Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 94


__ADS_3

”Syakila, bagaimana menurutmu tentang pembicaraan Om dan Om Anton tadi?” tanya Denis.


Syakila melihat Denis sekilas kemudian ia memperhatikan jalan di depannya. Ia menghela nafas.


”Syakila tidak tau Om, Syakila bingung untuk berpendapat. Mungkin saja bibi Halima tidak tahu hal ini, meskipun kakak Mulfa adalah adik kandungnya. Kalaupun bibi Halima tahu, apa Om yakin hanya gara-gara pernah memenjarakan Mulfa, Kevin semarah itu pada papa dan membunuhnya?”


”Om juga sempat berpikir seperti mu, tapi, selama ayah mu berada di kota ini, tidak pernah ayah mu terlibat masalah apapun dengan orang lain selain masalah tentang Mulfa itu.”


Syakila melihat Denis dengan serius. ”Apa Om tahu keberadaan kakak Mulfa sekarang? Aku ingin bertemu dengannya, ada banyak hal yang ingin ku tanyakan pada kak Mulfa.”


”Em, Om tidak tahu keberadaan Mulfa setelah ia menikah empat bulan lalu. Kalau kamu ingin tahu tentangnya, kapan-kapan Om akan ajak kamu ke rumah Om Hamid untuk bertemu dengannya. Bagaimana?”


”Boleh Om, aku juga ingin berjumpa dengan bibi Halima dan Om Hamid. Aku sudah lama tidak bertemu dengan mereka, aku sudah lupa bagaimana bentuk wajah mereka berdua sekarang.”


Denis tersenyum, ”Om Hamid sekarang menggunakan kacamata, om Hamid memiliki satu anak perempuan yang cantik, namanya sama dengan namamu, Syakila.” ungkap Denis.


”Oh yah? Apa Om tidak bercanda? Mengapa mereka menamakan nama anaknya dengan nama Syakila?”


Denis mengangkat kedua bahunya, ”Mana Om tahu, mungkin nama Syakila sangat bagus atau mungkin juga mereka berdua sangat terkesan dengan dirimu, makanya menamakan anak mereka dengan nama mu.”


Denis menghentikan mobil tepat di depan gerbang kediaman Albert. Mobil yang mengikuti mereka secara diam-diam juga berhenti dengan jarak agak jauh dari mereka.


Mengapa dia berhenti di depan gerbang kediaman Albert? Siapa gadis itu? Apa hubungannya dengan keluarga Albert?


Yah, yang mengikuti mobil Denis adalah Vian sendiri, adik dari almarhum Kevin. Paman muda dari Antonio.


Denis melihat Syakila, ”Sudah sampai di rumah mu, kamu gak turun?” ucapnya.


Syakila melihat rumah yang ada di depannya dari dalam mobil, semua lampu telah di padamkan.


”Lampunya sudah padam semua Om, mungkin mereka sudah tidur.”


”Coba kamu hubungi suamimu atau ibu mertuamu.” usul Denis.


Syakila terdiam.


Hubungi Geo? Aku tidak punya nomornya begitu juga dengan mama, aku tidak menyimpan kontaknya. Cuma Beni satu-satunya yang ku punya kontak. Jika dia dalam pesawat, tidak mungkin kan hapenya aktif?


Syakila mengambil handphone nya. Ia mencoba menghubungi Beni. Saat itu juga Geo terbangun saat mendengar notifikasi di hapenya dan ia melihat ke layar handphone.


”Wanita itu menghubungi Beni!” gumamnya.


Ia mengaktifkan bluetooth dari hape ke headset. Ia mencuri dengar pembicaraan mereka berdua.


”Halo Syakila, mengapa menelpon?” sapa Beni di sebrang sana.


”Halo kak Beni, apa aku mengganggu aktivitas kakak? Apa kakak sudah sampai di tempat tujuan?”


”Kakak sudah sampai di kota pusat, baru saja menginjakkan kaki di bandara kamu sudah menelfon. Ada apa?”


