Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps8


__ADS_3

Air mata Sarmi menetes membasahi kedua pipinya setelah ia tidak melihat punggung suaminya lagi.


Baru saja engkau pergi aku sudah merindukan mu, suamiku.


batin Sarmi.


"Mama... Mama..."


Sarmi langsung menghapus air matanya saat mendengar suara anaknya memanggil dirinya.


"Iya sayang! Mama segera datang." sahut Sarmi. Ia langsung menghampiri anaknya. "Kenapa sayang?" tanyanya lembut membelai kepala anaknya.


"Mama, Yuli lapal lagi." ucap Yuli sambil memegang perutnya yang lapar.


Sarmi tersenyum. "Kamu lapar lagi? Baiklah, Mama kasih halus jagungnya dulu yah, baru Mama masak kan, kamu bisa menunggu? Karena Mama harus memasaknya dulu.”


"Iyah Mama, Yuli tunggu, Mama cepat macak." sahut Yuli.


"Ia, sayang. Kamu tidur yah, setelah Mama selesai masak, Mama bangunin kamu untuk makan." pinta Sarmi. Yuli mengangguk. Ia pergi berbaring.


Sarmi segera menggiling jagung hingga halus, lalu memasaknya. Setelah selesai masak ia menyendok nasi jagungnya ke piring. Lalu ia membangunkan Yuli menyuruhnya untuk makan.


"Yuli, bangun sayang, makananmu sudah masak." Sarmi menepuk pelan pipi Yuli, untuk membangunkannya.


Yuli terbangun, "Mama cuda macak jagungku?”


"Iya sayang, ayok makan Mama suapi." ajak Sarmi. Yuli mengangguk. Sarmi mulai menyuapi anaknya dengan sabar sampai makanannya habis.


"Mama, Yuli cuda kenyang." kata Yuli sambil mengelus perutnya.


Sarmi tersenyum, "Kamu sudah kenyang? Ucapkan apa kalau sudah selesai makan?"


"Alhamduila." kata Yuli.


Sarmi tertawa kecil, ia membetulkan ucapan anaknya. "Al ham du lillah, sayang!"


.. ..


"Papah kita lewati sungai, yah!" pinta Syakila.


"Kalian ingin mandi-mandi?" tanya Halim dengan lembut.


Syakila mengangguk. ”Hu um boleh?" tanya Syakila.


”Boleh.” sahut Halim dengan tersenyum.


Sesuai dengan keinginan anaknya, Halim mengarahkan langkahnya menuju jalur sungai.


Setelah beberapa lama mereka berjalan, akhirnya kini mereka sampai pada sungai.


"Yeah!! kita sampai. Hore!! Kita mandi-mandi." Seru mereka dengan girang setelah melihat air sungai.

__ADS_1


Halim ikut senang melihat anak-anak sangat berbahagia. Ia duduk di atas bebatuan besar dan melihat Syakila yang sedang asyik berenang bersama teman-temannya.


Rasanya, hati ini sudah mulai terasa sepi. Padahal aku masih berada di desa yang sama. Bagaimana jika besok aku akan berangkat ke kota? Mungkin akan lebih terasa sepi lagi karena tidak ada suara-suara manja dari anak-anak dan istriku.


batin Halim.


"Syakila, kita loncat yuk dari batu besar itu." ajak Helena. Syakila melihat ke Arianti, Sartini, dan Fitria mereka mengangguk setuju dengan ucapan Helena. Syakila belum menanggapi ajakan temannya.


Dengan lirikan mata, Syakila melirik papahnya yang sedang duduk mengawasi mereka. Teman-teman Syakila akhirnya mengerti akan maksud dari lirikan mata Syakila. Teman-temannya langsung memasang muka kusutnya. Tapi Halim menyadari interaksi anaknya dan temannya itu.


"Kenapa? Kalian ingin meloncat dari batuan itu?" tanya Halim kepada mereka sambil menunjuk batu yang di maksud. Halim sangat mengerti keinginan mereka.


Syakila dan teman-temannya tidak berani menjawab dengan suara, mereka hanya mengangguk dengan pelan-pelan.


"Ayok, kalau mau ingin loncat!" ajak Halim. Mereka sangat senang dan begitu antusias saat Halim mengizinkan mereka untuk meloncat ke sungai dari batu besar itu.


"Yeah!!" sorak mereka semua. Kini mereka berjejer di atas bebatuan itu. Mereka sudah membuka mulut untuk menghitung, akan tetapi terhenti saat mendengar Halim yang menghitungnya.


"Kenapa? Ayok siap Om akan hitung di hitungan ketiga loncat yah." ucap Halim. Syakila dan temannya mengangguk.


Halim mulai menghitung. "Satu... dua...tiga..!"


Byur!


Plung!


Byur!


Waktu sudah mau masuk Maghrib, Halim segera menyuruh mereka agar segera naik dan pulang. Mereka pun segera naik dan mereka langsung berpisah dan pulang kerumahnya masing-masing.


Setelah Syakila mengganti pakaiannya, ia pergi ke dapur untuk memasak dan membuat kan teh untuk papanya.


"Ini tehnya, Pa! Asya sedang masak sayur yang di petik oleh mama tadi, jagung dan ikan mama sudah siapkan sebelumnya dari kebun." ucap Syakila.


"Terima kasih, Nak! ucap Halim sambil mengambil teh dari tangan Syakila.


"Sama-sama, Papah."


Syakila kembali ke dapur untuk melihat sayurnya. Setelah masak ia menyiapkan makanan dan minuman untuk dirinya dan papahnya. Setelah siap ia memanggil papanya untuk makan.


