
”Pengantin pria, duduk di sini yah, di depan saya.” ucap pak penghulu.
Geo membantu Sardin untuk duduk di depan pak penghulu. Pak penghulu tidak kaget lagi melihat kondisi Sardin. Karena dia sudah tahu.
”Pengantin wanita nya, tolong di panggil.” titah pak penghulu.
Fatma pergi ke kamar Syakila dan memanggil Syakila. Fatma mendudukkan Syakila di samping kiri Sardin.
”Masya Allah, pengantin kita hari ini sangat cantik dan tampan.” puji pak penghulu.
Geo sendiri hatinya berdebar, detak jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Syakila tampak cantik menggunakan busana pengantin yang di pilihnya sendiri.
”Kedua pengantin telah ada di sini. Kedua orang tua dari pengantin juga sudah ada, apa masih ada yang di tunggu lagi?” tanya pak penghulu.
”Tidak ada Pak!” serempak yang ada di dalam ruangan keluarga menjawab.
”Baiklah, kalau begitu kita langsung memulai acaranya.” pak penghulu mengucap kan istighfar tiga kali dan memuji keesaan Allah.
”Pengantin pria, berikan tangan mu.”
Geo sigap mengangkat tangan kanan Sardin dan memberikannya pada pak penghulu.
”Saudara Sardin bin Alimin, saya nikahkan dan saya kawinkan dikau dengan anak kami yang bernama Syakila binti Halim, dengan mas kawin seuntai janji, di bayar tunai.”
Kening Syakila mengerut mendengar ucapan pak penghulu. Bukan kah mas kawinnya adalah sebuah kalung dan cincin yang ada di atas meja itu? Mengapa pak penghulu mengucapkan ”Seuntai janji” Janji? Janji apa?
Bukan hanya Syakila, Geo yang berada di belakang Sardin juga terkejut. Begitu juga dengan kedua orang tua Sardin dan Syakila, mereka terkejut. Semua yang hadir di sana juga terkejut.
”Saya terima akad dan nikahnya Syakila binti Halim dengan mas kawin tersebut, tunai.” meskipun terdengar pelan dan suara yang bergetar, juga nafas yang sulit. Sardin berhasil mengucapkan ijab dan kabul dengan lancar.
”Bagaimana saksi? Sah?”
Mendengar suara dan cara helaan nafas Sardin membuat seisi ruangan tersebut terdiam. Nesa dan Alimin terus menunduk, menahan tangis.
”Sah.”
”Sekarang, apa janji tersebut saudaraku Sardin? Ucapkanlah, agar di ketahui dan dilafalkan oleh istrimu.”
Geo memutar badan Sardin agar berhadapan dengan Syakila. Mata Sardin berkaca-kaca melihat wanita di hadapannya itu.
Wanita yang kini telah sah menjadi istrinya. Wanita yang dia cintai dari kecil sampai sekarang.
Sardin dapat melihat raut wajah Syakila yang sedih dan bingung. Sardin tersenyum. ”Syakila, kamu sangat cantik. Aku sangat beruntung bisa memiliki mu selama ini. Ukhuk...ukhuk...!”
__ADS_1
Geo memberikan tisu pada Sardin. Sardin mengambil dan membersihkan tangan dan mulutnya.
Syakila dapat melihat dengan jelas warna merah di tisu itu. Dia melihat Sardin dengan terkejut. ”Ka...kakak...”
”Ssttss! Syakila berjanjilah kamu akan menuruti dan mengulang perkataan dan ucapan ku.”
Syakila mengangguk.
”Dengar...aku cuma mengucapkannya sekali.”
Syakila kembali mengangguk.
”Saya berjanji, saya akan.. menikah
”Saya berjanji, saya akan.. me....” Syakila tidak melanjutkan ucapannya, dia menatap Sardin. ”Apa ini kak?” dia marah.
”Saudara Syakila, ini adalah mahar mu. Ambillah mahar mu tanpa protes apapun.” ucap wali hakim.
Hati Syakila menjadi marah, dia ingin protes tapi tidak bisa itu adalah maharnya. Dia menangis.
”Sa...saya berjanji, sa...saya akan menikah” Syakila mengucapkan kembali kalimatnya, dengan berderai air mata dan menunduk.
”Dengan...Geovani Albert...setelah..di ceraikan oleh...suamiku.”