”Kakak, Kila sudah di depan gerbang rumah. Tapi, lampu di rumah sudah padam semua. Kila juga tidak punya nomor Geo ataupun mama un__”


Denis mengerut, ”Apa? Bagaimana bisa kamu tidak memiliki nomor hape suamimu dan ibu mertuamu, Syakila? Sudah berapa bulan kalian menikah dan tinggal bersama, masa kamu tidak memiliki kontak mereka? Apa pernikahan kalian baik-baik saja, Kila? Kamu tidak pernah menceritakan pernikahan mu pada Om. Kamu punya hutang penjelasan tentang ini, Syakila!” Denis memangkas ucapan Syakila.


Ia terkejut, ia masih memandang Syakila dengan bingung juga dengan wajah tegas. Syakila terdiam, ia menjauhkan hape dari telinganya. Beni dan Geo juga terdiam di tempatnya. Mereka berdua menantikan jawaban apa yang akan di berikan Syakila untuk omnya?


”Em, pernikahan Syakila baik-baik saja Om, Syakila tidak kepikiran untuk menyimpan nomor hape mereka, karena Syakila tidak berfikir untuk keluar rumah selama ini. Om, jangan__”


Denis memicing melihat Syakila, ”Kamu tidak berpikir untuk menyimpan kontak suami dan ibu mertuamu, Syakila? Lalu, bagaimana dengan Beni? Mengapa kamu punya kontak hapenya? Kamu jangan membohongi Om, Syakila!” pangkas Denis lagi.


Syakila menelan salivanya, ia menjadi gugup. Geo dan Beni pun menjadi cemas di tempatnya masing-masing.


”Em, Beni, Syakila meminta nomornya pas dia mengantar ku ke rumah om Anton tadi pagi, karena aku akan memintanya untuk menjemput ku nanti.”


”Mengapa kamu tidak meminta nomor hape suamimu saja, biar dia yang menjemput kamu?”


Syakila terdiam sejenak.


Apa yang akan di jawab Syakila atas pertanyaan omnya kali ini?


batin Geo dan Beni.


”Itu..em.. su..suami Syakila...dia..dia..tidak akan bisa jemput Syakila. Dia..dia.. du..duduk di kursi roda.” jawabnya dengan gugup dan menunduk.


Denis tercengang. Ia melihat Syakila yang menunduk tanpa kedip. Geo dan Beni sama-sama menghela nafas sesal.


”Syakila, lihat Om! Apa yang barusan kamu katakan ini apakah benar? Pernikahan macam apa yang sudah kamu jalani? Beritahu Om! Mengapa Sarmi menikahkan kamu dengan pria seperti itu? Apa kalian di ancam? Jawab Om, Syakila! Jangan diam saja!” ucap Denis dengan marah.


Syakila mendongak melihat Denis. Ia melihat cahaya, ia menoleh melihat ke rumah. Lampu kamar Geo menyala. Kemudian, ia melihat lampu di ruang keluarga juga menyala. Tidak lama kemudian, pintu rumah terbuka. Syakila dan Denis melihat Rosalina keluar dari rumah.

__ADS_1


”Om, itu mama sudah bangun. Terima kasih karena Om sudah mengantar Syakila. Syakila turun sekarang, Om pulanglah. Nanti, baru Syakila akan jelaskan ini pada Om.” ucap Syakila.


Ia mengambil tangan kanan Denis dan menyium punggung telapak tangannya. Ia belum menyadari jika telfonnya masih terhubung ke Beni, dan Geo masih mencuri dengar pembicaraan yang masuk.


”Syakila turun Om, assalamu 'alaikum.” ucapnya berpamitan.


”Wa 'alaikum salam.” sahut Denis dengan enggan.


Ia melihat Syakila yang turun dari mobilnya dan masuk ke pekarangan rumah kediaman Albert dengan pandangan mengiba dan pikiran yang berkecamuk di benaknya.