"Papah, mari kita makan!" ajak Syakila.


Halim mengangguk dan mengikuti langkah anaknya ke belakang. Mereka makan dalam diam. Ada yang merasa janggal pada hati Halim saat ini. Bagaimana tidak! Ini untuk pertama kalinya ia makan tanpa di dampingi oleh istri tercintanya.


Ini baru semalam aku makan tanpa ada kamu di sampingku, Sarmi. Rasanya sangat berbeda sekali, oh aku sudah merindukanmu, Sarmi! Bahkan aku masih berada di satu tanah yang kau pijak. Bagaimana jika aku sudah menginjak tanah yang jauh disana? Hatiku pasti akan lebih tersiksa dan hampa tanpa ada kamu di sisiku.


batin Halim.


Matanya sudah mulai berkaca-kaca, Syakila yang sejak tadi memperhatikan papahnya, terdiam dan terlihat murung. Ia bertanya padanya.


"Papah, Papa kenapa? Apa Papa lagi sedih." tanya Syakila.

__ADS_1


Halim tersenyum, "Iya sayang, Papa lagi sedikit sedih saja.” jawab Halim. ”Tapi Papa tidak apa-apa.”


"Apa itu karna Papa akan pergi besok? Meninggalkan kami disini?" tanya Syakila lagi.


"Iya sayang, Papah sedih meninggalkan kalian." jawab Halim. "Sudah ayok makan!" perintahnya. Syakila mengangguk. Kini mereka kembali makan berdua dengan diam.


Setelah selesai makan malam, mereka tidak lantas langsung istrahat. Tetapi, sekarang mereka lagi duduk-duduk di teras-teras rumah gantung. Mereka lagi memandangi langit hitam yang di hiasi oleh kerlap kerlip bintang dan cahaya dari bulan.


"Papa, kami pasti akan sangat kesepian tanpa Papa disini." ucap Syakila sedih. Ia sedang berbaring dan paha papahnya menjadi bantalan untuk kepalanya. Halim mengelus pelan kepala Syakila.


"Sama seperti kalian yang kesepian, Papa juga pasti akan kesepian tanpa kehadiran kalian disana." sahut Halim.


"Papa akan kembali kan untuk kami?" tanya Syakila lagi. Ia memandang wajah papahnya dengan serius.


Halim tersenyum, "Tentu saja, Papa akan kembali untuk kalian disini." jawabnya sambil mencubit pelan hidung mancung anaknya itu.


"Papa janji, akan datang lagi untuk kami?" ucap Syakila lagi.


Halim memandang Syakila dengan bingung. ”Iya, sayang!” jawab Halim. ”Memangnya kenapa? Kamu tidak percaya pada Papa?”


"Syakila percaya Papa, Syakila hanya memastikan saja, Pa! Soalnya ada teman sekelasnya Syakila, papahnya pergi merantau dan sampai sekarang belum pernah datang untuk menengok mereka, Pa." jelas Syakila. Di akhir kalimatnya ia berucap dengan sedih.


Halim menghela nafas dalam-dalam. "Itu kan papahnya mereka, sayang! Syakila, doakan Papa supaya Papa berhasil di sana dan cepat pulang untuk menjemput Syakila dan Mama disini, yah!" ucap Halim menenangkan hati anak keduanya itu.


"Iyah Papah, Syakila akan selalu berdoa untuk Papa." jawab Syakila.


"Ini sudah malam. Syakila, waktunya untuk tidur! Masuklah, kamu harus tidur. Besok kamu harus ke sekolah.” ucap Halim


Syakila menggeleng, "Syakila belum ngantuk, Pa! Syakila masih ingin cerita dengan Papa.” tolak Syakila.


"Baiklah kalau begitu!” Halim mengalah. ”Bagaimana sekolahmu? Apa, anak Papa ini termasuk anak yang pintar di kelasnya?”


"Iya dong Pa, Syakila kan rajin belajar!” jawab Syakila. ”Papah lupa, kalau yang ajari kak Fatma membaca itu Syakila?" jelas Syakila.


Fatma dulu memang belum bisa membaca dan Syakila yang mengajari Fatma sampai ia bisa membaca dengan lancar.


Halim mengingatnya itu memang betul. Ia cekikikan, "Hehehe, oh iya Papa lupa, sayang.” ucap Halim sambil membelai rambut panjang Syakila.


"Kamu belajar yang baik, yang rajin, yah! Ingat pesan Papa jangan membuat mamamu menangis. Jadilah anak yang pintar. Dengarkan selalu nasehat yang di ucapkan Papa, mama, nenek atau siapapun selama itu membawa kebaikan untukmu." ucap Halim menasihati Syakila.


"Iya Papa, Syakila berjanji Syakila akan menjadi anak yang baik, rajin, pintar, dan selalu nurut sama Papa dan mama." ucap Syakila.


"Bagus! Anak pintar! Besar nanti Syakila ingin menjadi apa?" tanya Halim lagi.


"Syakila ingin menjadi guru, Pa!" jawab Syakila dengan senang. Ia membayangkan jika dirinya menjadi seorang guru nanti.


"Semoga keinginanmu tercapai, sayang!" ucap Halim mendoakan Syakila.


"Aamiin," sahut Syakila. Halim juga balas mengamininya. ”Aamiin.”


Halim sengaja terus mengajak anaknya itu berbicara, sambil mengelus-elus kepalanya. Agar Syakila cepat tertidur. Dan benar saja sekarang Syakila sudah mulai tertidur lelap. Halim membiarkan Syakila tertidur dengan pahanya yang menjadi bantalan kepalanya. Dan ia tetap terjaga.

__ADS_1


__ADS_2