”De...dengan...hu...hu... Ge....Ge....” Syakila merapatkan kedua bibirnya. ”...Ge...Geo...Vani...Al...bert hu...hu... se..setelah...” Syakila mendongak melihat Sardin. Dia menggeleng...”Di....di...ce...hu...hu..ceraikan...o...oleh...su....su...suamiku...hu...hu... kakak kejam....hu..hu...kenapa kak?”
Geo sendiri terkejut dan terdiam mendengar seuntai janji Sardin tersebut. Dia terpaku melihat Sardin.
Nesa dan Alimin yang memang sudah menahan tangis semenjak di perjalanan rumah Sarmi pun ikut menangis.
Semua yang hadir di sana semua menangis. Dan pak penghulu sendiri matanya berkaca-kaca.
”Ukhuk....ukhuk...!” Sardin kembali batuk.
”Ka...kakak.” Syakila khawatir.
”Bo..boleh ka..kakak mencium kening mu, istri ku?” tanya Sardin.
Syakila mengangguk. Dia mendekatkan wajahnya pada Sardin. Sardin menyentuh wajah Syakila dan mencium keningnya.
Syakila memegang tangan Sardin yang terasa lemah dan gemetar saat menyentuh wajahnya itu. Di ciumnya tangan Sardin.
”Syakila, kakak sudah menunaikan janji kita untuk menikah kan?”
Syakila mengangguk.
Sardin merasa semakin sesak untuk menarik nafasnya. Tubuhnya semakin lemah.
”Syakila..mulai hari ini...detik ini...
Kening Syakila mengerut melihat Sardin. Raut wajahnya berubah saat di pikirannya terparkir kata cerai. ”Tidak, tidak kak....Syakila tidak mau dengar hu...hu...Syakila tidak mau...” Syakila berdiri.
Sardin menahan tangan Syakila.
Syakila kembali duduk di hadapan Sardin, dengan tidak berdaya. ”Aku membencimu kak....aku benci...” dia memukul dada Sardin.
”Ukhuk...ukhuk...Syakila...Syakila binti Halim..mulai detik ini...kamu bukan istri ku lagi.”
”Hu...hu...pernikahan apa yang kakak berikan pada Kila ...hu....hu...hu..”
”Ma....maafkan....kakak, Kila. Ka..kakak....tidak bisa menjaga mu lagi. Sebelum kakak pergi...menikahlah dengan Geo...kakak ingin melihat dan menyaksikannya...”
Geo melihat Syakila.
”Ki...Kila...wujudkan keinginan kakak....kakak ingin pergi dengan tenang...”
”Geo...ucapkanlah ijab kabul mu.” titah Sardin.
Geo masih melihat Syakila...Apakah wanita yang ada di hadapannya itu akan setuju?
Syakila masih menunduk.
”Ge..Geo...”
Geo menelan saliva nya dengan kasar. Dia berjabat tangan dengan pak penghulu.
”Saudara Geovani Albert bin Albert saya nikah kan dan kawinkan dikau dengan anak kami, Syakila binti Halim dengan mas kawin sebuah liontin dan cincin, di bayar tunai.”
”Saya terima nikah dan kawinnya Syakila binti Halim dengan mas kawin tersebut di bayar tunai.” Geo melafalkannya dengan cepat dalam satu tarikan nafas.
”Bagaimana saksi? Sah?”
”Sah!” sahut semuanya yang ada di dalam ruangan itu.
”Nak, pakaikan mahar mu pada istri mu. Kemudian, tanda tangan di buku nikah kalian.” ucap pak penghulu.
Geo mengambil kalung dan cincin dari kotak bening berbentuk love itu dan memakaikannya pada Syakila. Kemudian dia mencium kening Syakila.
”Tanda tangan.” pak penghulu membuka buku nikah tersebut.
Geo dan Syakila sama-sama terkejut melihat buku nikah itu.. Dalam buku nikah itu memang tertulis namanya dan nama Geo, berikut dengan fotonya.
Geo menandatanganinya, begitu juga dengan Syakila.
”Al...Al...ham..du...lillah...” Sardin menghembuskan nafas terakhirnya setelah mengucapkan hamdalah.
__ADS_1
”Ti...dak... kakak.” Syakila memeluk tubuh Sardin. ”Kakak, bangun kak. Ayo bangun... kakak sudah berjanji padaku untuk pergi berobat....bangun kak. Aku sudah memenuhi janji kakak. Sekarang giliran kakak yang memenuhi janji....bangun kak... bangun...!”
Tangis Nesa semakin pecah... begitu juga Alimin. Semua orang di dalam ruangan itu berkabung atas meninggalnya Sardin bin Alimin.