Pernikahan seperti apa yang telah kamu jalani, Syakila? Ini semua terasa ganjil! Aku menunggu penjelasan darimu tentang ini, Syakila. Em, atau apa aku telfon Sarmi dan menanyakan langsung padanya apa yang telah terjadi?


Setelah ia melihat Syakila masuk ke dalam rumah dan pintu rumah tertutup, Denis menyalakan mobil dan menjalankannya dengan kecepatan sedang meninggalkan kediaman Albert.


Vian segera pergi dari tempatnya setelah melihat mobil Denis meninggalkan kediaman Albert.


Siapa gadis ini sebenarnya? Apa hubungan dia dengan keluarga Albert? Dan apa hubungan dia dengan Anton dan Denis? Sangat menarik untuk diketahui.


Ia menjalankan mobil menuju markas tersembunyi nya. Ia menepikan mobil di depan markas. Kedatangannya di sambut hangat oleh para bawahannya.


”Selamat datang, Bos.”


”Selamat datang, Tuan.”


”Hum,” singkat Vian menyahut.


Ia berjalan memasuki markas, semua anak buahnya mengikuti di belakangnya. Ia memasuki ruangannya dan duduk di kursi kebanggaan miliknya.


”Bagaimana? Apa semua berjalan dengan lancar?” tanyanya kemudian.


”Semuanya berjalan dengan lancar, Bos. Hanya ada satu kendala yang bersangkutan dengan Geovani. Pergerakan kita di persulit oleh anak buahnya.” ungkap salah satu anak buah Vian.


”Hum, pusatkan beberapa anak buah untuk tetap bertahan di sana untuk mengalihkan perhatian anak buah Geovani di sana. Dan pusatkan beberapa anak buah yang lainnya untuk mengambil jalur lain. Jangan sampai barang kita di tahan oleh mereka! Mengerti?!”


”Mengerti, Bos! Baik, kami pergi sekarang!”


"Hum,”


Anak buah tersebut keluar dari ruangan Vian di ikuti beberapa anak buah yang lainnya. Dan beberapa lagi masih bertahan disana untuk menerima perintah dari Vian.


”Selain dari Agus, lainnya keluar!!” titahnya.


”Baik, Bos!” sahut anak buahnya serentak.


”Ada perintah apa, Tuan!” tanyanya.


”Kamu perhatikan foto ini, cari informasi tentang dirinya. Laporkan padaku besok! Aku tidak ingin mendengar info yang tidak pasti tentangnya!” ucap Vian.


Agus mengambil handphone Vian, ia mengirim foto tersebut ke ponselnya. Setelah itu, ia meletakkan kembali handphone Vian ke atas meja.


”Baik, Tuan! Apa masih ada yang lainnya, Tuan?”


”Apa kalian sudah menempatkan orang-orang kita di antara para pendukung Geovani untuk memata-matai pergerakan Geovani? Aku tidak ingin gagal dalam pemilihan nanti!”


”Sudah, Tuan. Untuk sementara dari pihak Geovani belum ada pergerakan apapun. Mungin mereka masih menyusun strategi nya, tapi Tuan tenang saja, semua strategi yang akan mereka gunakan pasti kita akan tahu, karena di setiap kelompok mereka ada orang-orang kita. Dan kita pasti akan bergerak satu langkah lebih maju dari mereka.”


”Bagus! Lanjutkan! Apa kalian telah bertemu atau melihat keberadaan Geovani? Sudah beberapa bulan ini dia tidak muncul di permukaan.”


”Maaf, Tuan. Kami tidak melihat keberadaan Geovani, mungkin saja sekarang ia berada di luar negeri. Sementara dari pihak kita tidak bisa pergi ke luar negeri untuk mematai-matai nya.”


Vian menggebrak meja, ”Sial! Gara-gara Geovani, aku bahkan kalian semua anak buah ku juga Antonio sendiri telah di nonaktifkan visa kita untuk keluar negri.”


”Tuan, bagaimana kalau kita merekrut salah satu anak buah baru khusus untuk memata-matai Geovani selama ia berada di luar negri? Atau apa di luar negri tidak ada seorang pun yang Tuan kenali? Jika ada, mengapa tidak meminta bantuannya saja, Tuan?”


”Setelah peristiwa itu, bahkan mereka semua menjauh dariku, juga dari Antonio. Mereka beralih mendukung Geovani. Sudah, kamu pergilah selidiki wanita itu dengan akurat.”


”Baik, Tuan.”


Agus meninggalkan ruangan Vian.


”Gadis kecil, siapa kamu sebenarnya? Apa benar kamu anak dari Halim? Apa hubungan mu dengan keluarga Albert?” gumam vian sambil melihat foto Syakila dari layar hapenya.


.. ..


Di kediaman Albert.


”Mama, maaf, Syakila sudah merepotkan Mama.”


”Tidak apa-apa, sebenarnya tadi Mama menunggu kamu pulang, tapi, Mama malah ketiduran.” sahut Rosalina dengan tersenyum.

__ADS_1


”Terima kasih, Mah sudah menunggu Syakila. Mama lanjut tidur, Syakila juga ingin beristirahat.”


”Syakila, apa kamu membenci Geo?” tanya Rosalina dengan serius memandang Syakila.


”Mama, mengapa Mama bertanya seperti itu dengan tiba-tiba?” bukannya menjawab, Syakila balik bertanya pada Rosalina.


”Jawab Mama saja, Syakila. Apa kamu membenci Geo?”


Syakila terdiam. Ia memandang Rosalina, wajahnya terlihat sedih dan serius. Pandangan matanya seperti mengiba, ia Rosalina adalah seorang ibu dari Geovani Albert. Tentu saja ia iba terhadap anaknya. Syakila menghela nafas.


”Mama, Syakila tidak membenci Geo. Mama jangan kebanyakan berpikir, maaf, jika Geo dan Syakila kadang-kadang cekcok. Tapi, kami berdua baik-baik saja.”


”Syakila, Mama sangat berharap sekali padamu untuk kehidupan anakku. Mama mohon, jangan tinggalkan Geo, tetaplah berada disisinya.”


”Mama, jangan bermohon padaku seperti itu. Syakila, Syakila minta maaf, Syakila tidak bisa menjawab keinginan Mama. Biarkan waktu yang menjawab semuanya.”


Rosalina terdiam memandang Syakila.


Aku tidak mungkin bisa memaksa Syakila, apalagi sebelumnya kami berdua sudah membicarakan hal ini. Aku benar-benar berharap hubungan mereka terus terjalin.


”Baiklah, kamu naik dan istrahat lah, ini sudah larut malam.”


”Baik, Mama. Syakila keatas dulu.”


”Hum,” sahut Rosalina.


Syakila beranjak berdiri dan pergi ke kamarnya menggunakan lift. Ia sudah tidak bisa menahan lagi rasa sakit pada telapak kakinya. Sepanjang hari ia terus berusaha menahan rasa sakit agar tidak membuat omnya juga Dian khawatir dan mengundang banyak praduga tentangnya.


Syakila membuka kamar, ia masuk. Ia melihat Geo masih terjaga di atas kasurnya. Syakila terus melangkah masuk, ia membuka sepatu high heels nya dengan tergesa-gesa. Ia meringis menahan perih di telapak kakinya.


Ia pergi ke kamar mandi, membersihkan luka itu menggunakan air hangat. Ia keluar dari kamar mandi berjalan pelan ke arah nakas di samping ranjang Geo.


”Terlalu memaksakan diri, sudah tahu ada luka di kakimu masih menggunakan high heels.” ucap Geo.


Syakila melirik Geo, ia tidak menyahutinya. Ia segera mengambil kotak obat dan berjalan menuju sofa.


”Mengapa kamu mengabaikan ku?” ucap Geo lagi


”Aku tidak ingin berdebat dengan mu, Geo. Terima kasih karena kamu sudah bangun dan membangunkan Mama untuk membukakan aku pintu. Kamu tidurlah kembali, jangan pedulikan aku.”


Ia duduk di sofa dan memangku kakinya yang luka. Ia mulai membersihkan lukanya.


Geo tersenyum masam. ”Hah, apa kamu kira aku peduli padamu? Aku hanya menjaga image keluargaku di hadapan keluargamu! Kalau bukan Beni yang menghubungi ku, apa kamu kira aku akan berbaik hati membangunkan mamaku hanya untuk membukakan pintu untuk mu?”


Gerakan tangan Syakila terhenti, ia mendongak melihat Geo sebentar.


Laki-laki ini, kapan bisa bersikap dan berkata lembut padaku. Sombong sekali laki-laki ini. Jika di ladeni, gak akan berujung pembicaraan ini, dan lagi yang ada perdebatan terus berlanjut. Lebih baik aku diam.


Syakila mengabaikan ucapan Geo. Ia melanjutkan membersihkan lukanya dan mengobatinya. Geo menggertakan gigi melihat Syakila yang sengaja mengabaikannya. Setelah mengobati lukanya, Syakila menyimpan kembali kotak obat tersebut ke dalam nakas.


Ia berjalan kembali ke sofa dengan mengacuhkan Geo yang memandangnya dengan marah. Langkah Syakila terhenti, tangannya di tahan Geo saat melewatinya. Geo menarik tangan Syakila dengan kuat hingga Syakila terjauh di atas tubuhnya. Ia menahan Syakila di badannya.


”Lepaskan aku Geo!”


”Mengapa kamu mengabaikan ku?”


”Mengapa kamu bereaksi berlebihan seperti ini? Bukankah sudah setiap hari kita berdua bersikap seperti ini? Lepaskan aku!”


Geo, melepas satu tangannya yang menahan tubuh Syakila, ia menakup pipi kanan Syakila sambil memandangnya lembut.


”Maaf, aku sudah bersikap kasar dan berbicara kasar padamu. Maaf kan aku.”


Syakila terdiam, ia memandang Geo.


Apa aku tidak salah dengar? Dia meminta maaf padaku dan berkata lembut padaku. Apakah ini hanya siasat nya saja, atau perasaan yang tulus dari hatinya?


Tunggu! Apa ini, mengapa dadaku berdebar begini? Detak jantungnya, detak jantungnya aku bisa mendengar nya. Detakannya seirama dengan detak jantung ku. Tidak, aku tidak boleh tertipu dengan sikap lembut yang ia tunjukan sekarang.


Geo dan Syakila saling memandang. Perlahan tatapan mata Geo turun pada bibir Syakila. Ia membelai bibir Syakila menggunakan ibu jarinya.


Sial, perasaan apa ini? Aku ingin mencium bibirnya. Aku ingin menciumnya.


Geo mencium bibir Syakila, Syakila terkejut, ia melepaskan ciuman Geo dengan menggigit bibir bawah Geo. Geo melepaskan tangannya dari tubuh Syakila. Syakila menarik dirinya dengan cepat dari atas tubuh Geo. Ia berdiri dengan marah melihat Geo.


”Jangan mencium ku sembarangan! Perbuatan mu ini, meragukan ku akan ucapan maaf dan sikap lembut mu.”


Syakila beranjak jalan, tangannya tertahan lagi oleh Geo. Syakila menoleh.


”Aku serius untuk minta maaf padamu, Syakila.” ucap Geo.

__ADS_1


”Lepaskan aku!” bentak Syakila.


Geo melepaskan tangan Syakila. Syakila lanjut melangkah ke sofa. Geo meraba bibirnya yang terluka karena gigitan Syakila. Ia tersenyum kecil.


__ADS_2